Langsung ke konten utama

Mantan Karyawan Yang Menjadi Bos Besar



Jam tujuh pagi saya sudah dibangunkan oleh istri saya, katanya seseorang telah menunggu saya ditoko. Setelah saya menanyakannya kembali pada sang istri seseorang itu tak lain adalah mantan karyawan saya yang bernama Liansee, atau lebih dikenal dengan sebutan Ance, blasteran Thionghua kalimantan dan jawa. Tiga tahun lebih ia bekerja ditoko saya sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri dikota Gresik dan Surabaya.

Kedatangan Ance tidak lantas membuat saya senang atau kagum. Dan saya sudah berpikir paling kalau tidak meminjam uang pasti butuh tambahan modal untuk usaha. "Huuffs orang usaha lagi pada sepi nih orang ngapain jauh-jauh dari Surabaya cuma mau ketemu gue doang"... Pikir saya pagi itu.

Sayapun kembali bertanya kepada istri saya, "Mah apa si Ance ada sesuatu hingga sepagi ini mau ketemu".

"Nggak katanya cuma mau main dan kangen saja sama kamu dan sudah lama pula dia nggak Ke Jakarta dan Depok. Oiya dia sudah punya mobil Inova Reborn terbaru lho"... Seru istri saya.

Sayapun hanya terkekeh... "Pinjam mobil siapa tuh orang"?

Dan pada akhirnya sayapun menemuinya ditoko, Saya dan dia saling tertawa, saling menghujat dan berbasa-basi tentang usaha bisnis yang kian sepi diera tahun 2025. Hingga akhirnya Ance berkata kepada saya bahwa ia butuh supplier untuk tokonya. Dan ia ingin meminjam Supplier saya yang ada di kota Surabaya.

Sayapun kembali tertawa.. "Ance-ance kalau cuma Supplier ngapain juga luh harus jauh-jauh ke Jakarta, kan luh bisa telepon gue dari Surabaya".

"Gue juga rencana mau beli bangunan lagi dan akan buat toko barulah pokoknya Sat. Kali aja ada temen luh yang mau jual Toko atau Ruko".

Sayapun sempat kaget... "Luh mau buka cabang di Jakarta, giilee banyak duit , Ngepet dimana luh"?

"Kalau bisa mah disekitaran Jawa timur dulu Sat, Luh pernah bantu gue dulu dan gue udah anggap luh saudara, bahkan gue juga bisa usaha seperti sekarang ini karena dari luh dan berguru sama luh. Apa salahnya kalau gue minta bantuan luh lagi sekarang ini, kalau luh nggak bisa baru deh gue cari orang lain".

Sayapun terkekeh..."Ada di daerah Jember Nce, tapi Rukonya besar dan halamannya luas depan belakang. Apa luh sanggup biayanya mahal" Seru saya kembali.

Mendengar hal itu dan setelah saya tunjukan photo bangunan rukonya, Ance justru semakin menantang saya, bahkan kalau ada dua ruko lagi yang sama persis dia masih sanggup untuk membelinya. Mendengar hal itu saya semakin bengong melotot dan campur tak percaya..."Luh masih waras Nce"?

Bahkan si Ance meminta saya untuk menemukan ia dengan pemilik ruko tersebut pagi itu juga. Berhubung pemiliknya sedang kerja akhirnya sore hari saya baru bisa mempertemukan Ance dengan pemilik ruko tersebut.

Setelah sore hari tiba akhirnya saya mempertemukan Ance dengan sang pemilik ruko yang akan dijual kepadanya. Tawar-menawar pun terjadi saya sebagai penengah menjadi bingung hendak membela siapa? Karena keduanya sudah bukan sekedar teman saja tapi sahabat karib. Akhirnya saya memilih diam, dan dalam perdebatan tawar-menawar Ance sepertinya lebih unggul berbicara, sayapun sempat takjub terhadapnya, orang yang dulu pendiam, lebih suka hidup irit dan hidup sederhana tanpa neko-neko kini semua berubah secara draktis. Lain dulu lain sekarang dan ia sudah bukan Ance yang dulu lagi.

