Langsung ke konten utama

Cerpen : Gadis Counter




Jingga senja membias di balik etalase kaca, memantul pada deretan ponsel pintar yang tertata rapi. Di tengah hiruk pikuk pengunjung Mal Lippo Plaza Jember sore itu, ada satu titik yang selalu menarik perhatian Satria counter HP 'World Phone'. Bukan karena smartphone terbaru, melainkan karena gadis yang bertugas di sana.

Namanya Adinda.

Satria sudah hapal jadwalnya. Setiap Selasa dan Jumat sore, Satria akan pura-pura mencari aksesoris atau menanyakan spesifikasi ponsel terbaru, padahal tujuan utamanya adalah melihat Dinda.

Dinda selalu mengenakan seragam biru muda World Phone, rambutnya yang hitam diikat rapi, dan senyumnya... ah, senyumnya adalah perpaduan antara ramah profesional dan sedikit malu-malu yang membuat jantung Satria selalu berdebar. Ia tahu, di balik wajah manis itu, Dinda adalah seorang expert yang bisa menjelaskan chipset, RAM, dan megapixel dengan lancar, bahkan membuat Satria yang seorang mahasiswa teknik merasa bodoh.

Hari itu, hari Jumat. Satria mendekat dengan pura-pura sibuk memegang ponselnya yang usang.

"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu, Mas?" suara Dinda terdengar merdu, tanpa nada lelah meskipun counter sedang ramai.

"Eh, sore, Mbak," Satria berusaha bersikap senormal mungkin. "Saya... mau tanya, screen protector untuk HP saya ini masih ada? Yang anti-gores terbaik, ya."

Dinda menerima ponsel Satria, jemarinya yang lentik menyentuh casing yang sudah baret. "Oh, ini tipe lama ya, Mas. Stoknya sudah jarang, tapi saya coba carikan di gudang. Mas mau yang dari kaca atau yang film biasa?"

"Yang... yang terbaik saja, Mbak. Yang paling tahan lama," kata Satria, matanya tak bisa lepas dari Adinda.

Adinda tersenyum. "Baik, tunggu sebentar ya, Mas."

Ia berjalan ke belakang counter. Satria menyandarkan diri di etalase, diam-diam memperhatikan sekitarnya, tetapi pikirannya hanya tertuju pada Adinda. Ia merasa lucu. Sejak kapan ia, seorang engineer yang sibuk dengan kode dan rangkaian, jadi seperti ABG yang jatuh cinta pada pandangan pertama?

Beberapa menit kemudian, Adinda kembali.

"Maaf, Mas, setelah saya cek, stok untuk tipe ini tinggal yang film premium saja. Kaca sudah habis," jelas Lintang, raut wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah. "Tapi yang film ini juga sudah bagus, Mas. Sudah dilapisi teknologi anti-minyak."

"Tidak apa-apa, Mbak. Yang itu saja," Satria mengangguk cepat. Ia rela membeli apa pun asalkan Adinda yang melayaninya.

Saat Adinda mulai memasang screen protector, jari-jari mereka tak sengaja bersentuhan. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk mengirimkan sengatan listrik ke seluruh lengan Satria. Adinda tampak sedikit terkejut, namun dengan profesional ia segera fokus kembali pada pekerjaannya.

"Sudah selesai, Mas. Totalnya Rp 75.000," kata Adinda sambil menyerahkan ponsel yang kini tampak lebih mengilap.

Satria mengeluarkan dompet, dan saat ia menyerahkan uang, ia memutuskan untuk memberanikan diri.

"Mbak Dinda," panggilnya pelan.

Adinda mendongak. "Ya, Mas?"

"Saya... saya Satria. Saya sering ke sini," Satria mengambil jeda. Jantungnya berdeguk seperti drum. "Bukan untuk beli HP, tapi... untuk ketemu Mbak. Maaf kalau terdengar aneh, tapi saya... tertarik sama Mbak."

Wajah Adinda merona, matanya yang indah mengerjap. Ia meletakkan uang kembalian Satria di atas meja, tidak langsung mengambilnya.

"Saya tahu, Mas Satria," jawab Adinda, suaranya kini lebih pelan dari biasanya.

Satria terkejut. "Maksudnya...?"

"Mas Satria selalu datang hari Selasa dan Jumat, selalu beli sesuatu yang sebenarnya tidak penting, dan selalu pura-pura membaca spesifikasi ponsel yang paling mahal," Adinda terkekeh pelan. "Saya juga sering lihat Mas Satria di kampus seberang. Saya alumni sana."

Satria merasa pipinya ikut panas. "Jadi... jadi Mbak Dinda tahu?"

Adinda menggeser ponsel Satria mendekat, dan Satria melihat selembar kertas kecil terselip di bawahnya. Itu adalah nota penjualan, tetapi di bagian belakangnya, ada tulisan tangan rapi dengan tinta biru.

Aku pulang jam 8. Adinda. 0812-xxxxxxxx

Satria mengangkat matanya, menatap Adinda. Gadis itu kini tidak lagi bersikap profesional. Ada senyum tulus dan penuh arti di wajahnya.

"Terima kasih atas pembeliannya, Mas Satria," kata Adinda. "Semoga screen protector-nya awet."

"Pasti akan awet, Mbak Dinda," balas Satria, senyum lebar tak bisa ia tahan lagi. Ia mengambil ponsel, menggenggam nota kecil itu erat-erat.

Ia berjalan menjauh dari counter HP, tetapi kini langkahnya terasa ringan, seolah melayang. Jingga senja sudah berganti dengan lampu-lampu mal yang berkelip, dan bagi Satria, cahaya yang paling terang ada di dalam genggamannya. nomor telepon dari Gadis di Counter HP yang bernama Adinda.




