Akhirnya motor yang pernah dijanjikan Ance dari Surabaya, kepada saya telah tiba dikota Jember. Rencananya motor itu hanya untuk sekedar modar-mandir antara toko dan kontrakan tempat saya dan Ance tinggal. Selain itu juga motor tersebut akan digunakan untuk anter barang dengan jarak yang tidak begitu jauh. Namun selama saya masih berada dikota Jember motor tersebut tetap jadi pegangan saya untuk sehari-hari.
Meski hanya motor Honda Vario lama tetapi bagi saya apa yang sudah diberikan Ance untuk saya sudah lebih dari cukup. Bahkan saya berjanji kepada Ance jika motor tiba saya akan menggunakan motor tersebut untuk Nganpas atau jadi Sales untuk menawarkan produk atau barang yang ada ditoko demi mempercepat cari pelanggan baik dekat maupun yang jauh.
Pagi pukul 8.30 saya sidah siap-siap untuk berangkat menjadi sales dadakan demi kemajuan toko Ance sahabat saya. Saat hendak berangkat Cici Amelia bertanya kepada saya..."Nggak kepagian Sat, kamu nyeles hari ini" Tanya dengan senang.
"Makin pagi makin baguslah Cici, nggak dapat ditoko ini, bisa kesana, keatas dan kebawah lagi"..Seru saya sambil tertawa.
"Iye deh Sat hati-hati aja deh, dari pada kamu godain Andini dan Adinda terus mending kamu nyeles deh".
"Aah cici ini bisa aja, la wong aku yang digoda kok" .. Balas saya kembali.
"Lha kamunya juga nimpalin hayoo ngaku, emang istri dua masih kurang" Tanya Cici Amelia sambil cemberut.
"Huuss! Jangan keras-keras cici, udah aah aku mau jalan dulu Ci, doakan yaa biar dapat banyak pelanggan'" .. Seru saya sambil berlalu dari hadapan istri Ance.
Kota Jember yang cerah namun tetap sejuk membuat saya begitu semangat untuk jadi seorang Sales dadakan. Padahal kalau boleh jujur kerjaan seperti ini enggan saya lakukan jika di Jakarta. Namun dikota Jember entah mengapa saya begitu menikmatinya. Motorpun melaju dengan santai dan tempat yang saya tuju tidak menentu sesuai keinginan saya saja yang terpenting kawasan ramai seperti Pasar, Ruko dan jalan raya yang banyak pertokoan berjajar.
Seminggu menjadi sales dadakan hasilnya pun tak sia-sia sayapun mendapat 5 toko yang mau jadi pelanggan saya dan berbelanja, meski nominalnya bervaratif setiap bulannya tetapi setidaknya lama kelamaan bisa semakin banyak, Ance dan Cici Ameliapun sangat senang kepada saya karena baru membuka toko dikota Jember sudah bisa mengadakan pingiriman barang yang cukup besar baginya. Hingga Ance dan Cici Amelia berencana menambah dua orang sopir serta kasir baru, iapun mempercayakannya pada saya kembali.
Sayapun dengan senang hati akan melakukannya selain itu saya dan Ance berencana mencari proyek bangunan besar disekitar kota Jember, untuk menawarkan produk bahan bangunan dan sejenisnya yang ada di matrial milik Ance.
Kamis pagi sebelum saya ketoko dan menjadi sales dadakan lagi, saya menyempatkan diri untuk kerumah Adinda untuk minta bantuannya mencarikan orang yang mau menjadi sopir dan kasir ditoko milik Ance, karena jarak rumah yang saya sewa dengan rumah Adinda tidak begitu jauh, secara kebetulan saya berpapasan dengannya iapun menyapa saya lebih dulu.
"Paagii! pak Manager, mau kemana? Kok Harley merah bututnya nggak dibawah?" Sindirnya kepada saya.
