Langsung ke konten utama

Namaku Dias



Hampir seminggu saya menempati rumah kontrakan dikota Jember bersama Ance serta istrinya Cici Amelia, meski Cici Amelia terkadang harus pulang ke Surabaya demi mengawasi beberapa toko yang ada dikota pahlawan tersebut. Jadi yang mengontrak seutuhnya cuma saya dan Ance, karena istri Ance sendiri hanya seminggu di Jember, Selebihnya ia harus balik lagi ke Surabaya, Bahkan nantinya Ancepun akan sama seperti istrinya. Yaitu bolak-balik Jember ~ Surabaya, jika keadaan toko sudah normal seperti toko-toko pada umumnya.

Selama tinggal dirumah kontrakan seperti biasa, sayapun tak sunkan-sunkan untuk bergaul dilingkungan sekitar komplek tempat saya mengontrak, karena saya merasa nyaman dan betah dirumah yang saya sewa bersama Ance. Meski sempat mengalami kejadian yang sedikit menyebalkan namun pada akhirnya lucu dan sangat menarik bagi saya pribadi. Bahkan atas kejadian itu sayapun menjadi semakin akrab bersama pemilik kontrakan yaitu Adinda dan Andini.

Kejadian itu bermula pada saat saya melayat pada hari jum,at pagi, sebagai tetangga meski hanya seorang pengontrak saya turut menghadari kerumah duka tersebut dari awal hingga ikut mensholatkannya sampai ia dimakamkan. Meski sebagian orang ada yang memandang aneh terhadap saya, tetapi saya tetap berpikir positif karena saya orang baru dikomplek tersebut. Namun setelah saya pulang dari acara pemakaman Adinda dan Andini bertanya kepada saya.

"Mas tadi kamu ikut Sholat mayat juga dimasjid" Tanya Adinda dan Andini dengan raut wajah nampak bingung dan ikut memandang saya dengan aneh.

"Lho memang kenapa nggak boleh".. Balas saya ikut bingung.

"Ooh kalau di agama Khonghucu bebas yaa kalau menolong orang sampai boleh ikut Sholat mayat. Emang kamu tahu bacaannya, terus kalau yang meninggal orang Kristen kamu ikut kegereja juga dong?"

"Sayapun semakin bingung dengan arah pembicaraan Adinda dan Andini.."Maksudnya aku nggak ngerti omongan kamu berdua".

Akhirnya Adinda dan Andini menjelaskan secara detail kepada saya.

"Yaaa aalllaahh!!".. Seru saya, "Jadi kamu kira aku beragama Khonghucu? Dengar Adinda dan Andini caannntttiiikkk!! Yang Khonghucu itu Ko Ance sama istrinya Cici Amelia, kalau aku 100% Islam tulen"..Balas saya sedikit kesal.

Mereka berdua tertawa kecil.. "Oohh, eh tapi pak Rt bilang begitu kok?".

"Duh, pak Rt ini gimana sih, padahal saya sudah jelaskan detail dan menyerahkan ktp pula".

"Yaa sudah sekarang coba aku lihat ktp mas, benarkah agamanya islam tulen".. Seru Andini.

"Lho kemarin kan sudah sama ko Ance" balas saya kembali.

"Eehh iyaa kamu belum nunjukin ktp. Baru ko Ance sama Istrinya hayo mana coba ktp kamu aku mau lihat".. Seru Adinda menimpali.

"Sama saja kemarin kan ko Ance sudah nunjukin ktp, aku cuma pembantunya buat apa nunjukin ktp juga"

"Huff! Enak aja kamu ngontrak ditempatku identitas harus jelas, coba ktp kamu keluarkan jangan-jangan kamu orang gelap lagi"... Seru keduanya. Sejujurnya saya paling malas menunjukan identitas, apa mau dikata meski sedikit menyebalkan akhirnya saya mengeluarkan ktp juga dan menunjukannya kepada Adinda dan Andini.

Keduanya langsung mengambil ktp saya, dan kembali berkata..."Tuhkan banyak bohongnya kan ngaku dari Surabaya, tapi ktpnya dari Jakarta".

"Tuhkan tadi nanya Agama sekarang, masalah tempat diperdebatkan, kok jadi merembet kemana-mana sih, cepat kembalikan ktp saya"...Pinta saya berusaha mengambil ktp dari tangan Adinda.

"Tunggu dulu"...Seru Adinda berusaha menghindar dari saya..."Heem nama kamu panjang juga, eeh panggilan kamu siapa Satria yaa".

