Yaa kali ini saya akan meneruskan kembali cerita dari misteri keempat wajah anastasia yang 3. Pada cerita sebelumnya dimana Anastasia akhirnya harus rela kehilangan sang suami yang bernama Antonio Castello. Karena sakit Kanker darah yang sudah menggrogoti tubuhnya sejak lama. Beruntung semua aset yang dimiliki Antonio Castello telah dihibahkan kepada yang istri yang bernama Anastasia, Yang kini resmi menjadi seorang janda pada usia 28 tahun. Dan seperti apa perjalanan hidup Anastasia setelah kematian sang suami Antonio Castello berikut cerita dibawah ini.👇👇Ok Seperti biasa pula jika anda tidak sanggup membaca novel inil karena terlalu panjang mohon segera lambaikan tangan kekamera.😊😁😬 Ketimbang nanti setelah baca mata ente jadi pedes dan masuk UGD waah bisa brabekan.😆😆🤣
Sumber Cerita 👇👇:
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta.
Ebook By : Syauqy_Arr & Cerita Silat Novel.
HARI-HARI pertama kepulangannya di rumah orang tuanya dilewatkannya dengan melepaskan rindu kepada ayah dan ibunya yang sama-sama sudah tua walaupun masih tegar dan sehat. Di sini, di mana tidak ada yang mengenalnya sebagai Anastasia Castillo, dia dapat menjalani kehidupan yang lebih santai. Dia tak perlu selalu harus mengenakan pakaian yang rapi dan mengikuti mode. Dia bisa duduk dengan santai dalam daster pinjaman dari ibunya pada pukul sepuluh pagi sambil menikmati sepiring gado-gado yang dijajakan di muka rumahnya hal mana tak pernah dllakukannya di Jakarta karena gengsi. Di Surabaya ini pula dia bisa berbelanja ke supermarket atau ke toko dengan hanya mengenakan kaus dan jeans serta bersandal jepit tanpa takut akan kepergok kliennya atau anak buahnya. Pokoknya hidup di Surabaya lebih rileks dan bebas baginya.
Hampir dua bulan lamanya dia menikmati kehidupan tanpa kegiatan seperti ini kecuali makan dan tidur, dan akhirnya dia merasa bosan. Anastasia sudah terbiasa selama bertahun-tahun selalu punya aktivitas. Dia tak dapat tinggal menganggur lama. Sekarang dia harus memutuskan, kembali ke Jakarta ke kehidupannya yang lama, atau mencari aktivitas baru di Surabaya? Rasanya dia masih senang tinggal di rumah orang tuanya, senang menikmati dimanjakan ibunya lagi, senang merasa dirinya ada yang memperhatikan dan menyayangi-haruskah semuanya ini dia tinggalkan lagi untuk kembali ke kehidupan yang gersang dan dingin di Jakarta? Anastasia bukannya tidak melihat betapa besarnya potensi pasar di kota kedua teramai di Indonesia ini yang masih belum memiliki biro model yang profesional. Kalau begitu mengapa Madona tidak membuka cabang di sini? Dan setiap hari ide ini pun semakin mendesaknya. Anastasia membicarakan hal ini dengan kedua orang tuanya. Sudah dapat diduga bahwa kedua orang tua itu merasa senang sekali dan sangat menyetujui gagasan putrinya. Mereka tahu, apabila di Surabaya Anastasia tidak punya kesibukan, dalam waktu singkat dia akan kembali lagi ke Jakarta. Dengan membuka cabang Madona di sini, mereka tentu akan lebih sering bertemu dengan anak mereka bahkan pada tahap-tahap permulaan bangkitnya suatu usaha, tak mustahil Anastasia akan menungguinya sendiri di Surabaya. Maka dengan restu kedua orang tuanya, mulailah Anastasia mengongkretkan idenya.
Pertama-tama Anastasia mencari tempat yang cocok dan dia berhasil mendapatkan sebuah rumah yang besar dan bertingkat di daerah Manyar Kertoarjo. Bangunan ini cocok sekali dijadikan tempat operasinya merangkap tempat tinggalnya. Sudah barang tentu dia tak ingin merepotkan kedua orang tuanya dengan jadwal keluar-masuknya yang tidak menentu kalau dia harus disibukkan dengan aktivitas mengelola sebuah biro model, karena itu Anastasia harus punya tempat tinggal sendiri. Empat bulan lamanya dia sibuk mengatur izin dan mendekorasi bangunan tersebut. Setelah semuanya rampung, mulailah dia mencari tenaga ahli. Dia mencari tenaga desainer foto yang berbakat, tukang potret yang ahli, gadis-gadis yang bisa dididiknya menjadi gadis model yang profesional, dan semua kegiatan ini menimbulkan gairah hidupnya lagi.
Minggu-minggu berikutnya hari-harinya disibukkan. dengan upayanya mencari tenaga-tenaga cabang Madona yang baru, Dalam waktu yang relatif singkat, Anastasia berhasil mendapatkan karyawan inti yang dibutuhkannya. Dia berhasil mendapatkan seorang desainer, seorang sekretaris, tiga orang gadis cantik calon model, seorang sopir, seorang tukang foto beserta pembantunya, di samping beberapa orang pembantu domestik yang bertugas membersihkan rumah dan halamannya yang lebar. Secara bergilir karyawan karyawannya dikirimnya ke Jakarta untuk dididik langsung oleh tenaga ahlinya di sana. Pada permulaan bulan Februari 1984, papan nama Madona cabang Surabaya sudah terpancang dengan megahnya di depan dan dua-tiga orang yang main coba-coba untuk melihat dan' dekat organisasi apa yang berdiri di sana, dibuat sangat terkesan oleh profesionalismenya.
Kliennya yang pertama adalah sebuah pabrik sepatu yang terkenal. Mereka bermaksud mencetak kalender untuk tahun berikutnya dengan gambar sepatu-sepatu mereka yang diperagakan oleh gadis-gadis model yang cantik. Kontrak yang pertama ini dikerjakan Anastasia dengan sangat berhati-hati, bahkan dia khusus mendatangkan Yusuf tukang potretnya dari Jakarta untuk memimpin sendiri pengambilan gambar di sini di samping memberikan pengarahan onthe-spot bagi Sukardi camera man-nya di Surabaya. Dengan bekerja sama menangani suatu kontrak, Sukardi langsung mendapatkan petunjuk-petunjuk praktek yang bermanfaat, yang merupakan modal baginya untuk bisa mengatasi kontrak-kontrak berikutnya sendiri.
Sedikit demi sedikit biro model Madona cabang Surabaya berkembang semakin mantap. Klien klien yang pergi dengan puas karena mendapatkan pelayanan yang profesional, memberikan rekomendasi bagus bagi perusahaan ini dan reputasi Madona cabang Surabaya meluas dari mulut ke mulut. Dalam waktu satu tahun lebih sejak didirikannya, penghasilan Madona cabang Surabaya sudah bisa mencapai empat puluh persen kakaknya di Jakarta suatu prestasi yang di luar dugaan Anastasia sendiri. Anastasia sekarang sibuk mondar-mandir Surabaya Jakarta setiap dua minggu. Seperti halnya di Jakarta, di Surabaya pun Anastasia bekerja siang dan malam. Bekerja memberinya kepuasan tersendiri, lagi pula sudah terlalu lama dia menarik dirinya dari pergaulan sosial sehingga dia merasa lebih rileks hanya ditemani dirinya sendiri dari pada harus berkumpul dengan orang-orang lain. Sebagaimana yang dikatakan Antonio dulu, akhirnya dia berhasil menjadikan kesepian itu temannya.
Hubungannya dengan karyawan-karyawannya cukup baik walaupun Anastasia selalu mempertahankan jarak. Di mata mereka dia adalah janda Antonio Castillo, perempuan karier yang punya status dari Jakarta. pengusaha sukses dan pemilik biro model Madona yang reputasinya sudah tersohor. Karyawan-karyawannya mengenalnya sebagai seorang pimpinan yang tegas dan profesional, seorang perempuan yang sepak terjangnya tak kalah dengan lelaki mana pun. Tak ada yang mengenalnya sebagai seorang individu sebagai Anastasia yang bisa dirundung sepi dan dibebani duka, apalagi sebagai Seruni yang lahir dan dibesarkan di kota ini juga. Bagi kebanyakan orang di Surabaya, janda cantik ini merupakan suatu misteri.
Sama halnya seperti yang sering terjadi di Jakarta, beberapa orang klien dan relasinya di Surabaya mencoba untuk menjalin hubungan pribadi yang lebih akrab dengannya, tetapi usaha mereka sia-sia. Janda Antonio Castillo seakan mempunyai benteng pertahanan berlapis baja yang tak tertembuskan. Sikapnya yang anggun dan dingin membuat orang-orang yang berani coba-coba, mundur teratur begitu bertemu pandang dengan tatapan matanya yang tajam dan beku. Dan tinggallah janda cantik ini suatu misteri.
Suatu saat mereka mengadakan pengambilan gambar di salah satu pusat perbelanjaan kota. Langit sudah mendung sejak sore hari. tapi hujan belum turun. Pengambilan gambar ternyata berlangsung sampai pukul delapan malam. Rombongan foto model dan juru potretnya baru meninggalkan lokasi shooting pukul setengah sembilan. Hujan turun dengan tiba-tiba seperti dicurahkan dari langit yang terbuka.
Pukul sepuluh kurang seperempat Anastasia mendengar bel pintunya berdenting. Kedua orang pembantunya sudah tidur. Anastasia keluar sendiri untuk membukakan pintu. Pastilah rombongannya pulang. Di ambang pintu ternyata hanya ada seorang pemuda Martin basah kuyup dan menggigil. Martin adalah asisten Sukardi, juru potretnya.
"Martin!" kata Anastasia heran melihat pemuda itu basah kuyup.
"Mobilnya mogok, Bu," kata pemuda itu dengan gigi yang masih bergemelutuk.
"Ayo, masuk! Mogok di mana?"
"Di Jalan Kertajaya. Airnya tinggi,"
"Lalu? Mana yang lain?"
"Pak Sukardi dan Mbak-mbak semuanya sudah saya antarkan pulang duluan. Saya disuruh Pak Sukardi membawa pulang mobil bersama peralatannya. Waktu mogok dijalan Kertajaya tinggal saya sendiri."
Anastasia masuk dan kembali, dengan sehelai handuk kering yang diulurkannya kepada pemuda itu.
"Ini, keringkan dulu badanmu. Lalu di mana mobil itu sekarang?" Peralatan foto yang mereka bawa semuanya berharga mahal.
"Itu ada di halaman sini. Saya carikan truk yang mau menariknya sampai ke sini. Saya takut meninggalkannya di jalan karena ada peralatan foto di dalamnya."
Hati Anastasia terkesan oleh pemuda ini. Paling tidak dia punya rasa tanggung jawab.
"Kalau begitu sekarang kau tukar baju dulu. Pakailah salah satu baju koleksi. Nanti kau masuk angin," kata Anastasia.
