Langsung ke konten utama

Kualat Buat Ance



Setelah mengontrak dikota Jember hampir sebulan lebih Ance pernah berkata kepada saya, apa dikota Jember ada Klenteng seperti dikota Surabaya. Meski ditoko ada tempat untuk beribadah baik Klenteng maupun musholla namun ia tetap harus tahu Klenteng yang ada diluar toko. Atau Klenteng umum.

Sama seperti saya yang terkadang berpikir lebih baik sholat dimasjid ketimbang dirumah kontrakan atau ditoko jika ada waktu yang cukup. Begitupun dengan Ance yang mungkin tidak mau beribadah hanya ditokonya saja, iapun harus tahu Kleteng umum khusus orang Thionghua yang ada dikota Jember.

Sampai hal ini saya tanyakan kepada Adinda dan Andini, dan akhirnya Adinda berkata kepada saya bahwa ia ada kenalan orang Thionghua daerah Sukorambi dari situlah akhirnya Ance tahu ternyata banyak Klenteng dikota Jember kalau mau ditelusuri. Singkat cerita akhirnya Ance dikenalkan oleh Adinda seorang wanita Thionghua yang bernama Inka. Atau Cici Inka, sejak itu Ance dan istrinya sering menuju Klenteng tersebut jika ada waktu luang, Sayapun pernah menemaninya meski baru satu kali.

Sampai pada suatu hari setelah saya dipercaya untuk mengurus beberapa tagihan ditiga toko yang berbeda saya sempat dibuat bingung setelah kembali ketoko. Para karyawan menanyakan keberadaan Ance yang sejak tadi pagi hanya datang ketoko sebentar, hingga siang menjelang sore ia belum kembali ketoko dan tanpa kabar yang jelas.

Sayapun dibuat bingung. Sedangkan istri Ance, Cici Amelia memang sedang pulang ke Surabaya untuk mengurus beberapa toko yang ada disana. Itu pun saya tahu, dan tak mungkin Ance ikut sang istri ke Surabaya. Karena seandainya ia pulang ke Surabaya pasti ia memberi kabar kepada saya meski dalam keadaan apapun.

"Sudah ditelepon kesemua nomor handphonenya".. Tanya saya pada semua karyawan ditoko.

"Sudah pak nggak Aktif, kedua Handphonenya, malah satu handphonenya lagi ditinggal ditoko" .. Balas para karyawan serentak kepada saya.

Sayapun segera mengambil Handphone Ance yang tertinggal dimeja kerjanya dan menghubungi dua nomor yang lainnya kembali, tetapi tetap tidak aktif. Setelah memberi arahan kepada karyawan agar tetap tenang sayapun akhirnya kembali rumah kekontrakan yang saya dan Ance tempati.

Sempainya dirumah kontrakan saya kembali menemukan Handphone Ance dalam kondisi mati belum dicharger. Akhirnya saya berinisiatif untuk menelepon Cici Amelia istrinya Ance yang berada di Surabaya, namun hal itu saya batalkan karena saya melihat Andini lewat dihadapan saya.. Sayapun segera memanggilnya.

"Mbak Dini!! Anu saya mau tanya tadi pagi atau siang lihat Ko Ance nggak?".. Tanya saya agak tergesa.

"Ko Ance jam 8 pagi tadi sudah pulang mas Dias, cuma nggak lama ia pergi lagi katanya mau ke Klenteng mumpung nggak terlalu sibuk katanya."... Jawab Andini santai.

"Kampret tuh orang, kenapa cuma mau ke Klenteng Handphone pake dimatiin semua" ... Grutu saya sambil kesal.

"Habis dari Klenteng ia mampir kali kerumah Cici Inka, terus betah deh sampai lupa pulang"... Balas Andini sambil tertawa terkekeh.

"Bisa jadi begitu sih, harus disusulin tuh orang benar-benar keterlaluan".

"Biarin aja kali mungkin dia lagi senang sama Janda, Cici Inka kan janda kembang mas Dias".

