Naah kali ini saya akan meneruskan sambungan dari cerita sebelumnya, Oiya bagi yang nggak sanggup baca karena terlalu panjang yaa nggak usah maksain juga, Dari pada mata luh pedes ntar bisa brabe.🤣 🤣 🤣 Karena novel ini saya tulisan ulang karena memang bacaan Favorit saya sejak zaman sekolah dulu. Jadi itung-itung bernostalgia saja keera 90,an yang mana kala itu banyak Novel menarik yang mungkin untuk sekarang ini jarang ada yang minat untuk membaca novel seperti pada era 90,an. Tetapi bagi saya pribadi novel era 90,an lebih menarik alur ceritanya ketimbang buku cerita atau novel era sekarang.
Ok kita langsung saja dari pada kebanyakan basa-basi, Karena saya menulis ulang cerita ini karena suka dengan jalan ceritanya dan juga ada bererapa bagian dari kisah cerita ini yang terlewatkan.😊😊 Naah berikut lanjutan ceritanya dibawah ini.
Ok kita langsung saja dari pada kebanyakan basa-basi, Karena saya menulis ulang cerita ini karena suka dengan jalan ceritanya dan juga ada bererapa bagian dari kisah cerita ini yang terlewatkan.😊😊 Naah berikut lanjutan ceritanya dibawah ini.
Sumber Cerita 👇👇:
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta.
Ebook By : Syauqy_Arr & Cerita Silat Novel.
Tiga bulan pertama yang dijalaninya di sekolah modelling telah memberinya keahlian dasar dalam seni membawa diri dan penampilan pribadi. Rasa kepercayaannya sedikit demi sedikit kembali. Perasaan rendah diri dan berdosa yang selalu menghantuinya di Minggu-minggu pertama perlahan-lahan menyusut. Sekarang dia sudah bisa berbicara dan tersenyum tanpa merasa seakan-akan yang diajak berbicara itu tahu dosanya di masa lampau.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar menjadi seorang perempuan yang luwes, majulah Seruni ke tapak pendidikan berikutnya menjadi seorang model dan peragawati yang harus pandai melenggok di atas catwalk. Saat inilah Emi memutuskan bahwa sudah waktunya Seruni memperluas pergaulannya ke lingkungan di luar keluarganya sendiri dan teman-teman di sekolah modelling. Jadi pada suatu hari dibawanya Seruni ke biro model di mana dia sendiri terdaftar sebagai model.
Biro Model Madona ternyata tidak besar, hanya menempati separuh lantai kedua salah satu gedung perkantoran bertingkat tiga didaerah Kebayoran. Tapi di sini berkumpul banyak sekali gadis dengan berbagai rupa dan bentuk. Yang empunya adalah seorang laki-laki, yang berperawakan kurus tinggi berkulit gelap dan berhidung mancung. Sekilas pandang dia tak beda dengan pria pria lndonesia lainnya, tapi apabila diperhatikan tampaklah bahwa bentuk mata, hidung, serta tulang pipinya bukanlah milik orang Indonesia. Namanya sendiri adalah Antonio Castillo yang dari garis keturunan ayahnya dia memiliki darah campuran Spanyol sedangkan dari garis keturunan ibunya dia mewarisi darah campuran Ambon dan Belanda. Suatu perpaduan yang unik antara Timur dan Barat.
Antonio Castillo berusia empat puluh tahun-seorang duda yang sudah bercerai dari istrinya yang menetap di negeri Belanda. Antonio berperangai sangat penyabar. Dia hidup sebatang kara tanpa mempunyai tanggungan dan oleh karena itu dia sama sekali tidak berkeberatan mempunyai jumlah model lebih daripada yang dibutuhkannya. Antonio merasa bahwa apa yang diperolehnya dari bisnisnya membuka biro model ini sudahlah mencukupi semua kebutuhan bujangnya yang sederhana. Selebihnya dipakainya untuk mendidik dan melatih gadis-gadisnya supaya bisa menjadi model yang profesional.
Antonio Castillo senang mengumpulkan gadis gadis pemula yang ingin mencoba-coba nasibnya di Ibukota dalam bidang yang belum begitu banyak digemari orang. Maklumlah di akhir dekade tujuh puluh belum begitu banyak perusahaan besar yang merasa perlu bersaing dengan mempromosikan barang dagangan mereka lewat bantuan iklan dan peragaan. Di pihak lain masih banyak keluarga yang menganggap profesi seorang model itu tak berbeda jauh dengan perempuan panggilan, profesi yang menyandang stigma negatif yang harus dihindari oleh anak-anak gadis mereka apabila mereka mengharapkan lain kali bisa mendapatkan jodoh dari keluarga baik-baik. Masih lebih baik menjadi penata rambut di salon-salon daripada menjadi peragawati yang menggoyangkan pantatnya di catwalk atau mengizinkan wajahnya terpampang di poster-poster di pinggir jalan yang sering dicorat-coret oleh tangan-tangan jail dan diberi tambahan kumis. Maka biro model Madona juga tidak terlalu laris. Gadis-gadis modelnya lebih sering menganggur daripada mendapat pekerjaan. Banyak dari antara mereka akhirnya beralih ke profesi lain yang memberikan pemasukan yang lebih teratur seperti dunia perfilman atau bahkan sebagai karyawan bank dan hanya sekali-sekali saja tampil di catwalk apabila ada panggilan.
Antonio Castillo seperti kebiasaannyasama sekali tidak berkeberatan ketika Emi membawa seorang gadis yang masih canggung dan malu-malu untuk diperkenalkan kepadanya. Semua pemula selalu malu-malu dan takut.
"Kau nggak perlu menggajinya dulu, Toni,"...Kata Emi. Di Madona semua orang memanggil Antonio Castillo dengan namanya saja. Dia tidak suka dibahasakan "Pak" atau "Mas" atau "Bung". Nama itu diberikan orang tuanya untuk dipakai-begitu katanya selalu kepada gadis-gadis modelnya jadi pakailah nama itu, jangan diberi embel-embel segala macam!
"Saya ingin agar dia bisa magang di sini, belajar dari yang lain-lain bagaimana menjadi model itu,"...Lanjut Emi yang menyadari keterbatasan sahabatnya.
"Dia baru tiga hulan kursus modelling."
"Oh. jadi sudah tiga bulan Anda belajar. sebagai model?"...Tanya Antonio sambil memberikan senyumnya yang paling ramah kepada Seruni.
"Bagaimana rasanya, senang?"
Seruni mengangguk malu-malu.
"Sebetulnya menjadi model itu nggak sukar, kok"...Senyum Antonio tetap terpampang.
"Cuma perlu bekal sedikit keberanian saja."
Seruni mengangguk.
"Oke!" Kata Antonio kepada Emi.
"Temanmu boleh mulai sekarang juga. Kau tahu peraturannya. Setiap hari dia masuk dia mendapat uang transpor ala kadarnya. Makan gratis di sini, kami semua makan ramai-ramai. Nanti kalau dia sudah mendapat tugas tampil. dia mendapat honor lima belas persen dari total nilai kontrak"
"Biar dia melihat-lihat saja dulu di sini, Toni,"...Kata Emi.
"Biar bergaul saja dulu dengan anak-anak yang lain supaya lebih mengenal dunia praktek model. Jangan diturunkan di depan kamera dulu, masih belum siap dia, nanti malah kapok."
"Oh, boleh, boleh!" Senyum Antonio.
"Kau tahu aku nggak pernah memaksa. Dia boleh membuat dirinya familier dulu dengan dunia modelling dengan berkumpul dengan gadis-gadis yang lain. Eh, omong-omong. aku harus memanggil apa padanya?" Tanya Antonio meneliti Seruni dengan lebih cermat.
Emi terkekeh..."Eh, maaf, ya, aku lupa menyebutkan namanya. Namanya Seruni, panggil saja dia Runi."
"Seruni? Hmm, nama yang bagus! Tapi di dunia modelling orang harus bisa menimbulkan kesan misterius.
"Seruni ' terlalu polos dan murni. Kalau boleh saya sarankan, pakailah nama pentas"...Kata Antonio kepada Seruni.
"Di sini kebanyakan memakai nama pentas. Sebaiknya kau pun begitu. SimpanIah nama 'Seruni' itu hanya untuk teman-teman pribadimu saja, untuk keluargamu, untuk kekasihmu, ya?"
Kata-kata laki-laki itu yang menyinggung soal kekasih membuat Seruni serentak merasakan nyeri di hatinya. Secara tak sadar dia mengernyitkan dahi.
"Oh, ada yang tidak beres?" Tanya Antonio Castillo melihat ekspresi kesakitan pada wajah gadis itu.
"Eh, temanku ini baru saja patah hati, Toni," kata Emi dengan santai.
"Mungkin kata-katamu tadi membuatnya teringat akan bekas kekasihnya."
"Ah, maafkan kalau begitu, saya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Anggap saja tadi, kau tidak mendengar kata-kata itu, ya?" senyum Antonio.
Dan Seruni harus mengakui bahwa senyuman Antonio seperti senyuman seorang anak kecil yang polos dan tulus.
"Tidak apa-apa, Pak," katanya malu.
"Panggil aku Antonio saja," Kata yang empunya nama.
"Iya, Pak," kata Seruni masih gugup.
Antonio tertawa.
"Tidak apa-apa, nanti kau terbiasa juga. Di sini kita bersifat persahabatan, anggap saja saya ini sudah lama kau kenal."
"Kalau memang sudah tak ada lagi hal-hal lain yang mendesak, aku permisi dulu, Toni," kata Emi sambil berdiri.
"Aku masih mau memasak makanan untuk anakku."
"Oh, tentu! Jangan lupa minggu depan kau sudah dijadwalkan lho!"
"Aku ingat," senyum Emi.
"Runi biar kutinggalkan di sini saja," katanya melirik temannya.
"Bagaimana, sudah punya ide nama pentas yang bagus?" tanya Antonio.
"Lebih baik kau kuperkenalkan kepada gadis-gadis yang lain dengan nama pentasmu."
"Kau suka memakai nama apa, Run?" tanya Emi.
"Wah, nggak tahu, Em!" kata Seruni bingung.
"Kami di sini sudah ada yang bernama Maya, Vera, Bebi. Emi temanmu ini, Rose, Demi, Gia, dan Cici," kata Antonio.
"Saya nggak tahu, Pak," kata Seruni.
"Kau bantu sajalah, Toni," kata Emi.
"Runi masih malu-malu."
Antonio menyimak wajah Seruni dan memandangnya dari kepala sampai kaki. Lalu katanya.
"Bagaimana dengan Anastasia?"
"Anastasia?" tiru Emi.
"Hm, bagus!"
"Kau suka?" Tanya Antonio kepada Seruni.
"Bagus lho, Run, nama itu! Kayak nama putri-putri raja di Rusia.
"Baiklah," kata Seruni mengangguk. "Betul, kau suka?" Tegas Antonio.
"Ya, deh."
"Oke. Selamat bergabung dengan kami, Anastasia!" kata Antonio mengulurkan tangannya.
"Semoga kau betah di sini."
ANASTASIA mencoba membenamkan dirinya dalam profesinya yang baru. Siang hari dia masih meneruskan mengikuti kursus modelling-nya, sedangkan pagi dan sore hari dia berada di Madona. Sedikit demi sedikit dia mulai mempelajari hubungan antara teori dengan praktek. Kiranya dunia modeling mempunyai suka-duka yang mengasyikkan juga. Di Madona dia bisa bertemu dengan bermacam-macam orangklien dengan berbagai tuntutan dan harapan, yang semuanya harus bisa dilayani dengan baik suplaier-suplaier kostum dengan berbagai ulah dan kelicinan untuk bisa mengeruk sedikit lebih banyak keuntungan apabila pihak Madona tidak jeli-rekan-rekan gadis model yang punya seribu satu watak dan pembawaan yang masing-masing berebut ingin menjadi model top di Madona. Kali ini Anastasia benar-benar melihat dari dekat bagaimana dunia mencari nafkah itu. Alangkah bedanya dengan sewaktu dia bekerja di praktek Dokter Hariono!
Di Madona dia mendapat banyak teman, umumnya gadis-gadis sebaya dirinya, hanya saja mereka sudah lebih terpoles dan mahir. Selama ini Anastasia masih pada tahap menonton saja sambil membantu para model yang lain bilamana mereka akan tampil di depan kamera. Antonio memberinya pekerjaan administrasi ringan agar dia merasa bermanfaat bagi Madona di sana dan bukan semata-mata hanya menonton. Lagi pula Anastasia seorang gadis yang cerdas dan mahir bermain dengan angka. Antonio selalu kagum bagaimana gadis ini bisa menghitung begitu cepat di luar kepala.
Setahun lewat dengan cepat. Anastasia telah menamatkan kursusnya dan sekarang menghabiskan waktunya seharian penuh di Madona. Dia mengerjakan semua pekerjaan administrasi di sana, yang notabene tidak banyak -membantu Antonio membuat korespondensinya, yang juga bisa dihitung dengan jari karena kebanyakan transaksi dijadikan lewat telepon atau si klien yang datang sendiri-menyusun jadwal pengambilan gambar yang makin hari makin meningkat kepadatannyadan karena dialah di antara para gadis model yang selalu ada di kantor, maka tugas mendampingi Antonio menemui klien akhirnya menjadi pekerjaan rutinnya pula. Bahkan akhirakhir ini Antonio mendorongnya untuk berani menemui klien sendiri dan menyelesaikan transaksi tanpa kehadirannya. Antonio percaya bahwa Anastasia mempunyai kemampuan di bidang ini dan dia mendorongnya untuk maju. Anastasia semakin menyukai kesibukannya. Kesibukan membantunya melupakan apa yang terkadang masih menghantui hidupnya.
Sementara Anastasia masih tinggal di rumah Emi sahabatnya yang tidak mengizinkannya pindah ke tempat kos sendiri. Emi masih dengan setia membantunya mengatasi trauma kekecewaannya dengan sabar, dan sehari demi sehari merasa lebih bersyukur melihat kehidupan bagi Anastasia seakan-akan berjalan dengan lebih tenang sekarang.
Suatu kali Antonio berkata.
"Sasha (Antonio selalu memanggil Anastasia "Sasha"), aku kira sudah waktunya kau sendiri terjun ke dunia pentas dan lampu. Tujuanmu menjadi model kan bukan hanya untuk duduk di belakang meja menyusun jadwal shooting dan menemui tamu saja! Aku pikir sikap dan penampilanmu sekarang sudah cukup meyakinkan untuk melenggok sendiri di Catwalk atau menghiasi sampul depan majalah."
Seperti biasanya Anastasia hanya tersenyum malu-malu.
"Bagaimana, Sasha? Minggu depan ada peragaan busana untuk sebuah toko besar yang khusus menjual pakaian dalam menyambut penjualan untuk hari Natal dan Tahun Baru yang tinggal sebulan lagi. Mengapa kau tidak ikut? Mereka membutuhkan enam orang peragawati dan dua orang peragawan. Ikutlah!"
"Kau pikir aku sudah bisa?" tanya Anastasia ragu-ragu.
"Teoritis sudah, tinggal sekarang kau mempraktekkannya sendiri. Kalau kau tidak memberi kesempatan kepada dirimu sendiri, kapan kau mau mulai terjun? Sayang kan gadis secantik kau hanya duduk di meja membuat pekerjaan administrasi saja!"
"Kalau aku sampai berbuat kesalahan, gimana?" Tanya Anastasia tegang.
"Ya tidak apa-apa, semua orang pada permulaan juga membuat kesalahan gugup salah langkah kaku. Nanti yang lain-lain yang sudah berpengalaman akan menutupi kesalahanmu. Jangan khawatir."
"Aku takut ditertawakan."
"Siapa yang menertawakan? Penonton tak akan tahu, dan kita di sini sudah profesional semuanya. Mereka yang hari ini sudah mahir juga pernah mengalami saat-saat pertama terjun seperti kau. Mereka mengerti apa yang kaurasakan, jangan bingung atau malu. Dulu pun aku sudah bilang, menjadi peragawati itu tidak susah, hanya bermodal keberanian saja."
"Kalau kau anggap aku sudah siap, ya bolehlah aku coba-coba"...Kata Anastasia.
"Bagus! Nanti aku katakan kepada Maya bahwa kali ini kau ikut. Maya nanti yang akan mengajarmu dan mendampingimu. Jangan khawatir, Maya nanti bisa menutup semua kekuranganmu seandainya kau berbuat kesalahan."
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar menjadi seorang perempuan yang luwes, majulah Seruni ke tapak pendidikan berikutnya menjadi seorang model dan peragawati yang harus pandai melenggok di atas catwalk. Saat inilah Emi memutuskan bahwa sudah waktunya Seruni memperluas pergaulannya ke lingkungan di luar keluarganya sendiri dan teman-teman di sekolah modelling. Jadi pada suatu hari dibawanya Seruni ke biro model di mana dia sendiri terdaftar sebagai model.
Biro Model Madona ternyata tidak besar, hanya menempati separuh lantai kedua salah satu gedung perkantoran bertingkat tiga didaerah Kebayoran. Tapi di sini berkumpul banyak sekali gadis dengan berbagai rupa dan bentuk. Yang empunya adalah seorang laki-laki, yang berperawakan kurus tinggi berkulit gelap dan berhidung mancung. Sekilas pandang dia tak beda dengan pria pria lndonesia lainnya, tapi apabila diperhatikan tampaklah bahwa bentuk mata, hidung, serta tulang pipinya bukanlah milik orang Indonesia. Namanya sendiri adalah Antonio Castillo yang dari garis keturunan ayahnya dia memiliki darah campuran Spanyol sedangkan dari garis keturunan ibunya dia mewarisi darah campuran Ambon dan Belanda. Suatu perpaduan yang unik antara Timur dan Barat.
Antonio Castillo berusia empat puluh tahun-seorang duda yang sudah bercerai dari istrinya yang menetap di negeri Belanda. Antonio berperangai sangat penyabar. Dia hidup sebatang kara tanpa mempunyai tanggungan dan oleh karena itu dia sama sekali tidak berkeberatan mempunyai jumlah model lebih daripada yang dibutuhkannya. Antonio merasa bahwa apa yang diperolehnya dari bisnisnya membuka biro model ini sudahlah mencukupi semua kebutuhan bujangnya yang sederhana. Selebihnya dipakainya untuk mendidik dan melatih gadis-gadisnya supaya bisa menjadi model yang profesional.
Antonio Castillo senang mengumpulkan gadis gadis pemula yang ingin mencoba-coba nasibnya di Ibukota dalam bidang yang belum begitu banyak digemari orang. Maklumlah di akhir dekade tujuh puluh belum begitu banyak perusahaan besar yang merasa perlu bersaing dengan mempromosikan barang dagangan mereka lewat bantuan iklan dan peragaan. Di pihak lain masih banyak keluarga yang menganggap profesi seorang model itu tak berbeda jauh dengan perempuan panggilan, profesi yang menyandang stigma negatif yang harus dihindari oleh anak-anak gadis mereka apabila mereka mengharapkan lain kali bisa mendapatkan jodoh dari keluarga baik-baik. Masih lebih baik menjadi penata rambut di salon-salon daripada menjadi peragawati yang menggoyangkan pantatnya di catwalk atau mengizinkan wajahnya terpampang di poster-poster di pinggir jalan yang sering dicorat-coret oleh tangan-tangan jail dan diberi tambahan kumis. Maka biro model Madona juga tidak terlalu laris. Gadis-gadis modelnya lebih sering menganggur daripada mendapat pekerjaan. Banyak dari antara mereka akhirnya beralih ke profesi lain yang memberikan pemasukan yang lebih teratur seperti dunia perfilman atau bahkan sebagai karyawan bank dan hanya sekali-sekali saja tampil di catwalk apabila ada panggilan.
Antonio Castillo seperti kebiasaannyasama sekali tidak berkeberatan ketika Emi membawa seorang gadis yang masih canggung dan malu-malu untuk diperkenalkan kepadanya. Semua pemula selalu malu-malu dan takut.
"Kau nggak perlu menggajinya dulu, Toni,"...Kata Emi. Di Madona semua orang memanggil Antonio Castillo dengan namanya saja. Dia tidak suka dibahasakan "Pak" atau "Mas" atau "Bung". Nama itu diberikan orang tuanya untuk dipakai-begitu katanya selalu kepada gadis-gadis modelnya jadi pakailah nama itu, jangan diberi embel-embel segala macam!
"Saya ingin agar dia bisa magang di sini, belajar dari yang lain-lain bagaimana menjadi model itu,"...Lanjut Emi yang menyadari keterbatasan sahabatnya.
"Dia baru tiga hulan kursus modelling."
"Oh. jadi sudah tiga bulan Anda belajar. sebagai model?"...Tanya Antonio sambil memberikan senyumnya yang paling ramah kepada Seruni.
"Bagaimana rasanya, senang?"
Seruni mengangguk malu-malu.
"Sebetulnya menjadi model itu nggak sukar, kok"...Senyum Antonio tetap terpampang.
"Cuma perlu bekal sedikit keberanian saja."
Seruni mengangguk.
"Oke!" Kata Antonio kepada Emi.
"Temanmu boleh mulai sekarang juga. Kau tahu peraturannya. Setiap hari dia masuk dia mendapat uang transpor ala kadarnya. Makan gratis di sini, kami semua makan ramai-ramai. Nanti kalau dia sudah mendapat tugas tampil. dia mendapat honor lima belas persen dari total nilai kontrak"
"Biar dia melihat-lihat saja dulu di sini, Toni,"...Kata Emi.
"Biar bergaul saja dulu dengan anak-anak yang lain supaya lebih mengenal dunia praktek model. Jangan diturunkan di depan kamera dulu, masih belum siap dia, nanti malah kapok."
"Oh, boleh, boleh!" Senyum Antonio.
"Kau tahu aku nggak pernah memaksa. Dia boleh membuat dirinya familier dulu dengan dunia modelling dengan berkumpul dengan gadis-gadis yang lain. Eh, omong-omong. aku harus memanggil apa padanya?" Tanya Antonio meneliti Seruni dengan lebih cermat.
Emi terkekeh..."Eh, maaf, ya, aku lupa menyebutkan namanya. Namanya Seruni, panggil saja dia Runi."
"Seruni? Hmm, nama yang bagus! Tapi di dunia modelling orang harus bisa menimbulkan kesan misterius.
"Seruni ' terlalu polos dan murni. Kalau boleh saya sarankan, pakailah nama pentas"...Kata Antonio kepada Seruni.
"Di sini kebanyakan memakai nama pentas. Sebaiknya kau pun begitu. SimpanIah nama 'Seruni' itu hanya untuk teman-teman pribadimu saja, untuk keluargamu, untuk kekasihmu, ya?"
Kata-kata laki-laki itu yang menyinggung soal kekasih membuat Seruni serentak merasakan nyeri di hatinya. Secara tak sadar dia mengernyitkan dahi.
"Oh, ada yang tidak beres?" Tanya Antonio Castillo melihat ekspresi kesakitan pada wajah gadis itu.
"Eh, temanku ini baru saja patah hati, Toni," kata Emi dengan santai.
"Mungkin kata-katamu tadi membuatnya teringat akan bekas kekasihnya."
"Ah, maafkan kalau begitu, saya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Anggap saja tadi, kau tidak mendengar kata-kata itu, ya?" senyum Antonio.
Dan Seruni harus mengakui bahwa senyuman Antonio seperti senyuman seorang anak kecil yang polos dan tulus.
"Tidak apa-apa, Pak," katanya malu.
"Panggil aku Antonio saja," Kata yang empunya nama.
"Iya, Pak," kata Seruni masih gugup.
Antonio tertawa.
"Tidak apa-apa, nanti kau terbiasa juga. Di sini kita bersifat persahabatan, anggap saja saya ini sudah lama kau kenal."
"Kalau memang sudah tak ada lagi hal-hal lain yang mendesak, aku permisi dulu, Toni," kata Emi sambil berdiri.
"Aku masih mau memasak makanan untuk anakku."
"Oh, tentu! Jangan lupa minggu depan kau sudah dijadwalkan lho!"
"Aku ingat," senyum Emi.
"Runi biar kutinggalkan di sini saja," katanya melirik temannya.
"Bagaimana, sudah punya ide nama pentas yang bagus?" tanya Antonio.
"Lebih baik kau kuperkenalkan kepada gadis-gadis yang lain dengan nama pentasmu."
"Kau suka memakai nama apa, Run?" tanya Emi.
"Wah, nggak tahu, Em!" kata Seruni bingung.
"Kami di sini sudah ada yang bernama Maya, Vera, Bebi. Emi temanmu ini, Rose, Demi, Gia, dan Cici," kata Antonio.
"Saya nggak tahu, Pak," kata Seruni.
"Kau bantu sajalah, Toni," kata Emi.
"Runi masih malu-malu."
Antonio menyimak wajah Seruni dan memandangnya dari kepala sampai kaki. Lalu katanya.
"Bagaimana dengan Anastasia?"
"Anastasia?" tiru Emi.
"Hm, bagus!"
"Kau suka?" Tanya Antonio kepada Seruni.
"Bagus lho, Run, nama itu! Kayak nama putri-putri raja di Rusia.
"Baiklah," kata Seruni mengangguk. "Betul, kau suka?" Tegas Antonio.
"Ya, deh."
"Oke. Selamat bergabung dengan kami, Anastasia!" kata Antonio mengulurkan tangannya.
"Semoga kau betah di sini."
ANASTASIA mencoba membenamkan dirinya dalam profesinya yang baru. Siang hari dia masih meneruskan mengikuti kursus modelling-nya, sedangkan pagi dan sore hari dia berada di Madona. Sedikit demi sedikit dia mulai mempelajari hubungan antara teori dengan praktek. Kiranya dunia modeling mempunyai suka-duka yang mengasyikkan juga. Di Madona dia bisa bertemu dengan bermacam-macam orangklien dengan berbagai tuntutan dan harapan, yang semuanya harus bisa dilayani dengan baik suplaier-suplaier kostum dengan berbagai ulah dan kelicinan untuk bisa mengeruk sedikit lebih banyak keuntungan apabila pihak Madona tidak jeli-rekan-rekan gadis model yang punya seribu satu watak dan pembawaan yang masing-masing berebut ingin menjadi model top di Madona. Kali ini Anastasia benar-benar melihat dari dekat bagaimana dunia mencari nafkah itu. Alangkah bedanya dengan sewaktu dia bekerja di praktek Dokter Hariono!
Di Madona dia mendapat banyak teman, umumnya gadis-gadis sebaya dirinya, hanya saja mereka sudah lebih terpoles dan mahir. Selama ini Anastasia masih pada tahap menonton saja sambil membantu para model yang lain bilamana mereka akan tampil di depan kamera. Antonio memberinya pekerjaan administrasi ringan agar dia merasa bermanfaat bagi Madona di sana dan bukan semata-mata hanya menonton. Lagi pula Anastasia seorang gadis yang cerdas dan mahir bermain dengan angka. Antonio selalu kagum bagaimana gadis ini bisa menghitung begitu cepat di luar kepala.
Setahun lewat dengan cepat. Anastasia telah menamatkan kursusnya dan sekarang menghabiskan waktunya seharian penuh di Madona. Dia mengerjakan semua pekerjaan administrasi di sana, yang notabene tidak banyak -membantu Antonio membuat korespondensinya, yang juga bisa dihitung dengan jari karena kebanyakan transaksi dijadikan lewat telepon atau si klien yang datang sendiri-menyusun jadwal pengambilan gambar yang makin hari makin meningkat kepadatannyadan karena dialah di antara para gadis model yang selalu ada di kantor, maka tugas mendampingi Antonio menemui klien akhirnya menjadi pekerjaan rutinnya pula. Bahkan akhirakhir ini Antonio mendorongnya untuk berani menemui klien sendiri dan menyelesaikan transaksi tanpa kehadirannya. Antonio percaya bahwa Anastasia mempunyai kemampuan di bidang ini dan dia mendorongnya untuk maju. Anastasia semakin menyukai kesibukannya. Kesibukan membantunya melupakan apa yang terkadang masih menghantui hidupnya.
Sementara Anastasia masih tinggal di rumah Emi sahabatnya yang tidak mengizinkannya pindah ke tempat kos sendiri. Emi masih dengan setia membantunya mengatasi trauma kekecewaannya dengan sabar, dan sehari demi sehari merasa lebih bersyukur melihat kehidupan bagi Anastasia seakan-akan berjalan dengan lebih tenang sekarang.
Suatu kali Antonio berkata.
"Sasha (Antonio selalu memanggil Anastasia "Sasha"), aku kira sudah waktunya kau sendiri terjun ke dunia pentas dan lampu. Tujuanmu menjadi model kan bukan hanya untuk duduk di belakang meja menyusun jadwal shooting dan menemui tamu saja! Aku pikir sikap dan penampilanmu sekarang sudah cukup meyakinkan untuk melenggok sendiri di Catwalk atau menghiasi sampul depan majalah."
Seperti biasanya Anastasia hanya tersenyum malu-malu.
"Bagaimana, Sasha? Minggu depan ada peragaan busana untuk sebuah toko besar yang khusus menjual pakaian dalam menyambut penjualan untuk hari Natal dan Tahun Baru yang tinggal sebulan lagi. Mengapa kau tidak ikut? Mereka membutuhkan enam orang peragawati dan dua orang peragawan. Ikutlah!"
"Kau pikir aku sudah bisa?" tanya Anastasia ragu-ragu.
