Breaking

Sunday, 15 November 2020

November 15, 2020

Sepercik Harapan Dari Botol Bir




Gambar By : Pixabay


~ CERITA INI HANYA FIKTIF & BUALAN BELAKA ~


Dengan langkah santai Satria memasuki sebuah Cafe yang lengkap dengan discotiknya, Baik makanan dan minuman sudah tidak diragukan lagi, Sudah pasti ada asal uang yang ada dikatong cukup untuk membeli semuanya. Jika semua orang akan cari kesenangan dan berhura-hura disana. Berbeda dengan Satria yang datang ketempat itu hanya untuk minum-minum yang menurutnya bisa melupakan semua beban yang ia alami dan rasakan.

Entah sudah berapa lama Satria berada disana dan tetap asyik menikmati minuman Bir yang ia pesan tanpa pernah memikirkan orang disekitarnya. Satu botol Bir dapat meredam kecemasan, Dua botol Bir mampu meredakan kenangan, Tiga botol Bir mengaburkan kehidupan. Tetapi bagi Satria, Berapa pun banyaknya botol Bir tandas, kenyataan tak pernah merubah apa yang ia harapkan. Ia duduk di meja pojok kanan dekat pintu masuk kafe itu paham perihal tersebut. Bahkan semua yang minum di kafe itu tahu jargon tersebut. Meskipun begitu, Orang-orang akan tetap menenggak bir sebanyak mungkin. Kebohongan sebuah kegilaan yang terus ditelan. Satria kembali mengangkat tangannya. Tak lama, seorang pelayan wanita bar datang membawa sebotol Bir. Itu Bir kelima, Namun kecemasan belum mereda.

“Wajah Anda sudah memerah,”... Seru pelayan wanita itu.

Satria memandang si pelayan wanita tersebut. Tatapannya seperti ingin menelan pelayan itu bulat-bulat.

“Apakah hari sudah mulai berganti Minggu?” ...Tanya Satria sedikit ngaco.

Pelayan wanita itu semakin canggung, Tapi tak juga ia letakkan bir itu...“Tak baik orang seperti anda mabuk berlebihan,”... Jawabnya dengan nada iba.

“Tenanglah, kau tak akan mengelap muntahku di sini. Lagi pula, Bir tak kenal usia.”...Balas Satria.

Satriapun kembali berbicara tanpa sadar...“Aku sudah selesai di sini.”..

Ia pun mencoba bangkit, Kakinya rapuh, berjalan ke arah bartender minuman.... “Birku mana?”

“Bukankah sudah diantar?... Jawab sang bartender.

“Pelayan wanita keparat itu tak mengizinkanku minum! Selain air putih, Ternyata kalian menyewa pengkhotbah!”... Seru Satria.

Tak ada yang aneh jika seorang Lelaki menenggak bir. Bukankah Bir diciptakan untuk semua kalangan? Bahkan beberapa perempuan yang mengandung pun menenggak Bir! Di kampungnya pun tak sedikit orang tua menenggak Bir.

“Mana ada orang kampung minum bir! Kalau tuak, iya!”... Seru teman para bartendernya.sesama pelayan bar sambil tertawa menyindir.

“Itu sama saja. Alkohol! Jika diingat-ingat sepertinya lelaki itu pelanggan baru di sini"... Seru para bartender berbarengan.

"Tampaknya seperti itu"... Balas temannya.

Percakapan sang bartender itu terhenti ketika seorang pelayan wanita melintas di depan mereka sambil membawa Bir.

“Untuk siapa?”.Tanyanya.

Pelayan wanita itu tak menjawab ia kembali memajangkan Bir-bir persis didepan arah pintu masuk. Lalu segera menghampiri lelaki yang bernama Satria itu.

“Lekas bawa kesini Bir itu"...Seru laki-laki yang bernama Satria.

Pelayan wanita itu segera menghampiri dadanya berdegup kencang dan seperti hendak meledak saat berada di depan meja laki-laki yang bernama Satria itu.