"Iya ngambil dari nama tengah, jawab saya jengkel".

Adinda dan Andini malah tertawa... "Terlalu lebay nama Satria untuk orang kaya kamu". Seru keduanya.

Baik Andini dan Adinda menyebut nama saya secara keseluruhan hingga menyetuskan sesuatu... "Ini aja Dias lebih pantas sepertinya, yaa kan Ndin". Serunya kepada sang kakak.

"Nah betul tuh Dias lebih cocok untuk panggilan kamu".. Kata Andini kembali.

"Tuh sekarang namaku diganti-ganti, Dias kenapa nggak 'Bias' aja sekalian"...Seru saya kesal. "Eeh sebentar-sebentar heem! Kayanya ok juga tuh nama Dias boleh deh mulai besok atau mulai hari ini panggil aku Dias yaa"... Jawab saya merasa senang dan tertarik dengan nama tersebut.

Akhirnya Andini dan Adinda mengembalikan ktp saya, dan ia juga sudah meminta maaf karena telah salah menilai saya soal agama dan ia akan membantu mengklarifikasi atas masalah tersebut ke pak Rt. Namun saya tetap melarangnya, karena akan saya klarifikasi sendiri pada acara Kenduri 3 hari mendatang dirumah duka yang tadi pagi telah saya sambangi. sekaligus memperkenalkan diri saya kepada warga komplek sekitar tempat saya mengontrak, karena pada acara Kenduri sudah pasti pak Rt dan pak rw pasti akan datang. Selain itu sayapun membantu dengan sedikit rezeki yang saya punya untuk acara tersebut.

Hingga acara yang dinanti telah tiba, setelah mendapat izin dari tuan rumah, serta tokoh masyarakat sekitar komplek. Wargapun sudah banyak yang hadir, sayapun mulai memperkenalkan diri, termasuk mengganti nama saya dengan sebutan Pak Dias saja agar lebih simple dan mudah diingat. Tidak lupa sayapun mengklarifikasi atas kesalah pahaman soal agama yang saya anut. Akhirnya pak Rt dilingkungan tempat saya mengontrak pun angkat bicara dan meminta maaf kepada saya atas kekhilafannya, akhirnya kamipun saling memaafkan, termasuk warga sekitar yang mengira saya beragama Khonghucu.

Sampai akhirnya acara kenduri pun selesai kamipun saling berbincang-bicang dengan riang, bahkan ada sebagian warga yang menurutnya saya cocok jadi calon pak Rt atau jadi tokoh masyarakat, karena tokoh masyarakat dan pak Rt dilingkungan tempat saya mengontrak sudah pada tua dan ujur. Meski banyak warga yang muda-mudah mereka enggan menjadi tokoh masyarakat atau Rt, mereka lebih senang mengurusi pekerjaan ketimbang urusan lingkungan. Dan sayapun tidak bisa berbuat banyak dalam hal tersebut terlebih saya cuma orang baru yang hanya mengontrak untuk sementara waktu.

Malam pukul 22.00 saat saya hendak menuju rumah kontrakan yang saya sewa. Dua gadis cantik sudah berdiri dipintu rumahnya, bahkan pada saat itu Adinda baru pulang dari tempat kerjanya, keduanya nampak memberi tepuk tangan buat saya karena telah mengklarifikasi kesalah pahaman dengan lantang kepada warga sekitar komplek.

"Wuuiihh! Bisa jadi calon tokoh masyarakat komplek nih, atau calon Rt, rw" ..Seru Andini dan Adinda yang masih duduk diatas motornya.

"Bisa saja kamu berdua ini, gimana kalau Adinda saja yang jadi Rt, atau tokoh masyarakat disini"... Balas saya sambil bercanda.

"Massa cewek suruh jadi Rt"... Balas Adinda sambil cemberut.

"Iyalah biar lain dari yang lain, dengan julukkan 'Bu Rt tercantik sekota jember'..Eehh makasih yaa atas pemberian nama baru yang menarik untuk aku" .. Balas saya dengan sangat senang.

Keduanya nampak tersenyum cantik..."Sama-sama mas Dias". Balasnya berbarengan.

Sebenarnya saya ingin berlama-lama mengobrol dengan kedua wanita cantik tersebut, cuma karena sudah malam dan Adinda juga baru pulang kerja dan perlu istirahat. Sayapun akhirnya lebih memilih pulang kerumah kontrakan.

