Kisah Pesawat N250 GatotKaca Yang Dikebiri Oleh Eropa




Taukah kamu, di tahun sekitar 1960, dunia penerbangan pernah dihantui ketakutan besar. Pesawat bisa hancur tiba-tiba di udara dan tak ada yang tahu kenapa.

Para ahli dunia bingung. Sampai akhirnya, seorang pemuda Indonesia di Jerman Memecahkan misteri itu, dia adalah Baharudin Yusuf Habibi. Yang menemukan Crack Progression Theory, sebuah rumus jenius untuk mendeteksi keretakan pesawat sampai ke tingkat atom.

Temuannya menyelamatkan jutaan nyawa dan dipakai oleh seluruh industri penerbangan dunia sampai hari ini. Dunia pun memberinya gelar kehormatan, Mr. Crack. Meski sukses besar di Eropa, Habibi memilih pulang kenegaranya Indonesia.

Ia punya satu visi yang sangat jelas. Indonesia adalah negara kepulauan. Kita tidak bisa menyatukan pulau dengan kereta api. Kita butuh pesawat buatan sendiri. Maka lahirlah N250 Gatotkaca. Ini bukan pesawat biasa. Saat diluncurkan tahun 1995.

N250 adalah pesawat Baling-baling tercanggih di dunia. Ia sudah menggunakan teknologi fly-by-wire atau kendali digital. Sebagai perbandingan, pesaing utamanya saat itu, pesawat ATR buatan Perancis masih menggunakan teknologi manual yang jauh tertinggal.

Saat gatot kaca terbang perdana di langit Bandung, Dunia tersentak. Indonesia, negara yang dianggap negara berkembang ini, ternyata mampu mengalahkan teknologi Eropa.

Namun, kisah pahlawan ini berubah menjadi tragedi di tahun 1998. Badai. Krisis moneter menghantam Asia. Indonesia sekarat dan butuh pinjaman uang.

IMF datang menawarkan bantuan, tapi dengan syarat yang mencekik dalam sebuah dokumen bernama Letter of Intent. Di antara banyak syarat, ada satu poin yang sangat aneh dan spesifik. Pemerintah Indonesia harus menghentikan pendanaan untuk proyek pesawat N250?

Tanpa dana, sertifikasi internasional terhenti. Tanpa sertifikasi, pesawat tidak boleh dijual. Di titik itulah, sayap Garuda dipatahkan paksa sebelum sempat terbang tinggi. Banyak yang bertanya.

Kenapa IMF begitu takut pada pesawat buatan Indonesia? Alasan resminya adalah penghematan anggaran. Tapi, fakta berbicara lain. Jika N250 diproduksi masal, ia akan mematikan pasar pesawat ATR. Dan kebetulan, yang menyakitkan, Direktur Pelaksana IMF saat itu berasal dari Perancis.

Negara pembuat ATR, ini bukan sekadar ekonomi. Ini adalah cara halus untuk membunuh pesaing bisnis yang berbahaya. Pak Habibie pernah meninggalkan pesan yang menjadi tamparan keras bagi kita semua.

Mereka tidak mau melihat Indonesia maju teknologinya. Mereka ingin kita tetap menjadi pasar saja, bukan produsen. Kalau kita bisa buat sendiri, siapa yang akan beli barang mereka? N250 kini mungkin hanya diam di museum.

Tapi ingat, kita pernah hampir menguasai langit. Dan tugas kitalah untuk menerbangkannya kembali suatu hari nanti.





~ THANK ~ YOU ~

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Baru tahu kisah ini kang. Terus kenapa pemerintah sekarang tidak melanjutkan produksi pesawat N250 ya?

    BalasHapus

TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!