Khanif nampak tersenyum lebar ketika ia sudah sampai dikota Jember Jawa Timur, Kehadiran ia dikota tersebut bukan untuk berwisata atau mencari sesuatu. Melainkan ia akan mengadu nasib dengan membuka toko jam sekaligus service segala macam merek jam. Khanif menjuluki kota Jember dengan sebutan Kota Asmara, namun bukan untuk mencari cinta, melainkan untuk melarikan diri dari Cinta.
Tangan-tangan Khanif yang terampil bisa memperbaiki mekanisme jam yang paling rumit sekalipun, tapi ia gagal memperbaiki hatinya sendiri setelah patah bertahun-tahun lalu. Ia membuka toko kecil di sebuah kota yang entah kenapa ia juluki sebagai kota asmara. Meski agak sedikit jauh dari keramaian alun-alun utama, yang ia juluki juga ‘Jantung Asmara’.
Toko Khanif tidak terlalu ramai karena masih terbilang baru. Namun bagi Khanif bukan masalah. Hanya ada bunyi jarum jam yang berdetak pelan, irama tetap yang menenangkan jiwanya yang resah.
Hingga suatu pagi, seorang wanita bernama Amira membawa jam saku perak yang usianya mungkin lebih tua dari Kota Asmara itu sendiri.
“Ini hadiah dari kakek saya untuk nenek saya,” kata Amira, menunjuk ukiran inisial 'A' dan 'S' yang samar di bagian belakang. “Sudah lama mati. Maukah Anda menghidupkannya lagi?”
Amira bukan seperti penduduk Kota Asmara yang lain. Matanya memancarkan kesedihan yang sama yang ia sembunyikan di balik senyumannya. Mereka bukan orang yang mencari cinta, tapi orang yang telah kehilangan sesuatu yang berharga karena cinta.
Saat Khanif membongkar jam itu, ia menemukan bukan hanya komponen yang rusak, tetapi juga selembar kertas tipis terselip di dalam wadah mekanisme. Itu adalah puisi yang ditulis dengan tinta yang hampir pudar, sebuah janji cinta yang kekal.
Selama seminggu Khanif bekerja. Ia tidak hanya memperbaiki roda gigi dan per pegas yang rusak, ia juga seperti merangkai kembali sepotong sejarah. Setiap kali Amira datang, mereka hanya bertukar kata seperlunya: tentang cuaca, tentang kesulitan menemukan suku cadang, dan, tanpa sadar, tentang alasan mereka berada di Kota Asmara.
Khanif bercerita bagaimana ia menutup hatinya setelah tunangannya memilih karir dari pada pernikahan. Amira bercerita tentang neneknya yang terus menunggu kakeknya kembali dari pelayaran, dengan jam saku itu sebagai satu-satunya penghubung.
Pada hari jam itu selesai, Khanif menyerahkannya kepada Amira. Begitu jam itu berdetak, Amira meneteskan air mata.
“Detaknya sama persis seperti yang sering nenek ceritakan,” bisik Amira.
Khanif kemudian menyerahkan selembar kertas puisi yang ia temukan. “Saya rasa ini harus kembali kepada pemiliknya yang sah.”
Amira membaca puisi itu perlahan. Air mata itu berubah menjadi senyum yang indah. “Terima kasih, Khanif,” katanya tulus. “Anda tidak hanya memperbaiki jam ini. Anda memperbaiki ingatan.”
Malam itu, setelah Amira pergi, Khanif duduk sendirian, mendengarkan bunyi detak puluhan jam di tokonya. Ia menyadari sesuatu. Kota Asmara tidak memaksa orang untuk jatuh cinta. Kota ini hanya menyediakan ruang bagi hati yang terluka untuk disembuhkan. Detak jam di tangannya bukan lagi pengingat akan waktu yang terbuang, tetapi irama baru yang siap dimulai.
Keesokan harinya, Khanif membuka tokonya. Tidak ada Amira, tetapi ada sebuah karangan bunga kecil di ambang pintu dan selembar kartu bertuliskan: “Bahkan yang terindah pun harus diperbaiki agar bisa berdetak kembali.~ A”
Khanif tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa siap untuk tidak hanya memperbaiki jam, tetapi juga membiarkan detak baru masuk ke dalam hidupnya. Ia melangkah keluar dari tokonya, menuju alun-alun yang riuh, menuju ‘Jantung Asmara’. Senja itu, rona jingga di langit Kota Asmara tampak sedikit lebih cerah dari biasanya, seolah menyambut kembalinya sebuah hati yang siap mencintai lagi.