Dan sejak saat itu baik disekitaran komplek tempat saya mengontrak, maupun ditoko semua orang memanggil saya dengan sebutan Dias, tak ada lagi nama Satria, nama itu telah hilang dan berubah menjadi Dias, terkecuali Ance dan Cici Amelia yang tetap memanggil dengan sebutan Satria, karena saya tidak mau memaksa keduanya, karena ia sudah familiar dengan nama Satria. Tapi meskipun begitu nama Dias lebih dominan dikenal dikomplek tempat saya mengontrak. Dan saya pribadi menyukainya terlebih nama tersebut pemberian dari dua orang wanita cantik pemilik rumah yang saya sewa bersama Ance dan istrinya.

Nah dari cerita nyata saya diatas, apakah anda pernah punya kisah tentang sebuah nama juga, atau punya nama panggilan yang berbeda. Baik jika memang ada boleh dong berbagi komentar dengan saya dibawah ini.👇




~ THANK ~ YOU ~

Komentar

  1. Bisa salah paham begitu ya pak rt eh... mas satria eh... mas dias. Waktu Andini liat ktp mas nya saya kira itu buat mastiin status perkawinannya 🤣 Firasatku gak meleset sih ini, cinlok pasti ini 😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cinlok banget yee mas.🤣🤣🤣

      Rt nya matanya lamur mas...ktp gue sama si Ance dipukul rata semua. Dunggap Khonghucu juga gue.😁😁

      Hapus
  2. Dias, itu diambil dari nama depan, belakang atau tengah atau inisial dari nama depan, tengah dan belakang, Mas?

    Adinda dan Andini ini kembar ya? Dan pastinya cantik kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dias itu singkatan dari Nama Depan, Tengah, Dan Belakang... Hurup i penambah doang.😁😁

      Nggak Hu bukan anak kembar. Kaya Nenek2 Hu.🤣🤣🤣

      Hapus
  3. Siap Pak ErTe... Kayanya udah cocok nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haahaaa bisa saja mas ini..🤣🤣

      Harus buat surat pindah dulu dong kalau begitu.😁😁

      Hapus
  4. padahal kalau liat fotomu, ga ada mirip2 ama chinese, kok bisa dikira konghucu ya hahahahaha..

    apalah arti sebuah nama kan ;p, yg penting masih di ambil dari nama sendiri juga ;p. aku palingan pas zaman kuliah.. krn di international college, jadi students nya kebanyakan orang asing.. yg mana mereka itu lebih suka panggil surname, atau nama terakhir.. apalagi kalau baru kenal dan blm akrab... jadilah rata2 aku dipanggil Nila, krn mereka pikir itu nama keluarga. padahal orang indonesia mah , jarang pake nama keluarga d belakangnya ;p.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan masalah mirip Chinese mbak... Sahabatku si Ance orang Chinese jadi soal agama mereka pukul rata mungkin. Dan juga saya dianggap saudara sama Si Ance menurut orang sekitar situ. Jadi mereka berpikir saya beragama Khonghucu juga.🤣🤣🤣

      Betul mbak, kadang orang suka banyak beramsumsi sendiri soal nama dan menentukan pantes apa nggaknya.🤣🤣

      Hapus

Posting Komentar

TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!


Postingan populer dari blog ini

Apakah Belanja Dengan Uang Cash Masih Berlaku Di Masa Mendatang?

Di era digital yang semakin canggih, dompet kita terasa semakin ringan. Kartu debit, kartu kredit, hingga aplikasi pembayaran digital kini mendominasi setiap transaksi. Muncul pertanyaan besar: Apakah uang tunai (cash) akan menjadi relik masa lalu, atau masih memiliki tempat di masa mendatang? 1. Dominasi Pembayaran Digital: Sebuah Keniscayaan Tidak dapat dimungkiri, tren global bergerak menuju masyarakat cashless. Kecepatan, kemudahan, dan keamanan (dalam konteks tidak perlu membawa uang fisik dalam jumlah besar) yang ditawarkan oleh pembayaran digital adalah daya tarik utamanya. Kemudahan dan Kecepatan: Pembayaran melalui QR code, contactless card, atau e-wallet hanya membutuhkan waktu beberapa detik, jauh lebih cepat daripada menghitung uang tunai dan menunggu kembalian. Data dan Pelacakan: Bagi konsumen, transaksi digital membantu pelacakan pengeluaran. Bagi bisnis dan pemerintah, data transaksi ini sangat berharga untuk analisis ekonomi dan perpajakan. Ino...