Memang saya pernah bercerita akan mendapat kiriman motor dari Surabaya kepada Adinda dan Andini, namun saya mengatakan kepadanya, bahwa motor tersebut adalah motor Harley. Meski fakta sesungguhnya tidak demikian. Akan tetapi mereka tetap tahu saya suka ngebanyol, walau pada akhirnya keduanya tak malu jika saya ajak jalan-jalan bersama motor Honda Vario Karbu alias Harley Merah Butut.
Sayapun menceritakan keperluan saya menemuinya, namun Adinda menjawab jika butuh orang untuk ditoko bisa tanya langsung saja kepada Andini sang kakak, karena hari itu Adinda kena jadwal kerja pagi jadi ia tak bisa membantu saya, meski saya juga menawarkan pekerjaan kepadanya tetapi ia sudah nyaman dengan pekerjaan yang sekarang ia jalani.
"Kalau urusan cari orang kamu tanya Andini saja mas, dia lebih banyak tahu ketimbang aku, aku tinggal dulu yaa nanti sore atau malam kita ngobrol dirumah lagi yaa daah mas Dias!".. Serunya sambil menyalahkan mesin motornya dan berlalu dari hadapan saya.
Akhirnya saya segera menemui Andini ia pun siap membantu saya namun ia butuh waktu beberapa hari, karena ia juga banyak urusan iapun kembali bertanya kepada saya... "Mas Dias boleh nggak aku pinjam motor untuk acara Arisan"... Katanya sambil tersenyum malu.
"Ooh boleh dong, apa aku antar saja yuuk!" Balas saya senang.
"Nggak sekarang tapi besok siang nunggu Adinda berangkat kerja, tapi kamu nggak usah bilang sama dia atau cerita"..Katanya kembali sambil tersenyum.
Sayapun mengangguk dan berjanji tidak akan bercerita kepada Adinda, dan kata Andini jika urusan Arisan telah selesai esok atau lusa ia akan mencarikan orang untuk bekerja ditoko yang saya kelola dengan Ance.
Siang yang sedikit mendung menambah kesejukan kota Jember, dan saya sudah berjanji mau mengantar Andini untuk acara Arisan bersama teman-temannya. Cuaca yang mendung kini disambut hujan rintik-rintik, akhirnya setelah saya timbang-timbang. Saya memutuskan untuk mengantar Andini dengan mobil milik Ance. Setelah meminjamnya dari Ance dengan alasan mencari orang baru untuk tokonya, sayapun bergegas meninggalkan toko untuk menemui Andini setelah mengabarinya lewat WA.
Setelah sampai saya segera memutar balik mobil dan kembali mengabari Andini via WA, tak lama berselang iapun muncul bersama anak semata wayangnya. Dan sayapun dibuat terpesona oleh Andini, karena meski hanya dandan standard ia nampak lebih cantik dan menggairahkan tak kalah dengan wanita-wanita yang ada dikota Jakarta. Setelah berada dalam mobil Andini kembali berkarta kepada saya.
"Duuh jadi ngerepotin kamu nih mas Dias, terus pekerjaan kamu gimana"? Tanya Andini bimbang.
"Nggak kok mbak Dini, kerjaanku sudah beres kok siang ini, dari pada bengang-bengong ditoko mending jalan-jalan sama mbak Dini. Oiya sudah izin belum sama suami, nanti akunya jadi nggak enak nih". Jawab saya sambil tersenyum dan menikmati kecantikan Andini.
Andini pun tersenyum senang.. "Aman kok mas Dias".. Balasnya kembali dengan tersenyum cantik.
Mobilpun berjalan keluar komplek menelusuri jalan raya, saya dan Andini terlibat obrolan yang bikin kami merasa suka cita, dan tanpa canggung lagi dan malu-malu. Saling mendengarkan saling membalas kata-kata dengan tersenyum senang. Apapun yang kami obrolkan semuanya serasa nyaman saja, termasuk hal pribadi kami berdua. Baik saya dan Andini seolah-olah sudah mengenal satu sama lainnya sejak lama.
