Kamar nomor 404 di Apartemen Lavender seharusnya kosong. Setidaknya itulah yang tertulis di buku catatan Pak Wawan, penjaga gedung tua itu. Namun, setiap pukul dua pagi, harum melati yang ganjil selalu merayap keluar dari celah pintu kayu yang catnya sudah mengelupas itu.
Satria, seorang fotografer lepas yang baru pindah ke unit tepat di depannya, awalnya tidak peduli. Hingga suatu malam, ia melihatnya sesuatu yang agak aneh?
Di balkon kamar 404, sepotong lingerie putih berbahan sutra tipis tergantung di jemuran besi. Benda itu berkibar pelan tertiup angin malam, tampak kontras dengan dinding gedung yang kusam dan gelap. Satria merasa aneh; tidak ada orang yang menghuni kamar itu selama setahun terakhir sejak kasus "menghilangnya" seorang model majalah dewasa.
Didorong rasa penasaran, Satria mulai mengamati melalui lensa tele kamera DSLR-nya.
Malam Pertama ~ Lingerie itu basah, seolah baru saja dicuci.
Malam Kedua ~ Lingerie itu masih di sana, namun ada noda merah kecil di bagian talinya. Darah? Atau hanya gincu?
Malam Ketiga ~ Lingerie itu hilang. Namun, pintu kamar 404 sedikit terbuka.
Dengan jantung berdegup kencang, Satria melangkah menyeberangi lorong. Ia mendorong pintu yang tidak terkunci itu. Ruangan di dalamnya pengap dan gelap gulita. Hanya ada satu sumber cahaya lampu jalan yang menembus jendela balkon.
Di tengah ruangan, di atas sebuah manekin kayu yang tua, lingerie putih itu terpasang rapi. Kali ini, harum melatinya begitu menyengat hingga membuat mual.
Saat Satria mendekat untuk menyentuh kain halus itu, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Di bawah lingerie putih itu, manekinnya tidak terbuat dari kayu biasa. Ada tekstur kulit yang kering dan pucat.
"Bagus, kan?" sebuah suara berat menyapa dari sudut gelap.
Pak Wawan berdiri di sana, memegang gunting kain yang besar. Matanya kosong. "Dia selalu bilang ingin memakai warna putih di hari pernikahannya. Tapi dia malah mencoba lari."
Satria mundur perlahan, namun punggungnya membentur lemari kaca. Di dalamnya, berjejer belasan foto model yang pernah tinggal di apartemen ini. Semuanya mengenakan pakaian yang sama ~ 'lingerie putih'.
"Kamu tahu, Satria," .. Bisik Pak Wawan sambil melangkah maju. "Sutra putih adalah kanvas terbaik untuk menyimpan kenangan... dan menyembunyikan dosa."
Malam itu, lampu di kamar 404 padam sepenuhnya. Keesokan harinya, penghuni apartemen hanya menemukan jemuran besi yang kosong di balkon. Tak ada Pak Wawan, tak ada Satria. Hanya aroma melati yang tertinggal, melekat pada sepotong kain putih yang kini tergantung di kamar Apartemen 404.
Satria, seorang fotografer lepas yang baru pindah ke unit tepat di depannya, awalnya tidak peduli. Hingga suatu malam, ia melihatnya sesuatu yang agak aneh?
Di balkon kamar 404, sepotong lingerie putih berbahan sutra tipis tergantung di jemuran besi. Benda itu berkibar pelan tertiup angin malam, tampak kontras dengan dinding gedung yang kusam dan gelap. Satria merasa aneh; tidak ada orang yang menghuni kamar itu selama setahun terakhir sejak kasus "menghilangnya" seorang model majalah dewasa.
Didorong rasa penasaran, Satria mulai mengamati melalui lensa tele kamera DSLR-nya.
Malam Pertama ~ Lingerie itu basah, seolah baru saja dicuci.
Malam Kedua ~ Lingerie itu masih di sana, namun ada noda merah kecil di bagian talinya. Darah? Atau hanya gincu?
Malam Ketiga ~ Lingerie itu hilang. Namun, pintu kamar 404 sedikit terbuka.
Dengan jantung berdegup kencang, Satria melangkah menyeberangi lorong. Ia mendorong pintu yang tidak terkunci itu. Ruangan di dalamnya pengap dan gelap gulita. Hanya ada satu sumber cahaya lampu jalan yang menembus jendela balkon.
Di tengah ruangan, di atas sebuah manekin kayu yang tua, lingerie putih itu terpasang rapi. Kali ini, harum melatinya begitu menyengat hingga membuat mual.
Saat Satria mendekat untuk menyentuh kain halus itu, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Di bawah lingerie putih itu, manekinnya tidak terbuat dari kayu biasa. Ada tekstur kulit yang kering dan pucat.
"Bagus, kan?" sebuah suara berat menyapa dari sudut gelap.
Pak Wawan berdiri di sana, memegang gunting kain yang besar. Matanya kosong. "Dia selalu bilang ingin memakai warna putih di hari pernikahannya. Tapi dia malah mencoba lari."
Satria mundur perlahan, namun punggungnya membentur lemari kaca. Di dalamnya, berjejer belasan foto model yang pernah tinggal di apartemen ini. Semuanya mengenakan pakaian yang sama ~ 'lingerie putih'.
"Kamu tahu, Satria," .. Bisik Pak Wawan sambil melangkah maju. "Sutra putih adalah kanvas terbaik untuk menyimpan kenangan... dan menyembunyikan dosa."
Malam itu, lampu di kamar 404 padam sepenuhnya. Keesokan harinya, penghuni apartemen hanya menemukan jemuran besi yang kosong di balkon. Tak ada Pak Wawan, tak ada Satria. Hanya aroma melati yang tertinggal, melekat pada sepotong kain putih yang kini tergantung di kamar Apartemen 404.

Komentar
Posting Komentar
TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!