Khanif nampak tersenyum lebar ketika ia sudah sampai dikota Jember Jawa Timur, Kehadiran ia dikota tersebut bukan untuk berwisata atau mencari sesuatu. Melainkan ia akan mengadu nasib dengan membuka toko jam sekaligus service segala macam merek jam. Khanif menjuluki kota Jember dengan sebutan Kota Asmara, namun bukan untuk mencari cinta, melainkan untuk melarikan diri dari Cinta. Tangan-tangan Khanif yang terampil bisa memperbaiki mekanisme jam yang paling rumit sekalipun, tapi ia gagal memperbaiki hatinya sendiri setelah patah bertahun-tahun lalu. Ia membuka toko kecil di sebuah kota yang entah kenapa ia juluki sebagai kota asmara. Meski agak sedikit jauh dari keramaian alun-alun utama, yang ia juluki juga ‘Jantung Asmara’. Toko Khanif tidak terlalu ramai karena masih terbilang baru. Namun bagi Khanif bukan masalah. Hanya ada bunyi jarum jam yang berdetak pelan, irama tetap yang menenangkan jiwanya yang resah. Hingga suatu pagi, seorang wanita bernama Amira membawa ja...