Sayapun sependapat dengan Andini kemungkinan Ance sedang bersama Cici Inka, yang ternyata seorang Janda. Dan kalau saya pikir lagi Cici Inka juga masih sangat Cantik, kemungkinan ia tertarik dengannya. Akhir setelah ngobrol sore bersama Andini saya yakin bahwa Ance bersama Cici Inka yang entah dimana berada. Satu-satunya jalan yaitu mendatangi Klenteng yang berada di Sukorambi.

Andini akhirnya menyarankan kepada saya kalau ingin ke Klenteng tapi bingung dengan arah jalannya lebih baik minta diantar sama Adinda adiknya yang saat itu juga baru pulang dari tempat kerjanya. Beruntung Adinda mau setelah saya bujuk akan berkuliner malam sambil jalan-jalan mencari Ance ke Klenteng yang berada didaerah Sukorambi yang berjarak kurang lebih 10Km.

Akhirnya jam 7 malam saya dan Adinda berangkat mencari Ance ke Klenteng motorpun melaju dengan santai dan saya berpikir seandainya Ance tidak ada di Klenteng, Saya bingung harus mencari kemana lagi sedangkan Handphonenya masih belum bisa dihubungi. Sampai dipertengahan jalan saya lupa untuk menuju arah Klenteng, akhirnya motor diambil alih oleh Adinda. Tak berselang lama saya dan Adinda akhirnya sampai di Klenteng tempat yang saya tuju.

Klentengpun nampak sepi akhirnya saya mencoba masuk menanyakan kedalam meski ada sedikit Drama dengan pengurus Klenteng akhirnya setelah saya jelaskan dengan detail bersama Adinda akhirnya. Ia menceritakan juga bahwa Ance dan Cici Inka baru keluar dari Klenteng sekitar 15 menitan yang lalu. Akhirnya dengan nada kecewa saya dan Adinda berlalu dari Klenteng tersebut.

"Aah sialan bangat tuh orang kemana dia perginya".. Seru! Saya kesal.

"Gini aja mas Dias kita kerumah Cici Inka saja" Jawab Adinda.

"Nomor Cici Inka juga nggak aktif Nda" Balas saya kembali.

"Dia memang begitu mas, yang terpenting kita kerumahnya saja, kalau nggak ada kita pulang saja".

Akhirnya saya menyetujui usul Adinda untuk kerumah Cici Amelia, Motorpun kembali dikemudikan oleh Adinda beruntung ia berjalan pelan dan santai, karena saat laju motor berjalan pelan sekitar 200 meteran saya melihat mobil Ance sedang terpakir disebuah Cafe kecil dan sayapun meminta Adinda untuk menepi.

"Nda kamu temani Cici Inka sebentar aku mau bawa si Ance ngobrol diluaran Cafe okay" Seru saya kembali.

"Tapi kamu jangan berantem mas Dias"..

"Nggaklah kamu tenang saja"...Sayapun segera masuk ke Cafe dan membawa Ance keluar agak menjauh dari Cafe.

"Luh keterlaluan Nce, gue nggak ngerti sama yang ada dipikiran luh, Karyawan toko sama gue mikirin luh yang tiba-tiba hilang mendadak, luh malah enak-enakan sama Janda Handphone luh matiin maksudnya apa begitu".

"Gini Sat, luh dengar gue dulu, seb..."

"Cukup Nce, luh mau pacaran sama janda kek, perawan kek, atau luh pengen kawin lagi itu urusan luh, cuma bukan toko luh tinggal begitu saja, luh nggak mikir berapa uang yang sudah luh keluarin buat jadiin tuh toko".. Balas saya kesal.

"Sebenarnya gue pengen ngomong sama luh cuma tadi luh lagi diluar dan"....

"Sudahlah urus tuh janda gue mau balik, nanti dirumah aja luh jelasin sama gue, untung gue nggak nelepon bini luh".

Sayapun akhirnya mengajak Adinda meninggalkan Cafe tersebut dan memenuhi janji saya akan mengajaknya berkuliner malam meski hanya satu jam.

