Langsung ke konten utama

Postingan

Duit atau Uang

Pergilah ke klub dan kamu akan sadar, ketika uang berbicara kecantikan hanya bisa menurut. Semahal apapun harga diri, tetap bisa dibungkam dengan selembar kertas bernama uang. Berangkatlah ke hotel dan kamu akan melihat, bagaimana ketika uang ditawarkan, perawan bisa kehilangan prinsip yang selama ini dibangga-banggakan. Bukan karena mereka jahat, tapi karena hidup memang kejam bagi orang yang lemah oleh kebutuhan. Lanjutlah ke rumah sakit, kamu akan sadar, ketika nyawa sudah melayang, Uang bahkan tidak punya suara. Ia hanya menjadi kertas mati yang tak bisa membeli satu tarikan napas terakhir. Dan lihatlah di dunia online, beberapa lembar uang bisa membuat seseorang memuji produk yang bahkan tidak pernah mereka pakai. Sedikit lebih banyak lagi bisa membuat kurir menerjang badai, hujan, dan amarah pelanggan. Sedikit lebih besar lagi bisa membuat seorang wanita yang dibesarkan dengan penuh kasih selama 25 tahun memujimu dan menyanjungmu padahal ia bahkan tidak men...
Postingan terbaru

Cerpen : Lingerie ~ Putih

Kamar nomor 404 di Apartemen Lavender seharusnya kosong. Setidaknya itulah yang tertulis di buku catatan Pak Wawan, penjaga gedung tua itu. Namun, setiap pukul dua pagi, harum melati yang ganjil selalu merayap keluar dari celah pintu kayu yang catnya sudah mengelupas itu. Satria, seorang fotografer lepas yang baru pindah ke unit tepat di depannya, awalnya tidak peduli. Hingga suatu malam, ia melihatnya sesuatu yang agak aneh? Di balkon kamar 404, sepotong lingerie putih berbahan sutra tipis tergantung di jemuran besi. Benda itu berkibar pelan tertiup angin malam, tampak kontras dengan dinding gedung yang kusam dan gelap. Satria merasa aneh; tidak ada orang yang menghuni kamar itu selama setahun terakhir sejak kasus "menghilangnya" seorang model majalah dewasa. Didorong rasa penasaran, Satria mulai mengamati melalui lensa tele kamera DSLR-nya. Malam Pertama ~ Lingerie itu basah, seolah baru saja dicuci. Malam Kedua ~ Lingerie itu masih di sana, namun ada...

Cerpen Misteri : Gaun Malam

Lampu gantung di butik antik 'RedRose' berkedip pelan, memantulkan cahaya pada sepotong busana yang berdiri angkuh di tengah ruangan. Sebuah gaun malam berbahan sutra merah darah, dengan potongan leher rendah dan sulaman benang emas yang tampak seperti pembuluh darah yang merambat. Vina Alfonita nampak terpaku.. Sebagai seorang desainer muda yang sedang mencari inspirasi, ia merasa gaun itu seolah bernapas dan punya pesona luar biasa. "Itu milik Nyonya Vina-Alfonita namanya sama denganmu," Bisik Pak Wawan, pemilik butik yang mempunyai tubuh agak bungkuk... "Ia memesannya untuk pesta dansa tahun 1970, tapi ia tak pernah sampai ke sana." Vina Alfonita tidak peduli pada takhayul. Ia membeli gaun itu dengan harga yang sangat murah, merasa telah menemukan harta karun yang menarik baginya. Sesampainya di Apartemennya keanehan mulai terjadi, malam pertama gaun itu tergantung di lemari apartemennya Vina bermimpi mendengar suara gesekan kain di la...

Cerpen : Gadis Counter

Jingga senja membias di balik etalase kaca, memantul pada deretan ponsel pintar yang tertata rapi. Di tengah hiruk pikuk pengunjung Mal Lippo Plaza Jember sore itu, ada satu titik yang selalu menarik perhatian Satria counter HP 'World Phone'. Bukan karena smartphone terbaru, melainkan karena gadis yang bertugas di sana. Namanya Adinda. Satria sudah hapal jadwalnya. Setiap Selasa dan Jumat sore, Satria akan pura-pura mencari aksesoris atau menanyakan spesifikasi ponsel terbaru, padahal tujuan utamanya adalah melihat Dinda. Dinda selalu mengenakan seragam biru muda World Phone, rambutnya yang hitam diikat rapi, dan senyumnya... ah, senyumnya adalah perpaduan antara ramah profesional dan sedikit malu-malu yang membuat jantung Satria selalu berdebar. Ia tahu, di balik wajah manis itu, Dinda adalah seorang expert yang bisa menjelaskan chipset, RAM, dan megapixel dengan lancar, bahkan membuat Satria yang seorang mahasiswa teknik merasa bodoh. Hari itu, hari Jumat. S...