Langsung ke konten utama

Mencari Rumah Kontrakan dikota Jember


Prumnas Pattrang Jember


Akhirnya saya dan Ance bisa berhemat, dari sejak awal september sampai pertengahan Oktober selalu bolak-balik Jember ~ Surabaya. Saya dan Ance bolak-balik Jember~ Surabaya bukan tanpa alasan karena memang banyak sesuatu atau keperluan yang perlu disiapkan untuk membuka dua toko dikota Jember.

Dari mulai mengurus kendaraan operasional untuk toko dikota Jember mau tidak mau Ance harus membawanya dari kota Surabaya ke Kota Jember. Dan suatu hal yang tidak mungkin untuk membeli kendaraan bekas atau baru di kota Jember.

Karena kendaraan operasional toko tidak cukup 1 atau 2 mobil, minimal harus 6 kendaraan, 3 truk dan 3 lagi mobil box dan menyusul sepeda motor serta tetek bengek lainnya.

Setelah berada di Jember saya dan Ance cukup puas melihat beberapa bangunan yang hampir selesai setidaknya bangunan yang sudah selesai bisa dijadikan untuk tempat tinggal untuk beberapa karyawan toko dan supir yang juga kami bawa dari Surabaya. Untuk sisanya saya dan Ance nantinya akan mencari saja disekitaran kota Jember, atau lingkungan sekitar toko yang sedang dalam proses renovasi.

Singkat cerita siang itu meski dalam proses renovasi dua toko baru Ance sudah bisa beroprasi seperti toko pada umumnya meski belum banyak orang atau pelanggan yang tahu. Setelah tidak ada lagi pekerjaan yang begitu penting siang itu saya dan Ance berencana untuk mencari rumah kontrakan sementara untuk Saya, Ance berserta istrinya, karena ditoko semua ruangan dipakai untuk para karyawan yang tinggal dan menetap di Jember.

Setelah memberi arahan kepada semua karyawan saya dan Ance bergegas mencari rumah kontrakan untuk kami siang itu. Mobilpun bergerak kearah utara menuju sebuah perumahan atau Prumnas yang katanya orang sekitar bilang banyak rumah yang dikontrakan atau kostsan, dari mulai bulanan hingga tahunan, bahkan ruko dan pertokoan pun juga ada. Mobil pun kami arahkan ke tempat tersebut hingga saya dan Ance menemukan sebuah rumah yang cukup bersih dan agak besar untuk sebuah rumah kontrakan.

Setelah turun dari mobil sayapun bergegas menuju rumah tersebut, setelah bertanya kepada warga sekitar, merekapun menujuk 4 rumah dari rumah tersebut adalah rumah sang pemilik kontrakan. Saya dan Ancepun kembali melangkah menuju rumah sang pemilik kontrakan setelah memanggil sambil memberi salam muncullah dua orang wanita cantik sepertinya kakak beradik wanita pertama berambut ikal mayang dengan pakaian santai menyambut saya dan Ance. Sedangkan wanita kedua menggunakan seragam biru berambut lurus panjang pirang kecoklatan, sepertinya ia ingin berangkat kerja. Dari pakaian yang ia gunakan saya menduga ia seorang Spg Ponsel.

Sayapun akhirnya menjelaskan keinginan saya untuk mengontrak rumah dibarisan ke 4 untuk saya isi dan tempati. Wanita berambut ikal mayang angkat bicara dan memerintahkan kepada wanita berseragam biru itu untuk mengantarkan saya melihat lebih detail rumah yang saya akan kontrak. Rumahnya cukup rapih dan bersih ada 2 kamar ukuran besar, meski cukup besar untuk sebuah rumah kontrakan, tapi karena saya menyukainya sayapun segera menanyakan harga sewa rumah tersebut.

"Berapa harga sewa rumah ini mbak" .. Tanya saya sambil menikmati aroma wangi yang keluar dari tubuh sang wanita pemilik kontrakan tersebut.

"Murah kok mas cuma 20 juta setahun, tempat lain bisa 23 sampai 25 jutaan lho, itupun belum tentu bersih kaya rumah ini"... Promosinya sambil menyemburkan asap Vape yang sedang ia hisap.

Sayapun tersenyum sambil mengagumi kecantikannya, "Kalau saya sewa perbulan bisa mbak, soalnya kemungkinan rumah ini saya sewa tidak sampai setahun, kecuali ada perubahan mendadak mungkin bisa setahun, Tapi inti awalnya saya sewa disini tidak sampai setahun". Balas saya santai.