"Eh, tidak usah, Bu, biar saya pulang saja."
"Kau naik apa?"
"Naik motor, Bu."
"Masa kau mau pulang naik motor dalam hujan yang deras ini? Nanti motonnu juga mogok kalau jalannya masih banjir. Tunggu saja sampai hujannya reda. Kau bisa menelepon pulang untuk memberi tahu orang tuamu."
"Saya kos bersama teman-teman, kok, Bu, tidak di rumah orang tua," kata pemuda itu.
"Yah, sudah. Kalau begitu keringkan dulu badanmu kalau mau mandi ya Silakan, lalu setelah itu kau tukar baju, dan kau boleh tidur di Sini. Kan di kamar kerja saya ada sofa yang besar, itu bisa kau pakai sebagai tempat tidur. Saya akan mengambilkan selimut di dalam," senyum Anastasia.
"Y-y-ya, Bu," sahut Martin berusaha mengatasi gemeletuk giginya.
"Ayo, kalau begitu jangan mengulur waktu. Saya siapkan minuman panas di meja. Setelah mandi minuman ini bisa menghangatkan badanmu."
Ketika Martin keluar dari kamar mandi mengenakan salah satu kemeja dan celana koleksi Madona, dia mendapatkan majikannya telah menantikannya di ruang tamu dengan minuman kakao susu panas.
"Minumlah, Martin," kata Anastasia.
"supaya kau tidak masuk angin," katanya menunjuk gelas besar yang berisi penuh dengan cairan coklat muda itu.
Pemuda itu memegang gelas besarnya dengan kedua belam tangan, merasakan bagaimana kehangatan gelas itu meresap ke tangannya. Diteguknya isinya dengan perasaan bersyukur.
"Pukul berapa tadi pengambilan gambar selesai?" tanya Anastasia.
"Pukul delapan, Bu."
"Lalu pukul berapa keluar dari toserba itu?"
"Sekitar setengah sembilan."
"Jadi persis waktu hujan?"
"Iya."
"Lalu?"
"Lalu Mbak-mbak itu minta diantarkan pulang."
"Sempat makan, nggak?"
"Belum, Bu. Kami pikir mau cepat-cepat pulang saja sehingga tidak berhenti makan di jalan."
"Jadi kau belum makan? Lho, kasihan!" kata Anastasia segera bangkit.
"Kalau begitu saya siapkan makanan ala kadarnya dan kau makan di sini!"
"Tidak usah, Bu, saya... saya tidak lapar. Ini sudah cukup," kata Martin menunjuk gelasnya yang kosong.
"Hus! Kau tunggu di sini biar saya yang menyiapkan sebentar!"
Sambil menunggu pemuda itu makan, Anastasia bertanya..."Kau berasal dari mana, Tin?"
"Oh, dari Surabaya saja, Bu."
"Tadi kok katanya kau kos di sini."
"Betul, Bu. Saya tinggal bersama tiga orang teman saya yang mengontrak sebuah rumah kecil."
"Orang tuamu tinggal di mana?"
"Di Surabaya juga."
"Lho, kok aneh? Kan lebih enak tinggal di rumah orang tua, nggak usah keluar uang kos."
"Saya tidak membayar, kok, Bu. Teman-teman saya yang mengeluarkan uang untuk mengontrak rumah itu. Saya cuma nebeng. Saya lebih senang tinggal bersama mereka karena lebih bebas."
"Orang tuamu tidak berkeberatan?"
"Ah, Bapak nggak peduli," kata Martin dengan wajah murung.
"Ibumu?"
"Ibu sudah meninggal. Yang ada sekarang adalah ibu tiri. Itulah sebabnya saya tidak betah di rumah."
"Kau tidak punya saudara?"
"Saya anak tunggal."
Anastasia mengangguk. Susah memang menjadi anak tunggal. Dia sendiri pun anak tunggal. Anastasia bisa mengerti mengapa pemuda ini merasa lebih senang tinggal bersama teman-temannya daripada serumah dengan seorang ibu tiri.
"Kau masih sekolah, Tin? tanya Anastasia. Sekarang baru dia sadar bahwa dia tidak terlalu familier dengan kehidupan pribadi karyawan karyawannya.
"Tadinya. Sekarang tidak."
"Sekolah apa?"
"Kedokteran."
"Oh?" Kiranya pemuda ini merupakan bayangan dirinya sendiri di masa mudanya. Sama-sama anak tunggal, sama-sama jebolan fakultas kedokteran, sama-sama akhirnya terjun ke biro model Madona.
"Kalau begitu mengapa tidak diteruskan sekolahnya? Tentunya masa depan sebagai dokter lebih bagus daripada seorang juru potret."
"Saya bosan sekolah, Bu. Bidang ini lebih menarik. Foto memang hobi saya."
Anastasia tersenyum.
Pemuda itu selesai makan, tersenyum tersipu, dan mengucapkan terima kasih.
"Sekarang kau boleh tidur," kata Anastasia.
"Selamat malam."
"Selamat malam. Bu."
Hampir dua bulan lamanya dia menikmati kehidupan tanpa kegiatan seperti ini kecuali makan dan tidur, dan akhirnya dia merasa bosan. Anastasia sudah terbiasa selama bertahun-tahun selalu punya aktivitas. Dia tak dapat tinggal menganggur lama. Sekarang dia harus memutuskan, kembali ke Jakarta ke kehidupannya yang lama, atau mencari aktivitas baru di Surabaya? Rasanya dia masih senang tinggal di rumah orang tuanya, senang menikmati dimanjakan ibunya lagi, senang merasa dirinya ada yang memperhatikan dan menyayangi-haruskah semuanya ini dia tinggalkan lagi untuk kembali ke kehidupan yang gersang dan dingin di Jakarta? Anastasia bukannya tidak melihat betapa besarnya potensi pasar di kota kedua teramai di Indonesia ini yang masih belum memiliki biro model yang profesional. Kalau begitu mengapa Madona tidak membuka cabang di sini? Dan setiap hari ide ini pun semakin mendesaknya. Anastasia membicarakan hal ini dengan kedua orang tuanya. Sudah dapat diduga bahwa kedua orang tua itu merasa senang sekali dan sangat menyetujui gagasan putrinya. Mereka tahu, apabila di Surabaya Anastasia tidak punya kesibukan, dalam waktu singkat dia akan kembali lagi ke Jakarta. Dengan membuka cabang Madona di sini, mereka tentu akan lebih sering bertemu dengan anak mereka bahkan pada tahap-tahap permulaan bangkitnya suatu usaha, tak mustahil Anastasia akan menungguinya sendiri di Surabaya. Maka dengan restu kedua orang tuanya, mulailah Anastasia mengongkretkan idenya.
Pertama-tama Anastasia mencari tempat yang cocok dan dia berhasil mendapatkan sebuah rumah yang besar dan bertingkat di daerah Manyar Kertoarjo. Bangunan ini cocok sekali dijadikan tempat operasinya merangkap tempat tinggalnya. Sudah barang tentu dia tak ingin merepotkan kedua orang tuanya dengan jadwal keluar-masuknya yang tidak menentu kalau dia harus disibukkan dengan aktivitas mengelola sebuah biro model, karena itu Anastasia harus punya tempat tinggal sendiri. Empat bulan lamanya dia sibuk mengatur izin dan mendekorasi bangunan tersebut. Setelah semuanya rampung, mulailah dia mencari tenaga ahli. Dia mencari tenaga desainer foto yang berbakat, tukang potret yang ahli, gadis-gadis yang bisa dididiknya menjadi gadis model yang profesional, dan semua kegiatan ini menimbulkan gairah hidupnya lagi.
Minggu-minggu berikutnya hari-harinya disibukkan. dengan upayanya mencari tenaga-tenaga cabang Madona yang baru, Dalam waktu yang relatif singkat, Anastasia berhasil mendapatkan karyawan inti yang dibutuhkannya. Dia berhasil mendapatkan seorang desainer, seorang sekretaris, tiga orang gadis cantik calon model, seorang sopir, seorang tukang foto beserta pembantunya, di samping beberapa orang pembantu domestik yang bertugas membersihkan rumah dan halamannya yang lebar. Secara bergilir karyawan karyawannya dikirimnya ke Jakarta untuk dididik langsung oleh tenaga ahlinya di sana. Pada permulaan bulan Februari 1984, papan nama Madona cabang Surabaya sudah terpancang dengan megahnya di depan dan dua-tiga orang yang main coba-coba untuk melihat dan' dekat organisasi apa yang berdiri di sana, dibuat sangat terkesan oleh profesionalismenya.
Kliennya yang pertama adalah sebuah pabrik sepatu yang terkenal. Mereka bermaksud mencetak kalender untuk tahun berikutnya dengan gambar sepatu-sepatu mereka yang diperagakan oleh gadis-gadis model yang cantik. Kontrak yang pertama ini dikerjakan Anastasia dengan sangat berhati-hati, bahkan dia khusus mendatangkan Yusuf tukang potretnya dari Jakarta untuk memimpin sendiri pengambilan gambar di sini di samping memberikan pengarahan onthe-spot bagi Sukardi camera man-nya di Surabaya. Dengan bekerja sama menangani suatu kontrak, Sukardi langsung mendapatkan petunjuk-petunjuk praktek yang bermanfaat, yang merupakan modal baginya untuk bisa mengatasi kontrak-kontrak berikutnya sendiri.
Sedikit demi sedikit biro model Madona cabang Surabaya berkembang semakin mantap. Klien klien yang pergi dengan puas karena mendapatkan pelayanan yang profesional, memberikan rekomendasi bagus bagi perusahaan ini dan reputasi Madona cabang Surabaya meluas dari mulut ke mulut. Dalam waktu satu tahun lebih sejak didirikannya, penghasilan Madona cabang Surabaya sudah bisa mencapai empat puluh persen kakaknya di Jakarta suatu prestasi yang di luar dugaan Anastasia sendiri. Anastasia sekarang sibuk mondar-mandir Surabaya Jakarta setiap dua minggu. Seperti halnya di Jakarta, di Surabaya pun Anastasia bekerja siang dan malam. Bekerja memberinya kepuasan tersendiri, lagi pula sudah terlalu lama dia menarik dirinya dari pergaulan sosial sehingga dia merasa lebih rileks hanya ditemani dirinya sendiri dari pada harus berkumpul dengan orang-orang lain. Sebagaimana yang dikatakan Antonio dulu, akhirnya dia berhasil menjadikan kesepian itu temannya.
Hubungannya dengan karyawan-karyawannya cukup baik walaupun Anastasia selalu mempertahankan jarak. Di mata mereka dia adalah janda Antonio Castillo, perempuan karier yang punya status dari Jakarta. pengusaha sukses dan pemilik biro model Madona yang reputasinya sudah tersohor. Karyawan-karyawannya mengenalnya sebagai seorang pimpinan yang tegas dan profesional, seorang perempuan yang sepak terjangnya tak kalah dengan lelaki mana pun. Tak ada yang mengenalnya sebagai seorang individu sebagai Anastasia yang bisa dirundung sepi dan dibebani duka, apalagi sebagai Seruni yang lahir dan dibesarkan di kota ini juga. Bagi kebanyakan orang di Surabaya, janda cantik ini merupakan suatu misteri.
