Langsung ke konten utama

Cerpen Misteri : Gaun Malam



Lampu gantung di butik antik 'RedRose' berkedip pelan, memantulkan cahaya pada sepotong busana yang berdiri angkuh di tengah ruangan. Sebuah gaun malam berbahan sutra merah darah, dengan potongan leher rendah dan sulaman benang emas yang tampak seperti pembuluh darah yang merambat.

Vina Alfonita nampak terpaku.. Sebagai seorang desainer muda yang sedang mencari inspirasi, ia merasa gaun itu seolah bernapas dan punya pesona luar biasa.

"Itu milik Nyonya Vina-Alfonita namanya sama denganmu," Bisik Pak Wawan, pemilik butik yang mempunyai tubuh agak bungkuk... "Ia memesannya untuk pesta dansa tahun 1970, tapi ia tak pernah sampai ke sana."

Vina Alfonita tidak peduli pada takhayul. Ia membeli gaun itu dengan harga yang sangat murah, merasa telah menemukan harta karun yang menarik baginya.

Sesampainya di Apartemennya keanehan mulai terjadi, malam pertama gaun itu tergantung di lemari apartemennya Vina bermimpi mendengar suara gesekan kain di lantai kayu. Saat terbangun, ia menemukan pintu lemarinya terbuka lebar. Gaun itu tidak jatuh, melainkan terayun pelan seolah baru saja diletakkan kembali.

Pada malam kedua, aroma parfum melati yang menyengat. Sebuah aroma yang tidak pernah Vina miliki, namun selalu memenuhi kamar tidurnya.

"Mungkin ini hanya kelelahan," gumamnya sambil bercermin. Namun, di dalam cermin, ia melihat bayangan gaun itu di belakangnya tampak lebih... penuh. Seolah ada tubuh tak kasat mata yang sedang mencobanya.

Sebuah acara menarik akan Vina datangi, ia memutuskan untuk memakai gaun itu ke gala tahunan industri mode. Saat ia mengenakannya, kain sutranya terasa sangat dingin, lalu tiba-tiba menghangat, seolah menyedot panas dari kulitnya.

Keanehan kembali terjadi saat Vina mengenakannya, gaun itu terasa semakin ketat.. Di pesta, semua mata tertuju padanya. Vina merasa cantik, namun kepalanya mulai pusing. Setiap kali ia berpapasan dengan cermin, ia tidak lagi melihat wajahnya sendiri. Ia melihat seorang wanita dengan rambut tertata gaya bob kuno, dengan mata yang merah karena tangis.

"Viinn?" suara seorang teman bernama Satria membuyarkan lamunannya. "Kau pucat sekali. Dan... lehermu..."

Vina meraba lehernya. Ia merasakan sulaman benang emas itu seolah mengetat. Saat ia melihat ke cermin besar di aula, ia berteriak. Sulaman itu bukan lagi benang, melainkan jari-jari pucat yang melingkari lehernya. Seperti ada rahasia dibalik jahitan gaun tersebut.

Vina berlari pulang, napasnya tersengal. Ia mencoba membuka ritsleting di punggungnya, tapi macet. Kain merah itu seolah menyatu dengan kulit tubuhnya.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil gunting jahit. Ia mulai menggunting pinggiran gaun itu dengan paksa. Saat kain itu robek, bukan suara kain koyak yang terdengar, melainkan jeritan lirih seorang wanita.

Dari balik lapisan furing gaun yang robek, jatuhlah sebuah benda kecil ~ Sebuah foto hitam putih yang sudah menguning dan seuntai rambut manusia yang dijalin bersama benang emas. Di balik foto itu tertulis ~


"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kecantikan ini akan ikut bersamaku ke liang lahat."


Seketika, suhu ruangan turun drastis. Vina melihat bayangan di dinding apartemennya, bayangan gaun itu berdiri tegak tanpa penyangga, tangan kainnya terangkat seolah hendak membalas dendam karena telah dirusaknya.

Keesokan harinya kejadian aneh terlihat apartemen Vina kosong. Pintu lemari terbuka lebar. Di atas lantai, hanya ada tumpukan debu berwarna merah darah dan aroma melati yang mulai memudar.

Tujuh hari kemudian Gaun itu kembali berada di butik "RedRose", tampak baru dan utuh tanpa ada bekas gunting sedikit pun. Pak Wawan menghela napas, sambil tersenyum ia kembali memasang label harga baru untuk Gaun tersebut.

"Gaun ini memang sangat pemilih".. Bisiknya pada sang istri yang juga ikut tersenyum, sambil mengangguk ia berkata... "Dan Gaun merah ini tampak semakin lebih berisi serta menarik" .. Balasnya.

Gaun itupun kembali tergantung indah menarik di Butik 'RedRose', Bah seorang wanita cantik yang sedang menunggu godaan dari seorang pria.




~ THE ~ END ~

Komentar

  1. Waduh, serem juga kalau ada gaun yang seperti itu, kayak punya roh.

    Satu pertanyaan, apakah pemilik awalnya dibunuh oleh gaun itu?

    Btw, ilustrasi covernya keren banget bikin sedikit mengkhayal.. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa betul Huu., pemelik pertama mati oleh gaun tersebut.😁😁

      Mengkhayal pengen ngapain Huu??🙄🤔🤔🤭

      Hapus

Posting Komentar

TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!


Postingan populer dari blog ini

Apakah Belanja Dengan Uang Cash Masih Berlaku Di Masa Mendatang?