Jam 10 malam Ance baru sampai rumah, sayapun membiarkanya dengan berpura-pura tidur. Sampai akhirnya jam 4 pagi habis shubuh Ance membangunkan saya, meski agak malas akhirnya saya menurutinya walau pikiran saya masih agak jengkel terhadapnya.

Setelah banyak meminta maaf akhirnya Ance bercerita detail kepada saya pagi itu, sayapun mendengarkannya tanpa memotong sedikit ucapannya.

"Dengar Nce, kemarin gue sudah bilang sama luh, luh mau punya cewek lebih dari 5 atau banyak istri simpanan, itu tetap urusan luh. Cuma luh mungkin gengsi atau malu bicara sama gue jadi toko luh korbankan sama semua karyawan, coba kalau sampai bini luh tahu gue juga yang repot Nce".

"Luh bener Sat, mungkin karena gue bimbang dan malu, malah jadi kualat kaya begini akhirnya"..Balas agak tegang.

"Sudah lupain sajalah masalah kemarin, cuma perlu luh inget Nce jangan terlalu manjain perempuan dengan cara berlebihan terlebih dengan uang. Gue nggak pernah manjain si Andini sama si Adinda berlebihan, ya semampunya aja dan yang terpenting keluarga kita Nce."

Akhirnya saya dan Ance saling memaafkan. Dan sekitar jam 8 pagi saya segera ketoko. sementara Ance saya suruh istirahat dirumah karena ia belum tidur dari semalam. Hingga siang menjelang sore barulah Ance ketoko seperti biasa. Dan kepada karyawan toko saya memberi alasan bahwa mobil Ance mogok mendadak dan Handphonenya lowbath lupa ia charger. Jadi sulit untuk dihubungi karena lebih fokus kemobil yang mogok.

Hari-hari berikutnya jika hendak ke Klenteng atau kerumah Cici Inka Ance selalu bilang jauh-jauh hari kepada saya. Sehingga saya bisa mengambil alih menggantikannya selama ia berada diluar toko jika keadaan toko sedang ramai.





~ THANK ~ YOU ~

Komentar

Posting Komentar

TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!


Postingan populer dari blog ini

Apakah Belanja Dengan Uang Cash Masih Berlaku Di Masa Mendatang?

Di era digital yang semakin canggih, dompet kita terasa semakin ringan. Kartu debit, kartu kredit, hingga aplikasi pembayaran digital kini mendominasi setiap transaksi. Muncul pertanyaan besar: Apakah uang tunai (cash) akan menjadi relik masa lalu, atau masih memiliki tempat di masa mendatang? 1. Dominasi Pembayaran Digital: Sebuah Keniscayaan Tidak dapat dimungkiri, tren global bergerak menuju masyarakat cashless. Kecepatan, kemudahan, dan keamanan (dalam konteks tidak perlu membawa uang fisik dalam jumlah besar) yang ditawarkan oleh pembayaran digital adalah daya tarik utamanya. Kemudahan dan Kecepatan: Pembayaran melalui QR code, contactless card, atau e-wallet hanya membutuhkan waktu beberapa detik, jauh lebih cepat daripada menghitung uang tunai dan menunggu kembalian. Data dan Pelacakan: Bagi konsumen, transaksi digital membantu pelacakan pengeluaran. Bagi bisnis dan pemerintah, data transaksi ini sangat berharga untuk analisis ekonomi dan perpajakan. Ino...