Sama halnya seperti yang sering terjadi di Jakarta, beberapa orang klien dan relasinya di Surabaya mencoba untuk menjalin hubungan pribadi yang lebih akrab dengannya, tetapi usaha mereka sia-sia. Janda Antonio Castillo seakan mempunyai benteng pertahanan berlapis baja yang tak tertembuskan. Sikapnya yang anggun dan dingin membuat orang-orang yang berani coba-coba, mundur teratur begitu bertemu pandang dengan tatapan matanya yang tajam dan beku. Dan tinggallah janda cantik ini suatu misteri.
Suatu saat mereka mengadakan pengambilan gambar di salah satu pusat perbelanjaan kota. Langit sudah mendung sejak sore hari. tapi hujan belum turun. Pengambilan gambar ternyata berlangsung sampai pukul delapan malam. Rombongan foto model dan juru potretnya baru meninggalkan lokasi shooting pukul setengah sembilan. Hujan turun dengan tiba-tiba seperti dicurahkan dari langit yang terbuka.
Pukul sepuluh kurang seperempat Anastasia mendengar bel pintunya berdenting. Kedua orang pembantunya sudah tidur. Anastasia keluar sendiri untuk membukakan pintu. Pastilah rombongannya pulang. Di ambang pintu ternyata hanya ada seorang pemuda Martin basah kuyup dan menggigil. Martin adalah asisten Sukardi, juru potretnya.
"Martin!" kata Anastasia heran melihat pemuda itu basah kuyup.
"Mobilnya mogok, Bu," kata pemuda itu dengan gigi yang masih bergemelutuk.
"Ayo, masuk! Mogok di mana?"
"Di Jalan Kertajaya. Airnya tinggi,"
"Lalu? Mana yang lain?"
"Pak Sukardi dan Mbak-mbak semuanya sudah saya antarkan pulang duluan. Saya disuruh Pak Sukardi membawa pulang mobil bersama peralatannya. Waktu mogok dijalan Kertajaya tinggal saya sendiri."
Anastasia masuk dan kembali, dengan sehelai handuk kering yang diulurkannya kepada pemuda itu.
"Ini, keringkan dulu badanmu. Lalu di mana mobil itu sekarang?" Peralatan foto yang mereka bawa semuanya berharga mahal.
"Itu ada di halaman sini. Saya carikan truk yang mau menariknya sampai ke sini. Saya takut meninggalkannya di jalan karena ada peralatan foto di dalamnya."
Hati Anastasia terkesan oleh pemuda ini. Paling tidak dia punya rasa tanggung jawab.
"Kalau begitu sekarang kau tukar baju dulu. Pakailah salah satu baju koleksi. Nanti kau masuk angin," kata Anastasia.
"Eh, tidak usah, Bu, biar saya pulang saja."
"Kau naik apa?"
"Naik motor, Bu."
"Masa kau mau pulang naik motor dalam hujan yang deras ini? Nanti motonnu juga mogok kalau jalannya masih banjir. Tunggu saja sampai hujannya reda. Kau bisa menelepon pulang untuk memberi tahu orang tuamu."
"Saya kos bersama teman-teman, kok, Bu, tidak di rumah orang tua," kata pemuda itu.
"Yah, sudah. Kalau begitu keringkan dulu badanmu kalau mau mandi ya Silakan, lalu setelah itu kau tukar baju, dan kau boleh tidur di Sini. Kan di kamar kerja saya ada sofa yang besar, itu bisa kau pakai sebagai tempat tidur. Saya akan mengambilkan selimut di dalam," senyum Anastasia.
"Y-y-ya, Bu," sahut Martin berusaha mengatasi gemeletuk giginya.
"Ayo, kalau begitu jangan mengulur waktu. Saya siapkan minuman panas di meja. Setelah mandi minuman ini bisa menghangatkan badanmu."
Ketika Martin keluar dari kamar mandi mengenakan salah satu kemeja dan celana koleksi Madona, dia mendapatkan majikannya telah menantikannya di ruang tamu dengan minuman kakao susu panas.
"Minumlah, Martin," kata Anastasia.
"supaya kau tidak masuk angin," katanya menunjuk gelas besar yang berisi penuh dengan cairan coklat muda itu.
Pemuda itu memegang gelas besarnya dengan kedua belam tangan, merasakan bagaimana kehangatan gelas itu meresap ke tangannya. Diteguknya isinya dengan perasaan bersyukur.
"Pukul berapa tadi pengambilan gambar selesai?" tanya Anastasia.
"Pukul delapan, Bu."
"Lalu pukul berapa keluar dari toserba itu?"
"Sekitar setengah sembilan."
"Jadi persis waktu hujan?"
"Iya."
"Lalu?"
"Lalu Mbak-mbak itu minta diantarkan pulang."
"Sempat makan, nggak?"
"Belum, Bu. Kami pikir mau cepat-cepat pulang saja sehingga tidak berhenti makan di jalan."
"Jadi kau belum makan? Lho, kasihan!" kata Anastasia segera bangkit.
"Kalau begitu saya siapkan makanan ala kadarnya dan kau makan di sini!"
"Tidak usah, Bu, saya... saya tidak lapar. Ini sudah cukup," kata Martin menunjuk gelasnya yang kosong.
"Hus! Kau tunggu di sini biar saya yang menyiapkan sebentar!"
Sambil menunggu pemuda itu makan, Anastasia bertanya..."Kau berasal dari mana, Tin?"
"Oh, dari Surabaya saja, Bu."
"Tadi kok katanya kau kos di sini."
"Betul, Bu. Saya tinggal bersama tiga orang teman saya yang mengontrak sebuah rumah kecil."
"Orang tuamu tinggal di mana?"
"Di Surabaya juga."
"Lho, kok aneh? Kan lebih enak tinggal di rumah orang tua, nggak usah keluar uang kos."
"Saya tidak membayar, kok, Bu. Teman-teman saya yang mengeluarkan uang untuk mengontrak rumah itu. Saya cuma nebeng. Saya lebih senang tinggal bersama mereka karena lebih bebas."
"Orang tuamu tidak berkeberatan?"
"Ah, Bapak nggak peduli," kata Martin dengan wajah murung.
"Ibumu?"
"Ibu sudah meninggal. Yang ada sekarang adalah ibu tiri. Itulah sebabnya saya tidak betah di rumah."
"Kau tidak punya saudara?"
"Saya anak tunggal."
Anastasia mengangguk. Susah memang menjadi anak tunggal. Dia sendiri pun anak tunggal. Anastasia bisa mengerti mengapa pemuda ini merasa lebih senang tinggal bersama teman-temannya daripada serumah dengan seorang ibu tiri.
"Kau masih sekolah, Tin? tanya Anastasia. Sekarang baru dia sadar bahwa dia tidak terlalu familier dengan kehidupan pribadi karyawan karyawannya.
"Tadinya. Sekarang tidak."
"Sekolah apa?"
"Kedokteran."
"Oh?" Kiranya pemuda ini merupakan bayangan dirinya sendiri di masa mudanya. Sama-sama anak tunggal, sama-sama jebolan fakultas kedokteran, sama-sama akhirnya terjun ke biro model Madona.
"Kalau begitu mengapa tidak diteruskan sekolahnya? Tentunya masa depan sebagai dokter lebih bagus daripada seorang juru potret."
"Saya bosan sekolah, Bu. Bidang ini lebih menarik. Foto memang hobi saya."
Anastasia tersenyum.
Pemuda itu selesai makan, tersenyum tersipu, dan mengucapkan terima kasih.
"Sekarang kau boleh tidur," kata Anastasia.
"Selamat malam."
"Selamat malam. Bu."
SUDAH beberapa minggu ini Anastasia selalu melihat ada rangkaian bunga mawar di atas meja kerjanya. Tadinya dia mengira sekretarisnya yang memesan, tetapi ternyata Siska tidak tahu apa-apa. Dia hanya meletakkannya di sana. Kiriman bunga itu tidak bernama dan selalu tiba setiap hari Jumat. Yang mengantarkan adalah seorang laki-laki tanggung dengan sepeda. Ketika ditanya. dia tidak bisa memberikan jawaban karena dia hanyalah seorang pesuruh dan dia tidak tahu siapa yang telah memesan bunga itu.
Anastasia tak mengacuhkan kiriman bunga itu. Dia sudah terbiasa dihujani perhatian orang sejak menjadi gadis model sampai setelah dia menjanda. Anastasia tidak pernah menggubris demonstrasi perhatian semacam itu. Tetapi ketika kiriman bunga ini masih tetap datang dengan setia setelah tiga bulan, mau tak mau Anastasia mulai berpikir. Siapa gerangan yang begitu mengaguminya yang begitu mengidolakannya sampai-sampai dengan tekun setiap minggu mengiriminya satu pot bunga mawar? Hal ini mengasyikkan pikirannya dan membuatnya geli sendiri. Bayangkan, seorang perempuan yang sudah menjelang empat puluh tahun seorang janda lagi masih mempunyai pengagum!
"Sis, siapa sih yang ngirim bunga itu setiap minggu?" tanyanya kepada Siska sekretarisnya pada suatu hari.
"Wah, saya nggak tahu, Bu Ana. Mungkin Bapak yang punya toko kaca mata itu, yang sering kemari," senyum Siska.
"Heran aku," kata Anastasia dengan geli,
"kok nggak bosen-bosennya! Sudah berapa minggu dia terus ngirimi kita kembang?"
"Wah, Sudah tiga bulan kira-kira, Bu," gelak Siska.
"Aku sih penasaran," Kata Anastasia. Kalau aku tahu orangnya, akan aku suruh berhenti saja dari ketololannya membuang-buang uang begini."
"Bunga kan tidak terlalu mahal, Bu."
"Semurah-murahnya juga lima ribu rupiah, Sis. Kan masih banyak yang bisa dibelinya dengan uang lima ribu. Paling tidak bisa dibuat mengajak istrinya makan kenyang di restoran."
"Mungkin yang mengirim belum berkeluarga, Bu. Mungkin dia menaksir Ibu." Siska terkekeh.
"Yang menaksir aku paling tidak ya sudah harus berusia lima puluh. Lha kalau umur lima puluhan masih bujang kan rada mencurigakan, toh, Sis!"
Mereka terbahak bersama.
"Oh, ya, besok aku ke Jakarta lagi, Sis," kata Anastasia.
"Kalau ada yang penting selesaikan saja sekarang."
"Lama, Bu?"
"Yah. biasa dua-tiga minggu begitu. Sudah lama aku tidak kontrol di sana. Aku akan meneleponmu kalau ada yang penting."
"Minggu depan rasanya kita tidak punya kegiatan istimewa. Semua kontrak sudah ditangani."