Saat sampai ditempat acara Arisan, sepertinya Andini kebal dengan olok-olokan teman Arisannya. Bahkan ia membalas santai oloh-olohkan tersebut.."Eeh ganti suami lagi toh Ndin?" Seru teman-temannya sambil tertawa.
"Iyaa dong! Kan nggak lama lagi ganti tahun, semuanya harus diganti juga".. Balas Andini kembali sambil tertawa. Meski pada akhirnya Andini menjelaskan bahwa saya keponakannya dari Surabaya yang sedang berkunjung kerumahnya sejak seminggu lalu.
Sayapun semakin salut dengan Andini, sepertinya ia sudah menyiapkan serta membuat pembelaan terhadap saya, kepada teman-teman Arisannya hingga mereka yakin dan percaya. Selain itu ternyata sebagian teman-teman Arisan Andini lebih dominan para pendatang seperti orang Aceh, Sulawesi tengah, Medan, Lampung hingga Bandung dan Jakarta. Meski ada juga beberapa yang asli Jember, seperti Andini. Sayapun tidak merasa canggung jika ngobrol dengan teman-teman Andini, justru semakin senang.
Sampai acara Arisan selesai dan beberapa teman Arisan Andini ada yang minta tumpangan kepada saya, untuk diantarkan kerumahnya masing-masing. Andinipun nampak semakin senang terhadap saya karena selama Arisan berlangsung anaknya selalu anteng bersama saya. Bahkan saya dan Andini sepakat untuk tidak ingin cepat-cepat pulang. Akhirnya Andini mengajak saya kemall Roxy-Square Jember untuk kembali bersantai dan menikmati kuliner kesukaannya, sekaligus mengajak anaknya untuk menikmati wahana permainan yang ada dimall Roxy-Square Jember.
Setelah berkuliner sore saya dan Andini kembali terlibat obrolan seru yang menyenangkan sambil sesekali mengawasi sang anak yang sedang menikmati aneka macam permainan. Bagi saya Andini lebih Agresif dan pengertian ketimbang Adinda, setelah puas mengajak sang anak menikmati wahana permainannya, saya tidak lupa memanjakan Andini untuk ke Salon khusus wanita untuk kembali mempercantik penampilannya serta membelikan beberapa alat make-up kesukaannya.
Sampai akhirnya kamipun memutuskan untuk segera pulang, dan saya semakin panggling melihat penampilan Andini. Ternyata ia dandan tidak dandan tetap cantik alami. Terbukti setelah ia dari salon kecantikan tetap tidak berubah, ia tetap cantik seperti sejak siang awal saya mengantarnya. Dan menurut saya lagi Aura kecantikannya seperti tak pernah memudar, sayapun menjadi semakin gemas hingga akhirnya memberanikan diri memuji serta menciumnya, dan Andinipun membalas ciuman saya tanpa pernah ragu sambil membisikan kata lembut ketelinga saya.."Makasih yaa mas Dias atas semuanya".. Kamipun tertawa bareng dan segera meluncur untuk pulang kekerumah.
Sejak itu jika dilingkungan rumah tempat Andini tinggal, baik saya dan dirinya tetap biasa-biaya saja. Terkecuali jika ada waktu luang serta posisi yang nyaman barulah saya dan Andini sering berjanji untuk ngobrol diluaran atau jalan-jalan ke tempat wisata yang sudah disepakati bersama.
Meski hanya motor Honda Vario lama tetapi bagi saya apa yang sudah diberikan Ance untuk saya sudah lebih dari cukup. Bahkan saya berjanji kepada Ance jika motor tiba saya akan menggunakan motor tersebut untuk Nganpas atau jadi Sales untuk menawarkan produk atau barang yang ada ditoko demi mempercepat cari pelanggan baik dekat maupun yang jauh.