Akhirnya Deal, harga turun 2 digit. Sang pemilik ruko yang memang masih sahabat saya menyerah setelah berdebat dengan Ance. Sayapun senang karena akan tetap mendapat komisi dari pemilik ruko jika bisa membawa pembeli kehadapannya. Akhirnya kami bertiga kembali berunding tentang masalah keberangkatan kekota Jember. Meski Ance memaksa harus secepatnya, akan tetapi saya tetap meminta waktu beberapa minggu, karena saya juga perlu modal untuk berangkat ke Jawa timur, walau Ance siap mengurus biaya keberangkatan akan tetapi saya pribadi tidak suka jika pergi jauh tanpa modal yang memadai.

Dan selama dua hari Ancepun menginap dirumah saya, Istri sayapun sangat senang dan takjub terhadapnya. Bahkan saya dan istri terus meledek Ance, Jika nginap dirumah saya biaya sewa sebesar 100 juta. Ance pun hanya tertawa terkekeh. "Apa luh berdua sudah miskin". Serunya. Akhirnya kamipun tertawa bareng.

Singkat cerita dua minggu telah berlalu setelah Ance pulang ke Surabaya, Sayapun dengan Jerry, sang pemilik ruko siap berangkat ke Kota Surabaya untuk menemui Ance. Kami berdua berangkat santai menggunakan kereta api. Kami tiba di stasiun Surabaya Gubeng dan tanpa menunggu lama Ancepun sudah sejak tadi menunggu saya dan pemilik ruko yang bernama Jerry. Sebelum lanjut ke Gresik tempat Ance tinggal, sayapun tidak lupa menghubungi Supplier saya didaerah Tambak Sari tidak jauh dari Stasiun Gubeng setelah bertemu akhirnya kami berempat berangkat menuju Gresik.

Sesampainya dikota Gresik saya kembali dibuat takjub yang kedua kalinya, bahkan dibuat lebih ternganga lagi oleh Ance. Selain toko plastik besar ia juga punya beberapa Material setara dengan Mall khusus bahan bangunan. Bahkan Supplier saya orang Tambak Sari berbisik kepada saya bahwa ia tak asing lagi dengan wajah Ko Ance, ia sudah dikenal sebagai pengusaha toko bangunan disekitaran Surabaya Barat dan Timur bahkan sampai Utara. Mendengar itu sayapun semakin melotot tak percaya tapi semua nyata didepan mata saya.

Ancepun menegur saya... "Woiii kenape ngelamun luh, udah sana istirahat saja kedalam mau tidur atau makan sekenyangnya juga bebas semua udah gue siapin dari pagi".

Sebelum saya masuk kerumah Ance sayapun kembali bertanya kepadanya... "Nce sudah berapa lama luh jaga lilin sampai bisa seperti sekarang ini"... Canda saya kembali.

"Lho bukan semenjak di Jakarta gue sudah diajarin luh jaga lilin. Bahkan luh selalu bilang jadi orang harus begini, begitu kalau bisa tambah bini lagi" Balas Ance.

Sayapun tertawa dan akhirnya masuk kerumah Ance untuk istirahat sejenak. Keesokan harinya setelah kami cukup beristirahat jam 4 sore kami langsung menuju kota Jember semua keperluan yang dibutuhkan sudah siap sebelumnya bahkan sudah ada sebagian yang berangkat tadi pagi. Dan sesampainya dikota Jember saya dan Ance langsung menuju Tkp. Setelah puas melihat kondisi bangunan barulah saya kembali menginap dirumah Jerry sahabat saya yang akan menjual rukonya kepada Ance.