Tangan-tangan Khanif yang terampil bisa memperbaiki mekanisme jam yang paling rumit sekalipun, tapi ia gagal memperbaiki hatinya sendiri setelah patah bertahun-tahun lalu. Ia membuka toko kecil di sebuah kota yang entah kenapa ia juluki sebagai kota asmara. Meski agak sedikit jauh dari keramaian alun-alun utama, yang ia juluki juga ‘Jantung Asmara’.
Toko Khanif tidak terlalu ramai karena masih terbilang baru. Namun bagi Khanif bukan masalah. Hanya ada bunyi jarum jam yang berdetak pelan, irama tetap yang menenangkan jiwanya yang resah.
Hingga suatu pagi, seorang wanita bernama Amira membawa jam saku perak yang usianya mungkin lebih tua dari Kota Asmara itu sendiri.
“Ini hadiah dari kakek saya untuk nenek saya,” kata Amira, menunjuk ukiran inisial 'A' dan 'S' yang samar di bagian belakang. “Sudah lama mati. Maukah Anda menghidupkannya lagi?”
Amira bukan seperti penduduk Kota Asmara yang lain. Matanya memancarkan kesedihan yang sama yang ia sembunyikan di balik senyumannya. Mereka bukan orang yang mencari cinta, tapi orang yang telah kehilangan sesuatu yang berharga karena cinta.
Saat Khanif membongkar jam itu, ia menemukan bukan hanya komponen yang rusak, tetapi juga selembar kertas tipis terselip di dalam wadah mekanisme. Itu adalah puisi yang ditulis dengan tinta yang hampir pudar, sebuah janji cinta yang kekal.
Selama seminggu Khanif bekerja. Ia tidak hanya memperbaiki roda gigi dan per pegas yang rusak, ia juga seperti merangkai kembali sepotong sejarah. Setiap kali Amira datang, mereka hanya bertukar kata seperlunya: tentang cuaca, tentang kesulitan menemukan suku cadang, dan, tanpa sadar, tentang alasan mereka berada di Kota Asmara.
Khanif bercerita bagaimana ia menutup hatinya setelah tunangannya memilih karir dari pada pernikahan. Amira bercerita tentang neneknya yang terus menunggu kakeknya kembali dari pelayaran, dengan jam saku itu sebagai satu-satunya penghubung.
Pada hari jam itu selesai, Khanif menyerahkannya kepada Amira. Begitu jam itu berdetak, Amira meneteskan air mata.
“Detaknya sama persis seperti yang sering nenek ceritakan,” bisik Amira.
Khanif kemudian menyerahkan selembar kertas puisi yang ia temukan. “Saya rasa ini harus kembali kepada pemiliknya yang sah.”
Amira membaca puisi itu perlahan. Air mata itu berubah menjadi senyum yang indah. “Terima kasih, Khanif,” katanya tulus. “Anda tidak hanya memperbaiki jam ini. Anda memperbaiki ingatan.”
Malam itu, setelah Amira pergi, Khanif duduk sendirian, mendengarkan bunyi detak puluhan jam di tokonya. Ia menyadari sesuatu. Kota Asmara tidak memaksa orang untuk jatuh cinta. Kota ini hanya menyediakan ruang bagi hati yang terluka untuk disembuhkan. Detak jam di tangannya bukan lagi pengingat akan waktu yang terbuang, tetapi irama baru yang siap dimulai.
Keesokan harinya, Khanif membuka tokonya. Tidak ada Amira, tetapi ada sebuah karangan bunga kecil di ambang pintu dan selembar kartu bertuliskan: “Bahkan yang terindah pun harus diperbaiki agar bisa berdetak kembali.~ A”
Khanif tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa siap untuk tidak hanya memperbaiki jam, tetapi juga membiarkan detak baru masuk ke dalam hidupnya. Ia melangkah keluar dari tokonya, menuju alun-alun yang riuh, menuju ‘Jantung Asmara’. Senja itu, rona jingga di langit Kota Asmara tampak sedikit lebih cerah dari biasanya, seolah menyambut kembalinya sebuah hati yang siap mencintai lagi.

Jadi pengin benerin jam dinding kakekku yang mati di tokonya khanif, boleh minta alamatnya ngga gan?
BalasHapusHaahaaa!!!🤣🤣🤣 Tanya langsung Ke Khanifnya aja mas.😁😁
HapusYah, endingnya nggantung, jadi Amira jadian sama khanif ngga? Ataukah khanif punya pacar baru namanya Alan? 😁
BalasHapusYang gue tahu pacar barunya Khanif bernama Egus.🤣🤣🤣
HapusWaduh, sungguh membagongkan, jangan-jangan nama lengkapnya Egus Setria.😁
Hapus