"Teoritis sudah, tinggal sekarang kau mempraktekkannya sendiri. Kalau kau tidak memberi kesempatan kepada dirimu sendiri, kapan kau mau mulai terjun? Sayang kan gadis secantik kau hanya duduk di meja membuat pekerjaan administrasi saja!"
"Kalau aku sampai berbuat kesalahan, gimana?" Tanya Anastasia tegang.
"Ya tidak apa-apa, semua orang pada permulaan juga membuat kesalahan gugup salah langkah kaku. Nanti yang lain-lain yang sudah berpengalaman akan menutupi kesalahanmu. Jangan khawatir."
"Aku takut ditertawakan."
"Siapa yang menertawakan? Penonton tak akan tahu, dan kita di sini sudah profesional semuanya. Mereka yang hari ini sudah mahir juga pernah mengalami saat-saat pertama terjun seperti kau. Mereka mengerti apa yang kaurasakan, jangan bingung atau malu. Dulu pun aku sudah bilang, menjadi peragawati itu tidak susah, hanya bermodal keberanian saja."
"Kalau kau anggap aku sudah siap, ya bolehlah aku coba-coba"...Kata Anastasia.
"Bagus! Nanti aku katakan kepada Maya bahwa kali ini kau ikut. Maya nanti yang akan mengajarmu dan mendampingimu. Jangan khawatir, Maya nanti bisa menutup semua kekuranganmu seandainya kau berbuat kesalahan."
Hari yang mendebarkan tiba. Anastasia bersama lima orang gadis model lainnya berkali-kali naik-turun catwalk dan melenggok di antara tepuk tangan para undangan dan publik yang memenuhi lantai dua Toko Topaz yang malam ini disulap menjadi tempat peragaan itu. Ternyata pagelaran busana itu berjalan lancar. Pemilik toko yang malam itu segera mendapatkan banyak pesanan dari para tamunya, tertawa lebar dan mengguncang-guncang tangan Antonio Castillo ketika memberinya selamat pada akhir pagelaran. Selama penunjukan Antonio mengawasi gadis model terbarunya sambil mengangguk puas. Walaupun dengan sedikit gemetar, Anastasia berhasil membawakan semua nomornya dengan baik. Lenggoknya di atas catwalk tampak cukup meyakinkan, dan kerlingan matanya yang dari waktu ke waktu mencari Antonio yang duduk di antara penonton untuk minta dorongan moral justru membuatnya tampak hidup dan menyatu dengan publik berlainan dengan peragawati peragawati yang lain yang dengan pandangan ke depan dan kepala mendongak membuat mereka seakan-akan sama sekali tidak menyadari kehadiran penonton di sekelilingnya. Pada akhir pagelaran itu Anastasia menerima ucapan selamat dari rekan-rekannya, dan sebuah ciuman bangga di pipinya dari Antonio yang segera bergabung dengan para gadis modelnya di belakang pentas.
"Hari ini Madona ketambahan bintang baru!" kata Antonio memujinya.
"Yuk, kita rayakan dengan makan besar bersama!"
Ramai-ramai mereka pergi ke restoran yang takjauh dari Toko Topaz untuk merayakan penampilan perdana Anastasia. Anastasia seperti baru dilahirkan kembali. Jadi di sinilah dunianya yang sebenarnya dii sini dii bidang modelling. Sekarang dia sudah betul-betul terjun, tak ada jalan mundur lagi. Kuman dan stetoskop telah ditinggalkannya untuk selamanya.Sekarang dan seterusnya dunia modelling, kamera, dan lampulah yang akan menjadi darah dagingnya. Pada akhir jamuan makan itu Antonio sebagai majikan dan penanggung jawab yang baik mengantarkan satu per satu anak buahnya pulang. Dan karena rumah Emi adalah yang paling jauh, maka Anastasia merupakan gadis yang terakhir di mobilnya. Di dalam mobil ketika tinggal mereka berdua, Antonio berkata.
"Malam masih panjang. Apakah kau sudah mengantuk?"
Anastasia tertawa. Rasanya sudah sekian lamanya dia tidak pernah tertawa sebanyak malam ini.
"Tidak, aku belum mengantuk."
"Kalau begitu kau tidak berkeberatan kalau kita tidak segera pulang?"
"Lalu mau ke mana?"
"Hanya putar-putar saja, cari angin, mungkin berhenti makan es krim atau apa"... Kata Antonio santai.
"Oke," kata Anastasia. Malam ini hatinya merasa gembira. Gembira merayakan keberhasilannya. Satu tingkat telah terlampaui, mulai sekarang dia betul-betul akan menjadi gadis model. Sayang malam ini Emi tidak bisa melihatnya! Adele sakit sehingga Emi tak bisa ikut hadir.
Yah, untuk semua ini aku harus benar-benar berterima kasih kepada Emi. Tanpa Emi entah akan menjadi apa hidupnya. Emi telah memberinya harapan baru. Aku harus berhasil, pikir Anastasia. Harus! Sejak malam ini aku harus berhasil menjadi model yang profesional. Aku telah gagal di bidang cinta. Aku harus berhasil dalam profesiku!
Antonio menghentikan mobilnya di depan sebuah depot es krim. Di dalam sepi, hanya pelayannya saja yang tampak duduk sambil mengantuk di salah sebuah meja yang kosong rupanya karena sudah malam.
"Perutmu masih ada tempat buat eskrim?" Tanya Antonio.
"Boleh"...Senyum Anastasia.
"Besok saja aku mulai berdiet lagi."
Mereka masuk lalu memesan dua porsi es kopyor dan berbincang-bincang dari barat ke timur.
"Malam ini kau betul-betul hebat, Sasha"... Kata Antonio.
"Aku bangga sekali. Bahkan di antara keenam gadisku yang tampil, malam ini kau yang paling menawan."
"Ah, yang bener aja, Tonio! Ini adalah pertama kalinya bagiku naik ke catwalk. Kakiku gemetar semua lho dan setiap detik aku pikir aku mau pingsan!" Gelak Anastasia.
"Tapi tidak, kan?"
"Uh, udah hampir"...Senyum Anastasia.
"Tapi terus aku melihat ke arahmu. Dalam hati aku pikir seandainya kau cemberut atau mengernyitkan dahi, aku mau lari saja dari panggung. Tapi kok kau tersenyum sambil mengangguk, jadi aku pikir, ah barangkali penampilanku tidak sejelek itu, jadi hatiku tenang lagi sedikit."
"Aku tahu, aku menangkap pandanganmu setiap kali kau melirik. Aku tahu kau sedikit nerveus, tapi penonton tidak tahu. Mereka mengira kau bermain mata dengan salah seorang di antara penonton"...Senyum Antonio.
"Aku benar-benar berterima kasih, Tonio"...Kata Anastasia.
"Kalau bukan karena kau dan Emi yang mendorongku, aku tak mungkin berhasil."
"Kau harus berterima kasih kepada dirimu sendiri. Kau sendirilah yang telah membuatnya mungkin. Tanpa ketekunan dan tekad dari diri sendiri, kita tak akan berhasil menjadi apa pun walaupun didorong oleh orang satu kampung."
Mereka duduk di kebun, di bawah langit yang terbuka. Antonio menengadahkan kepalanya ke langit. Di atas bintang kecil-kecil bergemerlapan ditemani bulan sabit yang pucat. Lama dia tidak bersuara. Anastasia-lah yang kemudian memecahkan keheningan.
"Besok kita punya jadwal kerja yang ramai," katanya lembut.
"Tidakkah sebaiknya malam ini kita cepat beristirahat?"
Antonio mengangguk dan berkata.
"Kau betul. Malam ini aku sudah sangat gembira, jangan menarik peruntungan terlalu jauh. Orang harus tahu kapan berhenti sebelum talinya putus".. Seringainya.
Anastasia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Antonio tapi dia tak berani bertanya.
"Hari ini Madona ketambahan bintang baru!" kata Antonio memujinya.
"Yuk, kita rayakan dengan makan besar bersama!"
Ramai-ramai mereka pergi ke restoran yang takjauh dari Toko Topaz untuk merayakan penampilan perdana Anastasia. Anastasia seperti baru dilahirkan kembali. Jadi di sinilah dunianya yang sebenarnya dii sini dii bidang modelling. Sekarang dia sudah betul-betul terjun, tak ada jalan mundur lagi. Kuman dan stetoskop telah ditinggalkannya untuk selamanya.Sekarang dan seterusnya dunia modelling, kamera, dan lampulah yang akan menjadi darah dagingnya. Pada akhir jamuan makan itu Antonio sebagai majikan dan penanggung jawab yang baik mengantarkan satu per satu anak buahnya pulang. Dan karena rumah Emi adalah yang paling jauh, maka Anastasia merupakan gadis yang terakhir di mobilnya. Di dalam mobil ketika tinggal mereka berdua, Antonio berkata.
"Malam masih panjang. Apakah kau sudah mengantuk?"
Anastasia tertawa. Rasanya sudah sekian lamanya dia tidak pernah tertawa sebanyak malam ini.
"Tidak, aku belum mengantuk."
"Kalau begitu kau tidak berkeberatan kalau kita tidak segera pulang?"
"Lalu mau ke mana?"
"Hanya putar-putar saja, cari angin, mungkin berhenti makan es krim atau apa"... Kata Antonio santai.
"Oke," kata Anastasia. Malam ini hatinya merasa gembira. Gembira merayakan keberhasilannya. Satu tingkat telah terlampaui, mulai sekarang dia betul-betul akan menjadi gadis model. Sayang malam ini Emi tidak bisa melihatnya! Adele sakit sehingga Emi tak bisa ikut hadir.
Yah, untuk semua ini aku harus benar-benar berterima kasih kepada Emi. Tanpa Emi entah akan menjadi apa hidupnya. Emi telah memberinya harapan baru. Aku harus berhasil, pikir Anastasia. Harus! Sejak malam ini aku harus berhasil menjadi model yang profesional. Aku telah gagal di bidang cinta. Aku harus berhasil dalam profesiku!
Antonio menghentikan mobilnya di depan sebuah depot es krim. Di dalam sepi, hanya pelayannya saja yang tampak duduk sambil mengantuk di salah sebuah meja yang kosong rupanya karena sudah malam.
"Perutmu masih ada tempat buat eskrim?" Tanya Antonio.
"Boleh"...Senyum Anastasia.
"Besok saja aku mulai berdiet lagi."
Mereka masuk lalu memesan dua porsi es kopyor dan berbincang-bincang dari barat ke timur.
"Malam ini kau betul-betul hebat, Sasha"... Kata Antonio.
"Aku bangga sekali. Bahkan di antara keenam gadisku yang tampil, malam ini kau yang paling menawan."
"Ah, yang bener aja, Tonio! Ini adalah pertama kalinya bagiku naik ke catwalk. Kakiku gemetar semua lho dan setiap detik aku pikir aku mau pingsan!" Gelak Anastasia.
"Tapi tidak, kan?"
"Uh, udah hampir"...Senyum Anastasia.
"Tapi terus aku melihat ke arahmu. Dalam hati aku pikir seandainya kau cemberut atau mengernyitkan dahi, aku mau lari saja dari panggung. Tapi kok kau tersenyum sambil mengangguk, jadi aku pikir, ah barangkali penampilanku tidak sejelek itu, jadi hatiku tenang lagi sedikit."
"Aku tahu, aku menangkap pandanganmu setiap kali kau melirik. Aku tahu kau sedikit nerveus, tapi penonton tidak tahu. Mereka mengira kau bermain mata dengan salah seorang di antara penonton"...Senyum Antonio.
"Aku benar-benar berterima kasih, Tonio"...Kata Anastasia.
"Kalau bukan karena kau dan Emi yang mendorongku, aku tak mungkin berhasil."
"Kau harus berterima kasih kepada dirimu sendiri. Kau sendirilah yang telah membuatnya mungkin. Tanpa ketekunan dan tekad dari diri sendiri, kita tak akan berhasil menjadi apa pun walaupun didorong oleh orang satu kampung."
Mereka duduk di kebun, di bawah langit yang terbuka. Antonio menengadahkan kepalanya ke langit. Di atas bintang kecil-kecil bergemerlapan ditemani bulan sabit yang pucat. Lama dia tidak bersuara. Anastasia-lah yang kemudian memecahkan keheningan.
"Besok kita punya jadwal kerja yang ramai," katanya lembut.
"Tidakkah sebaiknya malam ini kita cepat beristirahat?"
Antonio mengangguk dan berkata.
"Kau betul. Malam ini aku sudah sangat gembira, jangan menarik peruntungan terlalu jauh. Orang harus tahu kapan berhenti sebelum talinya putus".. Seringainya.
Anastasia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Antonio tapi dia tak berani bertanya.
PERSAHABATAN Antonio dan Anastasia semakin hari semakin erat. Mereka sering makan bersama, menonton bersama, menghadiri acara-acara bersama, sehingga lama-kelamaan semua orang di Madona menganggap mereka sudah berpasangan. Sejak semakin akrabnya hubungan Antonio dengan Anastasia, gadis itu seakan-akan hidup kembali. Kemurungan boleh dikata tak pernah tampil lagi di wajahnya. Diajuga semakin mempunyai rasa percaya diri, semakin mantap menginjakkan kakinya di dunia keperagawatian. Hanya mereka berdua saja yang tahu bahwa sampai saat itu tak pernah sekali pun terlontar kata-kata cinta di antara mereka. Anastasia sangat bersyukur dengan sikap Antonio ini karena baginya rasanya sudah tak mungkin lagi bisa menjalin hubungan cinta dengan laki-laki mana pun. Kekecewaan dan sakit hati yang pernah dialaminya membuat dirinya tawar terhadap pendekatan yang menjurus ke sana.
Sebetulnya sejak Anastasia dikenal sebagai peragawati, ada beberapa pemuda yang berusaha mendekatinya, salah seorang juga adalah peragawan dari Madona sendiri seorang lelaki tatnpan bernama Anis. Tapi Anastasia tidak berminat, bahkan dia segera mulai menjauh dan menjaga jarak begitu dia melihat ada gejala-gejala yang dikhawatirkanya muncul. Hanya terhadap Antonio saja dia berani akrab dan bersikap santai. Mungkin karena Antonio tidak bersikap ingin menjadi kekasihnya. mungkin juga karena usia Antonio yang jauh lebih tua Anastasia sendiri tidak tahu, tapi yang pasti di dekat Antonio dia sama sekali tidak merasa khawatir. Hari demi hari kepandaian Anastasia pun bertambah. Sekarang boleh dikatakan dialah tangan kanan Antonio. Dialah yang menjalankan seluruh kegiatan Madona apabila Antonio tidak ada, bahkan walaupun Antonio ada, diajuga yang diserahi operasi rutin Madona. Anastasia sekarang tahu benar berapa modal perusahaan ini, berapa biaya operasionalnya, berapa pemasukan yang harus ditargetkan, berapa keuntungan yang harus disisihkan sebagai cadangan, berapa anggaran yang perlu dibuat untuk membeli peralatan dan kostum baru, dan lain sebagainya. Dia yang mengerjakan semua pembukuannya, yang mengatur pemasukan dan pengeluaran uang, dan sedikit demi sedikit dia diajar oleh Antonio untuk membuat perencanaan finansial yang mantap setiap bulannya. Semua ini merupakan bahan baru baginya yang sangat menarik dan Anastasia mencurahkan seluruh perhatiannya. Dengan demikian waktunya terbagi antara mempelajari dan membuat perhitungan keuangan Madona, berlenggok di atas catwalk, dan mendiskusikan segala perencanaan yang berhubungan dengan bisnis ini bersama Antonio.
Semakin akrab Anastasia dengan seluruh operasional biro model ini, semakin akrab pulalah Anastasia dengan pribadi Antonio. Sekarang mereka sudah benar-benar seperti dua orang sahabat yang saling mengenal dengan baik. Namun walaupun begitu tak satu kali pun timbul pembicaraan tentang masa lampau Anastasia. Antonio tak pernah bertanya dan Anastasia sendiri juga enggan menceritakannya. Sampai pada suatu hari.
Asti salah seorang peragawati baru yang seharusnya diambil gambarnya untuk poster selimut bayi sakit dan tidak bisa datang. Padahal semuanya sudah siap-dari tukang foto, bayi pinjaman, sampai si klien yang ingin melihat sendiri shooting untuk promosi produknya.
Peragawati-peragawati lainnya yang ada kebetulan tak seorang pun mencocoki selera si klien, sedangkan si klien ini enggan menunda pengambilan gambar berhubung datangnya dari luar pulau. Anastasia bingung mencarikan ganti Asti. Satu per satu gadis model yang ditawarkannya ditolak terus oleh si klien dengan berbagai alasan-yang kurang tampak keibuan-lah, yang terlalu kurus-lah, yang terlalu berbeda wajahnya dengan bayi pinjaman-lah, dan macam-macam. Di luar dugaan, si klien malah meminta agar Anastasia saja yang menggantikan peran Asti. Anastasia di matanya cocok untuk peranan itu, kata Pak Candra ini.
Maka Anastasia didaulat untuk menggantikan Asti. Demi perusahaan dan demi Antonio yang juga memintanya, Anastasia menyanggupi. Yang tidak diperhitungkannya adalah kesiapan mentalnya sendiri menerima peranan ini setelah traumanya yang lalu. Setelah dirias dan diberi pakaian yang sesuai dengan kebutuhan poster, duduklah Anastasia di atas sebuah kursi rotan. Pose yang akan diambil adalah gambar seorang perempuan yang dengan penuh kasih sayang menggendong bayinya yang terbungkus selimut yang lembut. Tetapi apa yang terjadi ternyata di luar dugaan semua yang menyaksikan pengambilan gambar ini. Begitu bayi mungil yang berusia sekitar empat bulan itu diletakkan di pangkuan Anastasia, Antonio segera melihat bagaimana wajah gadis itu menegang. Tangannya yang seharusnya memeluk makhluk kecil itu dengan penuh kasih sayang menjadi kaku dan bergetar. Seruan si tukang potret untuk membawa bayi itu lebih dekat lagi ke dadanya menyebabkan mata Anastasia terbelalak dan kemudian dalam waktu yang singkat terjadi berturut-turut Anastasia melepaskan pelukannya pada bayi itu ibu sang bayi yang sudah melihat gejala-gejala aneh tadi, dari dekat dengan sigap maju untuk menahan tubuh anaknya yang mulai terlepas dari pelukan Anastasia, lalu merenggutnya dari pangkuan gadis itu Anastasia berdiri lalu berteriak seperti orang kesetanan dan Antonio memburu ke arahnya untuk membimbingnya pergi.
Di dalam pelukan Antonio, gadis itu menutup wajahnya dan segera dibimbing masuk ke kamar kerja Antonio, dibaringkan di kursi panjang, dan ditenangkan di sana. Antonio memanggil Maya dan dua orang gadis modelnya yang lain untuk menjaga dan menenangkan Anastasia sementara dia sendiri keluar untuk memohon maaf kepada si klien dan ibu si bayi yang sudah sempat dibuat kaget.
"Mengapa gadis itu "tadi, Pak?" tanya si klien ketakutan.
"Tidak apa-apa, Pak Candra"...Bujuk Antonio.
"Dia baru saja kematian kemenakannya yang bayi. Mungkin trauma itu masih membayang sehingga tadi tiba-tiba dia panik."
"Anak saya hampir saja dilemparkannya!" kata ibu yang empunya bayi dengan marah.
"Kalau cedera bagaimana!"
"Untung tidak terjadi apa-apa, ya, Bu.
Kita semua tadi tidak mengira akan terjadi seperti ini. Saya sebagai pimpinan di sini betul-betul minta maaf yang sebesar-besarnya."
"Wah, Pak Antonio ini bagaimana! Mengangkat gadis model itu mbok ya milih yang beres gitu lho!" kata si ibu yang aslinya berasal dari Banyuwangi itu.
"Nona Anastasia ini waras, kok, Bu"... Kata Antonio.
"Yang salah saya. Sebetulnya yang harus diambil gambarnya bersama bayi Ibu kan Nona Asti. Nona Anastasia memang tidak siap untuk menggantikan peranan ini. Kalau Ibu tahu riwayatnya, tentu Ibu mengerti."
"Bagaimana riwayatnya?" Tanya si nyonya ingin tahu.
"Nona Anastasia itu baru saja mengalami musibah yang hebat. Kemenakannya yang bayi mati dalam pelukannya sewaktu terjadi kecelakaan lalu lintas yang juga merenggut nyawa saudaranya yang mengemudikan mobil. Dialah satu-satunya yang hidup. Jadi mungkin tadi ketika menggendong bayi ibu, tiba-tiba terbayang kembali kecelakaan yang dialaminya. Saya minta maaf, Bu, saya tadi yang menyuruhnya menggantikan Nona Asti"...Dengan lancar Antonio mengarang cerita apa saja asalkan bisa mendinginkan hati ibu yang sudah dibuat terkejut tadi.
"Lha iya, kalau sudah tahu begitu kok masih disuruh juga berpose dengan bayi! Tentu saja hal ini bisa membuatnya terbayang kembali," kata si ibu yang sudah merasa lebih lega sekarang bahwa si gadis yang sempat menggendong anaknya toh bukan orang gila yang sewaktu-waktu kumat. Dia tidak ingin menarik panjang lagi urusan karena selain memang sudah mendapatkan honor yang lumayan tinggi untuk peminjaman bayinya, juga syukur alhamdullillah anaknya tidak apa-apa.
"Wah, iya. Saya juga ikut bersalah," kata Pak Candra yang klien.
"Tadi saya yang ngotot minta supaya nona itu saja yang difoto. Saya tidak tahu kalau dia habis kena musibah sih."
"Atas kejadian tadi, saya minta maaf," kata Antonio.
"Bagaimana kalau minggu depan saja kita ulang pengambilan gambar ini dengan Nona Asti? Saya kira pada waktu itu dia pasti sudah sembuh."
"Ya, ya, Pak Antonio, minggu depan saja saya kembali kalau begitu," kata Pak Candra. "Jadi minggu depan, ya, Bu?" senyum Antonio kepada si ibu.
"Ibu masih bersedia datang lagi, kan?"
"Saya sih mau saja, asal anak saya nggak dilempar-lemparkan seperti tadi."
"Oh. pasti hal ini tidak akan terulang kembali. Saya jamin."
Setelah tamu-tamunya pulang, Antonio kembali ke Anastasia yang masih duduk di sofanya ditemani oleh rekan-rekannya.
"Kalian tinggalkan kami dulu," katanya kepada Maya.
"Biar ganti aku yang menghibur Sasha."
Maya dan yang lain keluar. Antonio menutup pintu kamarnya lalu duduk di samping Anastasia yang sekarang sedang menekur ke lantai dengan mata kering.
"Sasha, mau minum?" tanya Antonio mengusap-usap bahu gadis itu.
Dengan kepala tertunduk Anastasia berkata.
"Kau tentunya mengira aku sudah gila."
"Hus! Setiap orang bisa berbuat seperti kau tadi apabila pernah mengalami trauma dalam hidupnya. Jangan kaurisaukan lagi."
"Aku malu di depan begitu banyak orang terutama di depan klien, aku telah merusak reputasi Madona."
"Sama sekali tidak. Pak Candra adalah orang yang cukup mengerti. Aku sudah menjelaskan bahwa kau baru saja mengalami musibah dan dia memakluminya. Shooting akan diulang minggu depan."
"Trauma apa yang kauceritakan padanya, Tonio?"
"Aku bilang kau pernah terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di mana saudaramu yang mengemudikan mobil dan anaknya yang masih bayi meninggal dalam pelukanmu, dan dengan menggendong bayi tadi kemungkinan kau terbayang kejadian itu lagi."
Baru sekarang Anastasia mengangkat matanya.
"Dari mana kau mendapat cerita itu tentang aku, Tonio?"
Antonio menyeringai.
"Aku yang mengarangnya. Akutidak tahu riwayatmu, aku cuma tahu bahwa kau pernah mengalami guncangan yang cukup hebat."
"Kau tahu bahwa aku pernah mengalami guncangan? Apakah Emi pernah bercerita padamu?"
Antonio menggeleng.
"Emi tidak pernah bercerita dan aku juga tak pernah bertanya. Tapi aku tahu cukup dengan melihat gerak-gerikmu sehari-hari. Kau adalah orang yang peka sekali, seperti barang porselen yang terantuk sedikit lalu retak. Kau sendiri pun bersikap seakan-akan kau menyadari kerapuhanmu itu, dan kau selalu berusaha menghindari dekat dengan orang-orang lain supaya tidak ada kemungkinan terantuk mereka."
Anastasia memandang Antonio dengan keheranan.
"Aku tak tahu bahwa sikapku begitu kentara."
"Oh, mungkin tidak bagi orang lain. Kebetulan saja aku sering memperhatikan dirimu, jadi aku melihatnya. Aku yakin teman-temanmu yang lain tidak ada yang tahu," senyum Antonio menghilangkan rasa khawatirnya.
"Mengapa kau tidak pernah bertanya padaku apa yang telah menyebabkan aku aneh begitu?"
"Setiap orang berhak menyimpan rahasianya sendiri. Aku bukanlah orang yang ingin tahu rahasia orang lain. Aku pikir, kalau kau sendiri tidak pernah menceritakannya, itu berarti kau tidak suka membicarakannya dengan orang lain. Karena itu aku tidak mau memaksamu."
"Kau sangat baik, Antonio," kata Anastasia.
"Aku telah membuatmu malu hari ini dan kau sama sekali tidak memarahi aku."
"Luapan tadi bukan sesuatu yang disengaja, Sasha. Itu sesuatu yang tak dapat kaukuasai. Tidak sepantasnya aku memarahimu untuk hal-hal yang di luar kemampuanmu untuk mencegahnya, kan?"
Anastasia diam lama. Akhirnya dia berkata,
"Sepanjang tahun selain Emi kau adalah temanku yang paling erat. Kaulah orang yang memperhatikan diriku, yang selalu memperlakukan aku dengan baik. Aku berutang banyak padamu. Aku yang salah, seharusnya aku menceritakan masa lampauku padamu. Kau berhak mengetahuinya."
"Kau tidak berutang apa-apa padaku, Sasha. Kau tidak perlu menceritakan apa-apa padaku mengenai masa lampaumu."
"Tidak, tidak... aku harus," kata Anastasia.
"Kalau kau mau menceritakan agar bebanmu bisa terasa lebih ringan, aku siap mendengarkan. Tapi kau tidak harus! Kau tak usah bercerita karena kau merasa wajib."
"Tidak, biarkan aku bercerita mumpung aku punya keberanian sekarang," kata Anastasia menarik napas panjang.
"Aku... aku bukanlah gadis yang polos dan murni seperti yang kaukira.
"Aku... aku adalah orang yang bodoh dan egois. Aku... aku jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sudah beristri, tapi aku tak peduli. Aku menghendakinya. Aku cuma tahu aku mencintainya dan ingin terus bersamanya. Kami... kami berhubungan intim. Tadinya aku sudah puas dengan bertemu dengannya selama beberapa jam sehari. Tapi kemudian... kemudian aku ingin mengikatnya. Aku menuntut status darinya. Aku minta dia mengawiniku. Aku... aku bahkan membiarkan diriku hamil supaya dia harus mengawiniku. Ternyata dia tak pernah mencintai diriku. Baginya aku cuma sekadar selingan, dan dia sama sekali tidak punya niatan untuk kawin denganku. Aku telah berbuat kesalahan yang amat besar"...Anastasia mulai terisak.
Antonio membawanya ke dalam pelukannya dan dibiarkannya gadis itu menangis perlahan-lahan, sampai akhirnya dia mau melaniutkan ceritanya sendiri.
"Kemudian... kemudian dia merenggut anakku! Dia seorang spesialis kandungan, dan dia berhasil membuang janin itu dengan membius aku... Aku berdosa... aku berdosa " isaknya semakin keras. Anastasia menangis lama sekali.
Antonio membuainya dalam pelukannya seperti membuai seorang anak kecil. Diusapusapnya kepala gadis itu, diciuminya pipinya yang basah, dan diusapnya air matanya yang mengalir.
"Semuanya itu sekarang sudah lewat, Sasha," bisiknya.
"Dia tidak dapat menyakiti hatimu lagi dan kau pun sudah sadar bahwa orang seperti itu tidak perlu kaupikirkan terus. Lupakanlah yang sudah lewat. Di depan masih ada jalan yang panjang, yang terbentang luas bagimu. Lupakanlah sakit hatimu dan jangan membiarkannya menggetirkan hidupmu. Kau memang telah kehilangan sebagian dari dirimu lewat pengalaman yang pahit itu, tapi di depan masih ada begitu banyak yang bisa kauraih sebagai gantinya. Jangan menggandoli trauma yang satu itu terus. Orang harus maju terus apa pun yang telah terjadi. Kalau kau melangkah maju. kenangan jelekmu semakin tertinggal jauh di beaakang, dia menjadi semakin kecil, semakin tidak berani, dan akhirnya tak tampak lagi di cakrawalamu yang baru. Sebaliknya kalau kau membiarkan dirimu statis dan terikat padanya terus, kenangan itu akan terus berada di sisimu, ukurannya tidak akan mengecil dan hidupmu terus akan terganggu olehnya."
"Ya ya, aku sudah berusaha melupakannya, cuma cuma dari waktu ke waktu bayangan itu muncul kembali," kata Anastasia.
"Itu lumrah sekarang, tapi perlahan-lahan bayangan itu akan memudar dan hilang kalau kauizinkan." Antonio masih membelai kepalanya.
"Mengapa kau begitu baik padaku, Tonio?" tanya Anastasia. Sepasang mata yang basah dan jernih menatap dalam ke mata laki-laki itu seakanakan dia dapat mencari jawabnya di sana.