~ THE ~ END ~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah Belanja Dengan Uang Cash Masih Berlaku Di Masa Mendatang?

Di era digital yang semakin canggih, dompet kita terasa semakin ringan. Kartu debit, kartu kredit, hingga aplikasi pembayaran digital kini mendominasi setiap transaksi. Muncul pertanyaan besar: Apakah uang tunai (cash) akan menjadi relik masa lalu, atau masih memiliki tempat di masa mendatang? 1. Dominasi Pembayaran Digital: Sebuah Keniscayaan Tidak dapat dimungkiri, tren global bergerak menuju masyarakat cashless. Kecepatan, kemudahan, dan keamanan (dalam konteks tidak perlu membawa uang fisik dalam jumlah besar) yang ditawarkan oleh pembayaran digital adalah daya tarik utamanya. Kemudahan dan Kecepatan: Pembayaran melalui QR code, contactless card, atau e-wallet hanya membutuhkan waktu beberapa detik, jauh lebih cepat daripada menghitung uang tunai dan menunggu kembalian. Data dan Pelacakan: Bagi konsumen, transaksi digital membantu pelacakan pengeluaran. Bagi bisnis dan pemerintah, data transaksi ini sangat berharga untuk analisis ekonomi dan perpajakan. Ino...

5 Permainan Anak 90,an Saat Bulan Puasa Dan Hari Lebaran

Anda yang pernah mengalami era 90,an tentunya pasti tahu akan sebuah permainan diawal atau akhir bulan puasa. Yaa memang sangat berbeda dengan era sekarang yang serbah canggih. Dan kalau boleh saya tahu yang merasa anak 90,an sebenarnya kangen nggak sama permainan yang sudah tertera diatas dan dibawah ini.? Atau mungkin anda sudah lupa, Atau pura-pura lupa..? 😂😂 Ok kalau begitu. Disini saya bukan ingin menanya lupa atau tidaknya dengan sebuah permainan jadul era 90,an. Tetapi sekedar ingin mengulas tentang permainan jadul anak 90,an kala menunggu saat berbuka puasa. Kalau anak sekarang bilang katanya Ngabuburit.? 😄 Sebenarnya apa bedanya sih permainan era 90,an dan sekarang, Kala menunggu waktu berbuka puasa. Yaa sudah barang tentu sangat berbeda. Meski ada beberapa yang masih kerap dipermainkan diera sekarang. Lalu apa saja permainannya berikut ulasan dibawah ini. 1. PETASAN & KEMBANG API Ilustrasi By : Poskota Yaa dari gambar pertama adalah...

Telat Mencabut

Kesibukkan bekerja membuat Agus lupa akan kesehatan tubuhnya hingga akhirnya ia harus dilarikan kerumah sakit terdekat karena sakit. akibat kurang teratur makan. Tiga hari kemudian teman kerjanya yang bernama Khanif datang menjenguknya, dan kebetulan memang hari itu tepat waktunya untuk jam kunjungan membesuk pasien. "Sorry banget Gus baru hari ini gue bisa datang membesuk luh kerumah sakit"... Kata Khanif teman kerjanya. Berhubung Agus orangnya sabar dan pemaaf meski baru sembuh dari sakitnya ia mencoba tersenyum kepada Khanif... "Nggak masalah Nif, nggak usah dipikirin toh hari ini luh sudah bertemu gue". "Eehhhmm, anu Gus, gue juga minta maaf, karena membesuk luh nggak bisa membawa apa-apa, soalnya gue juga baru sembuh dari sakit gigi Gus". Agus kembali tersenyum... "Aah! luh nggak usah sungkan-sungkan Nif sama gue, luh datang gue juga udah senang". Suasana menjadi hening sejenak sampai akhirnya Khanif kembali berbicara...

Teknologi Semakin Canggih Begitu Pun Dengan Pencuri

Segala cara akan orang lakukan demi keamanan dan kenyamanan. Bahkan sejak dahulu kala pun sudah ada yang namanya Sistem keamanan, Untuk menghindari dari berbagai macam pencurian dengan modus yang sangat bermacam-macam. Nah kali ini saya akan mengulas tentang modus pencurian bermotor, ( Curanmor ) Yang kian marak baik di desa maupun dikota. Segala macam cara dilakukan orang agar aman dari pencurian kendaraannya baik sepeda motor atau pun mobil. Dari menambahkan kunci ganda lebih banyak atau memasang alarm pada kendaraannya. Akan tetapi mengapa selalu saja tetap kebobolan..? Bahkan sistem kendaraan sekarang pun bisa dibilang lebih canggih, Bahkan ada yang memberikan embel-embel anti maling dan sebagainya. Namun apa mau dikata terkadang kendaraan yang sudah anda kunci rapat dengan ekstra ketat tetap saja lenyap tanpa permisi dari hadapan anda.😱😱 Kok bisa kan teknologi sekarang katanya canggih??? Benar... Akan tetapi teknologi canggih, Maling atau pun pencuri punya ...

Cerpen : Cermin Kematian

~CERPEN : Cermin~Kematian~ Malam semakin larut Manda masih berdiri didepan cermin besar yang ada dikamarnya, dadanya berdesir, Manda takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Manda. Wajahnya tersipu mendengar pujian itu. Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu. Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat kecantikannya sendiri. Rambutnya panjang, berwarna hitam kecokelatan, berkilat, bergelung seolah ombak. Dahinya licin. Matanya bulat, berbinar-binar. Hitam pekat seperti langit malam. Dikedip-kedipkannya matanya, hingga ia perhatikan bulu matanya yang tebal dan lentik. Tebal serupa alisnya yang melengkung menaungi sepasang matanya yang indah itu. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Cantik sekali dirimu, Manda membatin. Ya, kau memang cantik, Manda. Hidungnya, ...