Cemburu Yang Berseteru



Denting cangkir porselen dan aroma kopi hangat membasahi udara sore di kafe berinterior kayu itu. Della merapikan blazer hitamnya yang tanpa cela, menatap jemarinya yang dihiasi cincin berlian mungil, sebuah hadiah untuk dirinya, dari seorang direktur tempat ia bekerja yang mana sang direktur itu masih suami dari sahabatnya Vania. Sambil menikmati secangkir kopi sore itu mata Della tak bisa berpaling dari sosok wanita Anggun di hadapannya yang memang sejak tadi bersamanya.

Vania mengenakan gaun kain sederhana dengan sedikit noda jus di lengan kirinya. Rambutnya diikat asal, dan ada lingkaran hitam samar di bawah matanya yang menandakan kurang tidur. Namun, saat putra kecilnya berlari mendekat dan menumpahkan tawa renyah di pangkuannya, wajah Vania kembali memancarkan pendar kehangatan yang tak pernah bisa dibeli oleh gaji berlimpah milik Della.

Della memiliki segalanya, apartemen mewah di pusat kota, paspor penuh stempel perjalanan luar negeri, dan kebebasan penuh atas waktunya. Namun, ketika malam tiba dan lampu-lampu kota menyala, yang menyambut Della hanyalah ruangan sunyi beraroma pendingin udara. Tak ada pelukan hangat yang menunggunya di pintu, tak ada riuh tawa keluarga yang memecah kesepian. Della cemburu pada kehangatan dan keutuhan hidup Vania.

Masih dimeja yang sama, Vania menyeruput teh hangatnya dengan dada yang bergemuruh pelan. Setiap kali Della menceritakan proyek besarnya di Singapura atau menunjukkan foto-foto liburannya, ada rasa perih yang menyusup di hati Vania. Vania teringat pada impian dan kariernya yang terkubur rapat di antara tumpukan popok, rutinitas dapur, dan rasa lelah yang tak pernah tuntas. Ia memandang jemari Della yang mulus, rapi, dan mencerminkan kendali penuh atas hidupnya sendiri. Vania cemburu pada kebebasan, kemandirian, dan pencapaian Della.

"Kamu kelihatan hebat banget, Dell. Selalu bersinar dan punya kendali atas hidupmu," ucap Vania lembut, menutupi rasa sesak yang menggumpal di dadanya.

Della menggenggam tangan Vania yang sedikit kasar karena pekerjaan rumah tangga, lalu tersenyum tipis. "Dan kamu punya rumah yang sesungguhnya, Van. Ada cinta yang selalu menunggumu pulang."

Keduanya saling menatap dan melemparkan senyum paling manis yang bisa mereka ukir. Di balik sapaan hangat dan tawa ramah sore itu, dua wanita tersebut melangkah pulang ke kehidupan masing-masing dengan hati yang diam-diam meraba bayangan hidup yang dimiliki satu sama lain.

Terkadang ada keinginan yang kuat bagi Della untuk memiliki atau merebut suami Vania, agar dirinya bisa merasakan kebahagiaan yang selalu Vania nikmati seutuhnya.

Disisi lain bagi Vania terbersit ingin meninggalkan semua aktifitas rumah tangganya serta suaminya demi bisa bergaya hidup seperti Della. Namun semua angan keduanya tetap akan hilang ditelan malam yang sudah menyambutnya sejak beberapa jam kemudian, entah apa yang akan terjadi hari esok.





~ THE ~ END ~

Posting Komentar

5 Komentar

  1. Si Della sepertinya tinggal tunggu kesempatan nih untuk menggolkan niatnya merebut suami Vania... wkwkwk, laksanakan Del... wkwkwk.

    BalasHapus
  2. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau yaaa 😄. Masing2 iri dengan kehidupan temennya. Tukar peran ajalah kalian 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. tetangga saya kayaknya g punya rumput mbak fanny, halaman depannya udah keramikan... :D

      Hapus
  3. Gak usah memikirkan hari esok... yang penting bagiku ada secangkir kopi dan sepiring gorengan di pagi hari. Itu sudah lebih dari cukup membuat hidup ini indah... haha.... :D

    BalasHapus

TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!