“Bolehkah aku menuangkan Birmu?”...Lelaki bernama Satria itu mengiyakannya.

“Kupikir kau akan melarangku lagi"..Gelas sudah penuh buih. Lelaki bernama Satria itu menggelengkan kepala.

"Untukmu saja".

"Aku tidak minum"... Seru pelayan wanita itu.

“Tak apa, aku yang membayar."

Raut wajah sang wanita menjelaskan kecanggungan... "Mereka akan memarahiku nanti".

“Kulihat beberapa pelayan di sini boleh menemani tamu lain minum?"

"Mereka itu berbeda denganku. Mereka juga melayani peminum Bir, itulah kenapa ada lantai dua dan tiga".

"Yang terpenting pelayan?"

Sebenarnya sang pelayan wanita itu ingin berbincang dengan laki-laki yang bernama Satria. Entah mengapa, Ia tertarik dengannya. Meski rambutnya sudah sedikit berubah warna, Tapi raut wajahnya tak menunjukkan usia yang sebenarnya. Terlebih gaya berbicaranya yang menunjukkan bahwa agaknya lelaki itu seorang terpelajar.

"Kau takut gajimu dipotong? Aku tahu itu. Seperti sebuah sumpah, biasanya kau akan dapatkan uang karena menemani seseorang minum ataupun lebih dari sekadar minum. Tenanglah, aku akan membayar tarifmu!”

Akhirnya hubungan lelaki usia 30,an dengan pelayan wanita tersebut semakin akrab di hari-hari berikutnya. Setiap laki-laki bernama Satria itu datang hanya untuk minum-minum, Pelayan wanita itu segera dan selalu menemani. Mereka akan membahas apa saja, kecuali tentang politik dan mereka berjanji tak bercerita tentang masa lalu. Namun. Bir yang ditenggak kadang menghanyutkan apa saja yang lebih dulu diikrarkan.

"Oiya selama seringnya kau menemaniku minum kau belum menyebutkan namamu"...Tanya lelaki bernama Satria itu.

"Panggil saja aku Vina"... Jawab pelayan itu sambil bertanya kembali kepada laki-laki bernama Satria itu.

"Apakah kau tak dicari istrimu?"

"Istriku meninggal 5 tahun yang lalu, Kala aku dipenjara karena dituduh melakukan kasus ilegal logging, Dan sejak itu aku tak pernah mau menikah lagi"... Jawab Satria sambil sesekali menuang Bir kegelasnya.

Pelayan bernama Vinapun itu terdiam apa yang dikatakan lelaki bernama Satria itu membuatnya ragu. Namun, pelayan bernama Vina tersebut menduga jawaban itu bualan semata...."Lelaki mana yang mampu hidup sendiri? Lelaki itu lemah!”

“Tidak ada perempuan yang mau dengan lelaki yang pernah masuk penjara!”...Kemudian ia memicingkan bola matanya dan tiba-tiba berkelakar begitu kencang. Kulitnya menegang. Lalu ia tuangkan lagi minuman ke gelas pelayan yang bernama Vina itu meski masih setengah terisi.

“Kau pasti tak tinggal di dekat sini" ... Tanya pelayan bernama Vina itu yang disahuti dengan anggukan.

Lelaki bernama Satria itu memang tidak tinggal di sekitar kafe itu, tapi juga tidak terlalu jauh. Sebenarnya, ia enggan minum di kafe serta club malam tersebut sebab aparat keamanan terkadang menyambangi tempat tersebut lantaran adanya ‘lantai dua’ dan ‘lantai tiga’.

“Aku tidak terlalu suka bir"....Serunya tiba-tiba sambil menuangkan bir penghabisan ke dalam gelasnya.

“Yaa memang orang bodoh sepertiku tidak pandai bercanda"... Jawab Satria sambil gerakan tangan untuk minum saat pelayan itu berkata kembali.