5 Permainan Anak 90,an Saat Bulan Puasa Dan Hari Lebaran

Anda yang pernah mengalami era 90,an tentunya pasti tahu akan sebuah permainan diawal atau akhir bulan puasa. Yaa memang sangat berbeda dengan era sekarang yang serbah canggih. Dan kalau boleh saya tahu yang merasa anak 90,an sebenarnya kangen nggak sama permainan yang sudah tertera diatas dan dibawah ini.? Atau mungkin anda sudah lupa, Atau pura-pura lupa..? 😂😂 Ok kalau begitu. Disini saya bukan ingin menanya lupa atau tidaknya dengan sebuah permainan jadul era 90,an. Tetapi sekedar ingin mengulas tentang permainan jadul anak 90,an kala menunggu saat berbuka puasa. Kalau anak sekarang bilang katanya Ngabuburit.? 😄 Sebenarnya apa bedanya sih permainan era 90,an dan sekarang, Kala menunggu waktu berbuka puasa. Yaa sudah barang tentu sangat berbeda. Meski ada beberapa yang masih kerap dipermainkan diera sekarang. Lalu apa saja permainannya berikut ulasan dibawah ini. 1. PETASAN & KEMBANG API Ilustrasi By : Poskota Yaa dari gambar pertama adalah...

Telat Mencabut

Kesibukkan bekerja membuat Agus lupa akan kesehatan tubuhnya hingga akhirnya ia harus dilarikan kerumah sakit terdekat karena sakit. akibat kurang teratur makan. Tiga hari kemudian teman kerjanya yang bernama Khanif datang menjenguknya, dan kebetulan memang hari itu tepat waktunya untuk jam kunjungan membesuk pasien. "Sorry banget Gus baru hari ini gue bisa datang membesuk luh kerumah sakit"... Kata Khanif teman kerjanya. Berhubung Agus orangnya sabar dan pemaaf meski baru sembuh dari sakitnya ia mencoba tersenyum kepada Khanif... "Nggak masalah Nif, nggak usah dipikirin toh hari ini luh sudah bertemu gue". "Eehhhmm, anu Gus, gue juga minta maaf, karena membesuk luh nggak bisa membawa apa-apa, soalnya gue juga baru sembuh dari sakit gigi Gus". Agus kembali tersenyum... "Aah! luh nggak usah sungkan-sungkan Nif sama gue, luh datang gue juga udah senang". Suasana menjadi hening sejenak sampai akhirnya Khanif kembali berbicara...

Cerpen : Cermin Kematian

~CERPEN : Cermin~Kematian~ Malam semakin larut Manda masih berdiri didepan cermin besar yang ada dikamarnya, dadanya berdesir, Manda takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Manda. Wajahnya tersipu mendengar pujian itu. Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu. Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat kecantikannya sendiri. Rambutnya panjang, berwarna hitam kecokelatan, berkilat, bergelung seolah ombak. Dahinya licin. Matanya bulat, berbinar-binar. Hitam pekat seperti langit malam. Dikedip-kedipkannya matanya, hingga ia perhatikan bulu matanya yang tebal dan lentik. Tebal serupa alisnya yang melengkung menaungi sepasang matanya yang indah itu. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Cantik sekali dirimu, Manda membatin. Ya, kau memang cantik, Manda. Hidungnya, ...

Cerpen : Tabir Asmara Jingga

~CERITA INI HANYA FIKTIP & BUALAN BELAKA UNTUK 90 TAHUN+++~ Hampir sembilan tahun telah berlalu usia perkawinan Vina, Dan selama tiga tahun berjalan Vina tak pernah lagi merasakan yang namanya hidup berumah tangga. Seolah ia hidup seorang diri dan tak pernah ada seorangpun yang mengerti keinginan hati serta jiwanya. Berawal dari sang suami yang tak pernah pulang, Hingga terkadang lupa memberi nafkah dirinya serta anak semata wayangnya. Vinapun mencoba sabar dengan semua itu bahkan sebagai seorang wanita yang punya pendidikan cukup Vinapun mencoba mencari kerja sampingan dari berjualan produk kosmetik hingga bisnis dor to dor semua produk, Layaknya seorang sales. Namun apapun yang Vina usahakan tak pernah membuat hati sang suaminya berubah, Bahkan suaminya yang bernama Dahlan berani meminta uang dari hasil kerjanya dengan alasan yang bermacam-macam. Bagai sudah jatuh tertiban tangga pula, Itulah yang selalu Vina alami. Sebagai wanita yang tegar Vinapun mencoba ber...