"Kalau ada pesanan baru bisa kau serahkan Pak Ridwan, biar dia yang merencanakan desainnya."
"Iya, Bu."
"Jadi kau juga tidak begitu banyak pekerjaan selama kutinggalkan ini, kan?" senyum Anastasia.
"Kalau begitu kau kuberi tugas khusus."
Siska mengangguk. Selama hampir satu tahun setengah dia bekerja pada perempuan ini dia sudah mengenal wataknya dengan baik.Majikannya adalah seorang yang humoris dan terbuka seorang yang menyenangkan dalam pergaulan, yang tak segan tertawa terbahak bersama karyawan-karyawannya yang tidak sombong dan yang dalam banyak hal masih berjiwa seperti gadis-gadis yang berusia dua puluhan.
"Tolong kau selidiki siapa yang mengirim bunga itu." bisik Anastasia.
Anastasia tak mengacuhkan kiriman bunga itu. Dia sudah terbiasa dihujani perhatian orang sejak menjadi gadis model sampai setelah dia menjanda. Anastasia tidak pernah menggubris demonstrasi perhatian semacam itu. Tetapi ketika kiriman bunga ini masih tetap datang dengan setia setelah tiga bulan, mau tak mau Anastasia mulai berpikir. Siapa gerangan yang begitu mengaguminya yang begitu mengidolakannya sampai-sampai dengan tekun setiap minggu mengiriminya satu pot bunga mawar? Hal ini mengasyikkan pikirannya dan membuatnya geli sendiri. Bayangkan, seorang perempuan yang sudah menjelang empat puluh tahun seorang janda lagi masih mempunyai pengagum!
"Sis, siapa sih yang ngirim bunga itu setiap minggu?" tanyanya kepada Siska sekretarisnya pada suatu hari.
"Wah, saya nggak tahu, Bu Ana. Mungkin Bapak yang punya toko kaca mata itu, yang sering kemari," senyum Siska.
"Heran aku," kata Anastasia dengan geli,
"kok nggak bosen-bosennya! Sudah berapa minggu dia terus ngirimi kita kembang?"
"Wah, Sudah tiga bulan kira-kira, Bu," gelak Siska.
"Aku sih penasaran," Kata Anastasia. Kalau aku tahu orangnya, akan aku suruh berhenti saja dari ketololannya membuang-buang uang begini."
"Bunga kan tidak terlalu mahal, Bu."
"Semurah-murahnya juga lima ribu rupiah, Sis. Kan masih banyak yang bisa dibelinya dengan uang lima ribu. Paling tidak bisa dibuat mengajak istrinya makan kenyang di restoran."
"Mungkin yang mengirim belum berkeluarga, Bu. Mungkin dia menaksir Ibu." Siska terkekeh.
"Yang menaksir aku paling tidak ya sudah harus berusia lima puluh. Lha kalau umur lima puluhan masih bujang kan rada mencurigakan, toh, Sis!"
Mereka terbahak bersama.
"Oh, ya, besok aku ke Jakarta lagi, Sis," kata Anastasia.
"Kalau ada yang penting selesaikan saja sekarang."
"Lama, Bu?"
"Yah. biasa dua-tiga minggu begitu. Sudah lama aku tidak kontrol di sana. Aku akan meneleponmu kalau ada yang penting."
"Minggu depan rasanya kita tidak punya kegiatan istimewa. Semua kontrak sudah ditangani."
"Kalau ada pesanan baru bisa kau serahkan Pak Ridwan, biar dia yang merencanakan desainnya."
"Iya, Bu."
"Jadi kau juga tidak begitu banyak pekerjaan selama kutinggalkan ini, kan?" senyum Anastasia.
"Kalau begitu kau kuberi tugas khusus."
Siska mengangguk. Selama hampir satu tahun setengah dia bekerja pada perempuan ini dia sudah mengenal wataknya dengan baik.Majikannya adalah seorang yang humoris dan terbuka seorang yang menyenangkan dalam pergaulan, yang tak segan tertawa terbahak bersama karyawan-karyawannya yang tidak sombong dan yang dalam banyak hal masih berjiwa seperti gadis-gadis yang berusia dua puluhan.
"Tolong kau selidiki siapa yang mengirim bunga itu." bisik Anastasia.
"An, pak Dadang kena sakit liver," kata Maya yang sekarang menjadi sekretaris pribadinya di Madona Jakarta.
"Pak Hamdi terpaksa mencari tenaga pengganti sementara."
Hamdi adalah manajer yang diserahi tanggung jawab penuh untuk mengelola kegiatan rutin Madona di Jakarta. Bersama Maya merekalah motor penggerak Madona sejak Anastasia lebih banyak menghabiskan waktunya di cabang barunya di Surabaya.
"Kasihan Pak Dadang. Sekarang di mana?"
"Sudah di rumah, tapi harus istirahat total. Paling nggak tiga bulan, An. Tapi Pak Hamdi sudah mendapat seorang pengganti. Kau mau melihatnya?"
"Oke, nanti aku akan menjumpainya. Siapa namanya?"
"Yamin...Yamin Raharja. Orangnya gagah, An. Dia lebih pantas menjadi peragawan."
Anastasia terbahak. Di antara dirinya dan Maya sama sekali tak ada tembok pemisah. Walaupun Maya sekarang adalah karyawannya, namun hubungan mereka lebih menyerupai saudara.
"Bagaimana dengan kontrak kosmetik Delima? Semuanya berjalan lancar?"
"Tinggal dua kali pengambilan gambar. Tidak ada problem khusus walaupun pemiliknya agak cerewet."
"Namanya klien mereka yang punya uang mereka berhak cerewet," senyum Anastasia.
"Lalu bagaimana peragaan busana perancang Sito Zainuri?"
"Besok lusa, kan?"
"Terkadang aku ingin bisa terjun ke catwalk lagi, Ya," kata Anastasia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tahun-tahun yang menyenangkan, bukan, ketika kita kerjanya cuma melenggok di atas catwalk?"
"Mengapa tidak kaucoba lagi kalau begitu? Kau masih cantik dan potongan tubuhmu sama sekali tidak berubah selama bertahun-tahun ini. Lain dengan diriku. Aku sekarang sudah terlalu kurus dan kering. Nggak laku lagi sebagai foto model maupun peragawati. Kau masih saja seperti dulu. Terkadang aku ngiri melihatmu, pada usia hampir empat puluh begini masih mempunyai penampilan seorang gadis dua puluhan!"
"Ah, kamu mengada-ada saja, Maya! Mana aku laku sebagai peragawati! Gadis-gadis yang muda dan segar begitu banyak yang antre ingin menjadi peragawati. Lihat saja anak-anak di sini uh, cantik dan aksi-aksi! Kalau kubandingkan dengan diri kita dulu. mereka sekarang betul-betul profesional lho! Kita dulu kan takut-takut, masih punya rasa segan, takut dikatakan orang sikap kita terlalu menyolok, dan lain-lain. Mereka gadis-gadis yang sekarang ini sama sekali tidak pusing sama omongan orang. Merek punya rasa kepercayaan yang besar pada diri sendiri. Aku benar benar kagum melihat mereka. Kita sekarang sudah nggak usah memberikan keberanian lagi pada mereka. Lain dengan Jaman kita dulu.
"Aku masih ingat, setiap aku naik ke catwalk kalau aku tidak melihat anggukan meyakinkan dari Antonio yang duduk di antara penonton, aku sudah grogi. Baru setelah aku melihat dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya, aku bisa melangkahkan kakiku dengan lebih ringan."
"Ya, Antonio dulu memang selalu menunggui kita," kenang Maya.
"Hm," Anastasia menghela napas panjang.
"Orang baik cepat mati. Kami begitu saling mencintai.."
Maya menepuk punggung tangan majikannya dengan penuh pengertian.
"Kau adalah perempuan yang tabah, An. Seandainya hal ini terjadi padaku. mungkin aku sudah gila."
"Aku sendiri pun sudah hampir gila setelah Antonio meninggal, Maya," kata Anastasia mengakui perasaan yang selama ini selalu dipendamnya.
"Karena itulah aku membenamkan diri dalam pekerjaan. Antonio terlalu sayang padaku. Dia pasti akan bersedih seandainya dia bisa melihat bahwa aku menderita setelah ditinggalkannya. Aku tak ingin membuatnya merasa bersalah karena harus meninggalkan aku. Kepergiannya bukan kehendaknya sendiri, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Karena itu aku memaksakan diriku untuk bertahan baik selama sakitnya maupun setelah kematiannya. Aku ingin dia bisa pergi dengan lega, tanpa menyandang perasaan berdosa padaku di mana pun sekarang dia berada."
"Seandainya sekarang Antonio dapat melihatmu, pasti dia sangat bangga, An," kata Maya. "Kau telah mengembangkan Madona menjadi suatu usaha yang besar dan terkenal."
"Ya, aku melakukannya untuk dirinya, agar kasih sayangnya tidak sia-sia. Aku ingin mengabadikannya dengan jalan ini. Agar walaupun dia sudah tidak ada, namun namanya tetap hidup dan dikenal orang. Semua orang tahu bahwa Madona identik dengan Antonio Castillo."
"Sekarang Anastasia Castillo," ralat Maya.
"Kau yang telah berjasa membawa Madona ke jenjangnya sekarang."
"Tidak, Maya. Aku hanya janda Antonio Castillo. Sebagai Anastasia aku tidak berdaya apa-apa. Tetapi sebagai janda Antonio Castillo aku bertekad untuk terus mengembangkan usaha ini."
"Kau selalu berusaha untuk menyembunyikan dirimu, An."
Anastasia menghela napas panjang lagi.
"Aku lebih senang bersembunyi dalam kepompongku sendiri dengan kenanganku sendiri. Kau tahu bagaimana aku sekarang selalu mautinggal di latar belakang saja. Aku tak ingin berhubungan dengan Siapa pun."
"Itu membuat orang malah semakin penasaran ingin tahu bagaimana yang rupanya Anastasia Castillo ini. Semua orang tahu bahwa kau adalah bekas foto model dan peragawati. Mereka ingin bisa berkenalan denganmu."
"Aku sekarang sudah nenek-nenek, Maya. Bulan lalu usiaku genap tiga puluh sembilan. Aku sekarang sudah memasuki usia yang keempat puluh! Sudah nggak pantas lagi jadi tontonan orang!"
"Jangan mengingatkan aku, An," senyum Maya.
"Kau masih akan empat puluh. Sedangkan aku. aku sudah lewat! Umurku sudah empat puluh tiga!"
Mereka terbahak bersama.
"Kau tidak ingin bertemu si Yamin Raharja ini dulu? Nami saja kita ngobrol lagi," usul Maya mengingatkan tugas majikannya.
"Biar aku bicara dulu dengan Pak Hamdi. Nanti dia sakit hati kok datang-datang aku belum bicara dengannya sudah bicara dengan karyawan baru."
"Aku panggilkan?"
"Ya. Kutunggu di sini."