<Maksudmu?" ...Balasnya dengan dagu berkerut.

“Kau sudah menenggak empat botol, Tapi kau masih sanggup mengatakan tidak suka dengan Bir"!

“Jika saja tempat minum di dekat tempat tinggalku tak ditutup, Tak mungkin aku di sini. Tak mungkin seorang perempuan cantik sepertimu menemani lelaki bodoh sepertiku".

“Apa bedanya tempat minum dekat tempat tinggalmu dengan kafe ini?”...Jawab Vina sambil mengulum senyum dan menenggak Bir sedikit.

Satria mulai bercerita waktu itu, Ditempat minum dekat tempat tinggalnya, sebuah organisasi yang kerap sweeping mendatangi tempat minum dekat rumahnya. Mereka begitu banyak. Dan para peminum juga tak kalah banyak.

“Sudah kami peringatkan tak boleh kedai ini buka jika masih jual alkohol!” bentak salah satu orang dari organisasi kepada pemilik kedai.

Para peminum menggenggam erat gagang gelas. Hendak mengayunkan ke kepala orang organisasi itu.Pemilik kedai tak terima sambil menatap para peminum di kedainya. Sontak para peminum berdiri. Beberapa memegang botol dan gelas, sedang lainnya mengepalkan tangan. Dan ia juga ada di sana, menenggak tuak yang masih banyak.Perkelahian tak terhindar ketika salah satu peminum melayangkan botol ke orang organisasi yang berbicara itu. Semua terjadi begitu cepat dan kedai itu akhirnya ditutup lantaran membuat kegaduhan.Sedang organisasi itu melenggang bebas. Tak berapa lama, organisasi itupun melakukan hal serupa di tempat lain, Termasuk Kedai minum yang hanya menyediakan tuak dan kamput.

“Apakah karena itu kau pindah ketempat ini”...Tanya Vina.

"Bisa begitu, Bisa juga tidak. Dari logat bicaramu, tampaknya kau orang pendatang?”

Pelayan bernama Vina itu tak bisa menyanggah.Beberapa kali saat berbincang, ia mengeluarkan aksen yang kedesa-desaan.

“Aku diajak seseorang ke kota setelah aku minggat dari rumah"...Sambil mendengar Vina berbicara Satria kembali menuang Bir kegelasnya, Itu botol yang ketujuh.

“Aku bertengkar dengan ibuku saat berulang kali kutanyakan kenapa bapak tak kunjung pulang. Ketika aku kecil, ia bilang bapakku mengadu nasib di negeri orang. Bangladesh katanya.Bapakku seorang pelaut. Namun, setelah puluhan tahun berlalu, aku tak pernah tahu wajah bapakku".

Vinapun menghentikan ceritanya sejenak, Lalu menenggak Bir dan melanjutkannya kembali.

“Aku tak salah mengatakan itu. Anak mana yang tak penasaran dengan orangtuanya? Tetangga-tetangga bilang, saat aku lahir, mereka bertengkar. Ibuku hanya ingin tinggal di tempat mamaknya saat aku lahir dan bapakku menuruti hal itu. Tapi, sebulan kemudian bapakku ditangkap polisi. Kata mereka, bapakku mencoba menculikku".

Vinapun mulai terbawa kisah masa lalunya, Ia kesal dan menenggak semua sisa Bir yang ada di gelasnya dalam satu tegukan. Beberapa pelanggan bar mulai naik ke lantai dua untuk menikmati sensasi malam yang semakin menggairahkan. Lelaki bernama Satria itu menuangkan kembali Bir ke dalam gelasnya, Itu botol kesembilan. Tapi, Saat menuangkan Bir itu, Lelaki yang bernama Satria itu tampak sudah mabuk. Vina sang pelayan melirik ke arah meja bartender. Di sana ada jam menggantung. Sudah pukul setengah dua belas malam. Jam kerjanya sudah habis. Sebelum bangkit, Ia tenggak Bir kesembilan.

