Selama berada dikota Jember Jawa Timur ada hobi yang terabaikan yaitu olahraga sepeda, jika di Jakarta setiap seminggu dua kali saya rutin berolahraga sepeda sore hari, jikalau pagi sabtu dan minggu itu rutin. Meski terkadang hari minggu saja, jika sabtu pekerjaan sangat padat.
Akhirnya mau tidak mau, satu-satunya jalan yaitu olah raga lari sore karena cukup bermodalkan sepatu olahraga saja yang bisa dibeli ditoko sepatu disekitaran tempat saya mengontrak rumah. Dan biayanya sangat murah, dibanding saya harus membeli sepeda baru, yaa buat apa juga, karena nantinya toh saya akan kembali pulang ke Jakarta lagi.
Pagi hari sebelum saya berangkat ketoko saya bertemu dengan seorang pria muda yang tinggal tidak jauh dari tempat saya mengontrak. Namanya Shofian, ia kalau saya perhatikan jika sedang libur bekerja, sore harinya sering melakukan aktifitas lari sore. Dan sayapun menanyakan kembali kepadanya.
"Mas Shofian lagi libur yaa"?
"Oh iya om, ada apa yaa"? ..Balasnya agak bingung. Sayapun menjelaskannya kepada Alfian secara detail.
"Okay om santai aja, sayang aku nggak punya sepeda makanya olahraganya lari sama futsal saja, futsal juga kalau sempat juga."
"Ya sudah kita olahraga lari saja Shof, nanti sore jam 4 om kabari lagi yaa"..Seru saya sambil segera menjalankan motor dan segera menuju ketoko.
Sore hari telah tiba sayapun sudah siap akan lari sore, namun sebelum menemui Shofian dirumahnya saya berpapasan dengan Andini yang sedang bermain dengan anak semata wayangnya. Ia pun langsung menegur saya.
"Wah mas dias mau lari sore yaa" Serunya sambil tersenyum.
"Eeh iya mbak Dini yuk ikut sekalian jalan-jalan sore". Balas saya kembali.
"Nggak aah cape lari, mending keliling komplek saja sama anakku".
"Bosen muterin komplek doang, yuk ikut sambil aku gendong deh". Canda saya kembali.
"Yang ada kamunya bisa keseleo kali". Balasnya kembali.
"Yaa gantian mbak Dini yang gendong aku" Seru saya sambil tertawa.
"Huuu! Maunya"... Tak lama berselang Shofian pun muncul menemui saya.
"Jadikan om, yuk kita mulai dari sini"..
"Okay Shof, daah mbak Dini aku tinggal dulu yaa"..
Andinipun tersenyum, sayapun segera mulai berlari dari memutari komplek hingga terus keluar jauh kejalan raya.
Setelah hampir menempuh jarak 3km sayapun mulai kelelahan, maklum lebih banyak hobi disepeda ketimbang lari yang belum terbiasa mengatur ritme nafas. Sayapun mulai kelelahan minta kepada Shofian agar jangan terlalu cepat berlarinya. Akhirnya iapun menuruti saya dengan berlari kecil dan terkadang jalan santai dan berlari kecil kembali.
Akhirnya setelah berlari dengan jarak tempuh 3,5km saya dan Shofian putar balik lagi kearah pulang dengan berjalan santai sampai jarak 1Km, sayapun mengajak Shofian beristirahat sambil berkuliner sore, iapun membawa saya ketempat kuliner sore yang cukup ramai dengan aneka macam makanan yang cukup menggugah selera.
Ngobrol sambil makan dan minum sayapun lebih banyak bertanya kepada Alfian tentang dilingkungan tempat saya mengontrak sampai bertanya berapa lama sudah Shofian ditinggal dikomplek yang memang masih satu lingkungan dengan saya.
"Sudah lama om hampir 25 tahun, sama seperti mbak Andini dan mbak Adinda. Malah ia lebih lama, meski kami ini lahir yaa dikomplek itu, tapi dulunya kami pendatang juga".. Jawab Shofian santai.
Sayapun mengangguk dan akhirnyanya kembali menanyakan hal pribadi kepada Shofian, tentang soal pacar dan type wanita yang ia sukai, sekaligus bertanya tentang Andini dan Adinda.
"Pacar belum punya om, kalau type cewek juga belum kepikiran, lha gimana la wong pacar juga belum ada satupun, intinya yaa cantik aja." Balas Shofian sambil tertawa malu.
"Kenapa kamu nggak pacarin Adinda saja mumpung masih tetanggaan" Tanya saya kembali.
"Waduh! Om, dia lebih tua dari aku,, aku saja memanggilnya kakak waktu kecil, sekarang mbak, lagian dia judes + jutek orangnya om ke aku".
"Lho kamukan tinggi gagah, umur cuma masalah angka saja, tidak begitu berpengaruh.. Kalau seandainya Adinda suka banget kekamu bagaimana." Tanya saya kembali.