Di era digital yang semakin canggih, dompet kita terasa semakin ringan. Kartu debit, kartu kredit, hingga aplikasi pembayaran digital kini mendominasi setiap transaksi. Muncul pertanyaan besar: Apakah uang tunai (cash) akan menjadi relik masa lalu, atau masih memiliki tempat di masa mendatang? 1. Dominasi Pembayaran Digital: Sebuah Keniscayaan Tidak dapat dimungkiri, tren global bergerak menuju masyarakat cashless. Kecepatan, kemudahan, dan keamanan (dalam konteks tidak perlu membawa uang fisik dalam jumlah besar) yang ditawarkan oleh pembayaran digital adalah daya tarik utamanya. Kemudahan dan Kecepatan: Pembayaran melalui QR code, contactless card, atau e-wallet hanya membutuhkan waktu beberapa detik, jauh lebih cepat daripada menghitung uang tunai dan menunggu kembalian. Data dan Pelacakan: Bagi konsumen, transaksi digital membantu pelacakan pengeluaran. Bagi bisnis dan pemerintah, data transaksi ini sangat berharga untuk analisis ekonomi dan perpajakan. Ino...

5 Permainan Anak 90,an Saat Bulan Puasa Dan Hari Lebaran

Anda yang pernah mengalami era 90,an tentunya pasti tahu akan sebuah permainan diawal atau akhir bulan puasa. Yaa memang sangat berbeda dengan era sekarang yang serbah canggih. Dan kalau boleh saya tahu yang merasa anak 90,an sebenarnya kangen nggak sama permainan yang sudah tertera diatas dan dibawah ini.? Atau mungkin anda sudah lupa, Atau pura-pura lupa..? 😂😂 Ok kalau begitu. Disini saya bukan ingin menanya lupa atau tidaknya dengan sebuah permainan jadul era 90,an. Tetapi sekedar ingin mengulas tentang permainan jadul anak 90,an kala menunggu saat berbuka puasa. Kalau anak sekarang bilang katanya Ngabuburit.? 😄 Sebenarnya apa bedanya sih permainan era 90,an dan sekarang, Kala menunggu waktu berbuka puasa. Yaa sudah barang tentu sangat berbeda. Meski ada beberapa yang masih kerap dipermainkan diera sekarang. Lalu apa saja permainannya berikut ulasan dibawah ini. 1. PETASAN & KEMBANG API Ilustrasi By : Poskota Yaa dari gambar pertama adalah...

Telat Mencabut

Kesibukkan bekerja membuat Agus lupa akan kesehatan tubuhnya hingga akhirnya ia harus dilarikan kerumah sakit terdekat karena sakit. akibat kurang teratur makan. Tiga hari kemudian teman kerjanya yang bernama Khanif datang menjenguknya, dan kebetulan memang hari itu tepat waktunya untuk jam kunjungan membesuk pasien. "Sorry banget Gus baru hari ini gue bisa datang membesuk luh kerumah sakit"... Kata Khanif teman kerjanya. Berhubung Agus orangnya sabar dan pemaaf meski baru sembuh dari sakitnya ia mencoba tersenyum kepada Khanif... "Nggak masalah Nif, nggak usah dipikirin toh hari ini luh sudah bertemu gue". "Eehhhmm, anu Gus, gue juga minta maaf, karena membesuk luh nggak bisa membawa apa-apa, soalnya gue juga baru sembuh dari sakit gigi Gus". Agus kembali tersenyum... "Aah! luh nggak usah sungkan-sungkan Nif sama gue, luh datang gue juga udah senang". Suasana menjadi hening sejenak sampai akhirnya Khanif kembali berbicara...

Cerpen : Cermin Kematian

~CERPEN : Cermin~Kematian~ Malam semakin larut Manda masih berdiri didepan cermin besar yang ada dikamarnya, dadanya berdesir, Manda takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Manda. Wajahnya tersipu mendengar pujian itu. Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu. Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat kecantikannya sendiri. Rambutnya panjang, berwarna hitam kecokelatan, berkilat, bergelung seolah ombak. Dahinya licin. Matanya bulat, berbinar-binar. Hitam pekat seperti langit malam. Dikedip-kedipkannya matanya, hingga ia perhatikan bulu matanya yang tebal dan lentik. Tebal serupa alisnya yang melengkung menaungi sepasang matanya yang indah itu. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Cantik sekali dirimu, Manda membatin. Ya, kau memang cantik, Manda. Hidungnya, ...

Cerpen : Tabir Asmara Jingga

~CERITA INI HANYA FIKTIP & BUALAN BELAKA UNTUK 90 TAHUN+++~ Hampir sembilan tahun telah berlalu usia perkawinan Vina, Dan selama tiga tahun berjalan Vina tak pernah lagi merasakan yang namanya hidup berumah tangga. Seolah ia hidup seorang diri dan tak pernah ada seorangpun yang mengerti keinginan hati serta jiwanya. Berawal dari sang suami yang tak pernah pulang, Hingga terkadang lupa memberi nafkah dirinya serta anak semata wayangnya. Vinapun mencoba sabar dengan semua itu bahkan sebagai seorang wanita yang punya pendidikan cukup Vinapun mencoba mencari kerja sampingan dari berjualan produk kosmetik hingga bisnis dor to dor semua produk, Layaknya seorang sales. Namun apapun yang Vina usahakan tak pernah membuat hati sang suaminya berubah, Bahkan suaminya yang bernama Dahlan berani meminta uang dari hasil kerjanya dengan alasan yang bermacam-macam. Bagai sudah jatuh tertiban tangga pula, Itulah yang selalu Vina alami. Sebagai wanita yang tegar Vinapun mencoba ber...