Sebenarnya ruko itu bisa untuk tempat tinggal namun karena kendala listrik serta butuh renovasi ulang akhirnya saya dan Ance sementara tinggal dirumah Jerry pemilik ruko sekaligus mencari tukang untuk renovasi dan mengurus surat-surat lainnya untuk dibawa ke Notaris. Dan sejak itu saya setiap dua minggu sekali saya selalu bolak-balik Surabaya ~ Jember.

Demikianlah sedikit ulasan singkat tentang mantan karyawan saya yang kini sudah menjadi seorang Bos besar. Dan sekarang justru sayalah yang memanggil ia Bos besar.😁 Meski Ance tidak mau saya memanggilnya dengan sebutan Bos, ia lebih suka seperti dulu saja selalu memanggil nama saja, tanpa pernah ada pembedaan.

Dan bagi saya apa yang ada pada Ance sekarang adalah buah dari hasil kerja kerasnya bersama istrinya, dan saya cuma sebagai jembatan bagi Ance untuk menuju sukses. Dan perlu diingat juga kemajuan, keberhasilan serta kesuksesan semua ada pada diri kita sendiri. Besar kecilnya semua harus tetap kita Syukuri.

Saya pribadi pun sangat berterima kasih kepada Ance meski bagaimanapun kondisi saya, ia tetap ingat dan masih sangat selalu menghargai saya. Sayapun akan berusaha memberi yang terbaik kepadanya pula.




~ THANK ~ YOU ~

Komentar

  1. Indahnya hidup kalau saling menghargai ya mas
    Tidak lupa siapa yg membawanya seperti sekarang
    Respect banget dengan Ance

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget mas, Intinya saling memberi dan saling menerima.😊😊

      Hapus
  2. Salut banget dengan Ance, biarpun sudah kaya tapi tidak lupa dengan kang satria. Kemungkinan karena sering jaga lilin bareng ya.😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu... Eh tapi yang keluar malamnya siapa?🤣🤣🤣

      Hapus

Posting Komentar

TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!


Postingan populer dari blog ini

Apakah Belanja Dengan Uang Cash Masih Berlaku Di Masa Mendatang?

Di era digital yang semakin canggih, dompet kita terasa semakin ringan. Kartu debit, kartu kredit, hingga aplikasi pembayaran digital kini mendominasi setiap transaksi. Muncul pertanyaan besar: Apakah uang tunai (cash) akan menjadi relik masa lalu, atau masih memiliki tempat di masa mendatang? 1. Dominasi Pembayaran Digital: Sebuah Keniscayaan Tidak dapat dimungkiri, tren global bergerak menuju masyarakat cashless. Kecepatan, kemudahan, dan keamanan (dalam konteks tidak perlu membawa uang fisik dalam jumlah besar) yang ditawarkan oleh pembayaran digital adalah daya tarik utamanya. Kemudahan dan Kecepatan: Pembayaran melalui QR code, contactless card, atau e-wallet hanya membutuhkan waktu beberapa detik, jauh lebih cepat daripada menghitung uang tunai dan menunggu kembalian. Data dan Pelacakan: Bagi konsumen, transaksi digital membantu pelacakan pengeluaran. Bagi bisnis dan pemerintah, data transaksi ini sangat berharga untuk analisis ekonomi dan perpajakan. Ino...