“Tunggu di sini, aku melapor dulu dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang"...Seru Vina sambil meninggalkan Satria yang sudah mabuk berat.

Pukul 2.30 pagi lelaki benama Satria itu sudah berbaring di tempat tidur. Namun, punggungnya sedikit risih dikarnakan ranjang itu bukan ranjang miliknya. Ia tak di rumah, Ia dibawa ke rusun murah milik pelayan bar yang bernama Vina.Sesekali ia bersendawa. Pelayan bar itu menghidupkan kipas angin dan menarik selimut sebab takut ia akan muntah.

“Tunggu sebentar, Aku akan mengambil ember".

Saat kembali membawakan ember, Vina melihat lelaki bernama Satria tersebut tersungkur ke lantai. Tergopoh-gopoh ia memindahkannya ke ranjang.

“Jangan muntah sembarangan. Jika ingin muntah, buang ke dalam ember ini".... Seru Vina seraya meletakkan ember di samping ranjang.

Keringatnya mengucur deras. Satria mulai bergumam dan mengoceh tidak jelas. Saat Vina hendak melangkah menjauhi ranjang.

"Kau tahu Vin aku punya hampir 50 karyawan yang rajin jika tepat waktu gajian saja...Selebihnya mereka lebih suka membiarkanku menderita seperti ini, Karena yang mereka butuhkan hanya uang dan uang, Sama seperti dirimu Vin"..

Hooeeekks! Satriapun mulai muntah, Vinapun kembali rebahkan posisi tubuh Satria keatas ranjangnya.

"Jangan kau samakan aku dengan semua karyawanmu, Sejak kau hadir dibar tempatku bekerja tak ada tuntutan dariku terhadapmu, Bahkan uang tips yang kau berikan tak sepeserpun pernah aku ambil".

"Yaa mungkin Karena kau wanita terbodoh yang pernah aku kenal...Daan"..Hoooeeeaakks!, Satriapun muntah kembali hingga pada akhirnya iapun kelelahan dan terlelap tidur. Vinapun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Pukul 10.05 pagi..Satria nampak panik dan bertanya-tanya karena ia berada ditempat yang menurutnya asing. Segelas air jeruk hangat sudah tersedia dimeja kamar itu, Tanpa ragu iapun langsung meminumnya hingga pikiran dan badanya agak serasa segar. Tak lama berselang muncullah seorang wanita yang tak lain adalah Vina wanita pelayan bar yang malam itu menemaninya minum-minum hingga larut malam.

"Badanmu sudah agak segaran, Lekaslah mandi setelah itu sarapan dan kau bisa kembali kerumahmu"

"Terimah kasih atas semuanya dan maafkan aku, Akan aku ganti seem"....

"Cukuuupp!..Aku tidak mengharapkan itu semua"...Balas Vina.

Sambil menikmati sarapan seadanya Satriapun bersiap untuk meninggalkan rumah dimana ia bermalam. Seolah ada magnit cinta yang menepel pada dirinya iapun berharap bisa kembali lagi dengan keadaan waras tanpa ada beban yang selalu menindih pikirannya.

"Aku akan kembali ketempatku dan aku berharap esok atau lusa kau hadir ditempatku, Ada sesuatu yang memang aku harapkan darimu"..

Vinapun tersenyum..."Aku akan kesana dan semoga bisa memenuhi harapanmu".

Hingga pada akhirnya Satriapun berlalu dari hadapan Vina dan meninggalkannya meski banyak harapan-harapan yang akan ia berikan pada wanita pelayan disebuah bar yang selalu ia singgahi sebelumnya.


