Langsung ke konten utama

Semakin Akrab Dengan Adinda & Andini



Selama mengontrak rumah dikota Jember saya terbiasa bangun pagi meski terkadang tidur agar larut, saya tetap membiasakan diri untuk bangun pagi.

Pukul 6.00 pagi seperti biasa saya beberes rumah, seperti menyapu lantai dan mengepelnya jika terlalu kotor. Kebiasaan itu saya lakukan karena hitung-hitung olahraga pagi, karena selama dikota Jember saya tidak punya waktu untuk olahraga. Selain itu waktu saya harus ke Toko bersama Ance sekitar pukul 10 pagi, jadi tidak ada masalah bagi saya untuk bebena dirumah kontrakan.

Setelah mandi dan badan terasa segar, sambil minum teh hangat manis saya hendak keluar beli sarapan. Namun secara tiba-tiba Ance pun terbangun dan memanggil saya..."Sat kiriman motor yang gue janjiin untuk luh masih harus menunggu seminggu lagi" Serunya.

"Nggak masalah Nce santai saja, berarti sementara waktu gue bisa stay ditoko saja dulu sambil menata ruangan toko dan cari ide baru untuk pemasaran produk" Balas saya santai.

Memang Ance pernah menjanjikan akan menyediakan sepeda motor untuk harian saya selama dikota Jember. Dan apapun bentuk motornya sayapun tidak pernah mempermasalahkannya. Nantinya motor itu bisa saya gunakan untuk memasarkan produk-produk yang ada ditoko, intinya saya akan jadi sales sekaligus marketing dadakan dikota Jember untuk menawarkan produk kesemua toko yang ada dikota Jember, dan dengan begitu saya bisa sedikit hafal lingkungan dan harga pasaran yang ada dikota Jember.

Meski Ance nggak mengharuskan saya untuk melakukan hal seperti itu, karena nantinya juga ia akan mencari karyawan baru untuk dijadikan Sales atau marketing. Namun bagi saya tidak ada masalah sambil menunggu karyawan baru yang akan datang melamar ketoko. Selain itu selama saya berada dikota Jember saya akan membantu Ance sebisa dan semampu saya.

Setelah berbicara beberapa menit dengan Ance sayapun bergegas mencari sarapan ditempat biasa sekitaran prumnas atau komplek tempat saya mengontrak, namun baru beberapa langkah berjalan, saya melihat Andini dan Adinda sedang berdebat tentang masalah motor Honda Genio milik Adinda yang tak mau jalan meski sudah disela berkali-kali. Melihat hal itu saya langsung meledeknya sambil tertawa.

"Waah! Kenapa itu motornya sepertinya memang harus dilempar dan beli yang baru deh, sayang motor Harley pesanan saya belum datang kalau sudah pasti aku pinjamkan".. Seru saya.

Adindapun nampak cemberut, tak berselang lama Andini angkat bicara.."Tuh tolong bantu bisa nggak mas Dias".. Tanya Andini.

Sayapun segera membantunya dengan ikut menyela motor tersebut, namun tetap tidak ada reaksi sepertinya dari Accunya memang ada masalah atau harus diganti yang baru. Setelah saya bertanya pada Adinda, tentang masalah accu motornya, ia menjawab memang belum pernah diganti dari awal kridit sampai motor itu lunas.

"Wah ini harus ganti accu baru, sudah biar nanti aku bawa kebengkel saja".

"Terus aku berangkat kerja naik apaan, naik ojek ogah, apalagi angkot"... Jawabnya sambil kesal.

"Aku gendong saja yaa maukan"...Canda saya sambil tertawa.

"Iihh amit-amit, aku serius tahu sudah mau jam 8 nih"... Seru sambil cemberut.

"Yoo uwis aku antar pake mobil yaa" ..Balas saya sambil kembali kerumah kontrakan untuk meminjam mobil kepada Ance. Selain itu Ance juga berkata kepada saya.

