Keberadaan saya dikota Jember akan berakhir suka tidak suka, enak atau tidaknya saya tetap konsisten dengan perjanjian yang telah saya buat sendiri kepada Ance bahwa saya akan pulang ke Jakarta sebelum natal dan tahun baru.
Kalau boleh jujur sayapun berat meninggalkan kota Jember, tetapi bukan karena Andini dan Adinda, tetapi karena selama saya berada dikota Jember jarang saya mendapatkan masalah atau hal yang membebankan pada diri saya. Semuanya berjalan lancar tanpa kendala, bahkan banyak pula bonus kesenangan yang saya dapat selama berada dikota Jember.
Dan apapun yang terjadi, sesuatu akan tetap ada akhirnya. Sayapun juga tak ingin terlena terus oleh keadaan dikota Jember, karena jika berpikir seperti itu terus bisa membuat saya menjadi bimbang untuk pulang ke Jakarta. Jadi sebelum mendekati hari H, saya sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Bahkan oleh-oleh khas jember seperti makanan ringan dan hal lainnya sudah saya kirim lebih dulu ke Jakarta sebelum kepulangan saya.
Saat saya sedang asik melamun setelah habis Magrib Ancepun berkata kepada saya..."Luh jadi Sat pulang tanggal 21 nanti".. Tanya Ance dengan sedikit bimbang.
"Jadilah Nce, bukannya gue tega ninggalin luh juga Nce, cuma ada dua keluarga yang harus gue urus di Jakarta dan banyak tanggung jawab juga yang gue harus lalukan di Jakarta. Yaa nggak perlu gue jelasin luh juga udah tahu Nce" .. Jawab saya santai.
"Betul Sat, tapi sebenarnya gue pengen luh disini sampai mejelang lebaran nanti, cuma yaa gue juga nggak bisa maksa luh Sat, okay lah yang terpenting nanti kita saling berkabar saja"..
"Pastilah Nce, luh juga Handphone kalau bisa aktif terus, seandainya luh lagi sibuk luh bales chat saja. Oiya kabarin juga kalau luh sudah punya banyak istri disini".
"Aaah! Syaraf luh"... Balasnya sambil terkekeh.
"Lho nggak masalahkan, contoh luh ada rasa sama Andini, Adinda atau Cici Inka dan yang lainnya boleh kok Nce".
"Itu bukan nggak masalah, tapi bikin masalah baru suuee!!" Akhirnya saya dan Ance sama-sama tertawa.
Sebenarnya ada banyak tempat yang belum saya datangi selama berada dikota Jember, selain itu ada banyak teman dunia maya dari Konten Creator Tik-tok, Blogger dan yang lainnya.. Seandainya pun ada baru dua orang saja itupun tidak lama, karena jadwal pekerjaan saya yang tidak pernah ada liburnya, meski terkadang ada kesempatan libur itupun tidak menentu. Terkadang waktu senggang saya habis bersama Andini dan Adinda, meski bukan masalah juga sih buat saya. Intinya berada empat bulan kurang dikota Jember bagi saya sudah jadi satu hal yang menyenangkan.
Sampai pada akhirnya kepulangan saya ke kota Jakarta telah tiba. Minggu pagi tanggal 21 Desember 2025 saya berpamitan kepada warga sekitar komplek atau perumnas tempat saya dan Ance mengontrak, meski tidak semua tetapi bagi saya tetap banyak penuh drama dan embel-embel... "Sering-sering main kesini kalau bisa sebulan sekali atau setelah lebaran biar kami nggak merasa kehilangan"...Seru warga sekitar komplek. Bahkan ada yang nyeletuk kapan saya melamar Adinda, meski itu semua hanya saya balas dengan senyuman.
Kepulangan sayapun tidak membuat Andini panik karena selama saya berada dikota Jember hal itu sudah saya bahas terhadapnya sewaktu kami punya waktu senggang saat jalan-jalan sore kesuatu tempat, dan Andinipun sudah tahu kalau saya akan pulang bulan Desember sebelum Natal dan tahun baru. Berbeda dengan Adinda, meski sudah saya jelaskan ia cendrung suka mengabaikannya, jadi sewaktu Ance mau mengantar saya, Adinda melarangnya karena ia yang akan mengatar saya meski hanya sampai stasiun kereta yang ada dikota Jember.