~ 25 TAHUN KEMUDIAN ~


Lelaki paruh baya itu nampak terpesona, Dipagi hari ia melihat taman bunga yang bermekaran dirumahnya, 2 kupu-kupu tampak berterbangan kian kemari mengitari bunga-bunga ditaman tersebut. Dan nampak sesekali kupu-kupu itu hinggap pada bunga yang sedang mekar indah. Setelah menikmati secangkir teh hangatnya lelaki paruh baya itu dikejutkan dengan sebuah suara yang memanggilnya.

"Opaa kami berangkat dulu"...Dua suara berbarengan mendekatinya sambil melakukan sungkem kepa lelaki paruh baya tersebut.

"Nita dan kau Joe, Kemarilah sebentar nak"...Seru lelaki paruh baya itu, Sambil menceritakan apa yang ia inginkan dan harapkan kepada dua orang anaknya itu.

"Lhoo opa mau kemana? Bukankah ini rumah opa yang telah diwariskan kepada kami Dan opa berhak juga kok tinggal disini"...Jawab sang anak.

Lelaki paruh baya itu tersenyum..."Opa tidak kemana-mana, Opa cuma ingin menenangkan diri bersama omamu tetapi disuatu tempat dan kalian tak perlu merisaukan kami berdua"..

Setelah menjelaskan dengan detail kepada kedua putra dan putrinya itu lelaki paruh baya yang tak lain adalah Satria itu kembali tersenyum dan membelai-belai rambut kedua anaknya. Bagai mengerti dan memahami sang anakpun nampak patuh dan menyetujui semuanya hingga keduanya berlalu pergi meninggalkannya untuk melakukan aktifitasnya masing-masing.

Dua hari telah berlalu disebuah rumah sederhana dua orang paruh baya nampak sedang serius bercakap-cakap dan nampak keduanya sesekali merasa kesyahduan yang tiada tara.

"Terima kasih kau sudah mengingatkanku kembali akan sesuatu dan asalku mas, Mungkin terlalu sombong jika aku tidak kau bawa ketempat ini kembali".

"Bukan hal itu yang bisa membawaku ketempat ini kembali, Tetapi harapan dari dirimulah yang selalu bikin aku merasa bahagia jika bersamamu ditempat ini".

"Jadi hampir satu tahun lebih rumah ini kau beli kembali tanpa sepengetahuanku"...Tanya wanita paruh baya yang bernama Vina.

"Kau keberatan"...Tanya Satria.

Vinapun menggeleng, Dan langsung memeluk Satria yang kini telah menjadi suaminya. Ada butir air mata jatuh membasahi pipinya seperti tak perduli iapun berbisik lembut kepada Satria sang suami yang boleh dikatakan merasa bersyukur karena bisa saling memberi harapan dan semangat untuk bangkit dari keterpurukan masa lalu yang keduanya pernah mereka rasakan bersama.



~ THE ~ END ~

Banner Iklan Etran

Monday, 9 November 2020

November 09, 2020

Blok-M Mall Kini Tak Menarik & Seindah Dulu Lagi


Sumber Gambar By : Ipp.co.id


BLOK-M siapa yang tak tahu jika anda merasa tinggal dikawasan Jabodetabek... Tempat tongkrongan ngetrend yang berada dibilangan Jakarta Selatan ini cukup banyak orang yang merasa bangga jika sudah kesana, Terlebih sambil berbelanja dan mejeng.😊😊

BLOK-M .... BAKAL LOKASI MEJENG Begitu kepanjangannya. Dan ada sebuah film era 80,an yang berjudul Blok-M. Karena sejak era 80,an sampai 90,an meski boleh dikatakan punya kesan jadul tetapi kala itu Blok-M pun sudah menjadi tempat Favorit bagi sebagian warga Jakarta. Makanya ada istilah jangan pernah ngaku anak Jakarta jika belum pernah mejeng di Blok-M. Dan sebutan untuk Blok-M seolah menjadi satu kebanggaan bagi yang orang yang sering hilir mudik dikawasan tersebut.