"Kalau gitu sekalian luh bawa data barang material yang ntar mau masuk ketoko, luh kasih saja ke si Basri" kata Ance.

Setelah menerima buku data barang dari Ance saya segera mengeluarkan mobil dari dalam rumah kontrakan namun Andini berkata kepada saya.. "Nggak merepotkan kamu mas Dias" Tanya ia kepada saya.

"Nggak kok mbak Dini.. Mbak Dini mau ikut yuuk sekalian jalan-jalan dan cari sarapan".. Balas saya kembali.

Nggak ah mas, mau beberes rumah"... Jawabnya sambil tersenyum manis hingga akhirnya ia berlalu masuk kedalam rumah.

Mobil pun berjalan pelan dan Adinda sudah menunggu ditepi jalan depan rumah sambil sesekali merapihkan make-up wajahnya dengan kamera ponselnya. Setelah berada didalam mobil Adinda nampak canggung dan malu-malu, terlebih saya terus menggodanya sambil sesekali bertanya tentang pacarnya dan urusan cinta dan banyak lagi yang membuat ia jengkel namun akhirnya iapun mulai berani tersenyum manis dan mengakrabkan dirinya kepada saya.

Mobilpun terus melaju kearah jalan raya hingga akhirnya saya mampir sebentar ke Toko untuk menyerah buku data barang yang akan masuk ketoko kepada Basri karyawan toko yang juga bertugas menjaganya jika saya dan Ance keluar atau pulang ke kontrakan. Namun baru saja saya membuka pintu mobil Basri sudah berdiri dihadapan saya dan berkata.

"Pak maaf bisa turun sebentar, dilantai dua sudah ada pelamar kerja dua orang, katanya ia tahu toko ini buka lowongan dari orang tua pak Jerry teman dekat bapak".. Kata Basri dengan tenang.

Sayapun sedikit kaget dan segera turun dari mobil dan segera memberi arahhan kepada Basri serta karyawan lainnya. Setelah menemui dua orang pelamar kerja dan menyuruhnya untuk menunggu hingga jam 10 pagi. Sayapun kembali kemobil untuk mengantar Adinda. Dan tanpa sadar apa yang saya lakukan ditoko meski hanya beberapa menit semuanya didengar oleh Adinda.

"Sorry yaa jadi menunggu lama kamunya, maklum namanya juga pembantu pekerjaannya selalu dadakan"... Seru saya santai.

Adinda pun hanya cemberut, sampai akhirnya ia berkata.. "Kamu banyak bohongnya yaa ternyata, kemarin ngaku dari Surabaya. Sekarang ngaku pembantu. Hebat yaa seorang pembantu mau interview dua orang pelamar kerja"..Balas Adinda jengkel.

Kini saya yang dibuat kikuk oleh Adinda dan segera menjelaskan secara detail kepadanya namun dia hanya tertawa.."Emang aku ini bayi yang cuma bisa mengoek saja, aku kerja ditoko juga jadi bisa bedain mana pembantu apa bukan"..Serunya kembali.

Sayapun mencoba mengalihkan pembicaraan lain tetapi ia masih tetap cemberut dan tanpa terasa akhirnya kamipun sampai ketujuan yaitu tempat Adinda bekerja yang berjarak kurang lebih 9Km dari rumah. Sebenarnya saya ingin mengajak Adinda sarapan terlebih dahulu, namun karena waktu ia sudah mempet akhirnya ia menolaknya dan hanya berkata..

"Sarapannya paginya diubah saja untuk nanti sore yaa pak Manager, sekalian jemput aku lagi ok pak Manager".. Balasnya sambil mencubit pinggang saya kemudian ia bergegas menuju toko untuk beraktivitas seperti biasa.

Meski serasa sedikit sakit cubitan Adinda, saya kembali bertanya kepadanya.."Haii nona cantik jam berapa aku jemput kamu".. Balas saya.