5 Permainan Anak 90,an Saat Bulan Puasa Dan Hari Lebaran

Anda yang pernah mengalami era 90,an tentunya pasti tahu akan sebuah permainan diawal atau akhir bulan puasa. Yaa memang sangat berbeda dengan era sekarang yang serbah canggih. Dan kalau boleh saya tahu yang merasa anak 90,an sebenarnya kangen nggak sama permainan yang sudah tertera diatas dan dibawah ini.? Atau mungkin anda sudah lupa, Atau pura-pura lupa..? 😂😂 Ok kalau begitu. Disini saya bukan ingin menanya lupa atau tidaknya dengan sebuah permainan jadul era 90,an. Tetapi sekedar ingin mengulas tentang permainan jadul anak 90,an kala menunggu saat berbuka puasa. Kalau anak sekarang bilang katanya Ngabuburit.? 😄 Sebenarnya apa bedanya sih permainan era 90,an dan sekarang, Kala menunggu waktu berbuka puasa. Yaa sudah barang tentu sangat berbeda. Meski ada beberapa yang masih kerap dipermainkan diera sekarang. Lalu apa saja permainannya berikut ulasan dibawah ini. 1. PETASAN & KEMBANG API Ilustrasi By : Poskota Yaa dari gambar pertama adalah...

Telat Mencabut

Kesibukkan bekerja membuat Agus lupa akan kesehatan tubuhnya hingga akhirnya ia harus dilarikan kerumah sakit terdekat karena sakit. akibat kurang teratur makan. Tiga hari kemudian teman kerjanya yang bernama Khanif datang menjenguknya, dan kebetulan memang hari itu tepat waktunya untuk jam kunjungan membesuk pasien. "Sorry banget Gus baru hari ini gue bisa datang membesuk luh kerumah sakit"... Kata Khanif teman kerjanya. Berhubung Agus orangnya sabar dan pemaaf meski baru sembuh dari sakitnya ia mencoba tersenyum kepada Khanif... "Nggak masalah Nif, nggak usah dipikirin toh hari ini luh sudah bertemu gue". "Eehhhmm, anu Gus, gue juga minta maaf, karena membesuk luh nggak bisa membawa apa-apa, soalnya gue juga baru sembuh dari sakit gigi Gus". Agus kembali tersenyum... "Aah! luh nggak usah sungkan-sungkan Nif sama gue, luh datang gue juga udah senang". Suasana menjadi hening sejenak sampai akhirnya Khanif kembali berbicara...

Cerpen : Cermin Kematian

~CERPEN : Cermin~Kematian~ Malam semakin larut Manda masih berdiri didepan cermin besar yang ada dikamarnya, dadanya berdesir, Manda takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Manda. Wajahnya tersipu mendengar pujian itu. Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu. Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat kecantikannya sendiri. Rambutnya panjang, berwarna hitam kecokelatan, berkilat, bergelung seolah ombak. Dahinya licin. Matanya bulat, berbinar-binar. Hitam pekat seperti langit malam. Dikedip-kedipkannya matanya, hingga ia perhatikan bulu matanya yang tebal dan lentik. Tebal serupa alisnya yang melengkung menaungi sepasang matanya yang indah itu. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Cantik sekali dirimu, Manda membatin. Ya, kau memang cantik, Manda. Hidungnya, ...

Cerpen : Tabir Asmara Jingga

~CERITA INI HANYA FIKTIP & BUALAN BELAKA UNTUK 90 TAHUN+++~ Hampir sembilan tahun telah berlalu usia perkawinan Vina, Dan selama tiga tahun berjalan Vina tak pernah lagi merasakan yang namanya hidup berumah tangga. Seolah ia hidup seorang diri dan tak pernah ada seorangpun yang mengerti keinginan hati serta jiwanya. Berawal dari sang suami yang tak pernah pulang, Hingga terkadang lupa memberi nafkah dirinya serta anak semata wayangnya. Vinapun mencoba sabar dengan semua itu bahkan sebagai seorang wanita yang punya pendidikan cukup Vinapun mencoba mencari kerja sampingan dari berjualan produk kosmetik hingga bisnis dor to dor semua produk, Layaknya seorang sales. Namun apapun yang Vina usahakan tak pernah membuat hati sang suaminya berubah, Bahkan suaminya yang bernama Dahlan berani meminta uang dari hasil kerjanya dengan alasan yang bermacam-macam. Bagai sudah jatuh tertiban tangga pula, Itulah yang selalu Vina alami. Sebagai wanita yang tegar Vinapun mencoba ber...