"pak Hamdi, bagaimana operasi minggu-minggu terakhir ini?" tanya Anastasia mengulurkan tangannya menyambut manajernya.
Di dalam kantornya yang luas dan indah di lantai tiga inilah Anastasia menerima stafstaf kepercayaannya untuk menerima laporan dan mendengarkan keluhan mereka.
"Semuanya lancar, Bu Ana. Hanya sayang, Pak Dadang tidak bisa bertugas dulu selama tiga bulan. Livernya membengkak."
"Kenapa sampai begitu?"
"Kata dokter karena kecapekan. itulah sebabnya sekarang dia harus beristirahat."
Anastasia mengangguk.
"Kita tanggung semua biaya pengobatannya, Pak Hamdi."
Hamdi mengiyakan.
"Saya sudah mencari gantinya juga, Bu Ana."
"Ya, saya dengar dari Maya Pak Hamdi sudah mendapatkan ganti."
"Cuma untuk sementara, kok, Bu Ana. Saudara Yamin ini sebetulnya punya bisnis percetakan sendiri. Berhubung akhir-akhir ini bisnisnya agak sepi dan kebetulan dia adalah teman baik Pak Dadang. dia bersedia menggantikan Pak Dadang sebagai desainer di sini selama sakitnya."
Anastasia mengernyitkan dahinya.
"Punya bisnis sendiri? Mengapa Pak Hamdi tidak mencari pengganti yang tidak punya bisnis sendiri saja? Biasanya orang yang punya bisnis sendiri kurang serius dan kurang loyal jika dia bekerja pada orang lain."
"Oh, Saudara Yamin ini lain. Bu Ana. Dia ternyata adalah seorang yang berjiwa seniman. Pekerjaannya bagus sekali, bahkan saya terpaksa mengatakan, lebih bagus dari pada pekerjaan Pak Dadang. Dia sangat memperhatikan detil, betulbetul seorang perfeksionis. Saya kira mungkin karena sifatnya inilah maka bisnisnya sendiri tidak bisa maju, Dia terlalu memperhatikan mutu, kurang bisa berpikiran secara komersial. Tapi bagi kita dia adalah aset yang bagus. Saya justru akan merasa sayang apabila suatu saat nanti Saudara Yamin ini ingin kembali ke profesinya semula."
"Memangnya perjanjian kerjanya bagaimana, Pak?" tanya Anastasia.
"Begini, Pak Dadang kan takut kehilangan posisinya di sini. Dia takut kalau harus libur lama, kita tidak bisa menunggunya dan mengambil tenaga baru. Jadi dia minta, bantuan pada Saudara Yamin ini yang temannya sendiri. Dia percaya bahwa nanti kalau dia sudah sehat dan bisa bekerja lagi seperti sedia kala, Saudara Yamin akan mengembalikan posisi itu padanya. Karena itu Pak Dadang memohon pada saya untuk menerima Saudara Yamin ini saja dari pada saya mencari orang luar."
"Nanti kalau waktunya Pak Dadang sembuh dan Saudara Yamin ini nggak mau minggir, bagaimana?"
"Kalau begitu malah kita yang untung, Bu! Pekerjaan kita di sini cukup banyak untuk memakai dua orang desainer. Sayang kalau bakat seperti yang dimiliki Saudara Yamin tidak bisa kita manfaatkan."
"Sehebat itu kah dia? Saya jadi penasaran ingin melihat hasil tangannya"...Senyum Anastasia.
"Ini sudah saya bawakan empat buah desainnya. Yang dua masih belum sempurna, tapi yang dua ini sudah."
Hamdi mengeluarkan empat helai kertas yang memuat gambar-gambar desain yang memang bagus.
Anastasia mengangguk perlahan.
"Ya, dia memang jempol," katanya mengakui.
"Berapa honor yang Anda berikan padanya?"
"Sama dengan gaji Pak Dadang."
"Berapa sih umurnya sekarang?"
"Tiga puluh tiga tahun."
"Berapa orang tanggungan keluarganya?"
"'Tidak ada. Dia masih bujang dan sudah yatim piatu."
"Kita lihat saja perkembangannya kalau begitu. Jika dia memang bisa mempertahankan prestasinya seperti ini, saya kira anda boleh menambah gajinya." Hamdi tersenyum lebar.
"Mudah-mudahan dia akan tinggal lama bersama kita." katanya.
"Ini saudara Yamin Raharja, Bu ," Kata Maya mengantarkan seorang laki-laki tegap masuk ke kamar kerja Anastasia di lantai yang paling atas ini. Di hadapan seorang karyawan baru, Maya terpaksa membahasakan Anastasia dengan "Bu", meskipun di antara mereka sendiri sudah terbiasa memanggil nama saja.
Anastasia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Silahkan duduk, Saudara Yamin."
Laki-laki itu duduk tanpa banyak formalitas. Dia paling benci formalitas. Karena itu ketika Maya memberitahukan padanya bahwa Anastasia yang baru datang dari Surabaya ingin bertemu dengannya, dia sudah merasa ogah-ogahan untuk mengikutinya ke lantai tiga.
Duduk berhadapan dengan Anastasia. Yamin Raharja merasa sedikit heran. Dia tidak menyangka bahwa majikannya perempuan yang memiliki biro model dan kursus senam Madona ini ternyata masih begitu muda! Dia tahu bahwa perempuan itu adalah bekas salah seorang peragawati Madona yang kawin dengan si pemilik yang asli, jadi dalam hatinya dia sudah menduga tentunya perempuan itu tidak terlalu jelek. Tetapi kalau yang muncul secantik dan semuda ini. betul-betul di luar dugaannya.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda yang sudah mau bergabung dengan kami di sini mengambil alih pekerjaan Pak Dadang," kata Anastasia.
"Saya dengar dari Pak Hamdi, Anda sangat berbakat. Saya cenderung setuju dengan pendapatnya setelah melihat keempat desain Anda ini," kata Anastasia menunjuk kertas-kertas yang terpampang di atas mejanya.
Yamin Raharja hanya mengangguk. Dia berusaha menebak berapa sebetulnya usia perempuan ini. Dipandang sekilas (menatap bos terlalu lama kan bisa dikategorikan kurang ajar) dari jarak dua meter, tampaknya perempuan itu masih sekitar akhir dua puluhan. Tapi ini tentunya mustahil! Pendiri Madona yang orang Spanyol itu suami perempuan ini sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Jadi berapa usia perempuan ini? Kalau melihat potongan tubuhnya dan kehalusan kulitnya, dia masih di bawah tiga puluh. Tapi kalau dinilai ketenangan dan sikapnya yang anggun, sudah pasti dia lebih dari tiga puluh lima tahun.
"Saudara Yamin kabarnya mempunyai usaha percetakan sendiri?" tanya Anastasia melanjutkan.
"Kalau ditinggal begini siapa yang mengelolanya?"
Yamin Raharja tersenyum.
"Bisnis percetakan akhir-akhir ini sepi. Bahan bahannya mahal, saingan banyak. Kalau hanya usaha kecil-kecilan, tidak bisa bersaing dengan usaha yang besar. Dengan meninggalkannya sekarang saya kira saya tidak kehilangan pesanan apa pun."
"Kalau Saudara Yamin ingin bekerja secara permanen di sini, kami gembira sekali menerima Anda. Saya lihat karya Anda betul-betul bagus."
"Saat ini saya hanya berfungsi sebagai pengganti Pak Dadang saja. Saya belum memikirkan ke arah bergabung dengan Madona secara permanen. Memang bidang ini menarik bagi saya, dan untuk sementara saya tidak perlu memikirkan biaya bahan-bahan yang saya pakai. Tapi saya belum yakin saya ingin terjun ke bidang ini selamanya."
Anastasia mengangguk.
"Itu hanya suatu usul saja," katanya tersenyum.
"Asalkan anda tahu bahwa pintu Madona selalu terbuka jika anda ingin bergabung secara permanen."
"Terima kasih, Bu Ana," kata Yamin.
Anastasia mengangguk lalu berdiri, menandakan wawancara dengannya telah selesai Yamin Raharja pun berdiri, mengangguk, lalu keluar.
Aku ingin mencoba perempuan ini, pikirnya. ini merupakan tantangan baru bagiku. Mungkin akhirnya aku akan tinggal di sini lebih lama dari pada yang kurencanakan. Siapa tahu?
DI Jakarta setiap hari Anastasia bekerja seperti kesetanan. Dia datang pukul delapan, dan tinggal hingga pukul delapan malam. Kemudian dia pulang. makan, terus tidur. Rumahnya kendati akhir-akhir ini sering ditinggalkannya terpelihara dengan baik. Selain dia tetap mempertahankan pembantu-pembantu terpercaya yang sudah ikut bertahun-tahun padanya, juga Maya secara rutin setiap minggu pasti mengontrol keadaan rumah itu di kala Anastasia ada di Surabaya. Bagi Anastasia rumah ini merupakan kenangan yang sangat berarti dari masa hidupnya bersama Antonio dan oleh karena itu jika dia berada di Jakarta, dia tak ke mana-mana selain ke kantornya dan selebihnya menikmati saat santainya di rumahnya sendiri.
Di rumah ini dia tak pernah merasa kesepian. Walaupun telah dua belas tahun lebih sejak Antonio meninggal. kehadirannya dalam rumah ini masih bisa dirasakan oleh Anastasia. Dalam setiap benda, setiap perabot, setiap ornamen yang terpasang di rumah ini, Anastasia menemukan sebagian dari diri Antonio. Keriangan hatinya, optimismenya, pengertiannya, kebijaksanaannya. Tak jarang Anastasia bisa berbicara pada bendabenda ini, seakan-akan mereka mengerti dan bisa menyampaikan kata-katanya pada Antonio. Karena itulah rumah ini adalah tempatnya untuk melepaskan ketegangan dari semua tuntutan dunia luar, tempatnya untuk mereguk kekuatan spiritual, tempatnya mencari ganti energi yang terbuang dan terampas oleh segala masalah yang harus dihadapinya, tempatnya untuk menyembuhkan luka-luka dirinya.
Anastasia sekarang merasa bersyukur dia tidak menjual rumah ini setelah kematian Antonio seperti yang dianjurkan teman-temannya. Teman temannya semua mengatakan sebaiknya dia tidak tinggal di tempat yang begitu penuh dengan kenangan karena hal itu akan menekan jiwanya. Ternyata malah sebaliknya. Kenangannya akan Antonio sama sekali tidak menekan jiwanya. Mereka telah melewatkan masa yang indah walaupun singkat masa yang penuh dengan cinta kasih-masa yang tanpa penyesalan. Dan justru Anastasia memperoleh kekuatannya dari mengenang masa-masa itu. Bahwa setelah melewati pencobaan yang sedemikian dia masih bisa bertahan dengan kepala tegak, membuatnya yakin bahwa dirinya terbuat dari bahan yang lebih tahan uji daripada yang disangkanya. Dia bukanlah seorang perempuan lemah yang jatuh terkulai saat suaminya direnggut oleh maut. Tetapi dia telah membuktikan bahwa dia mampu memberikan cinta kasihnya dan kekuatannya untuk membekali kepergian suaminya dengan hati yang lapang. Bahkan boleh dikatakan, dia sendirilah yang telah mengantarkan Antonio sampai ke depan pintu gerbang maut sambil memberinya kepercayaan sepanjang menempuh perjalanan ke sana bahwa sepeninggalnya nanti dia tak akan hancur berantakan. Kekuatan dan ketabahannyalah yang sanggup membuat Antonio meninggalkan suatu senyuman dibibirnya kala dia menutup matanya.