"Ooh kalau itu nanti saya tanyakan lagi kepada saudara saya soalnya rumah ini milik saudara saya jadi saya harus tanyakan lagi kepadanya. Oiya gimana kalau mas besok datang lagi kesini agak pagian, soalnya sekarang saya harus berangkat kerja mohon maaf yaa sebelumnya"... Jawabnya tegas.

Akhirnya saya memakluminya, dan akan datang kembali besok, setelah meminta nomor kontak sang wanita, yang ternyata bernama Adinda sayapun segera berlalu dari rumah tersebut, dan wanita yang bernama Adinda itu segera berlalu juga dari hadapan saya untuk menuju tempat kerjanya dengan sepeda motornya.

Setelah berada didalam mobil saya kembali memutari komplek tersebut sambil mencari-cari lagi rumah kontrakan yang setara dengan yang pertama saya dan Ance datangi, meski banyak ternyata sudah terisi semuanya, terkecuali kost-kostsan masih banyak yang kosong. Tapi saya tidak tertarik karena jika saya ngekost untuk bersosialisasi kelingkungan sangat sulit dan terbatas. Semua itu sudah saya alami sewaktu masih sekolah dan jadi mahasiswa.

Tanpa terasa saya sudah jauh jalan keluar dari komplek prumnas yang pertama saya datangi, meski banyak menemukan kontrakan namun semuanya serasa kurang sreg buat saya. Terlebih cuma ada satu kamar saja. Berbeda jauh dengan kontrakan yang saya datangi pertama. Selain cuma satu kamar rata-rata sebagian kontrakan yang ada ditempat lainnya jenisnya berjejer atau petakan, jujur saya paling tidak suka ngontrak rumah dengan type petakan.

"Jadi gimana nih? Mau ngontrak model rumah kaya gimana sih luh Sat!" Tanya Ance mulai jengkel karena saya terkesan plinplan.

Akhirnya tak mau dibilang plinplan sayapun mulai berpikir dan menimbang-nimbang hingga pilihan saya tetap pada rumah kontrakan yang pertama saya datangi bersama Ance.

"Huuffs! Mentang-mentang yang punya kontrakan cewek langsung deh luh klepek-klepek, dan ngebet pengen ngontrak disitu"... Seru Ance sambil cemberut.

"Luh dengar gue dulu Nce, seandainya kita ngontrak ditempat yang pertama kan nggak terlalu jauh dari toko kita jadi jika mondar-mandirpun tidak terlalu melelahkan. Berbeda sama disekitaran sini, sudah jauh, cuma satu kamar, masa kita tidur sekamar bertiga, yang ada gue cuma bisa liatin luh kelonan sama biniluh, iihhh jijay amat".

Ance pun tertawa lepas... "Luh bisakan tidur diruang tengah atau didapur, diluar juga boleh" Serunya sambil tertawa kembali.

"Aahh suueee luh!!" Balas saya kembali.

"Ok terserah luh deh, gue percaya sama luh, eeh tapi kalau dia minta pertahun gimana Sat?"

"Gue paksa harus mau bulanan, pokoknya sebisa mungkin gue harus dapatkan itu tempat, karena ada pemandangan yang menarik yaitu dua wanita cantik" Gurau saya kepada Ance sambil tertawa.

"Siip! Lanjut besok pagi kita kesana Sat" .. Akhirnya saya dan Ance langsung kembali ke toko lagi. Keesokan harinya ternyata keberuntungan masih berpihak kepada saya. Setelah saya telepon kenomor wanita yang bernama Adinda, iapun berkata boleh jika ingin bayar bulanan, atau menyewa rumah kontrakannya sesuai yang saya tentukan.

Sayapun nampak senang dan sekitar jam 9 pagi saya dan Ance sudah berada dirumah kontrakan tersebut dan bertemu dengan pemiliknya langsung, karena saya bayar bulanan sang pemilik meminta uang sewa sebesar 2 juta perbulan, setelah nego-menego akhirnya dealnya cuma 1,9 juta perbulan. Saya dan Ancepun akhirnya menyetujuinya dan langsung membayar 3 bulan sekaligus kepada sang pemilik rumah kontrakan yang masih saudara dengan Adinda.

Sore harinya saya dan Ancepun sudah boleh mengisi rumah yang saya kontrak selama 3 bulan. Hingga sore menjelang malam barang-barang yang saya butuhkan sudah semuanya masuk kerumah yang saya dan Ance sewa. Setelah itu saya dan Ance berserta istrinya menuju rumah pak Rt untuk izin menjadi warga baru dikomplek atau prumnas tersebut.