Adinda melebarkan 5 jarinya, dan sayapun paham berarti jam 5 atau jam 4 saya sudah bisa menjemputnya. Waktu masih jam 8.30 pagi dan saya berinisiatif untuk jadi sales kurang lebih 2 jam untuk memasarkan produk toko disekitaran tempat Adinda bekerja.

Akhirnya dengan bermodalkan mobil milik Ance saya keliling kota Jember hingga jam 10 pagi. Ternyata apa yang saya lakukan membuahkan hasil meski hanya dapat pelanggan satu namun pesanan ia cukup lumayan, karena saya hanya minta Dp setengah harga dari pembelian sisanya bisa dibayarkan tempo. Berbeda dengan sales pada umumnya yang minta cash saat awal pertemuan atau perkenalan.

Singkat cerita jam 10 saya sudah berada ditoko untuk mengurus dua orang pelamar kerja setelah itu semuanya beres saya kembali minta bantuan kepada Basri dan karyawan lainnya untuk packing barang lengkap dengan nota lapis tiga. Setelah itu saya bergegas menjemput Ance kerumah.

"Muke gile luh lama amat, hampir jam sebelas ini emang luh kelonin tuh cewek".. Seru Ance sambil cemberut.

Sayapun menceritakannya semuanya pada Ance secara detail.. "Luh serius dapat pelanggan, dan ditoko juga sudah ada dua karyawan baru, mantaap!!" Balas Ance merasa senang.

"Oiya ntar luh kirim barang ikut saja, soalnya yang pesan tuh barang masih satu suku sama luh, alias orang Thionghua".. Balas saya kepada Ance.

Ancepun tersenyum senang.."Ok kita berangkat sekarang Sat".. Seru Ance kembali sambil segera mengambil alih kemudi mobil.

"Tapi nanti sore mobil gue pinjam lagi yaa Nce".

"Yee Ok lanjut".. Serunya kembali.

Sore haripun tiba, setelah semua pekerjaan selesai sayapun segera menunju tempat kerja Adinda, 30 menit berlalu akhirnya saya sampai ditempat kerja Adinda. Dan nampaknya ia sudah berkemas-kemas sambil menunggu saya datang setelah bertemu dan sedikit berbincang-bincang santai kamipun segera berlalu, seperti biasa mobilpun berjalan menelusuri jalan raya kota Jember, sepertinya Adinda sudah tidak canggung serta malu jika berbicara dengan saya. Kamipun berbicara bermacam-macam topik dari hal bisnis, cinta, hingga urusan rumah tangga, meski Adinda sendiri belum menikah.

Dalam perjalanan Adindapun bertanya kepada saya..."Lho kita mau kemana ini mas"...Tanyanya santai.

"Mauuu kemana yaa?? Eemm .... Aku mau ke Jakarta bawa kamu"..Seru saya sambil tertawa.

Ia pun tertawa kecil... "Ooiiyaaa yakin berani, Ngaco aja kamu".. Balasnya sambil mencubit saya.

Sayapun kembal tertawa... "Aku mau potong rambut, kamu temenin aku yaa, Tapi rambutmu jangan dipotong juga, kecuali Facial dan lainnya itu boleh. Karena aku suka wanita berambut panjang".

Adindapun mengangguk senang sambil tersenyum. Tadinya saya ingin ke mall tapi Adinda punya rekomendasi Salon pria dan wanita yang sedang promo dan sangat bagus menurutnya, akhirnya sayapun menyetujui usulnya itu.

Setelah selesai dari salon saya langsung mengajak Adinda ke Mall untuk mencari Parfum dan sekaligus bersantai untuk makan malam. Karena Parfum yang ada diSalon tempat saya potong rambut minim pilihan aroma wanginya. Dan penampilan Adinda semakin cantik dan Fresh sore itu bahkan ia menggulung keatas rambut panjangnya sehingga baju serta celana bahan yang ia gunakan serasa pas dan menarik buat setiap orang yang melihatnya, bahkan saya sendiri semakin pangling melihatnya. Terlebih iapun tak pernah ragu untuk jalan bergadengan tangan dengan saya, walau saya sendiri sedikit risih akhirnya kata cuek lah yang jadi modal keberanian saya.