Bahkan saya pribadi menganggap Blok-M juga suatu tempat yang begitu menyenangkan dalam hal yang namanya mejeng. Kala saya masih berseragam abu-abu, Blok-M sudah jadi tempat Favorit untuk mencari buku, Baju, sepatu hingga urusan asmara dan tawuran. Seiring waktu yang terus berjalan kawasan Blok-M pun semakin padat dan banyak dikunjungi orang tak hanya dari Jabodetabek saja, Bahkan dari berbagai daerah entah untuk berbisnis atau mencari sebuah pekerjaan dan berdagang. Tak heran semua kendaraan umum semua jurusan lengkap tersedia di terminal Blok-m.

Karena termasuk tempat Favorit yang berada dikawasan Jakarta Selatan dan seiring perkembangan zaman kawasan Blok-M pun makin memperbayak yang namanya pusat perbelanjaan dari yang namanya Mall Pasar-Raya, Blok-M plaza Hingga Blok-M mall. Dari ketiga nama tersebut Blok-M mall lah yang lebih mendominisasi dari pusat perbelanjaan dua diatas..Karena Blok-M mall lebih menjanjikan, Terlebih untuk kalangan menengah kebawah. Karena dahulu yang saya tahu Blok-M mall paling banyak dan padat dikunjungi pembeli serta para pengunjung ketimbang Blok-M plaza atau Pasar Raya yang bersebelahan dengan Blok-mall.




Sejarah Blok-M mall, Adalah mall yang unik karena terletak di bawah Terminal Bus Blok M dan dipadukan dengan taman kota. Mal yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta (Bapak Wiyogo Atmodarminto) pada tanggal 3 Oktober 1992 ini berada di sentra bisnis Jakarta Selatan dengan luas lahan 3,5 hektar dan dibangun berdasarkan program kerjasama BOT dengan Pemda DKI Jakarta. Seluruh konsep disain maupun pelaksanaan pembangunannya dikerjakan oleh putra-putri Indonesia.

Sejak tahun 2005 fasilitas Terminal Blok M semakin lengkap dengan mulai dioperasikannya Bus Transjakarta oleh Pemda DKI Jakarta, di mana Terminal Blok M merupakan tujuan awal dan akhir dari rute Bus Transjakarta koridor I (Blok M – Kota).

Tidak kurang dari 150.000 penumpang per hari menggunakan fasilitas bus di Terminal Blok M dan sebagian besar penumpang mengunjungi Mal yang unik ini setiap harinya.




Namun siapa sangka sesuatu antara tahun 2017 sampai 2018 seramai-ramainya Blok-mall, Yang katanya menjadi tempat Favorit trend anak muda Jakarta, Semakin lama semakin meredup. Dan atas kejadian berimbas pada para pelaku bisnis dikawasan Blok-mall itu sendiri...Beberapa toko ada yang mulai menutup usahanya atau pindah ketempat lain.

Selain itu kehadiran busway pun sempat membuat pro dan kontra antara pengemudi angkutan umum dari bus tanggung seperti metromini, Kopaja dan bus-bus besar lainnya. Bukan hanya busway saja yang membuat kendaraan seperti metromini dan kopaja harus bersaing ketat. Pelarangan terhadap bus-bus tanggung yang tak layak jalanpun semakin diperketat pada masa era gubernur Bazuki Cahaya Purnama ( Ahok ) Yang berimbas pada bus metromini dan kopaja. Sampai pada akhirnya semakin jarangnya bus tanggung seperti metromini dan kopaja jarang ditemui diarea terminal Blok-M. Seandainya ada armadanya tak sebanyak dulu dan penumpang yang ingin menuju kawasan Blok-M harus rela menunggu lama. Bahkan sebagian beralih menggunakan busway.