Di Surabaya walaupun rumahnya tak kalah indah dan bahkan lebih besar, Anastasia tak pernah mendapatkan makanan spiritual seperti yang diperolehnya dari rumahnya di Jakarta. Karena itu apabila jiwanya sudah jenuh dan kesepian menggerogoti dirinya di sana, dia pasti teringat akan tempat pelariannya di Jakana dan dia kembali untuk beristirahat beberapa lamanya di sini. Tiga minggu berlalu sebelum Anastasia memutuskan untuk pergi ke Surabaya lagi. Kalau segalanya berjalan lancar di Jakarta walaupun dirinya tak ada, itu semua dikarenakan di sini dia mempunyai staf-staf kepercayaan yang penuh loyalitas dan dedikasi. Lain halnya dengan keadaan cabangnya di Surabaya. Di sana dia belum mempunyai orang kepercayaan yang tangguh. Segalanya masih tergantung pada dirinya. Karena itu walaupun dia ingin tinggal lebih lama di Jakarta, tanggung jawab dan tugas memanggilnya kembali ke kota kelahirannya.
"Pak Hamdi terpaksa mencari tenaga pengganti sementara."
Hamdi adalah manajer yang diserahi tanggung jawab penuh untuk mengelola kegiatan rutin Madona di Jakarta. Bersama Maya merekalah motor penggerak Madona sejak Anastasia lebih banyak menghabiskan waktunya di cabang barunya di Surabaya.
"Kasihan Pak Dadang. Sekarang di mana?"
"Sudah di rumah, tapi harus istirahat total. Paling nggak tiga bulan, An. Tapi Pak Hamdi sudah mendapat seorang pengganti. Kau mau melihatnya?"
"Oke, nanti aku akan menjumpainya. Siapa namanya?"
"Yamin...Yamin Raharja. Orangnya gagah, An. Dia lebih pantas menjadi peragawan."
Anastasia terbahak. Di antara dirinya dan Maya sama sekali tak ada tembok pemisah. Walaupun Maya sekarang adalah karyawannya, namun hubungan mereka lebih menyerupai saudara.
"Bagaimana dengan kontrak kosmetik Delima? Semuanya berjalan lancar?"
"Tinggal dua kali pengambilan gambar. Tidak ada problem khusus walaupun pemiliknya agak cerewet."
"Namanya klien mereka yang punya uang mereka berhak cerewet," senyum Anastasia.
"Lalu bagaimana peragaan busana perancang Sito Zainuri?"
"Besok lusa, kan?"
"Terkadang aku ingin bisa terjun ke catwalk lagi, Ya," kata Anastasia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tahun-tahun yang menyenangkan, bukan, ketika kita kerjanya cuma melenggok di atas catwalk?"
"Mengapa tidak kaucoba lagi kalau begitu? Kau masih cantik dan potongan tubuhmu sama sekali tidak berubah selama bertahun-tahun ini. Lain dengan diriku. Aku sekarang sudah terlalu kurus dan kering. Nggak laku lagi sebagai foto model maupun peragawati. Kau masih saja seperti dulu. Terkadang aku ngiri melihatmu, pada usia hampir empat puluh begini masih mempunyai penampilan seorang gadis dua puluhan!"
"Ah, kamu mengada-ada saja, Maya! Mana aku laku sebagai peragawati! Gadis-gadis yang muda dan segar begitu banyak yang antre ingin menjadi peragawati. Lihat saja anak-anak di sini uh, cantik dan aksi-aksi! Kalau kubandingkan dengan diri kita dulu. mereka sekarang betul-betul profesional lho! Kita dulu kan takut-takut, masih punya rasa segan, takut dikatakan orang sikap kita terlalu menyolok, dan lain-lain. Mereka gadis-gadis yang sekarang ini sama sekali tidak pusing sama omongan orang. Merek punya rasa kepercayaan yang besar pada diri sendiri. Aku benar benar kagum melihat mereka. Kita sekarang sudah nggak usah memberikan keberanian lagi pada mereka. Lain dengan Jaman kita dulu.
"Aku masih ingat, setiap aku naik ke catwalk kalau aku tidak melihat anggukan meyakinkan dari Antonio yang duduk di antara penonton, aku sudah grogi. Baru setelah aku melihat dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya, aku bisa melangkahkan kakiku dengan lebih ringan."
"Ya, Antonio dulu memang selalu menunggui kita," kenang Maya.
"Hm," Anastasia menghela napas panjang.
"Orang baik cepat mati. Kami begitu saling mencintai.."
Maya menepuk punggung tangan majikannya dengan penuh pengertian.
"Kau adalah perempuan yang tabah, An. Seandainya hal ini terjadi padaku. mungkin aku sudah gila."
"Aku sendiri pun sudah hampir gila setelah Antonio meninggal, Maya," kata Anastasia mengakui perasaan yang selama ini selalu dipendamnya.
"Karena itulah aku membenamkan diri dalam pekerjaan. Antonio terlalu sayang padaku. Dia pasti akan bersedih seandainya dia bisa melihat bahwa aku menderita setelah ditinggalkannya. Aku tak ingin membuatnya merasa bersalah karena harus meninggalkan aku. Kepergiannya bukan kehendaknya sendiri, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Karena itu aku memaksakan diriku untuk bertahan baik selama sakitnya maupun setelah kematiannya. Aku ingin dia bisa pergi dengan lega, tanpa menyandang perasaan berdosa padaku di mana pun sekarang dia berada."
"Seandainya sekarang Antonio dapat melihatmu, pasti dia sangat bangga, An," kata Maya. "Kau telah mengembangkan Madona menjadi suatu usaha yang besar dan terkenal."
"Ya, aku melakukannya untuk dirinya, agar kasih sayangnya tidak sia-sia. Aku ingin mengabadikannya dengan jalan ini. Agar walaupun dia sudah tidak ada, namun namanya tetap hidup dan dikenal orang. Semua orang tahu bahwa Madona identik dengan Antonio Castillo."
"Sekarang Anastasia Castillo," ralat Maya.
"Kau yang telah berjasa membawa Madona ke jenjangnya sekarang."
"Tidak, Maya. Aku hanya janda Antonio Castillo. Sebagai Anastasia aku tidak berdaya apa-apa. Tetapi sebagai janda Antonio Castillo aku bertekad untuk terus mengembangkan usaha ini."
"Kau selalu berusaha untuk menyembunyikan dirimu, An."
Anastasia menghela napas panjang lagi.
"Aku lebih senang bersembunyi dalam kepompongku sendiri dengan kenanganku sendiri. Kau tahu bagaimana aku sekarang selalu mautinggal di latar belakang saja. Aku tak ingin berhubungan dengan Siapa pun."
"Itu membuat orang malah semakin penasaran ingin tahu bagaimana yang rupanya Anastasia Castillo ini. Semua orang tahu bahwa kau adalah bekas foto model dan peragawati. Mereka ingin bisa berkenalan denganmu."
"Aku sekarang sudah nenek-nenek, Maya. Bulan lalu usiaku genap tiga puluh sembilan. Aku sekarang sudah memasuki usia yang keempat puluh! Sudah nggak pantas lagi jadi tontonan orang!"
"Jangan mengingatkan aku, An," senyum Maya.
"Kau masih akan empat puluh. Sedangkan aku. aku sudah lewat! Umurku sudah empat puluh tiga!"
Mereka terbahak bersama.
"Kau tidak ingin bertemu si Yamin Raharja ini dulu? Nami saja kita ngobrol lagi," usul Maya mengingatkan tugas majikannya.
"Biar aku bicara dulu dengan Pak Hamdi. Nanti dia sakit hati kok datang-datang aku belum bicara dengannya sudah bicara dengan karyawan baru."
"Aku panggilkan?"
"Ya. Kutunggu di sini."
"pak Hamdi, bagaimana operasi minggu-minggu terakhir ini?" tanya Anastasia mengulurkan tangannya menyambut manajernya.
Di dalam kantornya yang luas dan indah di lantai tiga inilah Anastasia menerima stafstaf kepercayaannya untuk menerima laporan dan mendengarkan keluhan mereka.
"Semuanya lancar, Bu Ana. Hanya sayang, Pak Dadang tidak bisa bertugas dulu selama tiga bulan. Livernya membengkak."
"Kenapa sampai begitu?"
"Kata dokter karena kecapekan. itulah sebabnya sekarang dia harus beristirahat."
Anastasia mengangguk.
"Kita tanggung semua biaya pengobatannya, Pak Hamdi."
Hamdi mengiyakan.
"Saya sudah mencari gantinya juga, Bu Ana."
"Ya, saya dengar dari Maya Pak Hamdi sudah mendapatkan ganti."
"Cuma untuk sementara, kok, Bu Ana. Saudara Yamin ini sebetulnya punya bisnis percetakan sendiri. Berhubung akhir-akhir ini bisnisnya agak sepi dan kebetulan dia adalah teman baik Pak Dadang. dia bersedia menggantikan Pak Dadang sebagai desainer di sini selama sakitnya."
Anastasia mengernyitkan dahinya.
"Punya bisnis sendiri? Mengapa Pak Hamdi tidak mencari pengganti yang tidak punya bisnis sendiri saja? Biasanya orang yang punya bisnis sendiri kurang serius dan kurang loyal jika dia bekerja pada orang lain."
"Oh, Saudara Yamin ini lain. Bu Ana. Dia ternyata adalah seorang yang berjiwa seniman. Pekerjaannya bagus sekali, bahkan saya terpaksa mengatakan, lebih bagus dari pada pekerjaan Pak Dadang. Dia sangat memperhatikan detil, betulbetul seorang perfeksionis. Saya kira mungkin karena sifatnya inilah maka bisnisnya sendiri tidak bisa maju, Dia terlalu memperhatikan mutu, kurang bisa berpikiran secara komersial. Tapi bagi kita dia adalah aset yang bagus. Saya justru akan merasa sayang apabila suatu saat nanti Saudara Yamin ini ingin kembali ke profesinya semula."
"Memangnya perjanjian kerjanya bagaimana, Pak?" tanya Anastasia.
"Begini, Pak Dadang kan takut kehilangan posisinya di sini. Dia takut kalau harus libur lama, kita tidak bisa menunggunya dan mengambil tenaga baru. Jadi dia minta, bantuan pada Saudara Yamin ini yang temannya sendiri. Dia percaya bahwa nanti kalau dia sudah sehat dan bisa bekerja lagi seperti sedia kala, Saudara Yamin akan mengembalikan posisi itu padanya. Karena itu Pak Dadang memohon pada saya untuk menerima Saudara Yamin ini saja dari pada saya mencari orang luar."