Pukul 21.45 Malam akhirnya saya dan Adinda sampai rumah selain Parfum dan printilan lainnya saya tak lupa membelikan makanan serta minuman untuk keluarga Adinda, termasuk Andini sang kakak. Bahkan Adinda mengajak saya untuk ngobrol dirumahnya malam itu, karena ia masih ingin ngobrol dan bercanda seperti sebelumnya, akan tetapi karena sudah malam dan tak ingin jadi gosip tetangga juga saya membatalkannya meski Adinda tak perduli dengan lingkungan sekitarnya tetapi setelah saya beri arahan iapun akhirnya mengerti, dan berkata kepada saya tak perlu sukan atau ragu untuk ngobrol dirumahnya jika saya mau menemui dirinya termasuk Andini.

Sejak saat itu saya Adinda serta Andini dan keluarga lainnya sudah menganggap saya, Ance serta sang istri seperti saudara sendiri. Meski terkadang Ance dan istrinya suka lebih canggung terhadap keluarga Adinda dan Andini.





~ THANK ~ YOU ~

Komentar

  1. Lampu hijau udah ini mas
    Tinggal nunggu diajak jadian aja ini mah 😁

    BalasHapus
  2. Hmmm, cerita pun berlanjut nih pastinya... 😁

    BalasHapus
  3. kalau jodoh ga kemanalah ini ;p.. tapi btw, lu beneran punya istri ga sih mas hahahahahaha .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lhaa yang nyari jodoh siapa??? Padahal data ktpku jelas dan mereka tahu.😂😂

      Kalau diluar daerah berubah mbak bisa jadi Abg dadakan.🙄🤣🤣🤣

      Hapus

Posting Komentar

TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!


Postingan populer dari blog ini

Apakah Belanja Dengan Uang Cash Masih Berlaku Di Masa Mendatang?

Di era digital yang semakin canggih, dompet kita terasa semakin ringan. Kartu debit, kartu kredit, hingga aplikasi pembayaran digital kini mendominasi setiap transaksi. Muncul pertanyaan besar: Apakah uang tunai (cash) akan menjadi relik masa lalu, atau masih memiliki tempat di masa mendatang? 1. Dominasi Pembayaran Digital: Sebuah Keniscayaan Tidak dapat dimungkiri, tren global bergerak menuju masyarakat cashless. Kecepatan, kemudahan, dan keamanan (dalam konteks tidak perlu membawa uang fisik dalam jumlah besar) yang ditawarkan oleh pembayaran digital adalah daya tarik utamanya. Kemudahan dan Kecepatan: Pembayaran melalui QR code, contactless card, atau e-wallet hanya membutuhkan waktu beberapa detik, jauh lebih cepat daripada menghitung uang tunai dan menunggu kembalian. Data dan Pelacakan: Bagi konsumen, transaksi digital membantu pelacakan pengeluaran. Bagi bisnis dan pemerintah, data transaksi ini sangat berharga untuk analisis ekonomi dan perpajakan. Ino...