Blok-M mall mencoba bertahan dengan keadaan itu semua. Sampai pada akhir era 2019 hingga 2020 semuanya tetap tidak membawa perubahan yang berarti. Terlebih ditambah Pademi Covid 19 yang melanda Indonesia Blok-M mall pun semakin sepi pengunjung, Lebih dari 10 toko atau tempat usaha banyak yang gulung tikar. Dan hari demi hari kawasan Blok-M mall tak ubahnya seperti sebuah mall yang mati. Hanya beberapa toko saja yang nampak buka, Tak hanya Blok-M mall, Mall lainnya yang bersebelahan dengannya pun hampir sama, semuanya kebagian merasakan imbas dari Covid 19 yang melanda hampir seluruh kawasan Jakarta.

Tak ubahnya seperti Blok-M mall kawasan terminal Blok-M pun tak jauh berbeda hanya ada busway dan ojek online saja. Selebihnya kendaraan umum lainnya hanya sesekali saja memasuki kawasan terminal, Dan tak banyak pula penumpang yang menaikinya. Semuanya telah berubah Blok-M mall dan Mall lainnya yang berada dikawasan tersebut kini tak semenarik dulu lagi. Jika dulu banyak yang mengatakan tempat paling bergengsi untuk mejeng dikawasan Selatan Jakarta, Namun Kini orang hanya biasa saja jika mendengar kata Blok-M, Atau Blok-M mall.

Naah anda warga Jakarta, Atau tinggal disekitaran Jabodetabek tentunya punya dong kisah menarik tentang Blok-M atau Blok-M maall. Baik jika anda mau boleh dong berbagi cerita pada kolom komentar dibawah ini.



Sumber : Pengamatan pribadi & Ipp.co.id


~ SEMOGA ~ BERMANFAAT ~

Saturday, 31 October 2020

October 31, 2020

Koran Bacaan Yang Kini Semakin Langka



Saat santai sore dan hendak olahraga sepeda saya ditegur seseorang sayapun sempat bingung, Tetapi setelah saya teliti kembali ternyata beliau adalah pak Iwan, Pedagang koran langganan saya sewaktu dulu media surat kabar memang masih dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat indonesia. Untuk menjadi sumber bacaan atau mencari sesuatu, Contohnya memasang iklan, Mencari lowongan pekerjaan dll. Berbeda dengan sekarang media surat kabar koran seolah sudah tergusur oleh yang namanya smartphone. Dan dengan smartphone apa yang kita cari memang sudah melebihi dari media surat kabar yang bernama koran.

"Jadi pak iwan sudah tidak berjualan koran lagi nih"....Tanya saya santai.

"Yaa sudah tidak lagi mas Satria, Lhaa mas Satria sendiri sudah hampir satu tahun tidak berlangganan lagi. Yaa karena penjualan sepi sekarang saya lebih memilih ngewarung mas"...Balas pak iwan.

"Benar juga yaa pak, Perubahan zaman semua berganti dengan teknologi digital yaa pak".

"Iya mas Satria lha wong dipaksain juga percuma, Koran masih ada cuma membelinya saja yang agak sulit sekarang ini".

Sayapun mengangguk dan benar apa yang dikatakan pak Iwan. Sebenarnya yaa koran masih ada tapi boleh dikatakan memang cukup langkah sekarang ini jika mencarinya. Akhirnya obrolan sayapun berakhir, Saya segera berlalu melakukan aktifitas olahraga sepeda, Sedang pak Iwan pun berlalu menuju kesatu tempat guna memenuhi kebutuhan warungnya.

Bicara soal koran dahulu media surat kabar tersebut mampu menjadi sebagai jembatan untuk membuat orang menuju kesuksessan. Yaa contoh sederhana jika kita membaca sebuah iklan lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kita, Bukan tidak mungkin kitapun melamar pekerjaan tersebut dan berharap perusahaan yang kita datangi mau menerima kita sebagai karyawan atau pegawai.

Tak hanya itu dengan membaca sebuah koran kita juga banyak mendapat banyak wawasan serta ilmu pengetahuan yang luas. Karena jenis koran bervariasi sebagai contoh.