Ance sebenarnya ingin mengantar saya sampai Surabaya dengan mobilnya untuk sekalian pulang ke Gresik, Namun saya juga melarangnya dengan alasan tidak enak dengan Adinda, walau sebenarnya saya sendiri ingin diantar dengan Ance tetapi demi Adinda akhirnya saya lebih memilih naik kereta saja.
"Selamat jalan mas Dias, jangan lupa main-main kesini lagi atau kabari kalau mau ke Jember lagi dan jangan lupa kalau kesini lagi bawa oleh-oleh khas Jakarta yaa"... Seru Andini sambil tersenyum.
"Ooh itu pasti dong, demi mbak Dini nanti-nanti saya akan selalu berusaha datang kembali ke Jember" .. Balas saya kembali.
Setelah urusan salam perpisahaan ditempat saya mengontrak selesai saya langsung menuju toko bersama Ance dan Adinda untuk izin pamit kepada para karyawan yang ada ditoko milik Ance. Tak berselang lama sayapun sampai ditoko, kejadiannya pun sama seperti dikomplek tempat saya mengontrak ramai riuh dan penuh drama meski tak seheboh dikomplek tempat saya mengontrak. Sampai akhirnya saya meninggalkan toko dan langsung menuju stasiun kereta, meski Adinda tak ingin saya buru-buru untuk segera naik kereta api. Akhirnya saya dan Adinda mencari tempat untuk mengobrol dengannya yang terakhir kalinya.
Tepat jam satu siang akhirnya saya dan Adinda mengakhiri obrolan dan langsung menuju stasiun kereta hingga kereta itu tiba barulah Adinda meninggalkan saya, dan saya akhirnya meninggalkan kota Jember, meski sudah berjanji akan datang kembali kekota Jember dengan sesuatu yang pasti akan berbeda nantinya.
Kalau boleh jujur sayapun berat meninggalkan kota Jember, tetapi bukan karena Andini dan Adinda, tetapi karena selama saya berada dikota Jember jarang saya mendapatkan masalah atau hal yang membebankan pada diri saya. Semuanya berjalan lancar tanpa kendala, bahkan banyak pula bonus kesenangan yang saya dapat selama berada dikota Jember.
Dan apapun yang terjadi, sesuatu akan tetap ada akhirnya. Sayapun juga tak ingin terlena terus oleh keadaan dikota Jember, karena jika berpikir seperti itu terus bisa membuat saya menjadi bimbang untuk pulang ke Jakarta. Jadi sebelum mendekati hari H, saya sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Bahkan oleh-oleh khas jember seperti makanan ringan dan hal lainnya sudah saya kirim lebih dulu ke Jakarta sebelum kepulangan saya.
Saat saya sedang asik melamun setelah habis Magrib Ancepun berkata kepada saya..."Luh jadi Sat pulang tanggal 21 nanti".. Tanya Ance dengan sedikit bimbang.
"Jadilah Nce, bukannya gue tega ninggalin luh juga Nce, cuma ada dua keluarga yang harus gue urus di Jakarta dan banyak tanggung jawab juga yang gue harus lalukan di Jakarta. Yaa nggak perlu gue jelasin luh juga udah tahu Nce" .. Jawab saya santai.
"Betul Sat, tapi sebenarnya gue pengen luh disini sampai mejelang lebaran nanti, cuma yaa gue juga nggak bisa maksa luh Sat, okay lah yang terpenting nanti kita saling berkabar saja"..
"Pastilah Nce, luh juga Handphone kalau bisa aktif terus, seandainya luh lagi sibuk luh bales chat saja. Oiya kabarin juga kalau luh sudah punya banyak istri disini".
"Aaah! Syaraf luh"... Balasnya sambil terkekeh.