"Aku sayang padamu, Sasha. Mungkin pada suatu hari nanti kau bisa menerima aku sebagai orang yang mencintai dirimu tidak sekarang aku tahu tapi suatu hari, siapa tahu? Aku tidak tergesa-gesa, aku tidak ingin mendesakmu, biarlah waktu yang menentukan."
"Kau... kau sayang padaku?" tanya Anastasia. Entah mengapa tiba-tiba hatinya merasa hangat dan nyaman perasaan yang sudah begitu lama tak pernah lagi menyelinap ke dalam hatinya.
"Ya," kata Antonio memandangnya lekatlekat.
"Tapi kau tak perlu takut. Aku tidak akan memaksamu, tidak akan merayumu, bahkan aku tidak akan berusaha apa pun untuk menjatuhkan hatimu atau memperoleh simpatimu. Perasaanku adalah milikku sendiri, tidak akan kulimpahkan secara paksa padamu. Anggaplah aku tetap sebagai teman biasa saja, sama seperti yang kaulakukan selama ini."
"Kau amat baik, Antonio, kau betul-betul amat baik."
Antonio tersenyum.
"Kalau orang sudah setua aku sudah mempunyai pengalaman sebanyak aku, orang belajar untuk tidak membuat kesalahan yang sama dua kali. Dan percayalah. di masa mudaku, kesalahan yang aku buat tak terhitung banyaknya."
"Kau pernah berkeluarga, Antonio?" tanya Anastasia mulai melupakan dilemanya sendiri.
"Ya, aku pernah mempunyai istri, tapi kami sudah lama bercerai."
"Kau masih sering bertemu dengannya?"
"Yang terakhir adalah sepuluh tahun yang lalu ketika kami bercerai. Tapi setiap ulang tahunku dia masih mengirim ucapan selamat. Dia tinggal di Amsterdam dan sudah berkeluarga lagi."
"Oh, kau kawin dengan orang Belanda?"
"Dia sama seperti aku, anak blasteran," senyum Antonio.
"Dia adalah anak Eurasia keturunan Belanda dan Ambon."
"Berapa lama kau kawin?"
"Oh, sekitar lima tahun lebih sedikit. Dia adalah gadis yang cantik dan aku mengejar ngejarnya setengah mati. Aku berusaha meyakinkannya bahwa cinta itu bisa tumbuh setelah perkawinan, bahwa yang penting itu ada kemauan dan saling pengertian. Dia setuju untuk kawin karena dia pikir lebih selamat kawin dengan lakilaki yang mencintainya daripada mencintai lakilaki yang tidak mau mengawininya. Kami sama sama masih muda dan kami masih dibayangi mimpi-mimpi muluk."
"Akhirnya kalian tidak bahagia?"
"Akhirnya kami berpisah. Ternyata aku telah salah menafsirkan emosi yang menggebu-gebu di pihakku tempo hari. Kami sebetulnya tidak siap untuk membentuk rumah tangga. Dan akhirnya impian itu buyar. Kami membutuhkan waktu lima tahun untuk menyadari kesalahan ini sebelum kami memutuskan untuk mengambil jalan kami sendiri."
"Apakah kau menyesal?"
"Menyesali apa?"
"Menyesali harus berpisah dengannya."
"Tidak. Perpisahan itu adalah keputusan yang paling baik yang pernah kami lakukan bersama. Setelah perpisahan itu aku bisa bernapas dengan lega dan aku kira dia pun begitu. Tidak, aku tidak menyesali perpisahan kami, tapi aku menyesali kebodohanku yang pertama, ngotot mau kawin dengannya".
"Mengapa kau tidak pernah kawin lagi, Antonio? Menduda selama sepuluh tahun adalah waktu yang lama."
"Yah, karena aku tidak pernah tertarik pada perempuan lain -sampai bertemu denganmu." "Ah, masa! Di sekelilingmu ada begitu banyak gadis cantik, masa kau tidak tertarik.
"Dunia penuh dengan gadis cantik. lstriku dulu juga cantik. Itulah sebabnya aku menyangka aku mencintainya. Sebenarnya aku cuma kagum pada kecantikannya. Pribadinya tidak cocok untukku. Ternyata dalam suatu perkawinan dibutuhkan lebih banyak daripada sekadar mengagumi wajah patner hidupnya saja. Aku telah berbuat kesalahan itu satu kali, aku tak ingin mengulanginya lagi. Kalau kali ini aku mencintai seseorang, yang kucintai harus pribadinya sebagai seorang individu."
Anastasia tersenyum kemalu-maluan.
"Dan apakah aku begitu menarik sebagai seorang individu, Antonio? Dibandingkan dengan gadis-gadis yang lain, aku tidak lebih istimewa, bahkan aku... aku masih punya masa lalu. Seperti Maya atau Bebi atau Cici, mereka adalah gadisgadis yang baik, hidupnya bersih, tidak punya lembaran gelap yang terselip di kolong meja. Aku... aku... selain punya masa lalu juga punya kelainan jiwa seperti apa yang terjadi hari ini."
Antonio Castillo terbahak.
"Semua orang punya kelainan jiwa. Semua orang punya ciri khasnya sendiri."
"Tapi aku lain... aku lain. Terkadang aku pikir barangkali aku ini gila. Aku aku pernah hampir bunuh diri."
"Gila dan waras itu hanya dibedakan oleh sehelai rambut tipis, Sasha. Kalau dari waktu ke waktu kita meletus, itu bukan berarti kita ini gila. Itu cara alam untuk menetralisasi ketahanan mental kita. Seperti itu lho-mesin uap," senyum Antonio.
"Kalau uapnya sudah memenuhi seluruh ruang sehingga tekanan di dalam itu naik, maka secara otomatis klep pengamannya membuka untuk mengeluarkan sebagian dari uap itu supaya tidak terjadi ledakan hebat. Sudahlah, jangan kaurisaukan dirimu lagi. Kau pasti akan bisa melupakan masa lampaumu. Aku melihat kau punya kepribadian yang baik, kau punya ketekunan dan keuletan. Hanya saja kau masih muda dan belum memperoleh pegangan yang mantap. Itulah sebabnya terkadang kau terbawa emosi. Tapi jangan khawatir. Waktu dan usia akan mengisi kekurangan ini dan percayalah, pada akhirnya kau akan menjadi orang yang berhasil."
"Kau selalu membesarkan hatiku," senyum Anastasia.
"Kalau pada akhirnya aku terlalu bergantung padamu dan kau tidak bisa lolos lagi dariku, itu salahmu sendiri."
Laki-laki lain tentunya akan menjawab bahwa itulah perkembangan yang ditunggu-tunggunya atau bahwa mereka akan merasa senang dijadikan tempat bersandar begitulah perkiraan Anastasia. Tapi ternyata jawaban Antonio di luar dugaannya sama sekali.
"Kau tidak pernah akan total bergantung padaku seperti itu, Sasha. Pada dasarnya kau adalah perempuan yang mandiri dan aku akan berbuat sekuat tenagaku untuk mengembangkan sifat kemandirianmu ini. Di dunia janganlah bergantung pada orang lain. Milikilah kepercayaan kepada diri sendiri dan kau tidak pernah akan kecewa."
Sebetulnya sejak Anastasia dikenal sebagai peragawati, ada beberapa pemuda yang berusaha mendekatinya, salah seorang juga adalah peragawan dari Madona sendiri seorang lelaki tatnpan bernama Anis. Tapi Anastasia tidak berminat, bahkan dia segera mulai menjauh dan menjaga jarak begitu dia melihat ada gejala-gejala yang dikhawatirkanya muncul. Hanya terhadap Antonio saja dia berani akrab dan bersikap santai. Mungkin karena Antonio tidak bersikap ingin menjadi kekasihnya. mungkin juga karena usia Antonio yang jauh lebih tua Anastasia sendiri tidak tahu, tapi yang pasti di dekat Antonio dia sama sekali tidak merasa khawatir. Hari demi hari kepandaian Anastasia pun bertambah. Sekarang boleh dikatakan dialah tangan kanan Antonio. Dialah yang menjalankan seluruh kegiatan Madona apabila Antonio tidak ada, bahkan walaupun Antonio ada, diajuga yang diserahi operasi rutin Madona. Anastasia sekarang tahu benar berapa modal perusahaan ini, berapa biaya operasionalnya, berapa pemasukan yang harus ditargetkan, berapa keuntungan yang harus disisihkan sebagai cadangan, berapa anggaran yang perlu dibuat untuk membeli peralatan dan kostum baru, dan lain sebagainya. Dia yang mengerjakan semua pembukuannya, yang mengatur pemasukan dan pengeluaran uang, dan sedikit demi sedikit dia diajar oleh Antonio untuk membuat perencanaan finansial yang mantap setiap bulannya. Semua ini merupakan bahan baru baginya yang sangat menarik dan Anastasia mencurahkan seluruh perhatiannya. Dengan demikian waktunya terbagi antara mempelajari dan membuat perhitungan keuangan Madona, berlenggok di atas catwalk, dan mendiskusikan segala perencanaan yang berhubungan dengan bisnis ini bersama Antonio.
Semakin akrab Anastasia dengan seluruh operasional biro model ini, semakin akrab pulalah Anastasia dengan pribadi Antonio. Sekarang mereka sudah benar-benar seperti dua orang sahabat yang saling mengenal dengan baik. Namun walaupun begitu tak satu kali pun timbul pembicaraan tentang masa lampau Anastasia. Antonio tak pernah bertanya dan Anastasia sendiri juga enggan menceritakannya. Sampai pada suatu hari.
Asti salah seorang peragawati baru yang seharusnya diambil gambarnya untuk poster selimut bayi sakit dan tidak bisa datang. Padahal semuanya sudah siap-dari tukang foto, bayi pinjaman, sampai si klien yang ingin melihat sendiri shooting untuk promosi produknya.
Peragawati-peragawati lainnya yang ada kebetulan tak seorang pun mencocoki selera si klien, sedangkan si klien ini enggan menunda pengambilan gambar berhubung datangnya dari luar pulau. Anastasia bingung mencarikan ganti Asti. Satu per satu gadis model yang ditawarkannya ditolak terus oleh si klien dengan berbagai alasan-yang kurang tampak keibuan-lah, yang terlalu kurus-lah, yang terlalu berbeda wajahnya dengan bayi pinjaman-lah, dan macam-macam. Di luar dugaan, si klien malah meminta agar Anastasia saja yang menggantikan peran Asti. Anastasia di matanya cocok untuk peranan itu, kata Pak Candra ini.
Maka Anastasia didaulat untuk menggantikan Asti. Demi perusahaan dan demi Antonio yang juga memintanya, Anastasia menyanggupi. Yang tidak diperhitungkannya adalah kesiapan mentalnya sendiri menerima peranan ini setelah traumanya yang lalu. Setelah dirias dan diberi pakaian yang sesuai dengan kebutuhan poster, duduklah Anastasia di atas sebuah kursi rotan. Pose yang akan diambil adalah gambar seorang perempuan yang dengan penuh kasih sayang menggendong bayinya yang terbungkus selimut yang lembut. Tetapi apa yang terjadi ternyata di luar dugaan semua yang menyaksikan pengambilan gambar ini. Begitu bayi mungil yang berusia sekitar empat bulan itu diletakkan di pangkuan Anastasia, Antonio segera melihat bagaimana wajah gadis itu menegang. Tangannya yang seharusnya memeluk makhluk kecil itu dengan penuh kasih sayang menjadi kaku dan bergetar. Seruan si tukang potret untuk membawa bayi itu lebih dekat lagi ke dadanya menyebabkan mata Anastasia terbelalak dan kemudian dalam waktu yang singkat terjadi berturut-turut Anastasia melepaskan pelukannya pada bayi itu ibu sang bayi yang sudah melihat gejala-gejala aneh tadi, dari dekat dengan sigap maju untuk menahan tubuh anaknya yang mulai terlepas dari pelukan Anastasia, lalu merenggutnya dari pangkuan gadis itu Anastasia berdiri lalu berteriak seperti orang kesetanan dan Antonio memburu ke arahnya untuk membimbingnya pergi.
Di dalam pelukan Antonio, gadis itu menutup wajahnya dan segera dibimbing masuk ke kamar kerja Antonio, dibaringkan di kursi panjang, dan ditenangkan di sana. Antonio memanggil Maya dan dua orang gadis modelnya yang lain untuk menjaga dan menenangkan Anastasia sementara dia sendiri keluar untuk memohon maaf kepada si klien dan ibu si bayi yang sudah sempat dibuat kaget.
"Mengapa gadis itu "tadi, Pak?" tanya si klien ketakutan.
"Tidak apa-apa, Pak Candra"...Bujuk Antonio.
"Dia baru saja kematian kemenakannya yang bayi. Mungkin trauma itu masih membayang sehingga tadi tiba-tiba dia panik."
"Anak saya hampir saja dilemparkannya!" kata ibu yang empunya bayi dengan marah.
"Kalau cedera bagaimana!"
"Untung tidak terjadi apa-apa, ya, Bu.
Kita semua tadi tidak mengira akan terjadi seperti ini. Saya sebagai pimpinan di sini betul-betul minta maaf yang sebesar-besarnya."
"Wah, Pak Antonio ini bagaimana! Mengangkat gadis model itu mbok ya milih yang beres gitu lho!" kata si ibu yang aslinya berasal dari Banyuwangi itu.
"Nona Anastasia ini waras, kok, Bu"... Kata Antonio.
"Yang salah saya. Sebetulnya yang harus diambil gambarnya bersama bayi Ibu kan Nona Asti. Nona Anastasia memang tidak siap untuk menggantikan peranan ini. Kalau Ibu tahu riwayatnya, tentu Ibu mengerti."
"Bagaimana riwayatnya?" Tanya si nyonya ingin tahu.
"Nona Anastasia itu baru saja mengalami musibah yang hebat. Kemenakannya yang bayi mati dalam pelukannya sewaktu terjadi kecelakaan lalu lintas yang juga merenggut nyawa saudaranya yang mengemudikan mobil. Dialah satu-satunya yang hidup. Jadi mungkin tadi ketika menggendong bayi ibu, tiba-tiba terbayang kembali kecelakaan yang dialaminya. Saya minta maaf, Bu, saya tadi yang menyuruhnya menggantikan Nona Asti"...Dengan lancar Antonio mengarang cerita apa saja asalkan bisa mendinginkan hati ibu yang sudah dibuat terkejut tadi.
"Lha iya, kalau sudah tahu begitu kok masih disuruh juga berpose dengan bayi! Tentu saja hal ini bisa membuatnya terbayang kembali," kata si ibu yang sudah merasa lebih lega sekarang bahwa si gadis yang sempat menggendong anaknya toh bukan orang gila yang sewaktu-waktu kumat. Dia tidak ingin menarik panjang lagi urusan karena selain memang sudah mendapatkan honor yang lumayan tinggi untuk peminjaman bayinya, juga syukur alhamdullillah anaknya tidak apa-apa.
"Wah, iya. Saya juga ikut bersalah," kata Pak Candra yang klien.
"Tadi saya yang ngotot minta supaya nona itu saja yang difoto. Saya tidak tahu kalau dia habis kena musibah sih."
"Atas kejadian tadi, saya minta maaf," kata Antonio.
"Bagaimana kalau minggu depan saja kita ulang pengambilan gambar ini dengan Nona Asti? Saya kira pada waktu itu dia pasti sudah sembuh."
"Ya, ya, Pak Antonio, minggu depan saja saya kembali kalau begitu," kata Pak Candra. "Jadi minggu depan, ya, Bu?" senyum Antonio kepada si ibu.
"Ibu masih bersedia datang lagi, kan?"
"Saya sih mau saja, asal anak saya nggak dilempar-lemparkan seperti tadi."
"Oh. pasti hal ini tidak akan terulang kembali. Saya jamin."
Setelah tamu-tamunya pulang, Antonio kembali ke Anastasia yang masih duduk di sofanya ditemani oleh rekan-rekannya.
"Kalian tinggalkan kami dulu," katanya kepada Maya.
"Biar ganti aku yang menghibur Sasha."
Maya dan yang lain keluar. Antonio menutup pintu kamarnya lalu duduk di samping Anastasia yang sekarang sedang menekur ke lantai dengan mata kering.
"Sasha, mau minum?" tanya Antonio mengusap-usap bahu gadis itu.
Dengan kepala tertunduk Anastasia berkata.
"Kau tentunya mengira aku sudah gila."
"Hus! Setiap orang bisa berbuat seperti kau tadi apabila pernah mengalami trauma dalam hidupnya. Jangan kaurisaukan lagi."
"Aku malu di depan begitu banyak orang terutama di depan klien, aku telah merusak reputasi Madona."
"Sama sekali tidak. Pak Candra adalah orang yang cukup mengerti. Aku sudah menjelaskan bahwa kau baru saja mengalami musibah dan dia memakluminya. Shooting akan diulang minggu depan."
"Trauma apa yang kauceritakan padanya, Tonio?"
"Aku bilang kau pernah terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di mana saudaramu yang mengemudikan mobil dan anaknya yang masih bayi meninggal dalam pelukanmu, dan dengan menggendong bayi tadi kemungkinan kau terbayang kejadian itu lagi."
Baru sekarang Anastasia mengangkat matanya.
"Dari mana kau mendapat cerita itu tentang aku, Tonio?"
Antonio menyeringai.
"Aku yang mengarangnya. Akutidak tahu riwayatmu, aku cuma tahu bahwa kau pernah mengalami guncangan yang cukup hebat."
"Kau tahu bahwa aku pernah mengalami guncangan? Apakah Emi pernah bercerita padamu?"
Antonio menggeleng.
"Emi tidak pernah bercerita dan aku juga tak pernah bertanya. Tapi aku tahu cukup dengan melihat gerak-gerikmu sehari-hari. Kau adalah orang yang peka sekali, seperti barang porselen yang terantuk sedikit lalu retak. Kau sendiri pun bersikap seakan-akan kau menyadari kerapuhanmu itu, dan kau selalu berusaha menghindari dekat dengan orang-orang lain supaya tidak ada kemungkinan terantuk mereka."
Anastasia memandang Antonio dengan keheranan.
"Aku tak tahu bahwa sikapku begitu kentara."
"Oh, mungkin tidak bagi orang lain. Kebetulan saja aku sering memperhatikan dirimu, jadi aku melihatnya. Aku yakin teman-temanmu yang lain tidak ada yang tahu," senyum Antonio menghilangkan rasa khawatirnya.
"Mengapa kau tidak pernah bertanya padaku apa yang telah menyebabkan aku aneh begitu?"
"Setiap orang berhak menyimpan rahasianya sendiri. Aku bukanlah orang yang ingin tahu rahasia orang lain. Aku pikir, kalau kau sendiri tidak pernah menceritakannya, itu berarti kau tidak suka membicarakannya dengan orang lain. Karena itu aku tidak mau memaksamu."
"Kau sangat baik, Antonio," kata Anastasia.
"Aku telah membuatmu malu hari ini dan kau sama sekali tidak memarahi aku."
"Luapan tadi bukan sesuatu yang disengaja, Sasha. Itu sesuatu yang tak dapat kaukuasai. Tidak sepantasnya aku memarahimu untuk hal-hal yang di luar kemampuanmu untuk mencegahnya, kan?"
Anastasia diam lama. Akhirnya dia berkata,
"Sepanjang tahun selain Emi kau adalah temanku yang paling erat. Kaulah orang yang memperhatikan diriku, yang selalu memperlakukan aku dengan baik. Aku berutang banyak padamu. Aku yang salah, seharusnya aku menceritakan masa lampauku padamu. Kau berhak mengetahuinya."
"Kau tidak berutang apa-apa padaku, Sasha. Kau tidak perlu menceritakan apa-apa padaku mengenai masa lampaumu."
"Tidak, tidak... aku harus," kata Anastasia.
"Kalau kau mau menceritakan agar bebanmu bisa terasa lebih ringan, aku siap mendengarkan. Tapi kau tidak harus! Kau tak usah bercerita karena kau merasa wajib."
"Tidak, biarkan aku bercerita mumpung aku punya keberanian sekarang," kata Anastasia menarik napas panjang.
"Aku... aku bukanlah gadis yang polos dan murni seperti yang kaukira.
"Aku... aku adalah orang yang bodoh dan egois. Aku... aku jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sudah beristri, tapi aku tak peduli. Aku menghendakinya. Aku cuma tahu aku mencintainya dan ingin terus bersamanya. Kami... kami berhubungan intim. Tadinya aku sudah puas dengan bertemu dengannya selama beberapa jam sehari. Tapi kemudian... kemudian aku ingin mengikatnya. Aku menuntut status darinya. Aku minta dia mengawiniku. Aku... aku bahkan membiarkan diriku hamil supaya dia harus mengawiniku. Ternyata dia tak pernah mencintai diriku. Baginya aku cuma sekadar selingan, dan dia sama sekali tidak punya niatan untuk kawin denganku. Aku telah berbuat kesalahan yang amat besar"...Anastasia mulai terisak.
Antonio membawanya ke dalam pelukannya dan dibiarkannya gadis itu menangis perlahan-lahan, sampai akhirnya dia mau melaniutkan ceritanya sendiri.
"Kemudian... kemudian dia merenggut anakku! Dia seorang spesialis kandungan, dan dia berhasil membuang janin itu dengan membius aku... Aku berdosa... aku berdosa " isaknya semakin keras. Anastasia menangis lama sekali.
Antonio membuainya dalam pelukannya seperti membuai seorang anak kecil. Diusapusapnya kepala gadis itu, diciuminya pipinya yang basah, dan diusapnya air matanya yang mengalir.
"Semuanya itu sekarang sudah lewat, Sasha," bisiknya.
"Dia tidak dapat menyakiti hatimu lagi dan kau pun sudah sadar bahwa orang seperti itu tidak perlu kaupikirkan terus. Lupakanlah yang sudah lewat. Di depan masih ada jalan yang panjang, yang terbentang luas bagimu. Lupakanlah sakit hatimu dan jangan membiarkannya menggetirkan hidupmu. Kau memang telah kehilangan sebagian dari dirimu lewat pengalaman yang pahit itu, tapi di depan masih ada begitu banyak yang bisa kauraih sebagai gantinya. Jangan menggandoli trauma yang satu itu terus. Orang harus maju terus apa pun yang telah terjadi. Kalau kau melangkah maju. kenangan jelekmu semakin tertinggal jauh di beaakang, dia menjadi semakin kecil, semakin tidak berani, dan akhirnya tak tampak lagi di cakrawalamu yang baru. Sebaliknya kalau kau membiarkan dirimu statis dan terikat padanya terus, kenangan itu akan terus berada di sisimu, ukurannya tidak akan mengecil dan hidupmu terus akan terganggu olehnya."
"Ya ya, aku sudah berusaha melupakannya, cuma cuma dari waktu ke waktu bayangan itu muncul kembali," kata Anastasia.
"Itu lumrah sekarang, tapi perlahan-lahan bayangan itu akan memudar dan hilang kalau kauizinkan." Antonio masih membelai kepalanya.
"Mengapa kau begitu baik padaku, Tonio?" tanya Anastasia. Sepasang mata yang basah dan jernih menatap dalam ke mata laki-laki itu seakanakan dia dapat mencari jawabnya di sana.
"Aku sayang padamu, Sasha. Mungkin pada suatu hari nanti kau bisa menerima aku sebagai orang yang mencintai dirimu tidak sekarang aku tahu tapi suatu hari, siapa tahu? Aku tidak tergesa-gesa, aku tidak ingin mendesakmu, biarlah waktu yang menentukan."
"Kau... kau sayang padaku?" tanya Anastasia. Entah mengapa tiba-tiba hatinya merasa hangat dan nyaman perasaan yang sudah begitu lama tak pernah lagi menyelinap ke dalam hatinya.
"Ya," kata Antonio memandangnya lekatlekat.
"Tapi kau tak perlu takut. Aku tidak akan memaksamu, tidak akan merayumu, bahkan aku tidak akan berusaha apa pun untuk menjatuhkan hatimu atau memperoleh simpatimu. Perasaanku adalah milikku sendiri, tidak akan kulimpahkan secara paksa padamu. Anggaplah aku tetap sebagai teman biasa saja, sama seperti yang kaulakukan selama ini."
"Kau amat baik, Antonio, kau betul-betul amat baik."
Antonio tersenyum.
"Kalau orang sudah setua aku sudah mempunyai pengalaman sebanyak aku, orang belajar untuk tidak membuat kesalahan yang sama dua kali. Dan percayalah. di masa mudaku, kesalahan yang aku buat tak terhitung banyaknya."
"Kau pernah berkeluarga, Antonio?" tanya Anastasia mulai melupakan dilemanya sendiri.
"Ya, aku pernah mempunyai istri, tapi kami sudah lama bercerai."
"Kau masih sering bertemu dengannya?"
"Yang terakhir adalah sepuluh tahun yang lalu ketika kami bercerai. Tapi setiap ulang tahunku dia masih mengirim ucapan selamat. Dia tinggal di Amsterdam dan sudah berkeluarga lagi."
"Oh, kau kawin dengan orang Belanda?"
"Dia sama seperti aku, anak blasteran," senyum Antonio.
"Dia adalah anak Eurasia keturunan Belanda dan Ambon."
"Berapa lama kau kawin?"
"Oh, sekitar lima tahun lebih sedikit. Dia adalah gadis yang cantik dan aku mengejar ngejarnya setengah mati. Aku berusaha meyakinkannya bahwa cinta itu bisa tumbuh setelah perkawinan, bahwa yang penting itu ada kemauan dan saling pengertian. Dia setuju untuk kawin karena dia pikir lebih selamat kawin dengan lakilaki yang mencintainya daripada mencintai lakilaki yang tidak mau mengawininya. Kami sama sama masih muda dan kami masih dibayangi mimpi-mimpi muluk."
"Akhirnya kalian tidak bahagia?"
"Akhirnya kami berpisah. Ternyata aku telah salah menafsirkan emosi yang menggebu-gebu di pihakku tempo hari. Kami sebetulnya tidak siap untuk membentuk rumah tangga. Dan akhirnya impian itu buyar. Kami membutuhkan waktu lima tahun untuk menyadari kesalahan ini sebelum kami memutuskan untuk mengambil jalan kami sendiri."
"Apakah kau menyesal?"
"Menyesali apa?"
"Menyesali harus berpisah dengannya."
"Tidak. Perpisahan itu adalah keputusan yang paling baik yang pernah kami lakukan bersama. Setelah perpisahan itu aku bisa bernapas dengan lega dan aku kira dia pun begitu. Tidak, aku tidak menyesali perpisahan kami, tapi aku menyesali kebodohanku yang pertama, ngotot mau kawin dengannya".
"Mengapa kau tidak pernah kawin lagi, Antonio? Menduda selama sepuluh tahun adalah waktu yang lama."
"Yah, karena aku tidak pernah tertarik pada perempuan lain -sampai bertemu denganmu." "Ah, masa! Di sekelilingmu ada begitu banyak gadis cantik, masa kau tidak tertarik.
"Dunia penuh dengan gadis cantik. lstriku dulu juga cantik. Itulah sebabnya aku menyangka aku mencintainya. Sebenarnya aku cuma kagum pada kecantikannya. Pribadinya tidak cocok untukku. Ternyata dalam suatu perkawinan dibutuhkan lebih banyak daripada sekadar mengagumi wajah patner hidupnya saja. Aku telah berbuat kesalahan itu satu kali, aku tak ingin mengulanginya lagi. Kalau kali ini aku mencintai seseorang, yang kucintai harus pribadinya sebagai seorang individu."
Anastasia tersenyum kemalu-maluan.
"Dan apakah aku begitu menarik sebagai seorang individu, Antonio? Dibandingkan dengan gadis-gadis yang lain, aku tidak lebih istimewa, bahkan aku... aku masih punya masa lalu. Seperti Maya atau Bebi atau Cici, mereka adalah gadisgadis yang baik, hidupnya bersih, tidak punya lembaran gelap yang terselip di kolong meja. Aku... aku... selain punya masa lalu juga punya kelainan jiwa seperti apa yang terjadi hari ini."
Antonio Castillo terbahak.
"Semua orang punya kelainan jiwa. Semua orang punya ciri khasnya sendiri."
"Tapi aku lain... aku lain. Terkadang aku pikir barangkali aku ini gila. Aku aku pernah hampir bunuh diri."
"Gila dan waras itu hanya dibedakan oleh sehelai rambut tipis, Sasha. Kalau dari waktu ke waktu kita meletus, itu bukan berarti kita ini gila. Itu cara alam untuk menetralisasi ketahanan mental kita. Seperti itu lho-mesin uap," senyum Antonio.
"Kalau uapnya sudah memenuhi seluruh ruang sehingga tekanan di dalam itu naik, maka secara otomatis klep pengamannya membuka untuk mengeluarkan sebagian dari uap itu supaya tidak terjadi ledakan hebat. Sudahlah, jangan kaurisaukan dirimu lagi. Kau pasti akan bisa melupakan masa lampaumu. Aku melihat kau punya kepribadian yang baik, kau punya ketekunan dan keuletan. Hanya saja kau masih muda dan belum memperoleh pegangan yang mantap. Itulah sebabnya terkadang kau terbawa emosi. Tapi jangan khawatir. Waktu dan usia akan mengisi kekurangan ini dan percayalah, pada akhirnya kau akan menjadi orang yang berhasil."
"Kau selalu membesarkan hatiku," senyum Anastasia.
"Kalau pada akhirnya aku terlalu bergantung padamu dan kau tidak bisa lolos lagi dariku, itu salahmu sendiri."