5 Permainan Anak 90,an Saat Bulan Puasa Dan Hari Lebaran

Anda yang pernah mengalami era 90,an tentunya pasti tahu akan sebuah permainan diawal atau akhir bulan puasa. Yaa memang sangat berbeda dengan era sekarang yang serbah canggih. Dan kalau boleh saya tahu yang merasa anak 90,an sebenarnya kangen nggak sama permainan yang sudah tertera diatas dan dibawah ini.? Atau mungkin anda sudah lupa, Atau pura-pura lupa..? 😂😂 Ok kalau begitu. Disini saya bukan ingin menanya lupa atau tidaknya dengan sebuah permainan jadul era 90,an. Tetapi sekedar ingin mengulas tentang permainan jadul anak 90,an kala menunggu saat berbuka puasa. Kalau anak sekarang bilang katanya Ngabuburit.? 😄 Sebenarnya apa bedanya sih permainan era 90,an dan sekarang, Kala menunggu waktu berbuka puasa. Yaa sudah barang tentu sangat berbeda. Meski ada beberapa yang masih kerap dipermainkan diera sekarang. Lalu apa saja permainannya berikut ulasan dibawah ini. 1. PETASAN & KEMBANG API Ilustrasi By : Poskota Yaa dari gambar pertama adalah...

Telat Mencabut

Kesibukkan bekerja membuat Agus lupa akan kesehatan tubuhnya hingga akhirnya ia harus dilarikan kerumah sakit terdekat karena sakit. akibat kurang teratur makan. Tiga hari kemudian teman kerjanya yang bernama Khanif datang menjenguknya, dan kebetulan memang hari itu tepat waktunya untuk jam kunjungan membesuk pasien. "Sorry banget Gus baru hari ini gue bisa datang membesuk luh kerumah sakit"... Kata Khanif teman kerjanya. Berhubung Agus orangnya sabar dan pemaaf meski baru sembuh dari sakitnya ia mencoba tersenyum kepada Khanif... "Nggak masalah Nif, nggak usah dipikirin toh hari ini luh sudah bertemu gue". "Eehhhmm, anu Gus, gue juga minta maaf, karena membesuk luh nggak bisa membawa apa-apa, soalnya gue juga baru sembuh dari sakit gigi Gus". Agus kembali tersenyum... "Aah! luh nggak usah sungkan-sungkan Nif sama gue, luh datang gue juga udah senang". Suasana menjadi hening sejenak sampai akhirnya Khanif kembali berbicara...

Cerpen : Cermin Kematian

~CERPEN : Cermin~Kematian~ Malam semakin larut Manda masih berdiri didepan cermin besar yang ada dikamarnya, dadanya berdesir, Manda takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Manda. Wajahnya tersipu mendengar pujian itu. Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu. Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat kecantikannya sendiri. Rambutnya panjang, berwarna hitam kecokelatan, berkilat, bergelung seolah ombak. Dahinya licin. Matanya bulat, berbinar-binar. Hitam pekat seperti langit malam. Dikedip-kedipkannya matanya, hingga ia perhatikan bulu matanya yang tebal dan lentik. Tebal serupa alisnya yang melengkung menaungi sepasang matanya yang indah itu. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Cantik sekali dirimu, Manda membatin. Ya, kau memang cantik, Manda. Hidungnya, ...

Cerpen : Tabir Asmara Jingga

~CERITA INI HANYA FIKTIP & BUALAN BELAKA UNTUK 90 TAHUN+++~ Hampir sembilan tahun telah berlalu usia perkawinan Vina, Dan selama tiga tahun berjalan Vina tak pernah lagi merasakan yang namanya hidup berumah tangga. Seolah ia hidup seorang diri dan tak pernah ada seorangpun yang mengerti keinginan hati serta jiwanya. Berawal dari sang suami yang tak pernah pulang, Hingga terkadang lupa memberi nafkah dirinya serta anak semata wayangnya. Vinapun mencoba sabar dengan semua itu bahkan sebagai seorang wanita yang punya pendidikan cukup Vinapun mencoba mencari kerja sampingan dari berjualan produk kosmetik hingga bisnis dor to dor semua produk, Layaknya seorang sales. Namun apapun yang Vina usahakan tak pernah membuat hati sang suaminya berubah, Bahkan suaminya yang bernama Dahlan berani meminta uang dari hasil kerjanya dengan alasan yang bermacam-macam. Bagai sudah jatuh tertiban tangga pula, Itulah yang selalu Vina alami. Sebagai wanita yang tegar Vinapun mencoba ber...