"Nanti kalau waktunya Pak Dadang sembuh dan Saudara Yamin ini nggak mau minggir, bagaimana?"
"Kalau begitu malah kita yang untung, Bu! Pekerjaan kita di sini cukup banyak untuk memakai dua orang desainer. Sayang kalau bakat seperti yang dimiliki Saudara Yamin tidak bisa kita manfaatkan."
"Sehebat itu kah dia? Saya jadi penasaran ingin melihat hasil tangannya"...Senyum Anastasia.
"Ini sudah saya bawakan empat buah desainnya. Yang dua masih belum sempurna, tapi yang dua ini sudah."
Hamdi mengeluarkan empat helai kertas yang memuat gambar-gambar desain yang memang bagus.
Anastasia mengangguk perlahan.
"Ya, dia memang jempol," katanya mengakui.
"Berapa honor yang Anda berikan padanya?"
"Sama dengan gaji Pak Dadang."
"Berapa sih umurnya sekarang?"
"Tiga puluh tiga tahun."
"Berapa orang tanggungan keluarganya?"
"'Tidak ada. Dia masih bujang dan sudah yatim piatu."
"Kita lihat saja perkembangannya kalau begitu. Jika dia memang bisa mempertahankan prestasinya seperti ini, saya kira anda boleh menambah gajinya." Hamdi tersenyum lebar.
"Mudah-mudahan dia akan tinggal lama bersama kita." katanya.
"Ini saudara Yamin Raharja, Bu ," Kata Maya mengantarkan seorang laki-laki tegap masuk ke kamar kerja Anastasia di lantai yang paling atas ini. Di hadapan seorang karyawan baru, Maya terpaksa membahasakan Anastasia dengan "Bu", meskipun di antara mereka sendiri sudah terbiasa memanggil nama saja.
Anastasia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Silahkan duduk, Saudara Yamin."
Laki-laki itu duduk tanpa banyak formalitas. Dia paling benci formalitas. Karena itu ketika Maya memberitahukan padanya bahwa Anastasia yang baru datang dari Surabaya ingin bertemu dengannya, dia sudah merasa ogah-ogahan untuk mengikutinya ke lantai tiga.
Duduk berhadapan dengan Anastasia. Yamin Raharja merasa sedikit heran. Dia tidak menyangka bahwa majikannya perempuan yang memiliki biro model dan kursus senam Madona ini ternyata masih begitu muda! Dia tahu bahwa perempuan itu adalah bekas salah seorang peragawati Madona yang kawin dengan si pemilik yang asli, jadi dalam hatinya dia sudah menduga tentunya perempuan itu tidak terlalu jelek. Tetapi kalau yang muncul secantik dan semuda ini. betul-betul di luar dugaannya.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda yang sudah mau bergabung dengan kami di sini mengambil alih pekerjaan Pak Dadang," kata Anastasia.
"Saya dengar dari Pak Hamdi, Anda sangat berbakat. Saya cenderung setuju dengan pendapatnya setelah melihat keempat desain Anda ini," kata Anastasia menunjuk kertas-kertas yang terpampang di atas mejanya.
Yamin Raharja hanya mengangguk. Dia berusaha menebak berapa sebetulnya usia perempuan ini. Dipandang sekilas (menatap bos terlalu lama kan bisa dikategorikan kurang ajar) dari jarak dua meter, tampaknya perempuan itu masih sekitar akhir dua puluhan. Tapi ini tentunya mustahil! Pendiri Madona yang orang Spanyol itu suami perempuan ini sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Jadi berapa usia perempuan ini? Kalau melihat potongan tubuhnya dan kehalusan kulitnya, dia masih di bawah tiga puluh. Tapi kalau dinilai ketenangan dan sikapnya yang anggun, sudah pasti dia lebih dari tiga puluh lima tahun.
"Saudara Yamin kabarnya mempunyai usaha percetakan sendiri?" tanya Anastasia melanjutkan.
"Kalau ditinggal begini siapa yang mengelolanya?"
Yamin Raharja tersenyum.
"Bisnis percetakan akhir-akhir ini sepi. Bahan bahannya mahal, saingan banyak. Kalau hanya usaha kecil-kecilan, tidak bisa bersaing dengan usaha yang besar. Dengan meninggalkannya sekarang saya kira saya tidak kehilangan pesanan apa pun."
"Kalau Saudara Yamin ingin bekerja secara permanen di sini, kami gembira sekali menerima Anda. Saya lihat karya Anda betul-betul bagus."
"Saat ini saya hanya berfungsi sebagai pengganti Pak Dadang saja. Saya belum memikirkan ke arah bergabung dengan Madona secara permanen. Memang bidang ini menarik bagi saya, dan untuk sementara saya tidak perlu memikirkan biaya bahan-bahan yang saya pakai. Tapi saya belum yakin saya ingin terjun ke bidang ini selamanya."
Anastasia mengangguk.
"Itu hanya suatu usul saja," katanya tersenyum.
"Asalkan anda tahu bahwa pintu Madona selalu terbuka jika anda ingin bergabung secara permanen."
"Terima kasih, Bu Ana," kata Yamin.
Anastasia mengangguk lalu berdiri, menandakan wawancara dengannya telah selesai Yamin Raharja pun berdiri, mengangguk, lalu keluar.
Aku ingin mencoba perempuan ini, pikirnya. ini merupakan tantangan baru bagiku. Mungkin akhirnya aku akan tinggal di sini lebih lama dari pada yang kurencanakan. Siapa tahu?
DI Jakarta setiap hari Anastasia bekerja seperti kesetanan. Dia datang pukul delapan, dan tinggal hingga pukul delapan malam. Kemudian dia pulang. makan, terus tidur. Rumahnya kendati akhir-akhir ini sering ditinggalkannya terpelihara dengan baik. Selain dia tetap mempertahankan pembantu-pembantu terpercaya yang sudah ikut bertahun-tahun padanya, juga Maya secara rutin setiap minggu pasti mengontrol keadaan rumah itu di kala Anastasia ada di Surabaya. Bagi Anastasia rumah ini merupakan kenangan yang sangat berarti dari masa hidupnya bersama Antonio dan oleh karena itu jika dia berada di Jakarta, dia tak ke mana-mana selain ke kantornya dan selebihnya menikmati saat santainya di rumahnya sendiri.
Di rumah ini dia tak pernah merasa kesepian. Walaupun telah dua belas tahun lebih sejak Antonio meninggal. kehadirannya dalam rumah ini masih bisa dirasakan oleh Anastasia. Dalam setiap benda, setiap perabot, setiap ornamen yang terpasang di rumah ini, Anastasia menemukan sebagian dari diri Antonio. Keriangan hatinya, optimismenya, pengertiannya, kebijaksanaannya. Tak jarang Anastasia bisa berbicara pada bendabenda ini, seakan-akan mereka mengerti dan bisa menyampaikan kata-katanya pada Antonio. Karena itulah rumah ini adalah tempatnya untuk melepaskan ketegangan dari semua tuntutan dunia luar, tempatnya untuk mereguk kekuatan spiritual, tempatnya mencari ganti energi yang terbuang dan terampas oleh segala masalah yang harus dihadapinya, tempatnya untuk menyembuhkan luka-luka dirinya.
Anastasia sekarang merasa bersyukur dia tidak menjual rumah ini setelah kematian Antonio seperti yang dianjurkan teman-temannya. Teman temannya semua mengatakan sebaiknya dia tidak tinggal di tempat yang begitu penuh dengan kenangan karena hal itu akan menekan jiwanya. Ternyata malah sebaliknya. Kenangannya akan Antonio sama sekali tidak menekan jiwanya. Mereka telah melewatkan masa yang indah walaupun singkat masa yang penuh dengan cinta kasih-masa yang tanpa penyesalan. Dan justru Anastasia memperoleh kekuatannya dari mengenang masa-masa itu. Bahwa setelah melewati pencobaan yang sedemikian dia masih bisa bertahan dengan kepala tegak, membuatnya yakin bahwa dirinya terbuat dari bahan yang lebih tahan uji daripada yang disangkanya. Dia bukanlah seorang perempuan lemah yang jatuh terkulai saat suaminya direnggut oleh maut. Tetapi dia telah membuktikan bahwa dia mampu memberikan cinta kasihnya dan kekuatannya untuk membekali kepergian suaminya dengan hati yang lapang. Bahkan boleh dikatakan, dia sendirilah yang telah mengantarkan Antonio sampai ke depan pintu gerbang maut sambil memberinya kepercayaan sepanjang menempuh perjalanan ke sana bahwa sepeninggalnya nanti dia tak akan hancur berantakan. Kekuatan dan ketabahannyalah yang sanggup membuat Antonio meninggalkan suatu senyuman dibibirnya kala dia menutup matanya.
Di Surabaya walaupun rumahnya tak kalah indah dan bahkan lebih besar, Anastasia tak pernah mendapatkan makanan spiritual seperti yang diperolehnya dari rumahnya di Jakarta. Karena itu apabila jiwanya sudah jenuh dan kesepian menggerogoti dirinya di sana, dia pasti teringat akan tempat pelariannya di Jakana dan dia kembali untuk beristirahat beberapa lamanya di sini. Tiga minggu berlalu sebelum Anastasia memutuskan untuk pergi ke Surabaya lagi. Kalau segalanya berjalan lancar di Jakarta walaupun dirinya tak ada, itu semua dikarenakan di sini dia mempunyai staf-staf kepercayaan yang penuh loyalitas dan dedikasi. Lain halnya dengan keadaan cabangnya di Surabaya. Di sana dia belum mempunyai orang kepercayaan yang tangguh. Segalanya masih tergantung pada dirinya. Karena itu walaupun dia ingin tinggal lebih lama di Jakarta, tanggung jawab dan tugas memanggilnya kembali ke kota kelahirannya.
Senin pagi ketika dia baru turun dan Kamar tidur yang berada dilantai atas, Siska sudah menyambutnya. Memang bagian bawah rumahnya ini dipakai sebagai kantor sedangkan bagian atas adalah tempat tinggalnya.
"Selamat pagi, Bu Ana!" kata Siska.
"Pagi, Sis! Aku baru tiba kemarin malam dengan pesawat terakhir. Pagi ini bangun kesiangan, ya," Senyum Anastasia.
"Masih pagi, kok. Belum ada tamu."
"Gimana apakah selama kutinggalkan ada problem? Kau nggak pernah menelepon jadi aku anggap semuanya beres."
"Beres kok. Cuma ada dua pesanan baru dan sudah dikerjakan Pak Ridwan."