Laki-laki lain tentunya akan menjawab bahwa itulah perkembangan yang ditunggu-tunggunya atau bahwa mereka akan merasa senang dijadikan tempat bersandar begitulah perkiraan Anastasia. Tapi ternyata jawaban Antonio di luar dugaannya sama sekali.
"Kau tidak pernah akan total bergantung padaku seperti itu, Sasha. Pada dasarnya kau adalah perempuan yang mandiri dan aku akan berbuat sekuat tenagaku untuk mengembangkan sifat kemandirianmu ini. Di dunia janganlah bergantung pada orang lain. Milikilah kepercayaan kepada diri sendiri dan kau tidak pernah akan kecewa."
Tak banyak perubahan yang terjadi antara hubungan Antonio dengan Anastasia setelah pembicaraan mereka dari hati ke hati itu setiap hari semuanya masih sama mereka makan bersama, tertawa bersama, membicarakan bisnis bersama, menemui klien bersama. Antonio memegang teguh janjinya tidak mau mendesak Anastasia, dan terbukti tak satu kali pun dia menyinggung lagi tentang apa yang mereka bicarakan tempo hari.
"Antonio, tambah lama kau kok bertambah pucat sih kelihatannya," celetuk Anastasia pada suatu hari.
"Dan kau kelihatan lelah sekali."
"Tanda-tanda mengunduri tua, Sasha," gelak Antonio ceria.
"Tua bagaimana! Katanya laki-laki baru dikatakan betul-betul hidup pada usia empat puluh. Kau seharusnya berada pada kondisi yang paling prima sekarang. Mengapa kau tidak berlibur beberapa hari? Kau betul-betul kelihatan capek!"
"Ya, mungkin itu usul yang baik. Di sini semua sudah bisa kaujalankan sendiri dengan lancar, bahkan dalam melayani tawar-menawar dengan klien kau lebih mahir," senyum bos-nya.
"Kontrak yang kita peroleh untuk minggu lalu itu seluruhnya hasil kerjamu. Aku sangat bangga akan perkembanganmu."
"Ah, itu cuma kebetulan. Tapi aku serius, nih, mengenai keadaanmu. Kau betul-betul kelihatan loyo. Kau harus istirahat."
"Baiklah. Kalau begitu besok aku tidur seharian di rumah dan semua urusan di sini aku serahkan padamu."
"Sebaiknya kau juga periksa ke dokter, Antonio," kata Anastasia khawatir.
"Kau pucat sekali."
"Ah, nggak apa-apa. Memang aku agak anemis."
"Kalau begitu harus banyak makan bayam dong, supaya tambah darah."
"Iya, nanti pembantuku di rumah aku minta masak bayam."
"Kau di rumah cuma tinggal bersama pembantu?" tanya Anastasia yang baru sadar bahwa dia tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi laki-laki ini.
"Iya, pembantu laki-laki," senyum Antonio.
"Kau tak perlu khawatir."
Tersipu sedikit, Anastasia menjawab.
"Apakah dia bisa masak?"
"Ala kadarnya. Tapi aku kan jarang di rumah,jadi aku tidak terlalu menderita karena keterbatasannya."
"Kalau sakit siapa yang merawatmu?"
"Syukur sampai sekarang aku belum pernah sakit seberat itu sampai membutuhkan perawatan orang. Tapi aku senang kau menunjukkan perhatian," tambahnya.
"Kalau begitu besok sepulang kerja aku ke rumahmu. Kubawakan masakan bayam, ya?"
"Nggak usah repot, Sasha. Kau terlalu lelah nanti, pulang kantor masih harus masak segala. Lagi pula nanti kau ditertawakan Emi."
"Emi nggak akan menertawakan dan aku tidak berkeberatan memasakkan untukmu sekali waktu."
"Kalau begitu ya terima kasih sebelumnya."
"Eh, kita sudah seakrab ini masa kau masih perlu bilang terima kasih segala, Tonio!" kata Anastasia.
"Apakah karena kita akrab lalu tak ada lagi rasa terima kasih di hati? Justru aku anggap kau lebih bisa menghargai terima kasihku daripada orang lain yang tidak bergaul akrab denganku."
"Kau betul, cuma maksudku biasanya orang yang sudah akrab itu sudah biasa saling melakukan sesuatu bagi yang lain. Ucapan terima kasih itu nggak perlu lagi dicetuskan."
"Kata-kata marah, umpatan, cacian, kata-kata yang menyakitkan, itu yang tidak perlu lagi dilontarkan di antara orang-orang yang akrab kendatipun ada salah satu pihak yang berbuat salah. Tapi kata-kata yang baik, yang membuat hati senang, mengapa tidak? Justru kita harus lebih sering menyatakan apresiasi kita."
"Oke, kalau begitu besok sore aku ke rumahmu."
"Pukul berapa kau kujemput?"
"Lho, kok dijemput! Kau seharusnya beristirahat! Aku bisa datang sendiri naik taksi, jangan menjemput!" Anastasia pura-pura marah.
"Nanti kau salah masuk rumah orang."
"Eh, katanya mau mendidik aku mandiri. Masa sekarang baru mencari rumahmu saja aku sudah nyasar!"
Keesokan harinya merupakan hari yang sibuk bagi Anastasia.Tiga orang klien datang padanya untuk minta pelayanan. Anastasia harus membuat jadwal yang betul-betul efektif sehingga para model bisa menyiapkan diri dengan baik. Selain itu dia menyempatkan diri juga melihat pengambilan gambar untuk sampul depan sebuah majalah wanita. Semakin lama Anastasia semakin mengerti juga tentang teknik pengambilan gambar tentang perpaduan sinar dan warna tentang sudut-sudut artistik seraut wajah. Seorang gadis yang sebetulnya berparas biasa-biasa saja bisa disulap menjadi perempuan yang cantik lewat tata lampu dan pengambilan gambar dari sudut yang tepat. Dan sampai sekarang Anastasia tak habis-habisnya kagum dengan peralihan ini.
Antonio pernah berkata bahwa dirinya sangat berbakat dalam bidang pengelolaan biro model ini. seakan-akan dia memang dilahirkan khusus untuk terjun ke bidang tersebut. Dia sendiri cukup cantik untuk menandingi peragawati mana pun, seleranya juga bagus sehingga dalam waktu singkat secara naluriah dia dapat menguasai segisegi artistik suatu objek foto, dan di atas itu otaknya cukup cerdas untuk cepat mengerti dan menguasai pengelolaan bisnis seperti ini.
Rekan-rekannya mulai sering mengandalkan pendapatnya. Usul-usulnya semakin didengarkan, keberatannya dipertimbangkan, dan memang sering terbukti bahwa apa yang dikatakannya itu betul. Maka setapak demi setapak naiklah fungsinya dari seorang gadis model profesional menjadi seorang pengelola biro model yang profesional. Pukul lima seperempat Anastasia meninggalkan kantornya dan bergegas pulang. Tadi pagi dia sudah menitipkan pada pembantu Emi untuk membelikan bayam sebanyak-banyaknya. Sekarang dia harus pulang cepat-cepat agar tidak kemalaman membawakan masakan itu ke rumah Antonio. Antonio sendiri yang menyambutnya di pintu ketika Anastasia turun dari taksi membawa rantangnya.
"Hei. apa kabar?" sapa Anastasia ceria.
"Baik. Aku tidur seharianpol," kata Antonio.
"Hari ini baru terasa betul-betul capek."
"Kalau begitu besok jangan ngantor dulu. Beristirahatlah dua-tiga hari sekaligus supaya ada manfaatnya," senyum Anastasia.
"Sudah lapar?"
"Mau langsung makan, nih? Nggak ngobrol dulu?" tanya Antonio.
"Mumpung masih panas," kata Anastasia meletakkan rantangnya di atas meja. Ternyata meja sudah ditata untuk makan dua orang.
"Biar kupanggilkan si Hasan supaya dia siapkan nasi dan minuman," kata Antonio.
"Aduh, nggak usah deh! Aku kan bukan tamu. Biar aku yang menyiapkan sendiri. Nggak enak ah rasanya dilayani orang laki walaupun dia pembantumu," kata Anastasia.
Antonio tertawa.
"Sesukamulah kalau begitu. Nasi memang sudah matang dan masih hangat di dalam rice cooker itu. Minuman silakan ambil sendiri di lemari es."
Mereka makan dengan santai sambil berbincang-bincang mengenai apa yang terjadi hari ini di kantor. Antonio menghabiskan semua masakan Anastasia.
"Aku tidak menyangka kau bisa makan sebanyak ini. Biasanya di kantor makanmu sedikit," kata Anastasia.
"Masakanmu enak."
"Ah, menghina! Aku nggak pandai memasak. Untuk menyiapkan ini pun kemarin semalam aku harus membuka buku resep Emi."
"Di lidahku masakanmu enak. Itu yang penting, kan? Aku selera makan kalau kau yang memasak," kata Antonio.
"Kalau begitu biar aku yang memasak setiap hari supaya kau selera terus dan menjadi gemuk," kata gadis itu.
"Asal nanti jangan menjadi bosan atau kapok saja!"
"Kalau kau mau, aku bisa menyediakan dua kompor elpiji di kantor supaya kau bisa masak. Kamar kerjaku kan sangat luas. Jika sebagian diberi sekat untuk dapur mini, masih cukup kok!"
"Eh, jadi aku harus merangkap koki sekalian?" gelak Anastasia.
Suasana di ruangan ini terasa hangat dan santai menyenangkan. Mereka duduk berhadapan disinari oleh lampu yang temaram. Sepi hanya mereka berdua di sini terpisah dari dunia luar sama sekali.
"Lho. kalau mau." kata Antonio.
"Boleh, asal kau menjadi gemuk saja. Aku ingin kau gemuk. Kau terlalu pucat dan kurus."
"Dari muda memang aku tak pernah gemuk, Sasha. Selamanya ya jangkung kurus begini."
"Iya, tapi tambah lama aku lihat wajahmu tambah pucat. Setahun yang lalu nggak sekurus ini kok."
"Mungkin anemiku sedikit lebih parah sekarang."
"Kau Sudah ke dokter?"
"Ah, nggak apa-apa. Aku tahu, pasti nanti dokter berkata aku terlalu lelah, butuh istirahat, harus makan banyak persis seperti nasihatmu. Buat apa aku ke sana untuk mendengarkan nasihat yang sama?"
"Mungkin dia bisa memberimu vitamin atau tonikum atau apa."
"Aku paling malas minum obat. Paling banter cuma dua kali, setelah itu obatnya entah aku tinggalkan di mana."
Anastasia tertawa.
"Omong-omong, apa sih kesibukanmu Sore hari setelah pulang dari kerja?" tanya gadis itu melihat seputar ruangan yang sepi.
"Dulu sebelum ada kau, aku selalu membawa pulang pekerjaan administrasi. Sekarang sejak semuanya kau yang mengerjakan, aku menganggur. Ya kadang-kadang aku nonton TV kalau tidak malas, atau membaca, atau keluar mendatangi satu-dua temanku. Tapi yang lebih sering kukerjakan itu tidur," seringai Antonio.
"Capek."
"Katamu jarang makan di rumah? Berarti setiap hari kau pasti keluar mencari makan dong?"
"Maksudku, jarang makan masakan rumah. Si Hasan yang kusuruh keluar untuk membelikan. Lebih mudah baginya dan lebih enak juga bagiku."
"Kau nggak merasa kesepian hidup sendiri begini? Atau kau melewatkan waktumu juga dengan mengobrol bersama si Hasan?"
"Hasan biasanya sudah langsung tidur setelah aku makan, atau dia pamit pergi bersama teman-temannya. Jarang kami ngobrol lama-lama."
"Jadi nggak kesepian?"
"Akhirnya manusia harus belajar berteman dengan kesepian juga," kata Antonio.
"Kesepian bukan sesuatu yang menakutkan. Dalam kesepian justru manusia bisa menemukan dirinya sendiri. Kesepian itu akan menjadi teman kita kalau kita izinkan"
"Kau harus mengajarkan hal itu kepadaku," kata Anastasia.
"Walaupun aku tinggal di rumah Emi yang berpenghuni empat orang lagi di samping diriku, setiap malam aku merasa kesepian sekali. Aku merasa hampa, terombang-ambing, tidak tahu untuk apa aku hidup."
Mereka sekarang pindah duduk di kamar tamu sementara Hasan menutup meja.
"Perasaan itu tidak bisa diajarkan, Sasha. Perasaan itu timbul dengan sendirinya dari pengalaman. Bila pengalamanmu cukup dalam hal itu, perasaan itu datang dengan sendirinya," Antonio tersenyum.
"Mau mendengarkan musik? Aku punya beberapa kaset yang enak."
"Boleh, tapi biasanya aku terus mengantuk kalau mendengarkan musik, apalagi setelah makan," kata Anastasia.
"Mengantuk ya tidur, jangan ditahan. Semua panggilan alam sebaiknya dituruti, jangan dilawan. Naluri sering kali lebih benar daripada hasil pemikiran manusia."
"Masa aku tidur di sini?" gelak Anastasia.
"Nggak apa-apa, aku tak akan mengganggumu. Nanti kalau kantukmu sudah terpenuhi, kau kan bangun sendiri," kata Antonio menyetel musik.
Mereka duduk berdampingan di atas sofa yang panjang. Antonio di satu ujung bertelekan pada sandaran lengan sofa, Anastasia di ujung lainnya. Tidak ada yang bersuara hanya alunan musik yang lembut dan suara berat seorang penyanyi negro perempuan yang menyenai lamunan mereka. Anastasia berpaling, dilihatnya mata Antonio terpejam, wajahnya tenang dan rileks. Garis-garis kelelahan tak tampak lagi. Apakah itu hanya karena sinar lampu yang lembut atau memang suara si penyanyi itu yang bisa menghilangkan ketegangan dari wajahnya? Anastasia mengawasi lama. Profil Antonio tak pernah tampak sebagus ini sebelumnya hidungnya mancung, warisan nenek moyangnya yang berdarah Eropa alisnya hitam tebal, melindungi sepasang mata yang tajam yang sekarang terpejam bibirnya adalah bibir yang sensitif, agak tebal di bagian bawah, bagian atasnya peka dan sensual dagunya tercukur licin, tapi karena pada dasarnya Antonio berbulu banyak, dagu itu berwarna kebiru-biruan, sama dengan bagian atas bibirnya sangat jantan.
Anastasia mengamatinya lekat-lekat. Bahu Antonio ternyata lebih lebar dari yang disangkanya. Hanya saja karena dia berperawakan kurus maka tampaknya bahu itu kurang terisi. Seandainya lebih gemuk, tentunya dia sangat gagah karena dia sudah mempunyai rangka yang bagus bahu yang lebar dan kaki yang panjang, pikir Anastasia membuat penilaian secara profesional. Sejak dia terlibat juga dalam memilih peragawan-peragawati untuk pengambilan gambar tertentu, dia pun terbiasa membuat penilaian atas fisik model-modelnya secara profesional. Sayang Antonio terlalu kurus. Mungkin karena tidak ada yang memperhatikan makanannya, pikir Anastasia. Kasihan dia, terlantar.
Memikir demikian hatinya terasa trenyuh. Antonio begitu baik, tapi tidak ada yang menghargai kebaikannya. Tidak ada yang menyambutnya dengan gembira kalau dia pulang, tidak ada yang merawatnya kalau dia sakit, tidak ada yang betul-betul mempedulikan apakah dia senang atau susah. Lebih lanjut lagi Anastasia teringat akan katakata Antonio tempo hari bahwa dia mencintainya! Cinta yang begitu tulus, cinta yang tidak menuntut pembalasan, cinta yang tidak memaksakan apa-apa. Dia mencinta hanya sekadar untuk mencinta, tidak ada motif apa-apa di baliknya. Sekian lamanya telah lewat sejak dia mengutarakan isi hatinya kepada Anastasia, tapi selama ini sikapnya tetap tidak berubah. Dia tetap seperti seorang teman baik yang tidak menimbulkan perasaan tidak enak atau khawatir gadis itu setiap berada di sisinya.
Aku bisa bahagia dengan laki-laki seperti ini, pikir Anastasia. Matanya terasa panas. Aku bisa bahagia dengannya. Dia tidak terlalu menuntut apa yang mungkin tak dapat kuberikan. Bahkan aku rasa dia tidak akan menuntut apa-apa sama sekali. Itu lebih baik bagiku. Aku sudah jera tenggelam lagi dalam emosi yang menghanyutkan, yang meledak-ledak, yang melambung ke angkasa untuk jatuh hancur berkeping-keping. Tidak. Bersama Antonio aku bisa hidup dengan tenang. Kami akan saling memperhatikan, saling mementingkan, saling menyayangi. Mungkin di antara kami tak akan pernah ada emosi yang meledak-ledak, atau rasa cinta yang menyesakkan napas, tapi aku yakin yang ada adalah rasa damai, damai dan aman, serta keyakinan bahwa masa depan kami akan berjalan dengan tertib, teratur, menurut rilnya. Semua ini lebih baik daripada cinta yang menuntut seluruh pengabdian jiwa. Anastasia menggeser duduknya, mengulurkan tangannya untuk menyentuh punggung tangan Antonio yang kiri, yang terletak lemas di atas pangkuannya.
Antonio membuka matanya, tersenyum,
"Kau sudah mengantuk?" tanyanya lembut.
Anastasia menggeleng.
"Kau?" balasnya.
"Aku sedang menikmati alunan suara ini. Kata-katanya sangat indah," kata Antonio.
"Cinta memang indah," kata Anastasia untuk pertama kalinya membuka topik pembicaraan ini.>
"Cinta yang tidak berkobar-kobar, cinta yang tidak menghanguskan, cinta yang mengalir tenang seperti air yang menyejukkan, cinta yang tidak menuntut, cinta yang kokoh... seperti... seperti cintamu padaku."
Antonio sedikit terkejut. Perkembangan yang di luar dugaannya. Dia memandang gadis itu dengan lebih seksama.
"Aku ingin tenggelam dalam cinta yang demikian, Antonio," bisik Anastasia.
Antonio meraih gadis itu ke dalam pelukannya persis seperti ketika dia histeris dulu dan mengusap-usap rambutnya. Anastasia membiarkan dirinya dibelai, merasakan hangatnya kasih sayang yang menyelinap ke dalam hatinya, menikmati rasa bahagia yang membungakan perasaannya. Dan dia yakin kali ini pilihannya tidaklah salah. Kali ini dia akan bahagia! Kali ini dia akan meraih bintang bersama lelaki jangkung di sisinya ini. Mereka tidak berkata apa-apa beberapa saat lamanya. Kata-kata tak diperlukan lagi jika dua hati telah menemukan bahasa yang lebih bagus daripada kata-kata. Anastasia menyandarkan kepalanya di dada Antonio yang memeluknya dengan penuh rasa sayang.
Kaset berhenti bersuara tapi untuk beberapa waktu lamanya baik Anastasia maupun Antonio seakan-akan tidak menyadari keheningan ini. Mereka tenggelam dalam dunianya sendiri, dunia yang sekarang mereka bagi bersama. Ketika lonceng besar di ujung ruang itu berdentang dua belas kali, mereka baru sadar.
"Sudah malam," bisik Antonio.
"Yuk, kuantarkan pulang."
"Malam ini aku tidak pulang, Antonio," kata Anastasia.
"Aku ingin tetap bersamamu di sini."
Antonio tersenyum.
"Aku pun ingin kau selamanya bersamaku. Tapi waktu kita masih banyak. Kalau malam ini kau tidak pulang, kasihan temanmu Emi, nanti dia khawatir kau diculik sopir taksi."
Anastasia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Antonio memang benar. Emi pasti menunggunya. Kasihan. Sayang rumah Emi belum punya sambungan telepon.
"Ayo, aku antar pulang," kata Antonio sudah berdiri.
"Kau lelah, biar aku pulang dengan taksi saja."
"Taksi sudah sepi pada jam-jam ini. Dan aku tidak selelah itu, Sasha. Malam ini tiba-tiba aku merasa bersemangat sekali," senyumnya.
"Cinta adalah obat penghapus lelah yang paling mujarab, kau tahu?"
Mereka tertawa.
"Aku akan memberi tahu Emi bahwa sekarang aku telah menemukan pelabuhan untuk hatiku. Aku harus berterima kasih padanya. Dialah yang mempertemukan kita."
"Aku juga," kata Antonio.
"Bagaimana kalau dia dan suaminya kita undang makan bersama untuk merayakan kebahagiaan ini?"
"Mereka tentu senang."
"Ayo kalau begitu, kita berangkat sekarang," kata Antonio menghadiahkan sebuah ciuman di bibir gadis itu-ciuman pertama yang ringan dan halus.
Ya, Tuhan, aku mendapat kesempatan yang kedua, pikir Anastasia. Aku masih bisa berbahagia bersama laki-laki ini. Alangkah bersyukurnya! Alangkah berterima kasihnya aku! Dan kali ini aku tak akan membuat kesalahan! Kali ini hubungan kami akan kekal abadi sampai kami menjadi kaki dan nini!
"Antonio, tambah lama kau kok bertambah pucat sih kelihatannya," celetuk Anastasia pada suatu hari.
"Dan kau kelihatan lelah sekali."
"Tanda-tanda mengunduri tua, Sasha," gelak Antonio ceria.
"Tua bagaimana! Katanya laki-laki baru dikatakan betul-betul hidup pada usia empat puluh. Kau seharusnya berada pada kondisi yang paling prima sekarang. Mengapa kau tidak berlibur beberapa hari? Kau betul-betul kelihatan capek!"
"Ya, mungkin itu usul yang baik. Di sini semua sudah bisa kaujalankan sendiri dengan lancar, bahkan dalam melayani tawar-menawar dengan klien kau lebih mahir," senyum bos-nya.
"Kontrak yang kita peroleh untuk minggu lalu itu seluruhnya hasil kerjamu. Aku sangat bangga akan perkembanganmu."
"Ah, itu cuma kebetulan. Tapi aku serius, nih, mengenai keadaanmu. Kau betul-betul kelihatan loyo. Kau harus istirahat."
"Baiklah. Kalau begitu besok aku tidur seharian di rumah dan semua urusan di sini aku serahkan padamu."
"Sebaiknya kau juga periksa ke dokter, Antonio," kata Anastasia khawatir.
"Kau pucat sekali."
"Ah, nggak apa-apa. Memang aku agak anemis."
"Kalau begitu harus banyak makan bayam dong, supaya tambah darah."
"Iya, nanti pembantuku di rumah aku minta masak bayam."
"Kau di rumah cuma tinggal bersama pembantu?" tanya Anastasia yang baru sadar bahwa dia tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi laki-laki ini.
"Iya, pembantu laki-laki," senyum Antonio.
"Kau tak perlu khawatir."
Tersipu sedikit, Anastasia menjawab.
"Apakah dia bisa masak?"
"Ala kadarnya. Tapi aku kan jarang di rumah,jadi aku tidak terlalu menderita karena keterbatasannya."
"Kalau sakit siapa yang merawatmu?"
"Syukur sampai sekarang aku belum pernah sakit seberat itu sampai membutuhkan perawatan orang. Tapi aku senang kau menunjukkan perhatian," tambahnya.
"Kalau begitu besok sepulang kerja aku ke rumahmu. Kubawakan masakan bayam, ya?"
"Nggak usah repot, Sasha. Kau terlalu lelah nanti, pulang kantor masih harus masak segala. Lagi pula nanti kau ditertawakan Emi."
"Emi nggak akan menertawakan dan aku tidak berkeberatan memasakkan untukmu sekali waktu."
"Kalau begitu ya terima kasih sebelumnya."
"Eh, kita sudah seakrab ini masa kau masih perlu bilang terima kasih segala, Tonio!" kata Anastasia.
"Apakah karena kita akrab lalu tak ada lagi rasa terima kasih di hati? Justru aku anggap kau lebih bisa menghargai terima kasihku daripada orang lain yang tidak bergaul akrab denganku."
"Kau betul, cuma maksudku biasanya orang yang sudah akrab itu sudah biasa saling melakukan sesuatu bagi yang lain. Ucapan terima kasih itu nggak perlu lagi dicetuskan."
"Kata-kata marah, umpatan, cacian, kata-kata yang menyakitkan, itu yang tidak perlu lagi dilontarkan di antara orang-orang yang akrab kendatipun ada salah satu pihak yang berbuat salah. Tapi kata-kata yang baik, yang membuat hati senang, mengapa tidak? Justru kita harus lebih sering menyatakan apresiasi kita."
"Oke, kalau begitu besok sore aku ke rumahmu."
"Pukul berapa kau kujemput?"
"Lho, kok dijemput! Kau seharusnya beristirahat! Aku bisa datang sendiri naik taksi, jangan menjemput!" Anastasia pura-pura marah.
"Nanti kau salah masuk rumah orang."
"Eh, katanya mau mendidik aku mandiri. Masa sekarang baru mencari rumahmu saja aku sudah nyasar!"
Keesokan harinya merupakan hari yang sibuk bagi Anastasia.Tiga orang klien datang padanya untuk minta pelayanan. Anastasia harus membuat jadwal yang betul-betul efektif sehingga para model bisa menyiapkan diri dengan baik. Selain itu dia menyempatkan diri juga melihat pengambilan gambar untuk sampul depan sebuah majalah wanita. Semakin lama Anastasia semakin mengerti juga tentang teknik pengambilan gambar tentang perpaduan sinar dan warna tentang sudut-sudut artistik seraut wajah. Seorang gadis yang sebetulnya berparas biasa-biasa saja bisa disulap menjadi perempuan yang cantik lewat tata lampu dan pengambilan gambar dari sudut yang tepat. Dan sampai sekarang Anastasia tak habis-habisnya kagum dengan peralihan ini.
Antonio pernah berkata bahwa dirinya sangat berbakat dalam bidang pengelolaan biro model ini. seakan-akan dia memang dilahirkan khusus untuk terjun ke bidang tersebut. Dia sendiri cukup cantik untuk menandingi peragawati mana pun, seleranya juga bagus sehingga dalam waktu singkat secara naluriah dia dapat menguasai segisegi artistik suatu objek foto, dan di atas itu otaknya cukup cerdas untuk cepat mengerti dan menguasai pengelolaan bisnis seperti ini.
Rekan-rekannya mulai sering mengandalkan pendapatnya. Usul-usulnya semakin didengarkan, keberatannya dipertimbangkan, dan memang sering terbukti bahwa apa yang dikatakannya itu betul. Maka setapak demi setapak naiklah fungsinya dari seorang gadis model profesional menjadi seorang pengelola biro model yang profesional. Pukul lima seperempat Anastasia meninggalkan kantornya dan bergegas pulang. Tadi pagi dia sudah menitipkan pada pembantu Emi untuk membelikan bayam sebanyak-banyaknya. Sekarang dia harus pulang cepat-cepat agar tidak kemalaman membawakan masakan itu ke rumah Antonio. Antonio sendiri yang menyambutnya di pintu ketika Anastasia turun dari taksi membawa rantangnya.
"Hei. apa kabar?" sapa Anastasia ceria.
"Baik. Aku tidur seharianpol," kata Antonio.
"Hari ini baru terasa betul-betul capek."
"Kalau begitu besok jangan ngantor dulu. Beristirahatlah dua-tiga hari sekaligus supaya ada manfaatnya," senyum Anastasia.
"Sudah lapar?"
"Mau langsung makan, nih? Nggak ngobrol dulu?" tanya Antonio.
"Mumpung masih panas," kata Anastasia meletakkan rantangnya di atas meja. Ternyata meja sudah ditata untuk makan dua orang.
"Biar kupanggilkan si Hasan supaya dia siapkan nasi dan minuman," kata Antonio.
"Aduh, nggak usah deh! Aku kan bukan tamu. Biar aku yang menyiapkan sendiri. Nggak enak ah rasanya dilayani orang laki walaupun dia pembantumu," kata Anastasia.
Antonio tertawa.
"Sesukamulah kalau begitu. Nasi memang sudah matang dan masih hangat di dalam rice cooker itu. Minuman silakan ambil sendiri di lemari es."
Mereka makan dengan santai sambil berbincang-bincang mengenai apa yang terjadi hari ini di kantor. Antonio menghabiskan semua masakan Anastasia.
"Aku tidak menyangka kau bisa makan sebanyak ini. Biasanya di kantor makanmu sedikit," kata Anastasia.
"Masakanmu enak."
"Ah, menghina! Aku nggak pandai memasak. Untuk menyiapkan ini pun kemarin semalam aku harus membuka buku resep Emi."
"Di lidahku masakanmu enak. Itu yang penting, kan? Aku selera makan kalau kau yang memasak," kata Antonio.
"Kalau begitu biar aku yang memasak setiap hari supaya kau selera terus dan menjadi gemuk," kata gadis itu.
"Asal nanti jangan menjadi bosan atau kapok saja!"
"Kalau kau mau, aku bisa menyediakan dua kompor elpiji di kantor supaya kau bisa masak. Kamar kerjaku kan sangat luas. Jika sebagian diberi sekat untuk dapur mini, masih cukup kok!"
"Eh, jadi aku harus merangkap koki sekalian?" gelak Anastasia.
Suasana di ruangan ini terasa hangat dan santai menyenangkan. Mereka duduk berhadapan disinari oleh lampu yang temaram. Sepi hanya mereka berdua di sini terpisah dari dunia luar sama sekali.
"Lho. kalau mau." kata Antonio.
"Boleh, asal kau menjadi gemuk saja. Aku ingin kau gemuk. Kau terlalu pucat dan kurus."