"Yaa mau juga sih om" ... Balasnya sambil tertawa malu.
Sayapun tertawa mendengar penuturan Shofian yang sebel sama Adinda karena orannya judes tapi ujung-ujungnya ada rasa suka. Dan Shofian pun juga menceritakan tentang Andini yang dulunya selagi belum menikah sering gonta-ganti pacar lebih dari 10 kali. Sayapun tidak kaget mendengar itu dari mulut Shofian karena Andini juga pernah bercerita banyak soal pribadinya kepada saya sewaktu mengantar ia pergi Arisan kerumah teman-temannya.
"Eeh om bukannya kata orang komplek om pacarnya Adinda"..Tanya Shofian kembali kepada saya.
"Huss! gosip itu Shof, lha wong aku sudah punya anak istri kok di Jakarta".
"Tapi kayanya cocok om sama dia, cewekkan biasanya senangnya cari yang lebih tua kalau buat pacar atau suaminya".
"Aah sok tahu kamu".. Balas saya kembali sambil tersenyum.
"Tapi nggak apa-apa kok om, jadiin saja buat istri simpanan selama disini"..Kata Shofian kembali.
Sayapun dibuat tertawa kembali oleh Shofian, sampai akhirnya sayapun menyudahi obrolan tersebut, setelah membayar apa yang kami makan dan minum saya dan Shofian bergegas pulang karena hari sudah semakin sore. Sambil berlari kecil kembali Shofianpun kembali berkata kepada saya.
"Om nggak usah cerita-cerita sama mbak Adinda dan mbak Andini apa yang sudah kita bicarakan tadi" ... Kata Shofian kembali.
"Okay kamu tenang saja Shof, justru kalau kamu suka sama Adinda om bisa bantuin kamu lho". Balas saya.
"Aah dia nggak bakal suka keaku om yakin deh, buat om saja, jadiin istri simpanan juga boleh tuh om".
Sayapun dibuat tertawa yang ketiga kalinya oleh Shofian, meski penampilan Shofian Macho dan menarik ia masih awam soal wanita dan cenderung banyak malunya, atau mungkin karena usianya yang masih 21 tahun.. Akhirnya tanpa terasa saya dan Shofian sampai dikomplek tempat kami tinggal waktupun hampir mendekati Adzan Magrib sampai akhirnya kami pulang kerumah masing-masing.
Sejak itu kalau Shofian libur bekerja, ia sering menemani saya olahraga lari sore, namun jika ia sibuk bekerja sayapun akhirnya terbiasa untuk olahraga sore seorang diri.
Akhirnya mau tidak mau, satu-satunya jalan yaitu olah raga lari sore karena cukup bermodalkan sepatu olahraga saja yang bisa dibeli ditoko sepatu disekitaran tempat saya mengontrak rumah. Dan biayanya sangat murah, dibanding saya harus membeli sepeda baru, yaa buat apa juga, karena nantinya toh saya akan kembali pulang ke Jakarta lagi.
Pagi hari sebelum saya berangkat ketoko saya bertemu dengan seorang pria muda yang tinggal tidak jauh dari tempat saya mengontrak. Namanya Shofian, ia kalau saya perhatikan jika sedang libur bekerja, sore harinya sering melakukan aktifitas lari sore. Dan sayapun menanyakan kembali kepadanya.
"Mas Shofian lagi libur yaa"?
"Oh iya om, ada apa yaa"? ..Balasnya agak bingung. Sayapun menjelaskannya kepada Alfian secara detail.
"Okay om santai aja, sayang aku nggak punya sepeda makanya olahraganya lari sama futsal saja, futsal juga kalau sempat juga."
"Ya sudah kita olahraga lari saja Shof, nanti sore jam 4 om kabari lagi yaa"..Seru saya sambil segera menjalankan motor dan segera menuju ketoko.
Sore hari telah tiba sayapun sudah siap akan lari sore, namun sebelum menemui Shofian dirumahnya saya berpapasan dengan Andini yang sedang bermain dengan anak semata wayangnya. Ia pun langsung menegur saya.
"Wah mas dias mau lari sore yaa" Serunya sambil tersenyum.
"Eeh iya mbak Dini yuk ikut sekalian jalan-jalan sore". Balas saya kembali.
"Nggak aah cape lari, mending keliling komplek saja sama anakku".
"Bosen muterin komplek doang, yuk ikut sambil aku gendong deh". Canda saya kembali.
"Yang ada kamunya bisa keseleo kali". Balasnya kembali.
"Yaa gantian mbak Dini yang gendong aku" Seru saya sambil tertawa.
"Huuu! Maunya"... Tak lama berselang Shofian pun muncul menemui saya.
"Jadikan om, yuk kita mulai dari sini"..
"Okay Shof, daah mbak Dini aku tinggal dulu yaa"..
Andinipun tersenyum, sayapun segera mulai berlari dari memutari komplek hingga terus keluar jauh kejalan raya.