Dan sejak itu saya semakin dekat dan akrab dengan kedua wanita yang selalu mengurus rumah saudaranya yang kini saya dan Ance sewa. Sang kakak bernama Murthi Sari Andini, usia 32 tahun sudah menikah mempunyai anak satu. Sedangkan sang adik bernama Murthi Sari Adinda, usia 28 tahun belum menikah alias Jomblo.😁😁 Ia juga menanyakan asal saya dan pekerjaan saya, sayapun berbohong dan mengaku dari Kota Surabaya, sedangkan pekerjaan hanya seorang kuli yang merangkap jadi pembantu Bos besar yang bernama Ance.

Karena saya berbicara tegas akhirnya Adinda dan Andini mempercayai apa yang telah saya katakan kepadanya, selain itu sayapun rajin bersosialisasi dilingkungan atau sekitaran tempat saya mengontrak. Dan Andini, Adinda mereka selalu jadi penyemangat saya jikalau datang rasa jenuh dalam bekerja.

Nantikan cerita-cerita saya lainnya selama berada dikota Jember. Atau anda punya cerita lain yang menarik soal rumah kontrakan jika iya silahkan berikan komentar dibawah ini.👇




~ THANK ~ YOU ~

Komentar

  1. Wah tawar menawar harga kontrakan alot juga ya
    Hanya turun sedikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mas padahal tawaran saya 1,5 + melas-melas sambil ngerayu cuma diturunin cepe. 🤣🤣

      Mendinglah kalau di Surabaya bisa 5 jutaan perbulannya.😁😁

      Hapus
  2. Kontrakannya mahal juga ya perbulannya. Selama 3 bulan disitu niatnya sosialisasi ehhh. . . kayaknya bakalan cinlok ini 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas tapi rumahnya besar dan bersih kok. Nah itu bonusnya nggak apa2 mahal juga.🤣🤣🤣

      Hapus
  3. Berarti kembar ya kang, makanya namanya mirip-mirip, Murti Sari Andini dan Murti Sari Adinda.

    Nanti ada satu lagi kembar ketiga yaitu Murti Sari Satriani.😁

    🚶🏃💨💨💨

    BalasHapus
    Balasan
    1. 🤣🤣🤣🤣🤣 Lebih bagus Murthi Sari Egus lagi...

      Nggak kembar kang cuma namanya doang yang kembar.😁😁

      Hapus
  4. memang beda jauh ama jkt yaa harga rumah sewa di sanaaa... 20 jutan setahun kalau di jkt, ntah di daerah antah berantah mana itu wkwkwkwkw... beruntung banget yg bisa tinggal di daerah yg masih murah begini mas ^o^ ... eh jember 1 kota ama mba Ainun dong..

    BalasHapus
  5. Betul mbak Jakarta, Surabaya bisa 40 jutaan pertahun.😁

    Yaa Jember itu kota kecil tapi biaya hidup Besar juga mbak hampir sama kaya Depok.

    Iya katanya... Cuma Mbak Ainun yang saya tahu ia di Banyuwangi, tapi kerja di Jember, atau mungkin juga sudah pindah ke Jember.😁😁

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!


Postingan populer dari blog ini

Apakah Belanja Dengan Uang Cash Masih Berlaku Di Masa Mendatang?

Di era digital yang semakin canggih, dompet kita terasa semakin ringan. Kartu debit, kartu kredit, hingga aplikasi pembayaran digital kini mendominasi setiap transaksi. Muncul pertanyaan besar: Apakah uang tunai (cash) akan menjadi relik masa lalu, atau masih memiliki tempat di masa mendatang? 1. Dominasi Pembayaran Digital: Sebuah Keniscayaan Tidak dapat dimungkiri, tren global bergerak menuju masyarakat cashless. Kecepatan, kemudahan, dan keamanan (dalam konteks tidak perlu membawa uang fisik dalam jumlah besar) yang ditawarkan oleh pembayaran digital adalah daya tarik utamanya. Kemudahan dan Kecepatan: Pembayaran melalui QR code, contactless card, atau e-wallet hanya membutuhkan waktu beberapa detik, jauh lebih cepat daripada menghitung uang tunai dan menunggu kembalian. Data dan Pelacakan: Bagi konsumen, transaksi digital membantu pelacakan pengeluaran. Bagi bisnis dan pemerintah, data transaksi ini sangat berharga untuk analisis ekonomi dan perpajakan. Ino...