"Dari muda memang aku tak pernah gemuk, Sasha. Selamanya ya jangkung kurus begini."
"Iya, tapi tambah lama aku lihat wajahmu tambah pucat. Setahun yang lalu nggak sekurus ini kok."
"Mungkin anemiku sedikit lebih parah sekarang."
"Kau Sudah ke dokter?"
"Ah, nggak apa-apa. Aku tahu, pasti nanti dokter berkata aku terlalu lelah, butuh istirahat, harus makan banyak persis seperti nasihatmu. Buat apa aku ke sana untuk mendengarkan nasihat yang sama?"
"Mungkin dia bisa memberimu vitamin atau tonikum atau apa."
"Aku paling malas minum obat. Paling banter cuma dua kali, setelah itu obatnya entah aku tinggalkan di mana."
Anastasia tertawa.
"Omong-omong, apa sih kesibukanmu Sore hari setelah pulang dari kerja?" tanya gadis itu melihat seputar ruangan yang sepi.
"Dulu sebelum ada kau, aku selalu membawa pulang pekerjaan administrasi. Sekarang sejak semuanya kau yang mengerjakan, aku menganggur. Ya kadang-kadang aku nonton TV kalau tidak malas, atau membaca, atau keluar mendatangi satu-dua temanku. Tapi yang lebih sering kukerjakan itu tidur," seringai Antonio.
"Capek."
"Katamu jarang makan di rumah? Berarti setiap hari kau pasti keluar mencari makan dong?"
"Maksudku, jarang makan masakan rumah. Si Hasan yang kusuruh keluar untuk membelikan. Lebih mudah baginya dan lebih enak juga bagiku."
"Kau nggak merasa kesepian hidup sendiri begini? Atau kau melewatkan waktumu juga dengan mengobrol bersama si Hasan?"
"Hasan biasanya sudah langsung tidur setelah aku makan, atau dia pamit pergi bersama teman-temannya. Jarang kami ngobrol lama-lama."
"Jadi nggak kesepian?"
"Akhirnya manusia harus belajar berteman dengan kesepian juga," kata Antonio.
"Kesepian bukan sesuatu yang menakutkan. Dalam kesepian justru manusia bisa menemukan dirinya sendiri. Kesepian itu akan menjadi teman kita kalau kita izinkan"
"Kau harus mengajarkan hal itu kepadaku," kata Anastasia.
"Walaupun aku tinggal di rumah Emi yang berpenghuni empat orang lagi di samping diriku, setiap malam aku merasa kesepian sekali. Aku merasa hampa, terombang-ambing, tidak tahu untuk apa aku hidup."
Mereka sekarang pindah duduk di kamar tamu sementara Hasan menutup meja.
"Perasaan itu tidak bisa diajarkan, Sasha. Perasaan itu timbul dengan sendirinya dari pengalaman. Bila pengalamanmu cukup dalam hal itu, perasaan itu datang dengan sendirinya," Antonio tersenyum.
"Mau mendengarkan musik? Aku punya beberapa kaset yang enak."
"Boleh, tapi biasanya aku terus mengantuk kalau mendengarkan musik, apalagi setelah makan," kata Anastasia.
"Mengantuk ya tidur, jangan ditahan. Semua panggilan alam sebaiknya dituruti, jangan dilawan. Naluri sering kali lebih benar daripada hasil pemikiran manusia."
"Masa aku tidur di sini?" gelak Anastasia.
"Nggak apa-apa, aku tak akan mengganggumu. Nanti kalau kantukmu sudah terpenuhi, kau kan bangun sendiri," kata Antonio menyetel musik.
Mereka duduk berdampingan di atas sofa yang panjang. Antonio di satu ujung bertelekan pada sandaran lengan sofa, Anastasia di ujung lainnya. Tidak ada yang bersuara hanya alunan musik yang lembut dan suara berat seorang penyanyi negro perempuan yang menyenai lamunan mereka. Anastasia berpaling, dilihatnya mata Antonio terpejam, wajahnya tenang dan rileks. Garis-garis kelelahan tak tampak lagi. Apakah itu hanya karena sinar lampu yang lembut atau memang suara si penyanyi itu yang bisa menghilangkan ketegangan dari wajahnya? Anastasia mengawasi lama. Profil Antonio tak pernah tampak sebagus ini sebelumnya hidungnya mancung, warisan nenek moyangnya yang berdarah Eropa alisnya hitam tebal, melindungi sepasang mata yang tajam yang sekarang terpejam bibirnya adalah bibir yang sensitif, agak tebal di bagian bawah, bagian atasnya peka dan sensual dagunya tercukur licin, tapi karena pada dasarnya Antonio berbulu banyak, dagu itu berwarna kebiru-biruan, sama dengan bagian atas bibirnya sangat jantan.
Anastasia mengamatinya lekat-lekat. Bahu Antonio ternyata lebih lebar dari yang disangkanya. Hanya saja karena dia berperawakan kurus maka tampaknya bahu itu kurang terisi. Seandainya lebih gemuk, tentunya dia sangat gagah karena dia sudah mempunyai rangka yang bagus bahu yang lebar dan kaki yang panjang, pikir Anastasia membuat penilaian secara profesional. Sejak dia terlibat juga dalam memilih peragawan-peragawati untuk pengambilan gambar tertentu, dia pun terbiasa membuat penilaian atas fisik model-modelnya secara profesional. Sayang Antonio terlalu kurus. Mungkin karena tidak ada yang memperhatikan makanannya, pikir Anastasia. Kasihan dia, terlantar.
Memikir demikian hatinya terasa trenyuh. Antonio begitu baik, tapi tidak ada yang menghargai kebaikannya. Tidak ada yang menyambutnya dengan gembira kalau dia pulang, tidak ada yang merawatnya kalau dia sakit, tidak ada yang betul-betul mempedulikan apakah dia senang atau susah. Lebih lanjut lagi Anastasia teringat akan katakata Antonio tempo hari bahwa dia mencintainya! Cinta yang begitu tulus, cinta yang tidak menuntut pembalasan, cinta yang tidak memaksakan apa-apa. Dia mencinta hanya sekadar untuk mencinta, tidak ada motif apa-apa di baliknya. Sekian lamanya telah lewat sejak dia mengutarakan isi hatinya kepada Anastasia, tapi selama ini sikapnya tetap tidak berubah. Dia tetap seperti seorang teman baik yang tidak menimbulkan perasaan tidak enak atau khawatir gadis itu setiap berada di sisinya.
Aku bisa bahagia dengan laki-laki seperti ini, pikir Anastasia. Matanya terasa panas. Aku bisa bahagia dengannya. Dia tidak terlalu menuntut apa yang mungkin tak dapat kuberikan. Bahkan aku rasa dia tidak akan menuntut apa-apa sama sekali. Itu lebih baik bagiku. Aku sudah jera tenggelam lagi dalam emosi yang menghanyutkan, yang meledak-ledak, yang melambung ke angkasa untuk jatuh hancur berkeping-keping. Tidak. Bersama Antonio aku bisa hidup dengan tenang. Kami akan saling memperhatikan, saling mementingkan, saling menyayangi. Mungkin di antara kami tak akan pernah ada emosi yang meledak-ledak, atau rasa cinta yang menyesakkan napas, tapi aku yakin yang ada adalah rasa damai, damai dan aman, serta keyakinan bahwa masa depan kami akan berjalan dengan tertib, teratur, menurut rilnya. Semua ini lebih baik daripada cinta yang menuntut seluruh pengabdian jiwa. Anastasia menggeser duduknya, mengulurkan tangannya untuk menyentuh punggung tangan Antonio yang kiri, yang terletak lemas di atas pangkuannya.
Antonio membuka matanya, tersenyum,
"Kau sudah mengantuk?" tanyanya lembut.
Anastasia menggeleng.
"Kau?" balasnya.
"Aku sedang menikmati alunan suara ini. Kata-katanya sangat indah," kata Antonio.
"Cinta memang indah," kata Anastasia untuk pertama kalinya membuka topik pembicaraan ini.>
"Cinta yang tidak berkobar-kobar, cinta yang tidak menghanguskan, cinta yang mengalir tenang seperti air yang menyejukkan, cinta yang tidak menuntut, cinta yang kokoh... seperti... seperti cintamu padaku."
Antonio sedikit terkejut. Perkembangan yang di luar dugaannya. Dia memandang gadis itu dengan lebih seksama.
"Aku ingin tenggelam dalam cinta yang demikian, Antonio," bisik Anastasia.
Antonio meraih gadis itu ke dalam pelukannya persis seperti ketika dia histeris dulu dan mengusap-usap rambutnya. Anastasia membiarkan dirinya dibelai, merasakan hangatnya kasih sayang yang menyelinap ke dalam hatinya, menikmati rasa bahagia yang membungakan perasaannya. Dan dia yakin kali ini pilihannya tidaklah salah. Kali ini dia akan bahagia! Kali ini dia akan meraih bintang bersama lelaki jangkung di sisinya ini. Mereka tidak berkata apa-apa beberapa saat lamanya. Kata-kata tak diperlukan lagi jika dua hati telah menemukan bahasa yang lebih bagus daripada kata-kata. Anastasia menyandarkan kepalanya di dada Antonio yang memeluknya dengan penuh rasa sayang.
Kaset berhenti bersuara tapi untuk beberapa waktu lamanya baik Anastasia maupun Antonio seakan-akan tidak menyadari keheningan ini. Mereka tenggelam dalam dunianya sendiri, dunia yang sekarang mereka bagi bersama. Ketika lonceng besar di ujung ruang itu berdentang dua belas kali, mereka baru sadar.
"Sudah malam," bisik Antonio.
"Yuk, kuantarkan pulang."
"Malam ini aku tidak pulang, Antonio," kata Anastasia.
"Aku ingin tetap bersamamu di sini."
Antonio tersenyum.
"Aku pun ingin kau selamanya bersamaku. Tapi waktu kita masih banyak. Kalau malam ini kau tidak pulang, kasihan temanmu Emi, nanti dia khawatir kau diculik sopir taksi."
Anastasia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Antonio memang benar. Emi pasti menunggunya. Kasihan. Sayang rumah Emi belum punya sambungan telepon.
"Ayo, aku antar pulang," kata Antonio sudah berdiri.
"Kau lelah, biar aku pulang dengan taksi saja."
"Taksi sudah sepi pada jam-jam ini. Dan aku tidak selelah itu, Sasha. Malam ini tiba-tiba aku merasa bersemangat sekali," senyumnya.
"Cinta adalah obat penghapus lelah yang paling mujarab, kau tahu?"
Mereka tertawa.
"Aku akan memberi tahu Emi bahwa sekarang aku telah menemukan pelabuhan untuk hatiku. Aku harus berterima kasih padanya. Dialah yang mempertemukan kita."
"Aku juga," kata Antonio.
"Bagaimana kalau dia dan suaminya kita undang makan bersama untuk merayakan kebahagiaan ini?"
"Mereka tentu senang."
"Ayo kalau begitu, kita berangkat sekarang," kata Antonio menghadiahkan sebuah ciuman di bibir gadis itu-ciuman pertama yang ringan dan halus.
Ya, Tuhan, aku mendapat kesempatan yang kedua, pikir Anastasia. Aku masih bisa berbahagia bersama laki-laki ini. Alangkah bersyukurnya! Alangkah berterima kasihnya aku! Dan kali ini aku tak akan membuat kesalahan! Kali ini hubungan kami akan kekal abadi sampai kami menjadi kaki dan nini!
Tetapi Anastasia tidak tahu bahwa detik itu iuga kebahagiaanya sudah terancam!
"AKU akan kehilangan dirimu," kata Emi.
"Sudah tiga tahun lebih kita tinggal bersama-sama. Aku akan kesepian lagi begitu kau angkat kaki dari sini."
"Tapi aku kan nggak pergi jauh-jauh, Em. Aku akan sering mengunjungimu, aku berjanji," senyum Anastasia.
Hari ini dia tidak masuk bekerja. Emi yang sedang hamil anaknya yang kedua merasa kurang sehat sehingga Anastasia menemaninya di rumah. Sebetulnya bukan karena Emi tidak bisa bangun sendiri atau harus dilayani setiap saat maka Anastasia terpaksa tinggal di rumah, tetapi Anastasia sendirilah yang ingin melewatkan lebih banyak waktu lagi dengan sahabatnya ini mengingat saatnya tinggal di rumah Emi sudah cuma sisa beberapa minggu lagi. Anastasia dan Antonio merencanakan perkawinan dilangsungkan bulan depan setelah orang tua Anastasia mendapat tanggal yang tepat.
"Aku tidak mengira kau akan jatuh hati pada Antonio," kata Emi.
"Ketika aku membawamu ke Madona sama sekali tak pernah terbersit dalam pikiranku bahwa aku menjodohkan kalian. Malah sebetulnya aku berharap kau menjadi adik iparku, Run. Sayang kau tidak menaruh minat pada adik Mas Luth."
"Antonio adalah laki-laki yang sangat baik, Em. Kau sendiri pernah bilang begitu padaku."
"Iya, dia sangat baik, tapi... tapi apakah... apakah dia tidak terlalu tua untukmu, Run?"
"Antonio baru melewati ulang tahunnya yang keempat puluh tiga, Em. Kan masih muda!"
"Dan kau baru berusia dua puluh enam!" sahut temannya yang tidak terbiasa memanggilnya dengan nama barunya.
"Terus kenapa? Aku juga sudah cukup dewasa, kan?"
"Kau cenderung suka pada laki-laki yang lebih tua, ya?"
"Barangkali," senyum Anastasia.
"Aku tidak mempermasalahkan apakah dia lebih tua atau muda. Yang penting aku senang pribadinya."
"Pada usia segitu rasanya terlalu tua baginya untuk menjadi bapak. Apa nggak?" tanya Emi.
"Kau tentunya menghendaki anakanak meramaikan rumah tanggamu, bukan?"
Anastasia mengangguk..."Tentu saja aku menginginkan anak-anak. Kau kira Antonio sudah nggak sanggup melakukannya?" dia tergelak.
"Dia masih penuh vitalitas, lho!"
"Bukan tidak sanggup melakukannya," Emi terkikik juga,
"tapi coba bayangkan kalau pada usia empat puluh empat atau empat puluh lima nanti baru dia menggendong anaknya yang pertama. Anaknya umur lima belas dia sudah enam puluh lebih! Kan seperti kakeknya!"
"Nggak apa-apa, kan? Mungkin dengan punya anak yang masih kecil, proses menuanya juga lebih lamban. Pada usia enam puluh tahun dia masih seperti laki-laki yang berusia empat puluh lima!"
"Ay, mana ada!" kata Emi.
"Sekarang saja dia kelihatan lebih muda dari usianya. Antonio kan masih seperti orang umur tiga puluhan masih pakai jeans, badannya masih ramping dan tegap, gayanya masih seperti anakanak muda. Siapa tahu berapa usia sebenarnya!"
"Iya, kalau potongannya sih memang tidak seperti oom-oom yang buncit perutnya," kata Emi.
"Namanya dia sendiri bekas peragawan juga, tentunya dia juga menjaga penampilannya. Tapi usianya kan nggak bisa dikurangi!"
"Yang penting kan jiwanya, Em! Kalau dia masih merasa seperti tiga puluhan, ya semangatnya masih tiga puluhan. Aku nggak khawatir," gelak Anastasia.
"Mungkin aku sendiri saja yang terlalu khawatir," kata Emi.
"Kau tahu, aku merasa bertanggung jawab lho karena aku yang memperkenalkan kalian. Kalau terjadi apa-apa dalam perkawinan ini, kan aku juga berdosa, Run!"
"Kau sama sekali tidak berdosa, Em. Kau justru adalah malaikat yang telah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Kalau tidak ada kau, mungkin hari ini aku sudah lama mati."
"Orang tuamu setuju dengan perkawinan ini, Run?" tanya Emi.
"Setuju. Bapak terutama sangat senang dengan Antonio. Katanya dia seorang laki-laki yang baik, pasti akan menjadi suami yang bertanggung jawab, bisa momong aku pula."
"Dia tinggal di rumahmu waktu ke Surabaya minggu lalu, atau menginap di hotel?"
"Nginap di rumahku, Em. Kan ada kamar kosong satu."
"Malam-malam kau tidak curi-curi ke kamarnya?" tanya Emi ngikik.
"Maunya sih begitu juga, tapi kamarnya dikunci dari dalam," kata Anastasia jenaka.
"Kata Antonio, takut nanti pembantuku yang nyelonong salah masuk kamar!"
Mereka terbahak.
"Lalu kapan nih tanggal penentuannya? Orang tuamu minta tanggal berapa?"
"Wah, itu! Ibu masih konsultasi sama sanak keluarga yang lain, mencari hari baik, katanya. Hari kan semuanya baik, tapi maklumlah orang kuno. Nanti kalau tidak dituruti katanya tidak berbakti, kualat, dan sebagainya. Ya aku turuti saja. Antonio juga tidak berkeberatan. Tanggal apa pun boleh, katanya."
"Di mana perkawinan ini akan dilangsungkan? Di Jakarta atau di Surabaya?" tanya Emi.
"Itu pun belum tahu. ibuku maunya di Surabaya. tapi Antonio dan aku sendiri lebih cenderung di sini saja. Kan di sini ini teman-temannya dan relasinya. Mungkin kami akan berkompromi, akadnya di Surabaya, pestanya di sini," kata Anastasia.
"Pakai pesta besar segala, Run?"
"Bukan pesta besar, ala kadarnya saja. Antonio menghendaki suatu acara yang bisa kami ingat seumur hidup."
"Lalu setelah kau menjadi Nyonya Anastasia Castillo, apakah kau masih akan terus bekerja?"
"Iya, dong! Aku senang sekali bidang pekerjaan ini. Lagi pula biar Antonio bisa beristirahat. Aku lihat dia tambah hari tambah pucat dan kurus. Kasihan, makannya nggak ada yang ngurus, tapi kalau nanti sudah menjadi suamiku akan aku pelihara betul-betul deh, supaya menjadi gemuk."
"Sudah kau ajak dia ke dokter? Rasanya memang benar. Run. dia tampak kurus sekali."
"Dia nggak mau diajak ke dokter, katanya paling-paling dokter akan mengatakan hal yang sama lagi, bahwa dia kurang darah dan terlalu lelah. Katanya memang sudah lama dia agak anemis. Makanannya juga kurang diperhatikan dan dia juga kurang istirahat. Apalagi sekarang, menghadapi hari perkawinan kami dia sibuk sekali, mana yang membetulkan rumah dan lain-lain, sehingga selera makannya terus menurun."
"Kasihan juga. Kau harus baik-baik menjaganya, Run."
"Aku tahu. Aku juga ingin melihatnya sehat dan gemuk. Sebetulnya perawakannya gagah, lho, Em bahunya lebar, dadanya bidang, cuma dagingnya saja yang akhir-akhir ini menyusut. Aku bertekad dalam enam bulan aku harus bisa membuatnya bertambah gemuk walaupun aku harus memaksanya makan enam kali sehari untuk mengejar ketinggalannya."
"Kau sudah membuat persiapan apa saja, Run?" tanya Emi.
"Sudah beli perabotan baru atau apa?"
"Nggak. Perabotan di rumah Antonio sudah bagus-bagus. Aku senang seleranya mendekor rumahnya."
"Pengantin baru kan harus memakai barang-barang baru. Nggak enak kan kalau kau harus tidur di tempat tidur bekas istrinya dulu!"
"Istrinya nggak pernah tidur di rumah itu, lagi pula dia sudah cerai sepuluh tahun yang lalu. Seandainya betul istrinya pernah tidur di sana, kasur yang lama pun tentunya sudah diganti. Dari pada membeli perabotan baru, aku lebih senang apabila dia mengembangkan Madona saja dengan uang itu"..
Bel pintu depan berdenting.
"Eh, ada tamu," kata Emi.
"Tolong lihatkan siapa, Run!"
Anastasia bergegas keluar. Ternyata yang datang adalah Cici, salah seorang model Madona.
"Ada apa, Ci?" tanyaAnastasia.
"Mencari aku atau Emi?"
Semua gadis model Madona sudah tahu bahwa dalam waktu dekat Anastasia akan menjadi istri bos mereka, tapi karena sikap ramah Anastasia tidak berubah, mereka juga masih memperlakukannya seperti dulu.
"An, Antonio pingsan! Kami sampai kalang kabut!"
"Pingsan?" Darah Anastasia mendesir naik ke kepalanya.
"Iya. Waktu ngomong-ngomong sama seorang klien tiba-tiba pingsan."
"Astaga! Lalu sekarang di mana?"
"Di bawa anak-anak ke rumah sakit. Aku disuruh menjemputmu kemari."
"Ya, ampun! Kalau begitu aku segera menyusul. Naik mobilmu saja. Kau tunggu, ya!" Anastasia berlarian dengan gugup ke dalam.
"Ada apa?" tanya Emi dari atas tempat tidurnya.
"Siapa yang datang?"
"Antonio pingsan! Sekarang ada di rumah sakit. Aku menyusul ke sana, Em!"
"Pingsan? Kenapa pingsan?"
"Nggak tahu!" Dan tanpa menunggu lama lagi Anastasia segera kabur.
Bau antiseptik ruang tunggu rumah sakit ini sangat menusuk hidung. Anastasia berjalan mondar-mandir di ruang itu. Rasa khawatir dan cemas memenuhi hatinya. Dia belum bertemu dengan Antonio yang masih ditangani dokter-dokter. Untung dokter dokter di rumah sakit ini cekatan dan tidak membiarkan pasien tergeletak tak berdaya selama berjam-jam tanpa diperhatikan. Tiga orang gadis model Madona juga menunggu di sana. Para perawat rumah sakit ada yang berbisik-bisik. Rupanya laki-laki tampan itu punya koleksi empat istri habis yang menunggu dengan gelisah semuanya perempuan muda yang cantik. Anehnya kok mereka tidak saling mencakar, ya? Begitu cekikik beberapa orang perawat.
Anastasia merasa seakan-akan harus menunggu berabad-abad sebelum seorang dokter yang berkaca mata keluar.
"Mana keluarga Saudara Antonio Castillo?" tanyanya.
Anastasia segera menghampirinya.
"Saya tunanganya. Bagaimana dengan Antonio?" Suaranya penuh kecemasan.
"Dan yang lain-lain ini siapa?"
"Oh, kami karyawannya," kata Maya yang menghapuskan segala keraguan dan spekulasi para perawat.
Dokter itu mengangguk, lalu katanya kepada Anastasia,
"Nona boleh masuk, tapi sebentar saja. Pasien masih lemah. Jangan bertanya macam-macam, biarkan dia beristirahat."
"Dia sakit apa, Dok?" tanya Anastasia.
"Kami akan tahu lebih banyak setelah dia menjalani serangkaian tes. Untuk sementara dia harus tinggal di rumah sakit untuk observasi dulu."
Anastasia masuk dan mendapatkan Antonio terbaring dengan mata terpejam dan wajah pucat. Anastasia mendekat dan mengecup perlahan bibir laki-laki itu. Antonio membuka matanya.
"Hei," bisik Anastasia,
"kau sudah baikan?"
Antonio tersenyum dan meraih tangannya.
"Dokter mengatakan kau tak boleh banyak bercakap. Biar aku saja yang omong, oke?" bisik Anastasia.
Antonio mengucapkan... "Aku cinta padamu" dengan bibirnya tanpa bersuara.
"Akujuga cinta padamu," bisik Anastasia mengusap pipi laki-laki itu.
"Jangan khawatir aku akan merawatmu baik-baik. Apa pun sakitmu, kau akan segera sembuh."
Dokter tadi tiba-tiba sudah muncul di ambang pintu.
"Nona harus memberikan kesempatan pada pasien untuk beristirahat sekarang," katanya.
"Besok Nona boleh datang lagi."
Anastasia mengangguk. Menempelkan dua jari tangannya pada bibirnya sendiri lalu meletakkannya di atas bibir Antonio yang balas menciumnya. Bisiknya,
"Aku pergi dulu. Nanti sore aku akan kembali menengokmu. Kau beristirahatlah yang banyak, Sayang."
Antonio mengangguk dan meniupkan sebuah ciuman kepada gadis itu, laluAnastasia sudah digiring si dokter keluar.
"AKU akan kehilangan dirimu," kata Emi.
"Sudah tiga tahun lebih kita tinggal bersama-sama. Aku akan kesepian lagi begitu kau angkat kaki dari sini."
"Tapi aku kan nggak pergi jauh-jauh, Em. Aku akan sering mengunjungimu, aku berjanji," senyum Anastasia.
Hari ini dia tidak masuk bekerja. Emi yang sedang hamil anaknya yang kedua merasa kurang sehat sehingga Anastasia menemaninya di rumah. Sebetulnya bukan karena Emi tidak bisa bangun sendiri atau harus dilayani setiap saat maka Anastasia terpaksa tinggal di rumah, tetapi Anastasia sendirilah yang ingin melewatkan lebih banyak waktu lagi dengan sahabatnya ini mengingat saatnya tinggal di rumah Emi sudah cuma sisa beberapa minggu lagi. Anastasia dan Antonio merencanakan perkawinan dilangsungkan bulan depan setelah orang tua Anastasia mendapat tanggal yang tepat.
"Aku tidak mengira kau akan jatuh hati pada Antonio," kata Emi.
"Ketika aku membawamu ke Madona sama sekali tak pernah terbersit dalam pikiranku bahwa aku menjodohkan kalian. Malah sebetulnya aku berharap kau menjadi adik iparku, Run. Sayang kau tidak menaruh minat pada adik Mas Luth."
"Antonio adalah laki-laki yang sangat baik, Em. Kau sendiri pernah bilang begitu padaku."
"Iya, dia sangat baik, tapi... tapi apakah... apakah dia tidak terlalu tua untukmu, Run?"
"Antonio baru melewati ulang tahunnya yang keempat puluh tiga, Em. Kan masih muda!"
"Dan kau baru berusia dua puluh enam!" sahut temannya yang tidak terbiasa memanggilnya dengan nama barunya.
"Terus kenapa? Aku juga sudah cukup dewasa, kan?"
"Kau cenderung suka pada laki-laki yang lebih tua, ya?"
"Barangkali," senyum Anastasia.
"Aku tidak mempermasalahkan apakah dia lebih tua atau muda. Yang penting aku senang pribadinya."
"Pada usia segitu rasanya terlalu tua baginya untuk menjadi bapak. Apa nggak?" tanya Emi.
"Kau tentunya menghendaki anakanak meramaikan rumah tanggamu, bukan?"
Anastasia mengangguk..."Tentu saja aku menginginkan anak-anak. Kau kira Antonio sudah nggak sanggup melakukannya?" dia tergelak.
"Dia masih penuh vitalitas, lho!"
"Bukan tidak sanggup melakukannya," Emi terkikik juga,
"tapi coba bayangkan kalau pada usia empat puluh empat atau empat puluh lima nanti baru dia menggendong anaknya yang pertama. Anaknya umur lima belas dia sudah enam puluh lebih! Kan seperti kakeknya!"
"Nggak apa-apa, kan? Mungkin dengan punya anak yang masih kecil, proses menuanya juga lebih lamban. Pada usia enam puluh tahun dia masih seperti laki-laki yang berusia empat puluh lima!"
"Ay, mana ada!" kata Emi.
"Sekarang saja dia kelihatan lebih muda dari usianya. Antonio kan masih seperti orang umur tiga puluhan masih pakai jeans, badannya masih ramping dan tegap, gayanya masih seperti anakanak muda. Siapa tahu berapa usia sebenarnya!"
"Iya, kalau potongannya sih memang tidak seperti oom-oom yang buncit perutnya," kata Emi.
"Namanya dia sendiri bekas peragawan juga, tentunya dia juga menjaga penampilannya. Tapi usianya kan nggak bisa dikurangi!"
"Yang penting kan jiwanya, Em! Kalau dia masih merasa seperti tiga puluhan, ya semangatnya masih tiga puluhan. Aku nggak khawatir," gelak Anastasia.
"Mungkin aku sendiri saja yang terlalu khawatir," kata Emi.
"Kau tahu, aku merasa bertanggung jawab lho karena aku yang memperkenalkan kalian. Kalau terjadi apa-apa dalam perkawinan ini, kan aku juga berdosa, Run!"
"Kau sama sekali tidak berdosa, Em. Kau justru adalah malaikat yang telah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Kalau tidak ada kau, mungkin hari ini aku sudah lama mati."
"Orang tuamu setuju dengan perkawinan ini, Run?" tanya Emi.
"Setuju. Bapak terutama sangat senang dengan Antonio. Katanya dia seorang laki-laki yang baik, pasti akan menjadi suami yang bertanggung jawab, bisa momong aku pula."
"Dia tinggal di rumahmu waktu ke Surabaya minggu lalu, atau menginap di hotel?"
"Nginap di rumahku, Em. Kan ada kamar kosong satu."
"Malam-malam kau tidak curi-curi ke kamarnya?" tanya Emi ngikik.
"Maunya sih begitu juga, tapi kamarnya dikunci dari dalam," kata Anastasia jenaka.
"Kata Antonio, takut nanti pembantuku yang nyelonong salah masuk kamar!"
Mereka terbahak.
"Lalu kapan nih tanggal penentuannya? Orang tuamu minta tanggal berapa?"
"Wah, itu! Ibu masih konsultasi sama sanak keluarga yang lain, mencari hari baik, katanya. Hari kan semuanya baik, tapi maklumlah orang kuno. Nanti kalau tidak dituruti katanya tidak berbakti, kualat, dan sebagainya. Ya aku turuti saja. Antonio juga tidak berkeberatan. Tanggal apa pun boleh, katanya."