Setelah hampir menempuh jarak 3km sayapun mulai kelelahan, maklum lebih banyak hobi disepeda ketimbang lari yang belum terbiasa mengatur ritme nafas. Sayapun mulai kelelahan minta kepada Shofian agar jangan terlalu cepat berlarinya. Akhirnya iapun menuruti saya dengan berlari kecil dan terkadang jalan santai dan berlari kecil kembali.
Akhirnya setelah berlari dengan jarak tempuh 3,5km saya dan Shofian putar balik lagi kearah pulang dengan berjalan santai sampai jarak 1Km, sayapun mengajak Shofian beristirahat sambil berkuliner sore, iapun membawa saya ketempat kuliner sore yang cukup ramai dengan aneka macam makanan yang cukup menggugah selera.
Ngobrol sambil makan dan minum sayapun lebih banyak bertanya kepada Alfian tentang dilingkungan tempat saya mengontrak sampai bertanya berapa lama sudah Shofian ditinggal dikomplek yang memang masih satu lingkungan dengan saya.
"Sudah lama om hampir 25 tahun, sama seperti mbak Andini dan mbak Adinda. Malah ia lebih lama, meski kami ini lahir yaa dikomplek itu, tapi dulunya kami pendatang juga".. Jawab Shofian santai.
Sayapun mengangguk dan akhirnyanya kembali menanyakan hal pribadi kepada Shofian, tentang soal pacar dan type wanita yang ia sukai, sekaligus bertanya tentang Andini dan Adinda.
"Pacar belum punya om, kalau type cewek juga belum kepikiran, lha gimana la wong pacar juga belum ada satupun, intinya yaa cantik aja." Balas Shofian sambil tertawa malu.
"Kenapa kamu nggak pacarin Adinda saja mumpung masih tetanggaan" Tanya saya kembali.
"Waduh! Om, dia lebih tua dari aku,, aku saja memanggilnya kakak waktu kecil, sekarang mbak, lagian dia judes + jutek orangnya om ke aku".
"Lho kamukan tinggi gagah, umur cuma masalah angka saja, tidak begitu berpengaruh.. Kalau seandainya Adinda suka banget kekamu bagaimana." Tanya saya kembali.
"Yaa mau juga sih om" ... Balasnya sambil tertawa malu.
Sayapun tertawa mendengar penuturan Shofian yang sebel sama Adinda karena orannya judes tapi ujung-ujungnya ada rasa suka. Dan Shofian pun juga menceritakan tentang Andini yang dulunya selagi belum menikah sering gonta-ganti pacar lebih dari 10 kali. Sayapun tidak kaget mendengar itu dari mulut Shofian karena Andini juga pernah bercerita banyak soal pribadinya kepada saya sewaktu mengantar ia pergi Arisan kerumah teman-temannya.
"Eeh om bukannya kata orang komplek om pacarnya Adinda"..Tanya Shofian kembali kepada saya.
"Huss! gosip itu Shof, lha wong aku sudah punya anak istri kok di Jakarta".
"Tapi kayanya cocok om sama dia, cewekkan biasanya senangnya cari yang lebih tua kalau buat pacar atau suaminya".
"Aah sok tahu kamu".. Balas saya kembali sambil tersenyum.
"Tapi nggak apa-apa kok om, jadiin saja buat istri simpanan selama disini"..Kata Shofian kembali.
Sayapun dibuat tertawa kembali oleh Shofian, sampai akhirnya sayapun menyudahi obrolan tersebut, setelah membayar apa yang kami makan dan minum saya dan Shofian bergegas pulang karena hari sudah semakin sore. Sambil berlari kecil kembali Shofianpun kembali berkata kepada saya.
"Om nggak usah cerita-cerita sama mbak Adinda dan mbak Andini apa yang sudah kita bicarakan tadi" ... Kata Shofian kembali.
"Okay kamu tenang saja Shof, justru kalau kamu suka sama Adinda om bisa bantuin kamu lho". Balas saya.
"Aah dia nggak bakal suka keaku om yakin deh, buat om saja, jadiin istri simpanan juga boleh tuh om".
Sayapun dibuat tertawa yang ketiga kalinya oleh Shofian, meski penampilan Shofian Macho dan menarik ia masih awam soal wanita dan cenderung banyak malunya, atau mungkin karena usianya yang masih 21 tahun.. Akhirnya tanpa terasa saya dan Shofian sampai dikomplek tempat kami tinggal waktupun hampir mendekati Adzan Magrib sampai akhirnya kami pulang kerumah masing-masing.
Sejak itu kalau Shofian libur bekerja, ia sering menemani saya olahraga lari sore, namun jika ia sibuk bekerja sayapun akhirnya terbiasa untuk olahraga sore seorang diri.

Sekarang om Dias berusaha nyomblangin
BalasHapusKira-kira adinda baca blog ini juga enggak ya 🤭
Iyalah biar Dia punya pasangan mas...
HapusYang ini nggak tahu... Cuma tahu blog yang satunya.🤣🤣