Pagi pukul 8.30 saya sidah siap-siap untuk berangkat menjadi sales dadakan demi kemajuan toko Ance sahabat saya. Saat hendak berangkat Cici Amelia bertanya kepada saya..."Nggak kepagian Sat, kamu nyeles hari ini" Tanya dengan senang.
"Makin pagi makin baguslah Cici, nggak dapat ditoko ini, bisa kesana, keatas dan kebawah lagi"..Seru saya sambil tertawa.
"Iye deh Sat hati-hati aja deh, dari pada kamu godain Andini dan Adinda terus mending kamu nyeles deh".
"Aah cici ini bisa aja, la wong aku yang digoda kok" .. Balas saya kembali.
"Lha kamunya juga nimpalin hayoo ngaku, emang istri dua masih kurang" Tanya Cici Amelia sambil cemberut.
"Huuss! Jangan keras-keras cici, udah aah aku mau jalan dulu Ci, doakan yaa biar dapat banyak pelanggan'" .. Seru saya sambil berlalu dari hadapan istri Ance.
Kota Jember yang cerah namun tetap sejuk membuat saya begitu semangat untuk jadi seorang Sales dadakan. Padahal kalau boleh jujur kerjaan seperti ini enggan saya lakukan jika di Jakarta. Namun dikota Jember entah mengapa saya begitu menikmatinya. Motorpun melaju dengan santai dan tempat yang saya tuju tidak menentu sesuai keinginan saya saja yang terpenting kawasan ramai seperti Pasar, Ruko dan jalan raya yang banyak pertokoan berjajar.
Seminggu menjadi sales dadakan hasilnya pun tak sia-sia sayapun mendapat 5 toko yang mau jadi pelanggan saya dan berbelanja, meski nominalnya bervaratif setiap bulannya tetapi setidaknya lama kelamaan bisa semakin banyak, Ance dan Cici Ameliapun sangat senang kepada saya karena baru membuka toko dikota Jember sudah bisa mengadakan pingiriman barang yang cukup besar baginya. Hingga Ance dan Cici Amelia berencana menambah dua orang sopir serta kasir baru, iapun mempercayakannya pada saya kembali.
Sayapun dengan senang hati akan melakukannya selain itu saya dan Ance berencana mencari proyek bangunan besar disekitar kota Jember, untuk menawarkan produk bahan bangunan dan sejenisnya yang ada di matrial milik Ance.
Kamis pagi sebelum saya ketoko dan menjadi sales dadakan lagi, saya menyempatkan diri untuk kerumah Adinda untuk minta bantuannya mencarikan orang yang mau menjadi sopir dan kasir ditoko milik Ance, karena jarak rumah yang saya sewa dengan rumah Adinda tidak begitu jauh, secara kebetulan saya berpapasan dengannya iapun menyapa saya lebih dulu.
"Paagii! pak Manager, mau kemana? Kok Harley merah bututnya nggak dibawah?" Sindirnya kepada saya.
Memang saya pernah bercerita akan mendapat kiriman motor dari Surabaya kepada Adinda dan Andini, namun saya mengatakan kepadanya, bahwa motor tersebut adalah motor Harley. Meski fakta sesungguhnya tidak demikian. Akan tetapi mereka tetap tahu saya suka ngebanyol, walau pada akhirnya keduanya tak malu jika saya ajak jalan-jalan bersama motor Honda Vario Karbu alias Harley Merah Butut.
Sayapun menceritakan keperluan saya menemuinya, namun Adinda menjawab jika butuh orang untuk ditoko bisa tanya langsung saja kepada Andini sang kakak, karena hari itu Adinda kena jadwal kerja pagi jadi ia tak bisa membantu saya, meski saya juga menawarkan pekerjaan kepadanya tetapi ia sudah nyaman dengan pekerjaan yang sekarang ia jalani.