"Di mana perkawinan ini akan dilangsungkan? Di Jakarta atau di Surabaya?" tanya Emi.
"Itu pun belum tahu. ibuku maunya di Surabaya. tapi Antonio dan aku sendiri lebih cenderung di sini saja. Kan di sini ini teman-temannya dan relasinya. Mungkin kami akan berkompromi, akadnya di Surabaya, pestanya di sini," kata Anastasia.
"Pakai pesta besar segala, Run?"
"Bukan pesta besar, ala kadarnya saja. Antonio menghendaki suatu acara yang bisa kami ingat seumur hidup."
"Lalu setelah kau menjadi Nyonya Anastasia Castillo, apakah kau masih akan terus bekerja?"
"Iya, dong! Aku senang sekali bidang pekerjaan ini. Lagi pula biar Antonio bisa beristirahat. Aku lihat dia tambah hari tambah pucat dan kurus. Kasihan, makannya nggak ada yang ngurus, tapi kalau nanti sudah menjadi suamiku akan aku pelihara betul-betul deh, supaya menjadi gemuk."
"Sudah kau ajak dia ke dokter? Rasanya memang benar. Run. dia tampak kurus sekali."
"Dia nggak mau diajak ke dokter, katanya paling-paling dokter akan mengatakan hal yang sama lagi, bahwa dia kurang darah dan terlalu lelah. Katanya memang sudah lama dia agak anemis. Makanannya juga kurang diperhatikan dan dia juga kurang istirahat. Apalagi sekarang, menghadapi hari perkawinan kami dia sibuk sekali, mana yang membetulkan rumah dan lain-lain, sehingga selera makannya terus menurun."
"Kasihan juga. Kau harus baik-baik menjaganya, Run."
"Aku tahu. Aku juga ingin melihatnya sehat dan gemuk. Sebetulnya perawakannya gagah, lho, Em bahunya lebar, dadanya bidang, cuma dagingnya saja yang akhir-akhir ini menyusut. Aku bertekad dalam enam bulan aku harus bisa membuatnya bertambah gemuk walaupun aku harus memaksanya makan enam kali sehari untuk mengejar ketinggalannya."
"Kau sudah membuat persiapan apa saja, Run?" tanya Emi.
"Sudah beli perabotan baru atau apa?"
"Nggak. Perabotan di rumah Antonio sudah bagus-bagus. Aku senang seleranya mendekor rumahnya."
"Pengantin baru kan harus memakai barang-barang baru. Nggak enak kan kalau kau harus tidur di tempat tidur bekas istrinya dulu!"
"Istrinya nggak pernah tidur di rumah itu, lagi pula dia sudah cerai sepuluh tahun yang lalu. Seandainya betul istrinya pernah tidur di sana, kasur yang lama pun tentunya sudah diganti. Dari pada membeli perabotan baru, aku lebih senang apabila dia mengembangkan Madona saja dengan uang itu"..
Bel pintu depan berdenting.
"Eh, ada tamu," kata Emi.
"Tolong lihatkan siapa, Run!"
Anastasia bergegas keluar. Ternyata yang datang adalah Cici, salah seorang model Madona.
"Ada apa, Ci?" tanyaAnastasia.
"Mencari aku atau Emi?"
Semua gadis model Madona sudah tahu bahwa dalam waktu dekat Anastasia akan menjadi istri bos mereka, tapi karena sikap ramah Anastasia tidak berubah, mereka juga masih memperlakukannya seperti dulu.
"An, Antonio pingsan! Kami sampai kalang kabut!"
"Pingsan?" Darah Anastasia mendesir naik ke kepalanya.
"Iya. Waktu ngomong-ngomong sama seorang klien tiba-tiba pingsan."
"Astaga! Lalu sekarang di mana?"
"Di bawa anak-anak ke rumah sakit. Aku disuruh menjemputmu kemari."
"Ya, ampun! Kalau begitu aku segera menyusul. Naik mobilmu saja. Kau tunggu, ya!" Anastasia berlarian dengan gugup ke dalam.
"Ada apa?" tanya Emi dari atas tempat tidurnya.
"Siapa yang datang?"
"Antonio pingsan! Sekarang ada di rumah sakit. Aku menyusul ke sana, Em!"
"Pingsan? Kenapa pingsan?"
"Nggak tahu!" Dan tanpa menunggu lama lagi Anastasia segera kabur.
Bau antiseptik ruang tunggu rumah sakit ini sangat menusuk hidung. Anastasia berjalan mondar-mandir di ruang itu. Rasa khawatir dan cemas memenuhi hatinya. Dia belum bertemu dengan Antonio yang masih ditangani dokter-dokter. Untung dokter dokter di rumah sakit ini cekatan dan tidak membiarkan pasien tergeletak tak berdaya selama berjam-jam tanpa diperhatikan. Tiga orang gadis model Madona juga menunggu di sana. Para perawat rumah sakit ada yang berbisik-bisik. Rupanya laki-laki tampan itu punya koleksi empat istri habis yang menunggu dengan gelisah semuanya perempuan muda yang cantik. Anehnya kok mereka tidak saling mencakar, ya? Begitu cekikik beberapa orang perawat.
Anastasia merasa seakan-akan harus menunggu berabad-abad sebelum seorang dokter yang berkaca mata keluar.
"Mana keluarga Saudara Antonio Castillo?" tanyanya.
Anastasia segera menghampirinya.
"Saya tunanganya. Bagaimana dengan Antonio?" Suaranya penuh kecemasan.
"Dan yang lain-lain ini siapa?"
"Oh, kami karyawannya," kata Maya yang menghapuskan segala keraguan dan spekulasi para perawat.
Dokter itu mengangguk, lalu katanya kepada Anastasia,
"Nona boleh masuk, tapi sebentar saja. Pasien masih lemah. Jangan bertanya macam-macam, biarkan dia beristirahat."
"Dia sakit apa, Dok?" tanya Anastasia.
"Kami akan tahu lebih banyak setelah dia menjalani serangkaian tes. Untuk sementara dia harus tinggal di rumah sakit untuk observasi dulu."
Anastasia masuk dan mendapatkan Antonio terbaring dengan mata terpejam dan wajah pucat. Anastasia mendekat dan mengecup perlahan bibir laki-laki itu. Antonio membuka matanya.
"Hei," bisik Anastasia,
"kau sudah baikan?"
Antonio tersenyum dan meraih tangannya.
"Dokter mengatakan kau tak boleh banyak bercakap. Biar aku saja yang omong, oke?" bisik Anastasia.
Antonio mengucapkan... "Aku cinta padamu" dengan bibirnya tanpa bersuara.
"Akujuga cinta padamu," bisik Anastasia mengusap pipi laki-laki itu.
"Jangan khawatir aku akan merawatmu baik-baik. Apa pun sakitmu, kau akan segera sembuh."
Dokter tadi tiba-tiba sudah muncul di ambang pintu.
"Nona harus memberikan kesempatan pada pasien untuk beristirahat sekarang," katanya.
"Besok Nona boleh datang lagi."
Anastasia mengangguk. Menempelkan dua jari tangannya pada bibirnya sendiri lalu meletakkannya di atas bibir Antonio yang balas menciumnya. Bisiknya,
"Aku pergi dulu. Nanti sore aku akan kembali menengokmu. Kau beristirahatlah yang banyak, Sayang."
Antonio mengangguk dan meniupkan sebuah ciuman kepada gadis itu, laluAnastasia sudah digiring si dokter keluar.
Seminggu kemudian Antonio diperbolehkan pulang. Anastasia yang datang menjemputnya merasa gembira melihat warna mukanya lebih merah dan lebih sehat.
"Kau sudah kuat untuk berjalan sendiri?" tanyanya berkelakar.
"Kalau tidak, biar kugendong."
Antonio mencubit hidung gadis itu.
"Aku sudah sehat dan kuat sekarang, bahkan aku yang akan menggendongmu!"
Mereka terbahak...Di dalam taksi Antonio berkata,
"Kau terpaksa akan kutinggalkan beberapa waktu lamanya."
"Oh, mengapa?" tanya Anastasia.
"Aku belum sempat menceritakan kepadamu sebelum aku sakit. Ada undangan untuk menghadiri eksposisi di Jepang."
"Hm dan kau akan pergi?"
"Iya, ini kesempatan bagus buat biro model kita. Kalau kita beruntung, kita akan terpilih untuk mewakili seorang perancang terkenal Jepang mempromosikan busana-busana ciptaannya di Jakarta. Itu suatu kontrak yang bernilai jutaan."
"Lalu aku?"
"Kau terpaksa harus menunggu rumah di sini. Madona kan tidak bisa dibiarkan kosong, apalagi sekarang bisnis kita terus ramai. Minggu depan jadwal pengambilan gambar juga padat. Kau ingat, kan, kita baru teken kontrak dengan majalah wanita itu untuk mengisi rubrik ,busananya."
"Betul, shooting-nya mulai minggu depan kalau tidak salah."
"Tidak salah," kata Antonio menyeringai.
"Sayang, aku tidak bisa ikut ke Jepang," kata Anastasia.
"Itu merupakan bulan madu yang indah."
"Kan masih ada kesempatan lain. Lagi pula kali ini aku pergi bukan untuk jalan-jalan. Aku akan sangat sibuk."
"Kau harus sembuh dulu, jangan terlalu lelah lagi," Anastasia mengingatkan.
"Tidak, Sasha. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Sekarang aku ada kau yang harus kuperhitungkan, bukan?"
"Asal kau tidak lupa saja. Biasanya kau lupa kalau sudah antusias bekerja."
"Aku tidak akan lupa. Aku akan ingat kau setiap saat."
"Kapan kau berangkat?"
"Aku harap minggu depan, begitu paspor dan visaku selesai."
"Lalu berapa lamanya kau tinggal di sana?"
Antonio mengernyitkan dahinya.
"Aku belum tahu sekarang, paling sedikit dua atau tiga minggu. Sayang kan jauh-jauh sampai ke sana tidak memanfaatkan semua kesempatan. Aku akan memberi kabar padamu kalau sudah tahu."
"Lho, jangan terlalu lama! Dua minggu lagi kan Tahun Baru, aku ingin merayakannya bersamamu. Lagi pula bagaimana dengan rencana perkawinan kita?"
Antonio memandang mata gadis itu dalam-dalam.
"Kau tahu bahwa aku ingin sekali kawin denganmu lebih dari pada apa pun yang ada di dunia ini, Sasha. Tapi kontrak ini adalah untuk masa depan kita. Kalau aku bisa memperolehnya, usaha kita akan semakin berkembang. Untuk itu kalau perlu kau tentunya tidak berkeberatan menunda hari perkawinan dulu. bukan?Apalagi sampai sekarang orang tuamu masih belum menemukan tanggal yang bisa disetujui semua pihak. Sambil menunggu, aku tak ingin melewatkan kesempatan ini."
Anastasia terdiam. Benar juga. Ibunya masih belum sepakat mengenai tanggal perkawinannya. Sementara menunggu kalau memang ada kesempatan mengembangkan usaha, mengapa tidak?
"Sasha, kau tidak berkecil hati kalau harus menunda hari perkawinan kita, bukan?" bisik Antonio.
Anastasia tersenyum.
"Seandainya aku tidak yakin kau begitu mencintai aku, aku pasti merasa curiga dengan tekadmu mau berangkat ke Jepang ini." kata gadis itu.
"Kau bukannya ingin melarikan diri dariku, toh?"
"Sasha! Aku tidak melarikan, diri darimu.
HAMPIR empat bulan lamanya Antonio menghilang ke Jepang. Anastasia merasa heran apa yang dikerjakannya begitu lama di sana. Surat-surat Antonio memang datang dengan teratur dan selalu berisikan cerita yang menarik tapi itu tidak cukup! Eksposisi sudah lama berakhir. Antonio juga sudah memberi kabar bahwa kontrak yang diharapkannya ternyata dimenangkan oleh pengusaha dari Singapura yang mempunyai serangkaian toserba. Kalau begitu apa lagi yang membuatnya berlama-lama di sana? Antonio mengatakan bahwa dia memakai kesempatan itu untuk mengunjungi berbagai rumah mode di Jepang, mencari bahan untuk studi perbandingan sambil menghubungi perancang-perancang mode yang lain untuk menjalin kemungkinan kerja sama di Indonesia. Dan di dalam setiap suratnya Antonio pasti memberikan ide-ide baru bagaimana Madona bisa melangkah lebih jauh.
Dan hari ini akhirnya Antonio akan kembali ke tanah air. Anastasia sudah sejak tadi merasa gelisah menantikan jam kedatangannya. Sekarang menunggu di lapangan udara Jakarta, Anastasia merasa bahwa saraf-sarafnya menegang. Pesawat yang ditumpangi Antonio akhirnya mendarat juga dengan selamat. Disongsongnya calon suaminya dengan mesra. Antonio berwajah ceria, pipinya agak merah, rambutnya sedikit awut-awutan terkena angin tapi secara keseluruhan dia masih Antonio yang lama laki-laki yang dicintainya. Selama kepergiannya Anastasia punya banyak waktu untuk merenung. Perpisahan ini membuatnya sadar bahwa laki-laki ini betul-betul dicintainya, lebih dari pada yang disangkanya. Laki-laki ini telah berhasil mengisi kekosongan hatinya, menyembuhkan Iuka-luka dan retak-retak jiwanya, dan mengembalikan kepribadiannya dan rasa percaya dirinya.
Antonio mendaratkan sebuah kecupan ringan di dahi Anastasia.
"Kau cantik, Sasha," bisiknya.
"Dan aku rindu Sekali padamu."
"Aku sudah mulai ragu-ragu apakah kau betul-betul masih ingat padaku," senyum Anastasia.
"Aku juga sangat merindukanmu. Aku bahkan sempat takut kehilangan dirimu." Anastasia memeluknya, Lalu mereka berjalan ke tempat parkir mobil.
"Kau sudah bisa mengemudikan mobil sendiri?" tanya Antonio heran. Biasanya Anastasia selalu naik taksi.
"Selama kau pergi aku harus mengerjakan sesuatu yang konstruktif supaya tidak gila memikirkanmu," kata gadis itu tertawa.
"Mobilmu tidak ada yang pakai, jadi aku pikir alangkah tololnya aku harus membayar taksi ke mana-mana padahal ada mobil yang menganggur. Jadi aku ikut kursus dan berhasil memperoleh SIM."
"Itu bagus. Semakin lama kau semakin mandiri. Aku senang."
"Laki-laki kan biasanya lebih senang istri yang manja, Antonio," kata Anastasia.
"Istri yang mengandalkan mereka dalam segala hal. Itu membuat mereka merasa besar dan berkuasa, toh?"
"Itu laki-laki yang egois. Aku menghendaki kau mandiri. Aku menghendaki kau tangguh dan mantap menjalani kehidupan ini sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Orang lain tak selamanya bisa mendampingi dirimu. Yang harus kau andalkan adalah dirimu sendiri. Kau harus menjadi perempuan yang serba bisa. Dengan demikian kau tidak akan pernah guncang karena kehilangan pegangan."
"Aku ada kau, aku tidak khawatir."
Anastasia memacu kendaraannya di jalan yang tidak begitu ramai, memamerkan kebolehannya mengemudikan mobil.
"Kau sudah cukup mahir," senyum Antonio.
"Sudah lulus menjadi sopir taksi."
Mereka tergelak.
Setiba dirumah Antonio, Anastasia membantunya menurunkan kopor, lalu mereka masuk.
"Aku sudah menyiapkan makanan untukmu," kata Anastasia yang selama empat bulan ini terbiasa keluar-masuk rumah Antonio seperti rumahnya sendiri. Hasan si pembantu Antonio pun sudah terbiasa melihatnya. Dengan cepat pemuda itu bisa menyesuaikan diri dengan perangai calon majikan barunya.
"Bagus! Aku pun sudah lapar!"
Sehabis makan mereka duduk-duduk diruang tamu. Seperti biasa Antonio menyetel tape recorder.
"Kau tidak lelah?" bisik Anastasia.
"Kalau lelah tidur saja dulu. Besok masih ada waktu untuk omong-omong."
"Di pesawat aku sudah tidur," kata Antonio.
"Aku ingin omong-omong denganmu, sudah lama nggak ketemu, kangen!"
Anastasia duduk merapat, membenamkan kepalanya di dada laki-laki itu seperti yang sering dilakukannya. Antonio membelai punggungnya.
"Ibu sudah menentukan tanggal," kata Anastasia.
"Hm, kapan?"
"Dua minggu lagi."
"Dua minggu lagi? Antonio sedikit terperanjat.
"Kok begitu mendesak?"
"Lho, kan sudah lama mereka mencari tanggal, Tonio. Sebetulnya mereka sudah membuat pilihan untuk bulan yang lalu, tapi kau belum pulang, karena itu bulan ini mereka memilih tanggal dua puluh satu."
"Di mana rencananya?"
"Akad di Surabaya, pestanya di sini."
"Pesta di Jakarta butuh persiapan yang agak lama, Sasha. Dalam dua minggu mana selesai! Mencetak undangan saja makan waktu, belum mengirimnya dan lain-lain!"
"Kita nggak usah pesta besar, kan? Cuma di antara teman saja lho, pakai saja undangan yang biasa-biasa saja."
"Iya, tapi kita juga harus menyewa tempat. Kalau tidak jauh-jauh pesan tempat, kita nggak bakalan dapat."
"Ah, tempat ala kadarnya juga boleh, di restoran apa sajalah."
"Kau tidak ingin pakai upacara lengkap? Pakai pakaian pengantin?"
"Aku meniru Emi saja, uangnya biar untuk mengembangkan usaha kita."
Antonio tersenyum.
"Tapi aku ingin melihatmu memakai gaun pengantin yang indah. Kita jangan tergesa-gesa. Kita buat peristiwa ini peristiwa yang terindah dalam hidup kita. Lama sedikit tak mengapa asal persiapannya matang, kan?"
"Lho, nanti Ibu harus memilih hari lagi," kata Anastasia.
"Kau tahu sendiri berapa lamanya Ibu memilih."
"Aku ingin perkawinan ini berkesan buat kita, sesuatu yang bisa kita ceritakan pada anak-cucu kita setengah abad lagi. Segalanya harus bagus. Tertunda sedikit tidak apa asal bisa dilaksanakan dengan sempurna."
"Biayanya terlalu mahal, Tonio, dan kita tidak membutuhkan acara seperti itu. Yang penting kita saling mencintai, kita berjanji untuk mencintai seumur hidup."
"Kau tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu, Sasha," bisik Antonio.
"Aku juga. Dan malam ini aku sudah bilang pada Emi aku tidak pulang. Malam ini aku akan menemanimu di sini."
Antonio mengangkat kedua alisnya.
"Oh? Kau mau memperkosaku?" kelakarnya.
"Barangkali," senyum Anastasia,
"kalau kau tidak memulainya dulu."
~ ~ ~💔💋💘💋💔~ ~ ~
~ ~ ~💔💋💘💋💔~ ~ ~
Hingga pada akhirnya mautpun memisahkan mereka sebelas bulan kemudian....Antonio Castillo menghembuskan napasnya yang terakhir dalam pelukan istrinya dua hari setelah ulang tahun Anastasia yang kedua puluh delapan..Tiga bulan yang terakhir dari hidupnya, Antonio hanya tinggal tergolek di pembaringan terlalu lemah untuk berbuat apa pun. Anastasia menemaninya dengan cerita-cerita mengenai kegiatan Madona yang sudah sejak perkawinan mereka sepuluh bulan yang lalu seluruhnya dijalankan oleh Anastasia sendiri. Anastasia berusaha untuk tidak menunjukkan wajah yang sedih di hadapan suaminya. Segala nyeri di hatinya dipendamnya dalam-dalam. Dengan penuh kasih sayang sepasang suami-istri ini menunggu maut yang akan menjemput salah seorang dari mereka. Mereka mencoba untuk saling mengisi, saling mengobati luka masing-masing. Dan pada waktu tiba saatnya bagi mereka untuk mengucapkan kata-kata pemisahan, Antonio mengatupkan matanya dengan tenang, dengan keyakinan bahwa istrinya sudah cukup mandiri untuk bisa melewati pencobaan ini. Anastasia pun melepaskan kepergian suaminya dengan ikhlas, dengan keyakinan bahwa dirinya telah meringankan beban Antonio dan telah membuatnya bisa mereguk sedikit kebahagiaan selama sisa-sisa harinya yang singkat.
Dan sekarang setelah semuanya berlalu setelah perjuangan yang terakhir yang tersisa hanya rumah ini dan isinya, Madona, dan sebuah batu nisan yang menghubungkannya dengan kenangannya akan Antonio. Pada usia genap dua puluh delapan tahun, Anastasia telah menjadi janda.
Tahun-tahun pertama hidup sebagai janda dilewatkannya dengan bekerja keras.Seluruh energinya, konsentrasinya, semangatnya, dicurahkannya ke dalam biro model yang sekarang menjadi miliknya sendiri. Kerja keras mengisi hari-harinya, membuatnya lupa akan penderitaannya, dan membantunya tidur lebih cepat di malam hari di tempat tidurnya yang besar dan kosong yang dulu pernah dihangatkannya bersama Antonio. Anastasia menyembunyikan dirinya dalam kepompong buatannya sendiri. Di luar dia adalah seorang perempuan cantik yang mandiri kepala dan pemilik sebuah biro model yang semakin terkenal di Jakarta seorang figur wanita karier yang sering tampil dalam forum-forum resmi. Tapi sebenarnya dia hanya seorang perempuan yang rapuh di dalam yang seperti seekor burung yang patah sebelah sayapnya, hanya mampu terbang miring-miring dalam kesakitan. Walaupun pada saat menjelang ajalnya dia berusaha meyakinkan Antonio bahwa dia akan sanggup menghadapi kaleidoskop hidup ini seorang diri sepeninggalnya, tapi pada kenyataannya dirinya remuk redam di dalam. Banyak laki-laki yang berusaha mendekatinya -dari yang beritikad luhur sampai yang beritikad cabul dari yang bermaksud menyelamatkannya dari kehidupan yang gersang dan sepi sampai yang hanya bermaksud bisa menikmati tidur semalam dengannya. Tapi mereka semuanya harus kecewa. Janda Antonio Castillo tidak menggubris segala perhatian mereka. Anastasia bersikap dingin dan korek, lugas dan supel. Kalau mereka mau berbicara masalah bisnis, masalah pelayanan yang diberikan oleh biro model Madona, dia menerima kedatangan mereka dengan formalitas seorang bankir dan kesopanan seorang biarawati. Kalau mereka sudah mulai berani menyerempet masalah-masalah yang bersifat pribadi, maka janda muda ini tak segan-segan mematikan langkah mereka pada gebrakan pertama. Dalam waktu yang Singkat Anastasia Castillo terkenal sebagai perempuan bisnis yang berkepala dingin dan berhati batu.
Perlahan tapi pasti Madona berkembang dengan mantap. Akhir dekade tujuh puluh sampai awal tahun-tahun delapan puluhan ditandai oleh melejitnya perekonomian di Indonesia. Dengan sendirinya semakin banyak pula perusahaan yang memakai jasa biro model untuk menyemarakkan pemasaran produk-produk mereka. Dan Anastasia Castillo tahu persis bagaimana caranya memanfaatkan perkembangan situasi. Di samping biro modelnya yang sekarang sudah dipindahnya untuk menempati sebuah bangunan baru di Jalan Cikini Raya bagian pusat kota.. Anastasia menambah sebuah cabang bisnis baru sekolah keperagawatiannya sendiri yang lengkap dengan kursus senam dan fitness centernya. Bisnis senam dan fitness ini ternyata banyak dikeranjingi orang. Perempuan-perempuan yang bergabung di sana untuk membuang keringat dalam hatinya mengharapkan agar mereka juga memperoleh kesempatan diangkat menjadi salah satu gadis model Madona yang punya status sendiri, Uang masuk seperti air yang mengalir deras. Madona merupakan lambang mutu iklan yang terbaik, gadis model yang tercantik sistem senam dan peralatan yang paling mutakhir.
Dan nama Anastasia Castillo menjadi nama yang terkenal walaupun tak banyak orang yang mengenal wajahnya. Sejak kematian Antonio, Anastasia sendiri tak pernah lagi tampil sebagai gadis model, dan setelah usaha Madona semakin maju, dia mampu menggaji seorang manajer profesional untuk menjalankan kegiatan rutin Madona, yang bertugas menemui para klien, yang muncul untuk wawancara, dan sebagainya. Sedangkan Anastasia sendiri tinggal di kamar kerjanya di lantai tiga, terbenam diantara kertas-kertas laporan maupun Sibuk merencanakan suatu aktivitas baru. Hanya staf-staf intinya saja yang berhubungan langsung dengannya.
Rumah bagus dan kesuksesan ternyata tidak dapat mengisi kekosongan hatinya. Setelah bertahun-tahun mempertahankan citranya sebagai perempuan yang tabah dan mandiri, Anastasia akhirnya mendambakan juga kasih sayang. Hatinya merasa haus, haus akan simpati dan perhatian yang tulus, haus akan hubungan yang lebih berstfat pribadi, haus menjadi manusia biasa lagi dan bukan sekadar figur seorang ratu yang tinggal di menara gadingnya yang tinggi..Anastasia memutuskan untuk kembali sementara waktu ke rumah orang tuanya, ke kota kelahirannya yang telah ditinggalkannya hampir empat belas tahun yang lalu. Urusan Madona diserahkannya kepada stafnya yang sekarang sudah pandai dan terampil menangani segala urusan. Anastasia ingin cuti panjang.
Maka pada suatu hari di bulan Mei tibalah Anastasia Castillo di bandara udara Juanda, Kota Surabaya Kali ini kedatangannya bukan hanya untuk kunjungan singkat yang selama ini selalu dilakukannya, melainkan untuk tinggal lebih lama -sampai kapan -Anastasia sendiri pun tidak tahu.
"Kau sudah kuat untuk berjalan sendiri?" tanyanya berkelakar.
"Kalau tidak, biar kugendong."
Antonio mencubit hidung gadis itu.
"Aku sudah sehat dan kuat sekarang, bahkan aku yang akan menggendongmu!"
Mereka terbahak...Di dalam taksi Antonio berkata,
"Kau terpaksa akan kutinggalkan beberapa waktu lamanya."
"Oh, mengapa?" tanya Anastasia.
"Aku belum sempat menceritakan kepadamu sebelum aku sakit. Ada undangan untuk menghadiri eksposisi di Jepang."
"Hm dan kau akan pergi?"
"Iya, ini kesempatan bagus buat biro model kita. Kalau kita beruntung, kita akan terpilih untuk mewakili seorang perancang terkenal Jepang mempromosikan busana-busana ciptaannya di Jakarta. Itu suatu kontrak yang bernilai jutaan."
"Lalu aku?"
"Kau terpaksa harus menunggu rumah di sini. Madona kan tidak bisa dibiarkan kosong, apalagi sekarang bisnis kita terus ramai. Minggu depan jadwal pengambilan gambar juga padat. Kau ingat, kan, kita baru teken kontrak dengan majalah wanita itu untuk mengisi rubrik ,busananya."
"Betul, shooting-nya mulai minggu depan kalau tidak salah."
"Tidak salah," kata Antonio menyeringai.
"Sayang, aku tidak bisa ikut ke Jepang," kata Anastasia.
"Itu merupakan bulan madu yang indah."
"Kan masih ada kesempatan lain. Lagi pula kali ini aku pergi bukan untuk jalan-jalan. Aku akan sangat sibuk."
"Kau harus sembuh dulu, jangan terlalu lelah lagi," Anastasia mengingatkan.
"Tidak, Sasha. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Sekarang aku ada kau yang harus kuperhitungkan, bukan?"
"Asal kau tidak lupa saja. Biasanya kau lupa kalau sudah antusias bekerja."
"Aku tidak akan lupa. Aku akan ingat kau setiap saat."
"Kapan kau berangkat?"
"Aku harap minggu depan, begitu paspor dan visaku selesai."
"Lalu berapa lamanya kau tinggal di sana?"
Antonio mengernyitkan dahinya.
"Aku belum tahu sekarang, paling sedikit dua atau tiga minggu. Sayang kan jauh-jauh sampai ke sana tidak memanfaatkan semua kesempatan. Aku akan memberi kabar padamu kalau sudah tahu."
"Lho, jangan terlalu lama! Dua minggu lagi kan Tahun Baru, aku ingin merayakannya bersamamu. Lagi pula bagaimana dengan rencana perkawinan kita?"
Antonio memandang mata gadis itu dalam-dalam.
"Kau tahu bahwa aku ingin sekali kawin denganmu lebih dari pada apa pun yang ada di dunia ini, Sasha. Tapi kontrak ini adalah untuk masa depan kita. Kalau aku bisa memperolehnya, usaha kita akan semakin berkembang. Untuk itu kalau perlu kau tentunya tidak berkeberatan menunda hari perkawinan dulu. bukan?Apalagi sampai sekarang orang tuamu masih belum menemukan tanggal yang bisa disetujui semua pihak. Sambil menunggu, aku tak ingin melewatkan kesempatan ini."
Anastasia terdiam. Benar juga. Ibunya masih belum sepakat mengenai tanggal perkawinannya. Sementara menunggu kalau memang ada kesempatan mengembangkan usaha, mengapa tidak?
"Sasha, kau tidak berkecil hati kalau harus menunda hari perkawinan kita, bukan?" bisik Antonio.
Anastasia tersenyum.