"Lho nggak masalahkan, contoh luh ada rasa sama Andini, Adinda atau Cici Inka dan yang lainnya boleh kok Nce".
"Itu bukan nggak masalah, tapi bikin masalah baru suuee!!" Akhirnya saya dan Ance sama-sama tertawa.
Sebenarnya ada banyak tempat yang belum saya datangi selama berada dikota Jember, selain itu ada banyak teman dunia maya dari Konten Creator Tik-tok, Blogger dan yang lainnya.. Seandainya pun ada baru dua orang saja itupun tidak lama, karena jadwal pekerjaan saya yang tidak pernah ada liburnya, meski terkadang ada kesempatan libur itupun tidak menentu. Terkadang waktu senggang saya habis bersama Andini dan Adinda, meski bukan masalah juga sih buat saya. Intinya berada empat bulan kurang dikota Jember bagi saya sudah jadi satu hal yang menyenangkan.
Sampai pada akhirnya kepulangan saya ke kota Jakarta telah tiba. Minggu pagi tanggal 21 Desember 2025 saya berpamitan kepada warga sekitar komplek atau perumnas tempat saya dan Ance mengontrak, meski tidak semua tetapi bagi saya tetap banyak penuh drama dan embel-embel... "Sering-sering main kesini kalau bisa sebulan sekali atau setelah lebaran biar kami nggak merasa kehilangan"...Seru warga sekitar komplek. Bahkan ada yang nyeletuk kapan saya melamar Adinda, meski itu semua hanya saya balas dengan senyuman.
Kepulangan sayapun tidak membuat Andini panik karena selama saya berada dikota Jember hal itu sudah saya bahas terhadapnya sewaktu kami punya waktu senggang saat jalan-jalan sore kesuatu tempat, dan Andinipun sudah tahu kalau saya akan pulang bulan Desember sebelum Natal dan tahun baru. Berbeda dengan Adinda, meski sudah saya jelaskan ia cendrung suka mengabaikannya, jadi sewaktu Ance mau mengantar saya, Adinda melarangnya karena ia yang akan mengatar saya meski hanya sampai stasiun kereta yang ada dikota Jember.
Ance sebenarnya ingin mengantar saya sampai Surabaya dengan mobilnya untuk sekalian pulang ke Gresik, Namun saya juga melarangnya dengan alasan tidak enak dengan Adinda, walau sebenarnya saya sendiri ingin diantar dengan Ance tetapi demi Adinda akhirnya saya lebih memilih naik kereta saja.
"Selamat jalan mas Dias, jangan lupa main-main kesini lagi atau kabari kalau mau ke Jember lagi dan jangan lupa kalau kesini lagi bawa oleh-oleh khas Jakarta yaa"... Seru Andini sambil tersenyum.
"Ooh itu pasti dong, demi mbak Dini nanti-nanti saya akan selalu berusaha datang kembali ke Jember" .. Balas saya kembali.
Setelah urusan salam perpisahaan ditempat saya mengontrak selesai saya langsung menuju toko bersama Ance dan Adinda untuk izin pamit kepada para karyawan yang ada ditoko milik Ance. Tak berselang lama sayapun sampai ditoko, kejadiannya pun sama seperti dikomplek tempat saya mengontrak ramai riuh dan penuh drama meski tak seheboh dikomplek tempat saya mengontrak. Sampai akhirnya saya meninggalkan toko dan langsung menuju stasiun kereta, meski Adinda tak ingin saya buru-buru untuk segera naik kereta api. Akhirnya saya dan Adinda mencari tempat untuk mengobrol dengannya yang terakhir kalinya.
Tepat jam satu siang akhirnya saya dan Adinda mengakhiri obrolan dan langsung menuju stasiun kereta hingga kereta itu tiba barulah Adinda meninggalkan saya, dan saya akhirnya meninggalkan kota Jember, meski sudah berjanji akan datang kembali kekota Jember dengan sesuatu yang pasti akan berbeda nantinya.

Komentar
Posting Komentar
TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!