5 Permainan Anak 90,an Saat Bulan Puasa Dan Hari Lebaran

Anda yang pernah mengalami era 90,an tentunya pasti tahu akan sebuah permainan diawal atau akhir bulan puasa. Yaa memang sangat berbeda dengan era sekarang yang serbah canggih. Dan kalau boleh saya tahu yang merasa anak 90,an sebenarnya kangen nggak sama permainan yang sudah tertera diatas dan dibawah ini.? Atau mungkin anda sudah lupa, Atau pura-pura lupa..? 😂😂 Ok kalau begitu. Disini saya bukan ingin menanya lupa atau tidaknya dengan sebuah permainan jadul era 90,an. Tetapi sekedar ingin mengulas tentang permainan jadul anak 90,an kala menunggu saat berbuka puasa. Kalau anak sekarang bilang katanya Ngabuburit.? 😄 Sebenarnya apa bedanya sih permainan era 90,an dan sekarang, Kala menunggu waktu berbuka puasa. Yaa sudah barang tentu sangat berbeda. Meski ada beberapa yang masih kerap dipermainkan diera sekarang. Lalu apa saja permainannya berikut ulasan dibawah ini. 1. PETASAN & KEMBANG API Ilustrasi By : Poskota Yaa dari gambar pertama adalah...

Telat Mencabut

Kesibukkan bekerja membuat Agus lupa akan kesehatan tubuhnya hingga akhirnya ia harus dilarikan kerumah sakit terdekat karena sakit. akibat kurang teratur makan. Tiga hari kemudian teman kerjanya yang bernama Khanif datang menjenguknya, dan kebetulan memang hari itu tepat waktunya untuk jam kunjungan membesuk pasien. "Sorry banget Gus baru hari ini gue bisa datang membesuk luh kerumah sakit"... Kata Khanif teman kerjanya. Berhubung Agus orangnya sabar dan pemaaf meski baru sembuh dari sakitnya ia mencoba tersenyum kepada Khanif... "Nggak masalah Nif, nggak usah dipikirin toh hari ini luh sudah bertemu gue". "Eehhhmm, anu Gus, gue juga minta maaf, karena membesuk luh nggak bisa membawa apa-apa, soalnya gue juga baru sembuh dari sakit gigi Gus". Agus kembali tersenyum... "Aah! luh nggak usah sungkan-sungkan Nif sama gue, luh datang gue juga udah senang". Suasana menjadi hening sejenak sampai akhirnya Khanif kembali berbicara...

Cerpen : Cermin Kematian

~CERPEN : Cermin~Kematian~ Malam semakin larut Manda masih berdiri didepan cermin besar yang ada dikamarnya, dadanya berdesir, Manda takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Manda. Wajahnya tersipu mendengar pujian itu. Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu. Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat kecantikannya sendiri. Rambutnya panjang, berwarna hitam kecokelatan, berkilat, bergelung seolah ombak. Dahinya licin. Matanya bulat, berbinar-binar. Hitam pekat seperti langit malam. Dikedip-kedipkannya matanya, hingga ia perhatikan bulu matanya yang tebal dan lentik. Tebal serupa alisnya yang melengkung menaungi sepasang matanya yang indah itu. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Cantik sekali dirimu, Manda membatin. Ya, kau memang cantik, Manda. Hidungnya, ...

Cerpen : Tabir Asmara Jingga

~CERITA INI HANYA FIKTIP & BUALAN BELAKA UNTUK 90 TAHUN+++~ Hampir sembilan tahun telah berlalu usia perkawinan Vina, Dan selama tiga tahun berjalan Vina tak pernah lagi merasakan yang namanya hidup berumah tangga. Seolah ia hidup seorang diri dan tak pernah ada seorangpun yang mengerti keinginan hati serta jiwanya. Berawal dari sang suami yang tak pernah pulang, Hingga terkadang lupa memberi nafkah dirinya serta anak semata wayangnya. Vinapun mencoba sabar dengan semua itu bahkan sebagai seorang wanita yang punya pendidikan cukup Vinapun mencoba mencari kerja sampingan dari berjualan produk kosmetik hingga bisnis dor to dor semua produk, Layaknya seorang sales. Namun apapun yang Vina usahakan tak pernah membuat hati sang suaminya berubah, Bahkan suaminya yang bernama Dahlan berani meminta uang dari hasil kerjanya dengan alasan yang bermacam-macam. Bagai sudah jatuh tertiban tangga pula, Itulah yang selalu Vina alami. Sebagai wanita yang tegar Vinapun mencoba ber...