"Seandainya aku tidak yakin kau begitu mencintai aku, aku pasti merasa curiga dengan tekadmu mau berangkat ke Jepang ini." kata gadis itu.
"Kau bukannya ingin melarikan diri dariku, toh?"
"Sasha! Aku tidak melarikan, diri darimu.
HAMPIR empat bulan lamanya Antonio menghilang ke Jepang. Anastasia merasa heran apa yang dikerjakannya begitu lama di sana. Surat-surat Antonio memang datang dengan teratur dan selalu berisikan cerita yang menarik tapi itu tidak cukup! Eksposisi sudah lama berakhir. Antonio juga sudah memberi kabar bahwa kontrak yang diharapkannya ternyata dimenangkan oleh pengusaha dari Singapura yang mempunyai serangkaian toserba. Kalau begitu apa lagi yang membuatnya berlama-lama di sana? Antonio mengatakan bahwa dia memakai kesempatan itu untuk mengunjungi berbagai rumah mode di Jepang, mencari bahan untuk studi perbandingan sambil menghubungi perancang-perancang mode yang lain untuk menjalin kemungkinan kerja sama di Indonesia. Dan di dalam setiap suratnya Antonio pasti memberikan ide-ide baru bagaimana Madona bisa melangkah lebih jauh.
Dan hari ini akhirnya Antonio akan kembali ke tanah air. Anastasia sudah sejak tadi merasa gelisah menantikan jam kedatangannya. Sekarang menunggu di lapangan udara Jakarta, Anastasia merasa bahwa saraf-sarafnya menegang. Pesawat yang ditumpangi Antonio akhirnya mendarat juga dengan selamat. Disongsongnya calon suaminya dengan mesra. Antonio berwajah ceria, pipinya agak merah, rambutnya sedikit awut-awutan terkena angin tapi secara keseluruhan dia masih Antonio yang lama laki-laki yang dicintainya. Selama kepergiannya Anastasia punya banyak waktu untuk merenung. Perpisahan ini membuatnya sadar bahwa laki-laki ini betul-betul dicintainya, lebih dari pada yang disangkanya. Laki-laki ini telah berhasil mengisi kekosongan hatinya, menyembuhkan Iuka-luka dan retak-retak jiwanya, dan mengembalikan kepribadiannya dan rasa percaya dirinya.
Antonio mendaratkan sebuah kecupan ringan di dahi Anastasia.
"Kau cantik, Sasha," bisiknya.
"Dan aku rindu Sekali padamu."
"Aku sudah mulai ragu-ragu apakah kau betul-betul masih ingat padaku," senyum Anastasia.
"Aku juga sangat merindukanmu. Aku bahkan sempat takut kehilangan dirimu." Anastasia memeluknya, Lalu mereka berjalan ke tempat parkir mobil.
"Kau sudah bisa mengemudikan mobil sendiri?" tanya Antonio heran. Biasanya Anastasia selalu naik taksi.
"Selama kau pergi aku harus mengerjakan sesuatu yang konstruktif supaya tidak gila memikirkanmu," kata gadis itu tertawa.
"Mobilmu tidak ada yang pakai, jadi aku pikir alangkah tololnya aku harus membayar taksi ke mana-mana padahal ada mobil yang menganggur. Jadi aku ikut kursus dan berhasil memperoleh SIM."
"Itu bagus. Semakin lama kau semakin mandiri. Aku senang."
"Laki-laki kan biasanya lebih senang istri yang manja, Antonio," kata Anastasia.
"Istri yang mengandalkan mereka dalam segala hal. Itu membuat mereka merasa besar dan berkuasa, toh?"
"Itu laki-laki yang egois. Aku menghendaki kau mandiri. Aku menghendaki kau tangguh dan mantap menjalani kehidupan ini sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Orang lain tak selamanya bisa mendampingi dirimu. Yang harus kau andalkan adalah dirimu sendiri. Kau harus menjadi perempuan yang serba bisa. Dengan demikian kau tidak akan pernah guncang karena kehilangan pegangan."
"Aku ada kau, aku tidak khawatir."
Anastasia memacu kendaraannya di jalan yang tidak begitu ramai, memamerkan kebolehannya mengemudikan mobil.
"Kau sudah cukup mahir," senyum Antonio.
"Sudah lulus menjadi sopir taksi."
Mereka tergelak.
Setiba dirumah Antonio, Anastasia membantunya menurunkan kopor, lalu mereka masuk.
"Aku sudah menyiapkan makanan untukmu," kata Anastasia yang selama empat bulan ini terbiasa keluar-masuk rumah Antonio seperti rumahnya sendiri. Hasan si pembantu Antonio pun sudah terbiasa melihatnya. Dengan cepat pemuda itu bisa menyesuaikan diri dengan perangai calon majikan barunya.
"Bagus! Aku pun sudah lapar!"
Sehabis makan mereka duduk-duduk diruang tamu. Seperti biasa Antonio menyetel tape recorder.
"Kau tidak lelah?" bisik Anastasia.
"Kalau lelah tidur saja dulu. Besok masih ada waktu untuk omong-omong."
"Di pesawat aku sudah tidur," kata Antonio.
"Aku ingin omong-omong denganmu, sudah lama nggak ketemu, kangen!"
Anastasia duduk merapat, membenamkan kepalanya di dada laki-laki itu seperti yang sering dilakukannya. Antonio membelai punggungnya.
"Ibu sudah menentukan tanggal," kata Anastasia.
"Hm, kapan?"
"Dua minggu lagi."
"Dua minggu lagi? Antonio sedikit terperanjat.
"Kok begitu mendesak?"
"Lho, kan sudah lama mereka mencari tanggal, Tonio. Sebetulnya mereka sudah membuat pilihan untuk bulan yang lalu, tapi kau belum pulang, karena itu bulan ini mereka memilih tanggal dua puluh satu."
"Di mana rencananya?"
"Akad di Surabaya, pestanya di sini."
"Pesta di Jakarta butuh persiapan yang agak lama, Sasha. Dalam dua minggu mana selesai! Mencetak undangan saja makan waktu, belum mengirimnya dan lain-lain!"
"Kita nggak usah pesta besar, kan? Cuma di antara teman saja lho, pakai saja undangan yang biasa-biasa saja."
"Iya, tapi kita juga harus menyewa tempat. Kalau tidak jauh-jauh pesan tempat, kita nggak bakalan dapat."
"Ah, tempat ala kadarnya juga boleh, di restoran apa sajalah."
"Kau tidak ingin pakai upacara lengkap? Pakai pakaian pengantin?"
"Aku meniru Emi saja, uangnya biar untuk mengembangkan usaha kita."
Antonio tersenyum.
"Tapi aku ingin melihatmu memakai gaun pengantin yang indah. Kita jangan tergesa-gesa. Kita buat peristiwa ini peristiwa yang terindah dalam hidup kita. Lama sedikit tak mengapa asal persiapannya matang, kan?"
"Lho, nanti Ibu harus memilih hari lagi," kata Anastasia.
"Kau tahu sendiri berapa lamanya Ibu memilih."
"Aku ingin perkawinan ini berkesan buat kita, sesuatu yang bisa kita ceritakan pada anak-cucu kita setengah abad lagi. Segalanya harus bagus. Tertunda sedikit tidak apa asal bisa dilaksanakan dengan sempurna."
"Biayanya terlalu mahal, Tonio, dan kita tidak membutuhkan acara seperti itu. Yang penting kita saling mencintai, kita berjanji untuk mencintai seumur hidup."
"Kau tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu, Sasha," bisik Antonio.
"Aku juga. Dan malam ini aku sudah bilang pada Emi aku tidak pulang. Malam ini aku akan menemanimu di sini."
Antonio mengangkat kedua alisnya.
"Oh? Kau mau memperkosaku?" kelakarnya.
"Barangkali," senyum Anastasia,
"kalau kau tidak memulainya dulu."
Dua bulan telah berlalu sejak Antonio kembali dari Jepang, namun perkawinan mereka masih belum dilangsungkan. Ada saja hambatannya. Sementara menunggu ibu Anastasia mencari tanggal yang cocok lagi, Antonio malah sempat kembali lagi ke Jepang selama satu minggu dan baru tiba di Jakarta lima hari yang lalu. Anastasia merasa frustrasi. Antonio sendiri tampaknya tidak terlalu giat mengejar orang-orang yang diserahinya untuk mengatur acara tersebut. Selama di Jakarta dia lebih banyak membenamkan waktunya dengan urusan legal perusahaannya. Semua yang dahulu atas namanya, dihibahkan kepada Anastasia.
"Nanti sore kita harus mampir di kantor Pak Bono untuk menandatangani akte yang dibuatnya," kata Antonio mengingatkan Anastasia.
"Duh, ke sana lagi? Aku sudah bosan ke sana, Antonio. Kapan kita ada waktu untuk kita sendiri? Setiap hari waktu kita selalu habis untuk mengurus surat-surat itu."
"Habis prosedurnya memang demikian," senyum Antonio.
Anastasia cemberut.
"Aku heran mengapa kau perlu membuat surat-surat hibah itu! Kalau kita kawin, aku toh istrimu, dengan sendirinya aku ikut memiliki. Nggak perlu semuanya sekarang kau operkan namaku."
"Itu hadiah perkawinanku untukmu, Sasha," kata Antonio.
"Perkawinan? Aku sekarang betul-betul ragu kapan akhirnya kita betul-betul kawin. Masa tertunda terus! Bayangkan, kau memaksa aku untuk membuat gaun pengantin sendiri mencari tukang jahitnya dan memilih modelnya saja menghabiskan waktu begitu lama karena kau selalu merasa tidak cocok. Setelah gaun setengah jadi kau minta modelnya diganti. ditambah ini diberi itu makan waktu lagi! Begitu juga yang namanya undangan. Masa sampai sekarang kita masih belum mendapatkan percetakan yang cocok dengan seleramu? Kita kan cuma mencetakkan undangan, bukan membeli seluruh mesin cetaknya! Nanti aku keburu menjadi nenek-nenek sebelum kita betul-betul jadi kawin!"
Antonio terbahak.
"Aku tidak mengira kau begitu semangat menjadi istriku," katanya.
"Memangnya kau mau mengulur-ulur waktu sampai aku sudah umur enam puluh baru kawin?" Belakangan ini Anastasia merasa sangat tidak tenteram. Sejak kembalinya yang pertama kali dari Jepang, Antonio kadang-kadang bersikap sangat misterius. Sering-sering dia meninggalkan kantor dan menghilang selama beberapa jam tanpa penjelasan. Juga sudah dua kali Anastasia melihat ada surat dari Jepang untuknya dari seorang perempuan yang bernama Setsuko Nagawa. Antonio mengatakan Setsuko adalah seorang perancang mode yang baru timbul dan dikenalnya tatkala dia berada di negara Sakura. Tapi Anastasia tak pernah ditunjuki isi surat-suratnya yang langsung dicabik-cabiknya setiap kali habis dibaca. Yang paling mencurigakan adalah keberangkatan Antonio yang terakhir ke Jepang selama satu minggu dengan alasan yang meragukan, yang terjadi setelah dia menerima surat dari Setsuko Nagawa ini pula! Eh, hari ini tiba pula sepucuk surat express dari Setsuko padahal baru lima hari Antonio pulang dari sana! Kali ini Anastasia bertekad untuk mencari' tahu apa yang telah terjadi di antara calon suaminya dengan perempuan Jepang ini!
"Apa kata temanmu?" tanya Anastasia mengawas bagaimana Antonio mencabik-cabik surat Setsuko dan memasukkannya ke keranjang sampah.
"Oh, tidak apa-apa, biasa cerita tentang keluarganya di sana dan bisnisnya."
"Mengapa begitu cepat kaurobek-robek suratnya?"
"Kalau tidak untuk apa? Masa mau disimpan!" senyum Antonio.
"Sebetulnya aku juga ingin membacanya"
"Alaa, isinya tidak menarik," kata Antonio.
"Kau sekarang aneh, Tonio. Tidak seperti biasanya kau merahasiakan sesuatu dariku." Anastasia semakin cemberut.
"Apakah kau punya affair dengan perempuan ini?"
Antonio terbelalak.
"Aku kira kau tidak bisa cemburu," godanya.
"Aku curiga terus terang saja. Habis, sejak kau ke Jepang rasanya kau selalu menunda-nunda perkaw inan kita. Kau tinggal di Jepang empat bulan, kembali baru dua bulan sudah berangkat lagi seminggu. Eh, baru lima hari di sim, sudah datang pula surat express dari Jepang. Apa-apaan sih pertukaran korespondensi ini?"
"Kau jangan mengira yang tidak-tidak, Sasha. Setsuko Nagawa adalah seorang perempuan yang baik."
"Berapa usianya?" tanya Anastasia membenci dirinya sendiri karena tak dapat mencegah nalurinya bersikap seperti seorang istri pencemburu yang kurang pendidikan.
"Persisnya aku tidak tahu," kata Antonio menyeringai.
"Kalau melihat profesinya, dia tentu sudah berusia di atas tiga puluh tahun, tapi wajahnya masih kekanak-kanakan. Perawakannya kecil mungil dengan pandangan polos seorang anak sehingga orang bisa menganggapnya baru berusia dua puluh dua tahun."
Hati Anastasia bertambah panas.
"Kalau mencintai aku, jangan melanjutkan surat-menyurat dengan perempuan ini lagi," katanya dingin.
"Sasha," senyum Antonio.
"Kau tahu aku hanya mencintai dirimu seorang. Tapi aku senang melihatmu cemburu hari ini."
Anastasia memutuskan untuk mencari tahu siapakah sebenarnya Setsuko Nagawa ini, yang sudah berani mengacau hubungannya dengan Antonio. Ketika Antonio beranjak dari mejanya, Anastasia mencuri amplop surat yang terbuang di keranjang sampah, lalu disembunyikannya. Dia akan menyurati perempuan Jepang ini! Dia akan menyuruhnya berhenti mengganggu calon suaminya!
Balasan yang diterimanya dari Setsuko Nagawa ternyata sangat mengguncangkan jiwa Anastasia.
"Calon suami anda sekali-kali bukanlah kekasih saya," demikian tulis Setsuko.
"Saya adalah seorang dokter ahli dalam bidang saya yaitu menangani pasien-pasien yang sakit leukemia. Antonio Castillo dikirimkan kepada saya lewat Dokter Sarjono di Jakarta. Kasus Antonio cukup serius dan selama tiga bulan dia telah menjalani terapi di Jepang. Apabila dia tidak pernah menceritakan hubungannya dengan saya, itu bukan dikarenakan ada apa-apa di antara kami. itu semata-mata karena dia tidak ingin mencemaskan Anda.
"Saya benar-benar berharap dia dapat mengatasi penyakitnya. Dalam pemeriksaan yang terakhir dinegri saya dan saya melihat ada sedikit kemajuan tapi sedikit sekali. Kami telah melakukan yang maksimal baginya. Hanya waktu saja yang bisa menentukan berhasil tidaknya usaha kami."
Runtuh dunia Anastasia! Leukemia! Kanker darah! Ya, Tuhan, sampai sekarang dia belum pernah mendengar ada pasien leukemia yang bisa disembuhkan! Pada akhirnya mereka harus menyerah juga kepada penyakitnya segalanya cuma soal waktu. Akan demikian jugakah Antonio?
Pertanyaan itu belum terjawab selama dia tidak tahu sampai sejauh mana penyakit itu telah menggerogoti tubuh kekasihnya. Tetapi menurut dokter Jepang ini kasusnya cukup serius. Cukup serius bagaimana? Apakah yang akan diperbuatnya sekarang? Tetap berpura-pura seakan-akan dia tidak tahu mengenai hal ini sebagaimana yang disandiwarakan oleh Antonio? Ataukah sudah saatnya dia memaksa laki-laki ini untuk membagi rahasianya dengannya toh mereka akan menjadi suami-istri juga! Dia berhak tahu!
Segera pikiran Anastasia menjadi jelas. Itulah sebabnya sampai sekarang Antonio masih menunda-nunda perkawinan mereka! Dan semua penghibahan harta bendanya! Astaga! Jadi Antonio sudah tahu bahwa penyakitnya parah dan dia sudah bersiap-Siap untuk mati? Astaghfirullah!
Anastasia baru saja pulang dari makan malam di rumah Antonio ketika dia membaca Surat dari Setsuko. Sekarang walaupun sudah pukul sebelas malam dia ingin segera kembali lagi untuk menjumpai Antonio dan minta penjelasan.
"Aku tidak pulang, Em!" pamitnya kepada sahabatnya.
"Kau baru saja dari sana, apa yang terjadi?" tanya Emi mengkhawatirkan mimik tegang di wajah sahabatnya.
klo "Akan kuceritakan padamu nanti. Sekarang aku sendiri pun belum tahu jelas." Berkata demikian Anastasia segera bergegas keluar mencari taksi.
Antonio sangat terkejut melihat kekasihnya kembali lagi dengan wajah yang tegang dan panik.
"Sasha! Kau mengapa?" tanyanya cemas.
Anastasia membenamkan dirinya dalam pelukan laki-laki jangkung itu. Tangis yang sejak tadi ditahannya sekarang memburai.
"Sasha, Sasha," bisik Antonio.
"tenanglah. Katakan apa yang telah terjadi." Dengan lemah lembut Antonio membimbing gadis itu duduk.
"Sasha, apa yang terjadi padamu?"
Anastasia semakin dalam membenamkan kepalanya di dada Antonio. Tangisnya semakin menjadi. Bayangan akan kehilangan laki-laki yang sedemikian baiknya ini sungguh membuatnya panik.
"Antonio, mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku," katanya di antara sedakan tangisnya.
"Mengatakan apa, Sasha?"
"Bahwa kau sakit... sakit leukemia," gagap Anastasia.
Antonio terdiam untuk sementara tidak tahu harus berkata apa. Sejak Dokter Sarjono memberitahukan bahwa dia mengidap leukemia setengah tahun yang lalu, dia telah berusaha sebisa-bisanya agar gadis ini tidak mengetahui tentang penyakitnya. Dia heran dari mana tiba-tiba malam ini Anastasia bisa tahu!
"Apa yang menyebabkan kau berpikiraku punya sakit leukemia, Sasha?" tanya Antonio berusaha mengelak.
"Aku tidak cuma berpikir, Tonio, aku tahu! Ya, Tuhan, betapa aku harap hal itu tidak benar," gumamnya.
"Dari mana kau tahu?" bisik Antonio.
"Setsuko."
"Setsuko?" kali ini Antonio betul-betul terperanjat.
"Aku mengira aku mengira dia ingin merebutmu. Aku menyuratinya. Ternyata dia doktermu." Anastasia tidak mengindahkan lagi rasa malunya telah mencurigai kekasihnya. Yang penting sekarang mereka mencari jalan keluar dari dilema ini.
"Setsuko suka khawatir. Memang aku menderita kekurangan darah, tapi bukan sesuatu yang perlu kaucemaskan," bohong Antonio.
"Aku ingin sekali mempercayai kata-katamu itu ingin sekali tetapi benarkah demikian, Tonio-ataukah kau hanya membohongi diriku saja?"
"Kau telah cemas tanpa alasan, Sasha. Jangan menangis lagi. Lihat aku sehat-sehat, kan?"
Anastasia mengangkat matanya. Antonio tersenyum. Hati Anastasia menjadi bimbang.
Antonio mengecup bibirnya, membelainya, seperti seorang bapak yang menenangkan ketakutan anaknya.
"Aku ingin mengantarkan kau ke Dokter Sarjono besok," kata Anastasra.
"Aku ingin mendengar sendiri apa katanya."
"Dokter Sarjono?" tanya Antonio heran.
"Ya. Setsuko mengatakan Dokter Sarjono-lah yang mengirim kasusmu kepadanya. Dia pasti tahu sampai separah apa penyakitmu."
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak apa-apa, Sasha. Jangan terlalu risau."
"Kau adalah segalanya bagiku, Tonio. Kalau kau sakit, aku harus tahu! Aku berhak tahu! Bukankah kita sepantasnya membagi suka dan duka?"
Wajah Antonio berubah sedikit. Dia memalingkan mukanya, melepaskan pelukan Anastasia, lalu berdiri membelakangi gadis itu menatap ke luar jendela. Di luar gelap pekat.
"Antonio!"
Tanpa berpaling Antonio berkata,
"Sasha, aku kira sebaiknya aku berterus terang padamu. Aku tak dapat melangsungkan perkawinan denganmu."
Hati Anastasia bagaikan berhenti berdetak.
"Sebaiknya kita juga tidak bertemu muka lagi. Aku... dalam waktu dekat ini, Aku akan meninggalkan Jakarta. Semuanya sudah siap. Aku akan berangkat minggu depan.
"Antonio!"
"Urusanku di sini sudah beres semuanya. Apa yang pernah menjadi milikku telah kuhibahkan padamu rumah ini, Madona, semuanya. Terimalah sebagai tanda tulus hatiku padamu. Aku menyesal harus membuatmu kecewa. Seandainya aku tahu lebih dini, aku tak akan berani mendekatimu. Sekarang ini adalah jalan keluar yang terbaik bagi kita. Aku tak dapat membiarkan kau menderita lebih lama."
"Antonio!" pekik Anastasia. Tangisnya meledak lagi tapi kali ini lelaki itu tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Mulai sekarang kau harus sanggup hidup mandiri, Sasha. Lupakanlah aku. Aku tak dapat mendampingimu lagi."
Malam semakin larut. Antonio mengeraskan hatinya untuk tidak menghampiri gadis yang menangis terkulai di kursi. Tidak, mulai sekarang Anastasia harus belajar bergelut dengan dukanya sendiri. Dan lebih cepat dia terbiasa, lebih baik baginya. Waktunya untuk mendampingi gadis yang dicintainya ini toh tidak lama lagi. Percuma sekarang dia menghiburnya kalau dalam waktu beberapa bulan lagi dia tak akan dapat menolongnya lagi. Ya, Tuhan, mengapa harus begini jalan kehidupanku, pikir Antonio.
Anastasia akhirnya sadar bahwa Antonio tidak berniat mendekatinya lagi, bahwa lelaki itu menghendaki dia menolong dirinya sendiri. Pada saat itu Anastasia mengambil suatu ketetapan keputusan yang tak pernah disesalinya selama hidupnya.
"Antonio," katanya dengan suara yang lebih tenang.
"Pandanglah aku!"
Antonio masih membelakanginya.
"Antonio, pandanglah aku," pintanya.
Laki-laki itu akhirnya tak tahan juga hatinya lalu berpaling.
"Berapa lamanya waktu yang terSisa bagi kita?" tanya Anastasia. Pipinya masih basah, suaranya tersedak, namun matanya bersinar bening.
Antonio menghela napas panjang sebelum menjawabnya. Siapkah gadis ini mendengar vonis kematiannya?
"Beberapa bulan," katanya akhirnya.
"Enam, delapan, mungkin satu tahun, mungkin lebih cepat, aku sendiri pun tidak tahu."
"Lalu kau berniat melarikan diri dariku? Kau akan meninggalkan Jakarta? Meninggalkan aku begitu saja?"
"Menunggu datangnya ajat menjemput orang yang kaucintai tanpa dapat berbuat apa-apa itu bukan pekerjaan yang mudah, Sasha. Aku tidak ingin kau mengalami penderitaan itu. Kau sudah cukup menderita. Aku tak ingin menjadi sumber penderitaanmu selanjutnya."
"Kau sangat sayang padaku, Antonio. Kau selalu memikir untuk kebaikanku. Tapi dalam hal ini kau melupakan satu hal. Kau lupa bahwa akupun sayang padamu! Cintaku akan membuatku tabah mendampingimu. Kalau memang waktu yang tersisa bagi kita hanya sesingkat itu, adilkah jika kau memotongnya lebih pendek dari pada yang sudah ditentukan oleh Tuhan?"
"Sasha, aku... aku tak dapat membiarkan dirimu menderita melihatku mati pelan-pelan. Karena itulah aku ingin pergi."
"Kau ingin pergi kemana, Tonio?"
Antonio tersenyum.
"Aku ingin melihat pulau-pulau lainnya di nusantara kita ini. Step pertama aku ingin ke daerah pantai di pulau Lombok. Di sana aku bisa menetap sementara bersama penduduk, makan ikan tangkapan, hidup sederhana. Setelah itu?" Antonio mengangkat bahunya.
"Entahlah. Mungkin aku akan mengembara ke tempat-tempat sepi yang lain."
"Kau akan meninggalkan semuanya ini?"
"Ya. Aku bisa pergi dengan hati yang tenteram, Sasha. Aku tahu kau mencintai diriku dan itu sudah cukup bagiku untuk bekal. Mengetahui bahwa kau mencintai diriku sudah meringankan penderitaanku. Aku tak perlu kehadiranmu secara fisik di sisi tempat tidurku. Aku ingin membebaskan kau dari duka yang tak perlu.
"Kalau aku pergi sekurang, kau boleh menganggapnya seperti suatu perjalanan biasa, misalnya suatu keberangkatan ke luar negeri untuk urusan bisnis. Perpisahan itu tidak kan terlalu berat bagimu. Kau masih melihatku segar-bugar, dengan kepala tegak melangkah masuk ke dalam pesawat dan melambaikan tangan padamu. Walaupun hatimu sedih tetapi itu masih jauh lebih ringan dari pada kau harus melihatku sehari demi sehari menjadi semakin lemah, semakin tak berdaya, dan akhirnya mati terkulai."
"Tidak! Jangan merampas sisa waktu yang tinggal sedikit itu dariku pula, Antonio! Kalau kau ditentukan hanya bisa hidup satu tahun lagi. masa satu tahun itu harus kita nikmati bersama tak boleh kurang seharipun!"
"Tapi itu akan sangat menyiksamu, Sasha. Aku tak ingin menyiksamu."
"Tidak. Aku tak akan merasa tersiksa selama kita bersama-sama. lzinkanlah aku mendampingimu terus. Kau selalu mengajarku untuk mandiri, untuk tabah, untuk menjadi dewasa. Sekarang ini merupakan ujian bagiku. Bantulah aku melewati ujian ini! Aku takkan kuat melakukannya seorangdiri. Tapi dengan doronganmu, dengan semangatmu, dengan Cintamu, kau dapat membantu aku.
"Antonio, jangan hanya meninggalkan hartamu padaku. Harta tak dapat menjamin ketenangan hidupku kelak. Tinggalah aku semangat dan mental yang kuat untuk menghadapi hari-hari yang gelap tanpa dirimu kelak. Tinggali aku kebijaksanaanmu, kehangatanmu, cinta kasihmu, yang akan membuatku tabah. Kalau memang waktu kita hanya sesingkat itu, kau harus memanfaatkan setiap detik napasmu untuk mempersiapkan aku, mengajar aku, menempa aku. Antonio, jangan tinggalkan diriku sekarang! Aku belum siap. Aku belum siap! Kewajibanmu belum selesai, aku masih membutuhkanmu. Jangan tinggalkan aku sekarang!"
Kali ini dengan penuh kelembutan Antonio meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Diciumnya matanya yang basah, diusapnya keningnya yang berkeringat, dibisikkannya "Ssst" yang halus di telinganya. dan diucapkannya janji bahwa dia tak akan meninggalkannya sampai maut memisahkan mereka.
"Nanti sore kita harus mampir di kantor Pak Bono untuk menandatangani akte yang dibuatnya," kata Antonio mengingatkan Anastasia.
"Duh, ke sana lagi? Aku sudah bosan ke sana, Antonio. Kapan kita ada waktu untuk kita sendiri? Setiap hari waktu kita selalu habis untuk mengurus surat-surat itu."
"Habis prosedurnya memang demikian," senyum Antonio.
Anastasia cemberut.
"Aku heran mengapa kau perlu membuat surat-surat hibah itu! Kalau kita kawin, aku toh istrimu, dengan sendirinya aku ikut memiliki. Nggak perlu semuanya sekarang kau operkan namaku."
"Itu hadiah perkawinanku untukmu, Sasha," kata Antonio.
"Perkawinan? Aku sekarang betul-betul ragu kapan akhirnya kita betul-betul kawin. Masa tertunda terus! Bayangkan, kau memaksa aku untuk membuat gaun pengantin sendiri mencari tukang jahitnya dan memilih modelnya saja menghabiskan waktu begitu lama karena kau selalu merasa tidak cocok. Setelah gaun setengah jadi kau minta modelnya diganti. ditambah ini diberi itu makan waktu lagi! Begitu juga yang namanya undangan. Masa sampai sekarang kita masih belum mendapatkan percetakan yang cocok dengan seleramu? Kita kan cuma mencetakkan undangan, bukan membeli seluruh mesin cetaknya! Nanti aku keburu menjadi nenek-nenek sebelum kita betul-betul jadi kawin!"
Antonio terbahak.
"Aku tidak mengira kau begitu semangat menjadi istriku," katanya.
"Memangnya kau mau mengulur-ulur waktu sampai aku sudah umur enam puluh baru kawin?" Belakangan ini Anastasia merasa sangat tidak tenteram. Sejak kembalinya yang pertama kali dari Jepang, Antonio kadang-kadang bersikap sangat misterius. Sering-sering dia meninggalkan kantor dan menghilang selama beberapa jam tanpa penjelasan. Juga sudah dua kali Anastasia melihat ada surat dari Jepang untuknya dari seorang perempuan yang bernama Setsuko Nagawa. Antonio mengatakan Setsuko adalah seorang perancang mode yang baru timbul dan dikenalnya tatkala dia berada di negara Sakura. Tapi Anastasia tak pernah ditunjuki isi surat-suratnya yang langsung dicabik-cabiknya setiap kali habis dibaca. Yang paling mencurigakan adalah keberangkatan Antonio yang terakhir ke Jepang selama satu minggu dengan alasan yang meragukan, yang terjadi setelah dia menerima surat dari Setsuko Nagawa ini pula! Eh, hari ini tiba pula sepucuk surat express dari Setsuko padahal baru lima hari Antonio pulang dari sana! Kali ini Anastasia bertekad untuk mencari' tahu apa yang telah terjadi di antara calon suaminya dengan perempuan Jepang ini!