5 Permainan Anak 90,an Saat Bulan Puasa Dan Hari Lebaran

Anda yang pernah mengalami era 90,an tentunya pasti tahu akan sebuah permainan diawal atau akhir bulan puasa. Yaa memang sangat berbeda dengan era sekarang yang serbah canggih. Dan kalau boleh saya tahu yang merasa anak 90,an sebenarnya kangen nggak sama permainan yang sudah tertera diatas dan dibawah ini.? Atau mungkin anda sudah lupa, Atau pura-pura lupa..? 😂😂 Ok kalau begitu. Disini saya bukan ingin menanya lupa atau tidaknya dengan sebuah permainan jadul era 90,an. Tetapi sekedar ingin mengulas tentang permainan jadul anak 90,an kala menunggu saat berbuka puasa. Kalau anak sekarang bilang katanya Ngabuburit.? 😄 Sebenarnya apa bedanya sih permainan era 90,an dan sekarang, Kala menunggu waktu berbuka puasa. Yaa sudah barang tentu sangat berbeda. Meski ada beberapa yang masih kerap dipermainkan diera sekarang. Lalu apa saja permainannya berikut ulasan dibawah ini. 1. PETASAN & KEMBANG API Ilustrasi By : Poskota Yaa dari gambar pertama adalah...

Telat Mencabut

Kesibukkan bekerja membuat Agus lupa akan kesehatan tubuhnya hingga akhirnya ia harus dilarikan kerumah sakit terdekat karena sakit. akibat kurang teratur makan. Tiga hari kemudian teman kerjanya yang bernama Khanif datang menjenguknya, dan kebetulan memang hari itu tepat waktunya untuk jam kunjungan membesuk pasien. "Sorry banget Gus baru hari ini gue bisa datang membesuk luh kerumah sakit"... Kata Khanif teman kerjanya. Berhubung Agus orangnya sabar dan pemaaf meski baru sembuh dari sakitnya ia mencoba tersenyum kepada Khanif... "Nggak masalah Nif, nggak usah dipikirin toh hari ini luh sudah bertemu gue". "Eehhhmm, anu Gus, gue juga minta maaf, karena membesuk luh nggak bisa membawa apa-apa, soalnya gue juga baru sembuh dari sakit gigi Gus". Agus kembali tersenyum... "Aah! luh nggak usah sungkan-sungkan Nif sama gue, luh datang gue juga udah senang". Suasana menjadi hening sejenak sampai akhirnya Khanif kembali berbicara...

Cerpen : Cermin Kematian

~CERPEN : Cermin~Kematian~ Malam semakin larut Manda masih berdiri didepan cermin besar yang ada dikamarnya, dadanya berdesir, Manda takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Manda. Wajahnya tersipu mendengar pujian itu. Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu. Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat kecantikannya sendiri. Rambutnya panjang, berwarna hitam kecokelatan, berkilat, bergelung seolah ombak. Dahinya licin. Matanya bulat, berbinar-binar. Hitam pekat seperti langit malam. Dikedip-kedipkannya matanya, hingga ia perhatikan bulu matanya yang tebal dan lentik. Tebal serupa alisnya yang melengkung menaungi sepasang matanya yang indah itu. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Cantik sekali dirimu, Manda membatin. Ya, kau memang cantik, Manda. Hidungnya, ...

Cerpen : Tabir Asmara Jingga

~CERITA INI HANYA FIKTIP & BUALAN BELAKA UNTUK 90 TAHUN+++~ Hampir sembilan tahun telah berlalu usia perkawinan Vina, Dan selama tiga tahun berjalan Vina tak pernah lagi merasakan yang namanya hidup berumah tangga. Seolah ia hidup seorang diri dan tak pernah ada seorangpun yang mengerti keinginan hati serta jiwanya. Berawal dari sang suami yang tak pernah pulang, Hingga terkadang lupa memberi nafkah dirinya serta anak semata wayangnya. Vinapun mencoba sabar dengan semua itu bahkan sebagai seorang wanita yang punya pendidikan cukup Vinapun mencoba mencari kerja sampingan dari berjualan produk kosmetik hingga bisnis dor to dor semua produk, Layaknya seorang sales. Namun apapun yang Vina usahakan tak pernah membuat hati sang suaminya berubah, Bahkan suaminya yang bernama Dahlan berani meminta uang dari hasil kerjanya dengan alasan yang bermacam-macam. Bagai sudah jatuh tertiban tangga pula, Itulah yang selalu Vina alami. Sebagai wanita yang tegar Vinapun mencoba ber...