"Kalau urusan cari orang kamu tanya Andini saja mas, dia lebih banyak tahu ketimbang aku, aku tinggal dulu yaa nanti sore atau malam kita ngobrol dirumah lagi yaa daah mas Dias!".. Serunya sambil menyalahkan mesin motornya dan berlalu dari hadapan saya.
Akhirnya saya segera menemui Andini ia pun siap membantu saya namun ia butuh waktu beberapa hari, karena ia juga banyak urusan iapun kembali bertanya kepada saya... "Mas Dias boleh nggak aku pinjam motor untuk acara Arisan"... Katanya sambil tersenyum malu.
"Ooh boleh dong, apa aku antar saja yuuk!" Balas saya senang.
"Nggak sekarang tapi besok siang nunggu Adinda berangkat kerja, tapi kamu nggak usah bilang sama dia atau cerita"..Katanya kembali sambil tersenyum.
Sayapun mengangguk dan berjanji tidak akan bercerita kepada Adinda, dan kata Andini jika urusan Arisan telah selesai esok atau lusa ia akan mencarikan orang untuk bekerja ditoko yang saya kelola dengan Ance.
Siang yang sedikit mendung menambah kesejukan kota Jember, dan saya sudah berjanji mau mengantar Andini untuk acara Arisan bersama teman-temannya. Cuaca yang mendung kini disambut hujan rintik-rintik, akhirnya setelah saya timbang-timbang. Saya memutuskan untuk mengantar Andini dengan mobil milik Ance. Setelah meminjamnya dari Ance dengan alasan mencari orang baru untuk tokonya, sayapun bergegas meninggalkan toko untuk menemui Andini setelah mengabarinya lewat WA.
Setelah sampai saya segera memutar balik mobil dan kembali mengabari Andini via WA, tak lama berselang iapun muncul bersama anak semata wayangnya. Dan sayapun dibuat terpesona oleh Andini, karena meski hanya dandan standard ia nampak lebih cantik dan menggairahkan tak kalah dengan wanita-wanita yang ada dikota Jakarta. Setelah berada dalam mobil Andini kembali berkarta kepada saya.
"Duuh jadi ngerepotin kamu nih mas Dias, terus pekerjaan kamu gimana"? Tanya Andini bimbang.
"Nggak kok mbak Dini, kerjaanku sudah beres kok siang ini, dari pada bengang-bengong ditoko mending jalan-jalan sama mbak Dini. Oiya sudah izin belum sama suami, nanti akunya jadi nggak enak nih". Jawab saya sambil tersenyum dan menikmati kecantikan Andini.
Andini pun tersenyum senang.. "Aman kok mas Dias".. Balasnya kembali dengan tersenyum cantik.
Mobilpun berjalan keluar komplek menelusuri jalan raya, saya dan Andini terlibat obrolan yang bikin kami merasa suka cita, dan tanpa canggung lagi dan malu-malu. Saling mendengarkan saling membalas kata-kata dengan tersenyum senang. Apapun yang kami obrolkan semuanya serasa nyaman saja, termasuk hal pribadi kami berdua. Baik saya dan Andini seolah-olah sudah mengenal satu sama lainnya sejak lama.
Saat sampai ditempat acara Arisan, sepertinya Andini kebal dengan olok-olokan teman Arisannya. Bahkan ia membalas santai oloh-olohkan tersebut.."Eeh ganti suami lagi toh Ndin?" Seru teman-temannya sambil tertawa.
"Iyaa dong! Kan nggak lama lagi ganti tahun, semuanya harus diganti juga".. Balas Andini kembali sambil tertawa. Meski pada akhirnya Andini menjelaskan bahwa saya keponakannya dari Surabaya yang sedang berkunjung kerumahnya sejak seminggu lalu.