"Apa kata temanmu?" tanya Anastasia mengawas bagaimana Antonio mencabik-cabik surat Setsuko dan memasukkannya ke keranjang sampah.
"Oh, tidak apa-apa, biasa cerita tentang keluarganya di sana dan bisnisnya."
"Mengapa begitu cepat kaurobek-robek suratnya?"
"Kalau tidak untuk apa? Masa mau disimpan!" senyum Antonio.
"Sebetulnya aku juga ingin membacanya"
"Alaa, isinya tidak menarik," kata Antonio.
"Kau sekarang aneh, Tonio. Tidak seperti biasanya kau merahasiakan sesuatu dariku." Anastasia semakin cemberut.
"Apakah kau punya affair dengan perempuan ini?"
Antonio terbelalak.
"Aku kira kau tidak bisa cemburu," godanya.
"Aku curiga terus terang saja. Habis, sejak kau ke Jepang rasanya kau selalu menunda-nunda perkaw inan kita. Kau tinggal di Jepang empat bulan, kembali baru dua bulan sudah berangkat lagi seminggu. Eh, baru lima hari di sim, sudah datang pula surat express dari Jepang. Apa-apaan sih pertukaran korespondensi ini?"
"Kau jangan mengira yang tidak-tidak, Sasha. Setsuko Nagawa adalah seorang perempuan yang baik."
"Berapa usianya?" tanya Anastasia membenci dirinya sendiri karena tak dapat mencegah nalurinya bersikap seperti seorang istri pencemburu yang kurang pendidikan.
"Persisnya aku tidak tahu," kata Antonio menyeringai.
"Kalau melihat profesinya, dia tentu sudah berusia di atas tiga puluh tahun, tapi wajahnya masih kekanak-kanakan. Perawakannya kecil mungil dengan pandangan polos seorang anak sehingga orang bisa menganggapnya baru berusia dua puluh dua tahun."
Hati Anastasia bertambah panas.
"Kalau mencintai aku, jangan melanjutkan surat-menyurat dengan perempuan ini lagi," katanya dingin.
"Sasha," senyum Antonio.
"Kau tahu aku hanya mencintai dirimu seorang. Tapi aku senang melihatmu cemburu hari ini."
Anastasia memutuskan untuk mencari tahu siapakah sebenarnya Setsuko Nagawa ini, yang sudah berani mengacau hubungannya dengan Antonio. Ketika Antonio beranjak dari mejanya, Anastasia mencuri amplop surat yang terbuang di keranjang sampah, lalu disembunyikannya. Dia akan menyurati perempuan Jepang ini! Dia akan menyuruhnya berhenti mengganggu calon suaminya!
Balasan yang diterimanya dari Setsuko Nagawa ternyata sangat mengguncangkan jiwa Anastasia.
"Calon suami anda sekali-kali bukanlah kekasih saya," demikian tulis Setsuko.
"Saya adalah seorang dokter ahli dalam bidang saya yaitu menangani pasien-pasien yang sakit leukemia. Antonio Castillo dikirimkan kepada saya lewat Dokter Sarjono di Jakarta. Kasus Antonio cukup serius dan selama tiga bulan dia telah menjalani terapi di Jepang. Apabila dia tidak pernah menceritakan hubungannya dengan saya, itu bukan dikarenakan ada apa-apa di antara kami. itu semata-mata karena dia tidak ingin mencemaskan Anda.
"Saya benar-benar berharap dia dapat mengatasi penyakitnya. Dalam pemeriksaan yang terakhir dinegri saya dan saya melihat ada sedikit kemajuan tapi sedikit sekali. Kami telah melakukan yang maksimal baginya. Hanya waktu saja yang bisa menentukan berhasil tidaknya usaha kami."
Runtuh dunia Anastasia! Leukemia! Kanker darah! Ya, Tuhan, sampai sekarang dia belum pernah mendengar ada pasien leukemia yang bisa disembuhkan! Pada akhirnya mereka harus menyerah juga kepada penyakitnya segalanya cuma soal waktu. Akan demikian jugakah Antonio?
Pertanyaan itu belum terjawab selama dia tidak tahu sampai sejauh mana penyakit itu telah menggerogoti tubuh kekasihnya. Tetapi menurut dokter Jepang ini kasusnya cukup serius. Cukup serius bagaimana? Apakah yang akan diperbuatnya sekarang? Tetap berpura-pura seakan-akan dia tidak tahu mengenai hal ini sebagaimana yang disandiwarakan oleh Antonio? Ataukah sudah saatnya dia memaksa laki-laki ini untuk membagi rahasianya dengannya toh mereka akan menjadi suami-istri juga! Dia berhak tahu!
Segera pikiran Anastasia menjadi jelas. Itulah sebabnya sampai sekarang Antonio masih menunda-nunda perkawinan mereka! Dan semua penghibahan harta bendanya! Astaga! Jadi Antonio sudah tahu bahwa penyakitnya parah dan dia sudah bersiap-Siap untuk mati? Astaghfirullah!
Anastasia baru saja pulang dari makan malam di rumah Antonio ketika dia membaca Surat dari Setsuko. Sekarang walaupun sudah pukul sebelas malam dia ingin segera kembali lagi untuk menjumpai Antonio dan minta penjelasan.
"Aku tidak pulang, Em!" pamitnya kepada sahabatnya.
"Kau baru saja dari sana, apa yang terjadi?" tanya Emi mengkhawatirkan mimik tegang di wajah sahabatnya.
klo "Akan kuceritakan padamu nanti. Sekarang aku sendiri pun belum tahu jelas." Berkata demikian Anastasia segera bergegas keluar mencari taksi.
Antonio sangat terkejut melihat kekasihnya kembali lagi dengan wajah yang tegang dan panik.
"Sasha! Kau mengapa?" tanyanya cemas.
Anastasia membenamkan dirinya dalam pelukan laki-laki jangkung itu. Tangis yang sejak tadi ditahannya sekarang memburai.
"Sasha, Sasha," bisik Antonio.
"tenanglah. Katakan apa yang telah terjadi." Dengan lemah lembut Antonio membimbing gadis itu duduk.
"Sasha, apa yang terjadi padamu?"
Anastasia semakin dalam membenamkan kepalanya di dada Antonio. Tangisnya semakin menjadi. Bayangan akan kehilangan laki-laki yang sedemikian baiknya ini sungguh membuatnya panik.
"Antonio, mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku," katanya di antara sedakan tangisnya.
"Mengatakan apa, Sasha?"
"Bahwa kau sakit... sakit leukemia," gagap Anastasia.
Antonio terdiam untuk sementara tidak tahu harus berkata apa. Sejak Dokter Sarjono memberitahukan bahwa dia mengidap leukemia setengah tahun yang lalu, dia telah berusaha sebisa-bisanya agar gadis ini tidak mengetahui tentang penyakitnya. Dia heran dari mana tiba-tiba malam ini Anastasia bisa tahu!
"Apa yang menyebabkan kau berpikiraku punya sakit leukemia, Sasha?" tanya Antonio berusaha mengelak.
"Aku tidak cuma berpikir, Tonio, aku tahu! Ya, Tuhan, betapa aku harap hal itu tidak benar," gumamnya.
"Dari mana kau tahu?" bisik Antonio.
"Setsuko."
"Setsuko?" kali ini Antonio betul-betul terperanjat.
"Aku mengira aku mengira dia ingin merebutmu. Aku menyuratinya. Ternyata dia doktermu." Anastasia tidak mengindahkan lagi rasa malunya telah mencurigai kekasihnya. Yang penting sekarang mereka mencari jalan keluar dari dilema ini.
"Setsuko suka khawatir. Memang aku menderita kekurangan darah, tapi bukan sesuatu yang perlu kaucemaskan," bohong Antonio.
"Aku ingin sekali mempercayai kata-katamu itu ingin sekali tetapi benarkah demikian, Tonio-ataukah kau hanya membohongi diriku saja?"
"Kau telah cemas tanpa alasan, Sasha. Jangan menangis lagi. Lihat aku sehat-sehat, kan?"
Anastasia mengangkat matanya. Antonio tersenyum. Hati Anastasia menjadi bimbang.
Antonio mengecup bibirnya, membelainya, seperti seorang bapak yang menenangkan ketakutan anaknya.
"Aku ingin mengantarkan kau ke Dokter Sarjono besok," kata Anastasra.
"Aku ingin mendengar sendiri apa katanya."
"Dokter Sarjono?" tanya Antonio heran.
"Ya. Setsuko mengatakan Dokter Sarjono-lah yang mengirim kasusmu kepadanya. Dia pasti tahu sampai separah apa penyakitmu."
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak apa-apa, Sasha. Jangan terlalu risau."
"Kau adalah segalanya bagiku, Tonio. Kalau kau sakit, aku harus tahu! Aku berhak tahu! Bukankah kita sepantasnya membagi suka dan duka?"
Wajah Antonio berubah sedikit. Dia memalingkan mukanya, melepaskan pelukan Anastasia, lalu berdiri membelakangi gadis itu menatap ke luar jendela. Di luar gelap pekat.
"Antonio!"
Tanpa berpaling Antonio berkata,
"Sasha, aku kira sebaiknya aku berterus terang padamu. Aku tak dapat melangsungkan perkawinan denganmu."
Hati Anastasia bagaikan berhenti berdetak.
"Sebaiknya kita juga tidak bertemu muka lagi. Aku... dalam waktu dekat ini, Aku akan meninggalkan Jakarta. Semuanya sudah siap. Aku akan berangkat minggu depan.
"Antonio!"
"Urusanku di sini sudah beres semuanya. Apa yang pernah menjadi milikku telah kuhibahkan padamu rumah ini, Madona, semuanya. Terimalah sebagai tanda tulus hatiku padamu. Aku menyesal harus membuatmu kecewa. Seandainya aku tahu lebih dini, aku tak akan berani mendekatimu. Sekarang ini adalah jalan keluar yang terbaik bagi kita. Aku tak dapat membiarkan kau menderita lebih lama."
"Antonio!" pekik Anastasia. Tangisnya meledak lagi tapi kali ini lelaki itu tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Mulai sekarang kau harus sanggup hidup mandiri, Sasha. Lupakanlah aku. Aku tak dapat mendampingimu lagi."
Malam semakin larut. Antonio mengeraskan hatinya untuk tidak menghampiri gadis yang menangis terkulai di kursi. Tidak, mulai sekarang Anastasia harus belajar bergelut dengan dukanya sendiri. Dan lebih cepat dia terbiasa, lebih baik baginya. Waktunya untuk mendampingi gadis yang dicintainya ini toh tidak lama lagi. Percuma sekarang dia menghiburnya kalau dalam waktu beberapa bulan lagi dia tak akan dapat menolongnya lagi. Ya, Tuhan, mengapa harus begini jalan kehidupanku, pikir Antonio.
Anastasia akhirnya sadar bahwa Antonio tidak berniat mendekatinya lagi, bahwa lelaki itu menghendaki dia menolong dirinya sendiri. Pada saat itu Anastasia mengambil suatu ketetapan keputusan yang tak pernah disesalinya selama hidupnya.
"Antonio," katanya dengan suara yang lebih tenang.
"Pandanglah aku!"
Antonio masih membelakanginya.
"Antonio, pandanglah aku," pintanya.
Laki-laki itu akhirnya tak tahan juga hatinya lalu berpaling.
"Berapa lamanya waktu yang terSisa bagi kita?" tanya Anastasia. Pipinya masih basah, suaranya tersedak, namun matanya bersinar bening.
Antonio menghela napas panjang sebelum menjawabnya. Siapkah gadis ini mendengar vonis kematiannya?
"Beberapa bulan," katanya akhirnya.
"Enam, delapan, mungkin satu tahun, mungkin lebih cepat, aku sendiri pun tidak tahu."
"Lalu kau berniat melarikan diri dariku? Kau akan meninggalkan Jakarta? Meninggalkan aku begitu saja?"
"Menunggu datangnya ajat menjemput orang yang kaucintai tanpa dapat berbuat apa-apa itu bukan pekerjaan yang mudah, Sasha. Aku tidak ingin kau mengalami penderitaan itu. Kau sudah cukup menderita. Aku tak ingin menjadi sumber penderitaanmu selanjutnya."
"Kau sangat sayang padaku, Antonio. Kau selalu memikir untuk kebaikanku. Tapi dalam hal ini kau melupakan satu hal. Kau lupa bahwa akupun sayang padamu! Cintaku akan membuatku tabah mendampingimu. Kalau memang waktu yang tersisa bagi kita hanya sesingkat itu, adilkah jika kau memotongnya lebih pendek dari pada yang sudah ditentukan oleh Tuhan?"
"Sasha, aku... aku tak dapat membiarkan dirimu menderita melihatku mati pelan-pelan. Karena itulah aku ingin pergi."
"Kau ingin pergi kemana, Tonio?"
Antonio tersenyum.
"Aku ingin melihat pulau-pulau lainnya di nusantara kita ini. Step pertama aku ingin ke daerah pantai di pulau Lombok. Di sana aku bisa menetap sementara bersama penduduk, makan ikan tangkapan, hidup sederhana. Setelah itu?" Antonio mengangkat bahunya.
"Entahlah. Mungkin aku akan mengembara ke tempat-tempat sepi yang lain."
"Kau akan meninggalkan semuanya ini?"
"Ya. Aku bisa pergi dengan hati yang tenteram, Sasha. Aku tahu kau mencintai diriku dan itu sudah cukup bagiku untuk bekal. Mengetahui bahwa kau mencintai diriku sudah meringankan penderitaanku. Aku tak perlu kehadiranmu secara fisik di sisi tempat tidurku. Aku ingin membebaskan kau dari duka yang tak perlu.
"Kalau aku pergi sekurang, kau boleh menganggapnya seperti suatu perjalanan biasa, misalnya suatu keberangkatan ke luar negeri untuk urusan bisnis. Perpisahan itu tidak kan terlalu berat bagimu. Kau masih melihatku segar-bugar, dengan kepala tegak melangkah masuk ke dalam pesawat dan melambaikan tangan padamu. Walaupun hatimu sedih tetapi itu masih jauh lebih ringan dari pada kau harus melihatku sehari demi sehari menjadi semakin lemah, semakin tak berdaya, dan akhirnya mati terkulai."
"Tidak! Jangan merampas sisa waktu yang tinggal sedikit itu dariku pula, Antonio! Kalau kau ditentukan hanya bisa hidup satu tahun lagi. masa satu tahun itu harus kita nikmati bersama tak boleh kurang seharipun!"
"Tapi itu akan sangat menyiksamu, Sasha. Aku tak ingin menyiksamu."
"Tidak. Aku tak akan merasa tersiksa selama kita bersama-sama. lzinkanlah aku mendampingimu terus. Kau selalu mengajarku untuk mandiri, untuk tabah, untuk menjadi dewasa. Sekarang ini merupakan ujian bagiku. Bantulah aku melewati ujian ini! Aku takkan kuat melakukannya seorangdiri. Tapi dengan doronganmu, dengan semangatmu, dengan Cintamu, kau dapat membantu aku.
"Antonio, jangan hanya meninggalkan hartamu padaku. Harta tak dapat menjamin ketenangan hidupku kelak. Tinggalah aku semangat dan mental yang kuat untuk menghadapi hari-hari yang gelap tanpa dirimu kelak. Tinggali aku kebijaksanaanmu, kehangatanmu, cinta kasihmu, yang akan membuatku tabah. Kalau memang waktu kita hanya sesingkat itu, kau harus memanfaatkan setiap detik napasmu untuk mempersiapkan aku, mengajar aku, menempa aku. Antonio, jangan tinggalkan diriku sekarang! Aku belum siap. Aku belum siap! Kewajibanmu belum selesai, aku masih membutuhkanmu. Jangan tinggalkan aku sekarang!"
Kali ini dengan penuh kelembutan Antonio meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Diciumnya matanya yang basah, diusapnya keningnya yang berkeringat, dibisikkannya "Ssst" yang halus di telinganya. dan diucapkannya janji bahwa dia tak akan meninggalkannya sampai maut memisahkan mereka.
Hingga pada akhirnya mautpun memisahkan mereka sebelas bulan kemudian....Antonio Castillo menghembuskan napasnya yang terakhir dalam pelukan istrinya dua hari setelah ulang tahun Anastasia yang kedua puluh delapan..Tiga bulan yang terakhir dari hidupnya, Antonio hanya tinggal tergolek di pembaringan terlalu lemah untuk berbuat apa pun. Anastasia menemaninya dengan cerita-cerita mengenai kegiatan Madona yang sudah sejak perkawinan mereka sepuluh bulan yang lalu seluruhnya dijalankan oleh Anastasia sendiri. Anastasia berusaha untuk tidak menunjukkan wajah yang sedih di hadapan suaminya. Segala nyeri di hatinya dipendamnya dalam-dalam. Dengan penuh kasih sayang sepasang suami-istri ini menunggu maut yang akan menjemput salah seorang dari mereka. Mereka mencoba untuk saling mengisi, saling mengobati luka masing-masing. Dan pada waktu tiba saatnya bagi mereka untuk mengucapkan kata-kata pemisahan, Antonio mengatupkan matanya dengan tenang, dengan keyakinan bahwa istrinya sudah cukup mandiri untuk bisa melewati pencobaan ini. Anastasia pun melepaskan kepergian suaminya dengan ikhlas, dengan keyakinan bahwa dirinya telah meringankan beban Antonio dan telah membuatnya bisa mereguk sedikit kebahagiaan selama sisa-sisa harinya yang singkat.
Dan sekarang setelah semuanya berlalu setelah perjuangan yang terakhir yang tersisa hanya rumah ini dan isinya, Madona, dan sebuah batu nisan yang menghubungkannya dengan kenangannya akan Antonio. Pada usia genap dua puluh delapan tahun, Anastasia telah menjadi janda.
Tahun-tahun pertama hidup sebagai janda dilewatkannya dengan bekerja keras.Seluruh energinya, konsentrasinya, semangatnya, dicurahkannya ke dalam biro model yang sekarang menjadi miliknya sendiri. Kerja keras mengisi hari-harinya, membuatnya lupa akan penderitaannya, dan membantunya tidur lebih cepat di malam hari di tempat tidurnya yang besar dan kosong yang dulu pernah dihangatkannya bersama Antonio. Anastasia menyembunyikan dirinya dalam kepompong buatannya sendiri. Di luar dia adalah seorang perempuan cantik yang mandiri kepala dan pemilik sebuah biro model yang semakin terkenal di Jakarta seorang figur wanita karier yang sering tampil dalam forum-forum resmi. Tapi sebenarnya dia hanya seorang perempuan yang rapuh di dalam yang seperti seekor burung yang patah sebelah sayapnya, hanya mampu terbang miring-miring dalam kesakitan. Walaupun pada saat menjelang ajalnya dia berusaha meyakinkan Antonio bahwa dia akan sanggup menghadapi kaleidoskop hidup ini seorang diri sepeninggalnya, tapi pada kenyataannya dirinya remuk redam di dalam. Banyak laki-laki yang berusaha mendekatinya -dari yang beritikad luhur sampai yang beritikad cabul dari yang bermaksud menyelamatkannya dari kehidupan yang gersang dan sepi sampai yang hanya bermaksud bisa menikmati tidur semalam dengannya. Tapi mereka semuanya harus kecewa. Janda Antonio Castillo tidak menggubris segala perhatian mereka. Anastasia bersikap dingin dan korek, lugas dan supel. Kalau mereka mau berbicara masalah bisnis, masalah pelayanan yang diberikan oleh biro model Madona, dia menerima kedatangan mereka dengan formalitas seorang bankir dan kesopanan seorang biarawati. Kalau mereka sudah mulai berani menyerempet masalah-masalah yang bersifat pribadi, maka janda muda ini tak segan-segan mematikan langkah mereka pada gebrakan pertama. Dalam waktu yang Singkat Anastasia Castillo terkenal sebagai perempuan bisnis yang berkepala dingin dan berhati batu.
Perlahan tapi pasti Madona berkembang dengan mantap. Akhir dekade tujuh puluh sampai awal tahun-tahun delapan puluhan ditandai oleh melejitnya perekonomian di Indonesia. Dengan sendirinya semakin banyak pula perusahaan yang memakai jasa biro model untuk menyemarakkan pemasaran produk-produk mereka. Dan Anastasia Castillo tahu persis bagaimana caranya memanfaatkan perkembangan situasi. Di samping biro modelnya yang sekarang sudah dipindahnya untuk menempati sebuah bangunan baru di Jalan Cikini Raya bagian pusat kota.. Anastasia menambah sebuah cabang bisnis baru sekolah keperagawatiannya sendiri yang lengkap dengan kursus senam dan fitness centernya. Bisnis senam dan fitness ini ternyata banyak dikeranjingi orang. Perempuan-perempuan yang bergabung di sana untuk membuang keringat dalam hatinya mengharapkan agar mereka juga memperoleh kesempatan diangkat menjadi salah satu gadis model Madona yang punya status sendiri, Uang masuk seperti air yang mengalir deras. Madona merupakan lambang mutu iklan yang terbaik, gadis model yang tercantik sistem senam dan peralatan yang paling mutakhir.
Dan nama Anastasia Castillo menjadi nama yang terkenal walaupun tak banyak orang yang mengenal wajahnya. Sejak kematian Antonio, Anastasia sendiri tak pernah lagi tampil sebagai gadis model, dan setelah usaha Madona semakin maju, dia mampu menggaji seorang manajer profesional untuk menjalankan kegiatan rutin Madona, yang bertugas menemui para klien, yang muncul untuk wawancara, dan sebagainya. Sedangkan Anastasia sendiri tinggal di kamar kerjanya di lantai tiga, terbenam diantara kertas-kertas laporan maupun Sibuk merencanakan suatu aktivitas baru. Hanya staf-staf intinya saja yang berhubungan langsung dengannya.
Rumah bagus dan kesuksesan ternyata tidak dapat mengisi kekosongan hatinya. Setelah bertahun-tahun mempertahankan citranya sebagai perempuan yang tabah dan mandiri, Anastasia akhirnya mendambakan juga kasih sayang. Hatinya merasa haus, haus akan simpati dan perhatian yang tulus, haus akan hubungan yang lebih berstfat pribadi, haus menjadi manusia biasa lagi dan bukan sekadar figur seorang ratu yang tinggal di menara gadingnya yang tinggi..Anastasia memutuskan untuk kembali sementara waktu ke rumah orang tuanya, ke kota kelahirannya yang telah ditinggalkannya hampir empat belas tahun yang lalu. Urusan Madona diserahkannya kepada stafnya yang sekarang sudah pandai dan terampil menangani segala urusan. Anastasia ingin cuti panjang.
Maka pada suatu hari di bulan Mei tibalah Anastasia Castillo di bandara udara Juanda, Kota Surabaya Kali ini kedatangannya bukan hanya untuk kunjungan singkat yang selama ini selalu dilakukannya, melainkan untuk tinggal lebih lama -sampai kapan -Anastasia sendiri pun tidak tahu.


15 Komentar
Episode ke 2? Episode pertamanya kapan dipostingnya, mas? Udah dibuka halaman sebelumnya tapi ngga ketemu episode pertamanya.
BalasHapusKenape Keder Huuu...🤣🤣🤣🤣
HapusCoba klik link slidshow paling atas..🤣🤣🤣🤣
Ngga ngeh sama related posts-nya..hihihi..kok bisa begitu di related posts-nya ada tapi kenapa di halaman sebelumnya ngga ada?
Hapusbaru aku mau komen yang sama kayak mas herman kang satria...di laman dua ga ada tapi ada link yang di thumbnail...aneh juga ya 🙄
HapusBawaan orok Huuu jadi yaa memang begitu...😊😊😊😁
Hapushmmmm....tadinya agak canggung mau nyebut anastasia...lebih pewe run....run..harun...eh seruni ..wkwkwk
BalasHapusAnastasia memang nyamannya pada laki laki yang sudah mateng ye kang....kemaren hariono...sekarang antonio castilo.. heran kadang dipanggile toni kadang tonio...eh tapi aku uda firasat pas doi minta dibikinin bayem karena lemes kurang darah lalu badannya kurus meski aslinya ganteng gagah gitu andai ga kekurusan ternyata beneran sakit keras.So saaad....
tapi kebayang sih modelan garis wajahe si antonio ini keknya cakep ya...udahlah tinggi, peranakan eurasia ada darah ambonnya juga selain belanda hahhahaha...pantas kok tadi mbatin kulit agak gelap tapi kok turunan eropa.Ternyata ada darah ambon manise...makanya cakep gitu ya..hidungpun mancung wkwkwkkw.
Asli deh diaduk aduk gini baca bih novel..Fyuh...walau kalau secara perbandingan..aku lebih gemes gemes deg degan pas sesion satu kemaren ama hariono kang. Itu lebih dapet emosionilnya...cz terasa banget rasa sakit ati si seruni dicampakan dan tak diakui oleh hariono yang dipuja pujanya sedemikian kayak anak dewa. Nah sekarang dengan Tonio ini aslinya dapet yang sayang ama dia, care, cenderung kebapakan dan ngemong eh lha kok ndilalah malah sakit keras. Huh hancur deh hati anastasia...lagi lagi ga bisa menggapai kasih cinta yang lama. Menjandalah dirinya usai menikah singkat dengan Tonio yang hari hari tinggal menunggu ajal datang dikarenakan sudah stadium akhir. Yang mana semula ada rencana pernikahan eh ketunda tunda gegara ga ngomong aslinya kayak gitu. Tapi kurang baek hati apa coba si Tonio ini sebelum ninggal ngehibahin semua harta sekalian aset agensi modeling madonna pada Shasha...huhu...bener bener perhatian banget sama orang yang dicintai hingga akhir hayat.
Untuk selanjutnya...hmmmm makin penasaran masih ada sisa 2 kekasih lagi dari 4 yang sudah diomongkan di awal yang sayangnya selalu berupa orang yang salah. Siapakah kedua orang itu. Mari kita tunggu sahajaaaa..ga sabaar ey
btw kang jujur aku malah suka novel era 90 an ginian loh...ceritanya ini klasik greget gimana ketimbang novel pop modern masa sekarang. Apa ya...susah dijelaskan dengan kata kata...tapi emang pesona novel klasik ini kena di aku pribadi sih. Dapet aja emosinya...biar kata bahasanya lugas dan ga main di kiasan..tapi tetep alurnya itu sekali lagi Greget...
Duh jadi pengen makan sayur bayam si Mbuk ha ha ha
Memang Run lebih bagus, Cuma kesan belakangnya jelek dan seperti laki2...Bisa Harun, Atau Korun..🤣🤣🤣🤣🤣🤣
HapusBetul mbul biasanya memang wanita dewasa cendrung lebih suka laki2 yang sudah dewasa atau mateng yang terkadang umurnya tidak sebanding dengannya..😊😊
Seperti contoh Hariono, Kong Antonio Castilo, Atau Agus Jambe mungkin..😁😁😆😆 Meski pada akhirnya Antonio harus mati karena penyakit kantung kering.🤣🤣 Meski sudah dikasih bayam satu truck tetap nggak mempan...Udah keburu Tange.🤣🤣
Yaa 11 12 sama gw kali gantengnya...Meski masih banyakan Gw sebenarnya.😆😆🤣🤣🤣🤣
Yaa kalau persi kedua mungkin lebih romantis ketimbang yang pertama walau pada akhirnya sueee2 juga dan harus menjanda diusia yang ke 28 tahun. Meski sejak kematian Antonio Sasha sudah mengusai semua aset perusaahaan yang dimiliki Antonio untuk ia kelola sebagai penerus regenerasi Madonna.😊😊
Kira2 siapa 2 lelaki yang akan bersama Anastasia nantinya apakah Herman, Jaey Gupta Betet, Atau mungkin Agus Jambe Castillo. Yaa tidak tahu juga.😆😆🤣😉
Betul mbul novel2 90,an sangat beda jauh dengan novell2 sekarang yang boleh dikatakan tidak panjang seperti novel2 dahulu. Dan jalan cerita novel sekarang terkesan singkat. Jadi kesan haru serta romantisnya itu nggak ada, Dan sangat berbeda jauh sama novel 90,an..😊😊
Gw malah pengennya makan sayur ketupat sama opor ayam Mbul...🙄🙄🙄🙄😳😳😳🤣🤣🤣
Babaranjang Part 2 😅😅😅😅
BalasHapusNggak sekalian Buburanjang saja Huuu...🤣🤣🤣🤣
HapusIya boleh juga, bbo syantik 😅
HapusTinggal cari bantalnye saje yee Huuu..😆😆😆
HapusAsik .. udah terbit part ke 2 🤩.
BalasHapusTerpuaskan rasanya penasaran baca isi cerita yang ternyata masih nyambung lagi ke part 3.
Kutak sabar menunggu kelanjutan stornya ..., moga aja ada adegan yang bikin kumenghela napas 😊
🙄🙄🙄😳😳😳😳 Menghela nafas habis apa mas...???? 🤣🤣🤣🤣
HapusAdegan babaranjang 😅😅
HapusAdegan bagian apa Huuu..🤣🤣🤣🤣🤣😆😆
HapusTERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!