1. KORAN POS KOTA ... Sebuah surat kabar yang ngetrend dikawasan Jabodetabek ini selalu menghadirkan berita-berita kriminal ibukota. Selain itu koran pos kota juga menyediakan bacaan cerita-cerita menarik. Ada juga TTS, Produk iklan, Serta lowongan pekerjaan dan masih banyak lagi bacaan menarik dari koran itu sendiri.

2. KORAN KOMPAS ... Ketimbang pos kota, Koran Kompas ini dulu era 90,an termasuk bacaan bergengsi bagi kalangan menengah keatas. Namun jika dilihat dari penjualan memang koran pos kotalah yang lebih mendominisasi. Karena banyak yang bilang koran pos kota itu bacaan untuk rakyat kalangan menengah kebawah kala itu.

Apa bedanya koran kompas dan koran pos kota...Sebenarnya hampir sama cuma Koran kompas lebih mengedepankan berita dunia, Selain itu lembarannya juga cukup banyak hampir 8 lembar kalau tidak salah waktu era 90,an. Namun seiring waktu yang berjalan karena harga kertas yang terus melonjak tinggi, Baik koran kompas dan pos kota mengurangi jumlah lembarannya.

3. KORAN MEDIA INDONESIA ... Hampir sama dengan koran kompas, Koran media indonesia ini juga selalu menghadirkan berita-berita dunia. Meski kalau dilihat dari isi bacaannya yaa cuma 11.12 sih dari koran kompas jadi intinya koran kompas dan media indonesia cuma masalah selera saja.

Naah itulah 3 harian surat kabar ibukota yang pernah ngetrend pada era 90,an. Selain koran ada juga lho bacaan sejenisnya, Yaitu Tabloid dan namanya bermacam-macam sebagai contoh Tabloid Citra, Tabloid Nova, Tabloid Populer dan masih banyak lagi berbeda dengan koran, Tabloid ini lebih mengedepankan trend gaya Fashion, Kuliner, Kecantikan, Cerpen, Kesehatan dan ruang curhat. Boleh dikatakan dulu tabloid masuk katagori bacaan kaula muda atau mahasiswa yang ingin punya bacaan lebih dari yang namanya koran.


~ APA MANFAAT KORAN BEKAS ~

Koran jika sudah lewat satu hari biasanya masuk katagori bekas, Meski masih tetap enak untuk dibaca. Apapun jenis korannya.

MANFAATNYA ... Sangat banyak, Contoh sederhana bisa untuk membungkus aneka jenis barang atau prabotan, Sebagai sarap untuk almari baju atau lemari pajangan, Bisa juga jadi tatakan jika anda mengecat tembok rumah agar lantai rumah anda tidak blepotan cat, Yang tercecer dari tembok yang sedang anda cat. Dan masih banyak sih sebenarnya manfaat dari koran bekas. Bahkan jika anda sering berlangganan koran bulanan dalam setahun pastinya rumah anda banyak tumpukan koran-koran bekas. Jika anda bawa kelapak-lapak atau penampung koran bekas tentunya akan jadi uang.

APA MUNGKIN SEKARANG ORANG MASIH MEMBUTUHKAN YANG NAMANYA KORAN ... Bisa iya, Bisa tidak...Kenapa karena kebanyakan untuk sekarang ini orang mencari koran mungkin bukan untuk dibaca, Tetapi untuk sarana lain bisa juga untuk membungkus atau keperluan lainnya. Karena meski dari kertas banyak manfaat dari yang namanya koran. Walau kini keberadaannya boleh dikatakan antara ada dan tiada.

Naah itulah sedikit ulasan tentang nama media surat kabar yang bernama koran yang ada di ibukota. Dan setiap daerah biasanya punya nama koran tersendiri baik apapun namanya bagi anda yang punya cerita tentang koran didaerah anda Apapun nama korannya boleh dong berbagi cerita dengan saya dikolom komentar dibawah ini.



~ SEMOGA ~ BERMANFAAT ~