Sayapun semakin salut dengan Andini, sepertinya ia sudah menyiapkan serta membuat pembelaan terhadap saya, kepada teman-teman Arisannya hingga mereka yakin dan percaya. Selain itu ternyata sebagian teman-teman Arisan Andini lebih dominan para pendatang seperti orang Aceh, Sulawesi tengah, Medan, Lampung hingga Bandung dan Jakarta. Meski ada juga beberapa yang asli Jember, seperti Andini. Sayapun tidak merasa canggung jika ngobrol dengan teman-teman Andini, justru semakin senang.
Sampai acara Arisan selesai dan beberapa teman Arisan Andini ada yang minta tumpangan kepada saya, untuk diantarkan kerumahnya masing-masing. Andinipun nampak semakin senang terhadap saya karena selama Arisan berlangsung anaknya selalu anteng bersama saya. Bahkan saya dan Andini sepakat untuk tidak ingin cepat-cepat pulang. Akhirnya Andini mengajak saya kemall Roxy-Square Jember untuk kembali bersantai dan menikmati kuliner kesukaannya, sekaligus mengajak anaknya untuk menikmati wahana permainan yang ada dimall Roxy-Square Jember.
Setelah berkuliner sore saya dan Andini kembali terlibat obrolan seru yang menyenangkan sambil sesekali mengawasi sang anak yang sedang menikmati aneka macam permainan. Bagi saya Andini lebih Agresif dan pengertian ketimbang Adinda, setelah puas mengajak sang anak menikmati wahana permainannya, saya tidak lupa memanjakan Andini untuk ke Salon khusus wanita untuk kembali mempercantik penampilannya serta membelikan beberapa alat make-up kesukaannya.
Sampai akhirnya kamipun memutuskan untuk segera pulang, dan saya semakin panggling melihat penampilan Andini. Ternyata ia dandan tidak dandan tetap cantik alami. Terbukti setelah ia dari salon kecantikan tetap tidak berubah, ia tetap cantik seperti sejak siang awal saya mengantarnya. Dan menurut saya lagi Aura kecantikannya seperti tak pernah memudar, sayapun menjadi semakin gemas hingga akhirnya memberanikan diri memuji serta menciumnya, dan Andinipun membalas ciuman saya tanpa pernah ragu sambil membisikan kata lembut ketelinga saya.."Makasih yaa mas Dias atas semuanya".. Kamipun tertawa bareng dan segera meluncur untuk pulang kekerumah.
Sejak itu jika dilingkungan rumah tempat Andini tinggal, baik saya dan dirinya tetap biasa-biaya saja. Terkecuali jika ada waktu luang serta posisi yang nyaman barulah saya dan Andini sering berjanji untuk ngobrol diluaran atau jalan-jalan ke tempat wisata yang sudah disepakati bersama.

Digilirkah ini ceritanya mas
BalasHapusAbis Andini besoknya Adinda
Betul mas... Keduanya sekaligus diborong.🤣🤭
HapusEeh tapi kalau suruh milih enak sama kakaknya sih lebih dewasa?
Pemborong sejati emang ya 😄
HapusBisa saja mas Liyon ini.😁😁
HapusWah... bisa-bisa besok jadi motovlogger, nih... 😁
BalasHapusMasih belum minat mas jadi Vlogger. 😂😁
HapusIso ae mas Satria, emang susah ya kalo ada gula, semut udah pasti kerubutin 😁
BalasHapusIya betul mbak, eehh yang jadi semutnya siapa? 😂🤣🤣
HapusSeru sih mas satu ini, dari dulu sampe sekarang keep same 😁.
BalasHapusBtw skrg stay di Jember nih?
Dulu² kayanya di kota besar mana gitu deh. Skr minggir ke arah timur nih ceritanya.
Iya dibandingkan di Jakarta di daerah lebih enak sih, di Jakarta ruwet dengan segala keruwetannya.
Sudah kembali ke Jakarta lagi mas.😊😊 Insyaallah Habis lebaran mau main kesana lagi.😀
HapusNaah itu mas, cari Penyegaran sekalian bisnis juga mas.😀😊