"Sepi, ya? Ekonomi lagi sulit, sih, Sis. Orang semua pada sangat berhati-hati mengeluarkan uangnya. Lain dengan tahun-tahun awal delapan puluhan. Wah pada waktu itu semua pengusaha punya uang berkelimpahan sehingga biro jasa macam kita begini bisa maju pesat. Waktu itu Madona Jakarta bisa terima lebih dari sepuluh pesanan dalam sehari!"
"Iya, kira-kira resesi masih akan terasa dampaknya satu-dua tahun lagi, ya. Bu. Moga-moga saja kita terus bisa berkembang."
"Kita harus fleksibel kalau mau hidup. Aku lihat di Jakarta pun pemasukan dari bidang jasa modelling menurun juga. Tapi untung di sana ada cabang senam dan fitness. Ini yang maju pesat. Sekarang kelas-kelas di sana ditambah sampai pukul delapan malam! Apalagi setelah dibuka kursus keluwesan malam hari sekali. Banyak gadis yang bekerja siang harinya yang sekarang bisa ikut kursus malam."
"Mungkin di sini juga bisa kita terapkan yang sama, Bu?" tanya Siska.
"Kursus senam dan fitnes memang sedang digemari orang. Apalagi Madona sudah punya nama, pasti bisa merebut pasaran."
"Ya, aku juga sudah berpikir ke sana, cuma kita tidak boleh gegabah. Mencari pelatih yang ahli di Jakarta dan di sini berbeda. Biarlah kita pelanpelan mengembangkan dulu apa yang sudah ada sekarang. Kalau sekaligus mau menangani terlalu banyak segi, malah berantakan," kata Anastasia.
"Eh, bagaimana, Sis, apakah kau sudah berhasil mendapatkan informasi mengenai identitas orang yang suka mengirim bunga itu? Aku lihat hari ini sudah nggak ada bunga lagi."
"Oh. ya!" Siska lalu mengecilkan suaranya.
"Sudah ketahuan, Bu," bisiknya.
"Jadi, siapa?"
"Si Martin!"
"Martin? Martin kita?" tanya Anastasia kaget.
"Iya," Siska mengangguk.
"Tapi dia nggak mau mengaku sewaktu saya tanya."
"Kau tahu dari mana?"
"Saya suruh si anak yang tiap minggu mengantarkan bunga itu untuk membawa saya ke majikannya. Ternyata mereka punya kios kecil di pasar kembang Kayun. Tadinya si majikan juga nggak mau mengaku tetapi setelah saya marah marah dia baru menunjukkan bon-bon tagihannya kepada saya. Saya lihat nama Martin yang tercantum di sana."
"Ah, bukan Martin kita barangkali," kata Anastasia.
"Untuk apa dia mengirimi aku bunga tanpa nama setiap minggu? Kalau pakai nama mungkin maksudnya mau membaiki aku supaya gajinya naik, tapi kalau tanpa nama kan tidak menguntungkan baginya!"
"Mungkin... mungkin dia menaruh simpati pada Bu Ana," bisik Siska serius.
"Martin orangnya kan pendiam sekali. Siapa tahu dia diam-diam memendam cinta. Cuma sewaktu saya tanya, dia tidak mau mengaku. Tapi saya yakin pasti dia. Buktinya begitu Bu Ana ke Jakarta, kiriman bunga itu berhenti."
Anastasia tergelak.
"Ah, imaginasimu melantur-lantur rupanya, Sis! Coba nanti aku yang menanyainya. Aku yakin pasti ada kesalahan di sini. Di mana Martin sekarang?"
"Pergi bersama Pak Sukardi melihat lokasi pengambilan gambar untuk besok."
"Kalau nanti dia datang, katakan bahwa aku ingin bertemu dengannya."
"Selamat pagi, Bu Ana!" kata Siska.
"Pagi, Sis! Aku baru tiba kemarin malam dengan pesawat terakhir. Pagi ini bangun kesiangan, ya," Senyum Anastasia.
"Masih pagi, kok. Belum ada tamu."
"Gimana apakah selama kutinggalkan ada problem? Kau nggak pernah menelepon jadi aku anggap semuanya beres."
"Beres kok. Cuma ada dua pesanan baru dan sudah dikerjakan Pak Ridwan."
"Sepi, ya? Ekonomi lagi sulit, sih, Sis. Orang semua pada sangat berhati-hati mengeluarkan uangnya. Lain dengan tahun-tahun awal delapan puluhan. Wah pada waktu itu semua pengusaha punya uang berkelimpahan sehingga biro jasa macam kita begini bisa maju pesat. Waktu itu Madona Jakarta bisa terima lebih dari sepuluh pesanan dalam sehari!"
"Iya, kira-kira resesi masih akan terasa dampaknya satu-dua tahun lagi, ya. Bu. Moga-moga saja kita terus bisa berkembang."
"Kita harus fleksibel kalau mau hidup. Aku lihat di Jakarta pun pemasukan dari bidang jasa modelling menurun juga. Tapi untung di sana ada cabang senam dan fitness. Ini yang maju pesat. Sekarang kelas-kelas di sana ditambah sampai pukul delapan malam! Apalagi setelah dibuka kursus keluwesan malam hari sekali. Banyak gadis yang bekerja siang harinya yang sekarang bisa ikut kursus malam."
"Mungkin di sini juga bisa kita terapkan yang sama, Bu?" tanya Siska.
"Kursus senam dan fitnes memang sedang digemari orang. Apalagi Madona sudah punya nama, pasti bisa merebut pasaran."
"Ya, aku juga sudah berpikir ke sana, cuma kita tidak boleh gegabah. Mencari pelatih yang ahli di Jakarta dan di sini berbeda. Biarlah kita pelanpelan mengembangkan dulu apa yang sudah ada sekarang. Kalau sekaligus mau menangani terlalu banyak segi, malah berantakan," kata Anastasia.
"Eh, bagaimana, Sis, apakah kau sudah berhasil mendapatkan informasi mengenai identitas orang yang suka mengirim bunga itu? Aku lihat hari ini sudah nggak ada bunga lagi."
"Oh. ya!" Siska lalu mengecilkan suaranya.
"Sudah ketahuan, Bu," bisiknya.
"Jadi, siapa?"
"Si Martin!"
"Martin? Martin kita?" tanya Anastasia kaget.
"Iya," Siska mengangguk.
"Tapi dia nggak mau mengaku sewaktu saya tanya."
"Kau tahu dari mana?"
"Saya suruh si anak yang tiap minggu mengantarkan bunga itu untuk membawa saya ke majikannya. Ternyata mereka punya kios kecil di pasar kembang Kayun. Tadinya si majikan juga nggak mau mengaku tetapi setelah saya marah marah dia baru menunjukkan bon-bon tagihannya kepada saya. Saya lihat nama Martin yang tercantum di sana."
"Ah, bukan Martin kita barangkali," kata Anastasia.
"Untuk apa dia mengirimi aku bunga tanpa nama setiap minggu? Kalau pakai nama mungkin maksudnya mau membaiki aku supaya gajinya naik, tapi kalau tanpa nama kan tidak menguntungkan baginya!"
"Mungkin... mungkin dia menaruh simpati pada Bu Ana," bisik Siska serius.
"Martin orangnya kan pendiam sekali. Siapa tahu dia diam-diam memendam cinta. Cuma sewaktu saya tanya, dia tidak mau mengaku. Tapi saya yakin pasti dia. Buktinya begitu Bu Ana ke Jakarta, kiriman bunga itu berhenti."
Anastasia tergelak.
"Ah, imaginasimu melantur-lantur rupanya, Sis! Coba nanti aku yang menanyainya. Aku yakin pasti ada kesalahan di sini. Di mana Martin sekarang?"
"Pergi bersama Pak Sukardi melihat lokasi pengambilan gambar untuk besok."
"Kalau nanti dia datang, katakan bahwa aku ingin bertemu dengannya."
Ternyata sampai lewat pukul empat sore Pak Sukardi dan Martin masih belum kembali. Karyawan-karyawan yang lain pulang, begitu juga Siska. Anastasia tinggal seorang diri di kantornya meneliti laporan pengeluaran minggu minggu yang lalu ketika dia berada di Jakarta. Tiba-tiba Anastasia mendengar ketukan di pintunya.
"Ya."
Seraut wajah muda muncul di ambang pintu.
"Bu Ana!"
"Oh, Martin. Kamu baru datang?"
"Ya. Di atas meja saya ada nota dari Mbak Siska bahwa Bu Ana mencari saya."
"Ya, silakan duduk," kata Anastasia tersenyum kepada pemuda ini. Sedikit nervus, pikir Anastasia, mungkin takut aku marahi.
"Bagaimana keadaan lokasi tempat shooting besok? Semuanya beres?"
"Menurut Pak Sukardi mungkin akan mengalami sedikit hambatan, Bu. Di sana ada terlalu banyak pohon sehingga kurang leluasa menempatkan peralatan kita. Tapi setelah mencari-cari tadi kami sudah menemukan tempat yang bisa dipakai."
"Hm," senyum Anastasia.
"Selama tiga minggu ini apakah ada kesulitan pengambilan gambar?"
"Tidak, Bu. Semuanya lancar."
"Bagus. Sekarang aku ingin bertanya mengenai hal lain kepadamu. Kau tahu kan, tempo hari setiap minggu ada kiriman satu pot bunga mawar untukku?"
Martin mau mengangguk tetapi ragu-ragu. Dia duduk sedikit gelisah di kursinya.
"Tahukah kau siapa pengirimnya?" tanya Anastasia.
"Mengapa Bu Ana bertanya kepada saya?" balas Martin sedikit memucat.
"Menurut Siska, nama orang yang mengirim bunga itu Martin. Kecuali kau, aku tidak mengenal orang lain yang bernama Martin. Itulah sebabnya aku ingin tahu jawaban yang benar, apakah memang kau orangnya," senyum Anastasia.
Martin bungkam, menunduk.
"Kalau memang iya, katakanlah. Aku tidak marah. Malah aku pikir itu perbuatan yang manis sekali walaupun sebenarnya tidak perlu." Suara Anastasia tetap ramah, tetap lembut.
Akhirnya Martin mengangkat kepalanya. Matanya menatap majikannya dengan jernih.
"Ya" katanya.
"Saya yang mengirimnya."
Anastasia masih tersenyum, namun bukan senyuman yang mengejek.
"Mengapa sewaktu kau ditanyai Siska kau bilang tidak?"
"Saya anggap itu bukan urusannya. Bunga itu untuk Bu Ana, bukan untuk Mbak Siska," kata Martin defensif.
"Mengapa, Martin? Mengapa kau perlu membuang-buang uangmu untuk mengirimi aku bunga?" tanya Anastasia dengan sabar.
Martin menunduk lagi sambil menggumam bersuara tak jelas.
"Sayang kan uangmu kau hambur-hamburkan untuk itu. Tentunya kau bisa memanfaatkan uangmu untuk keperluanmu sendiri. Pemuda seusia dirimu tentunya juga punya banyak kebutuhan yang lain." Anastasia tersenyum.
"Kau tahu, Martin, kau tidak perlu berbuat sesuatu yang di luar kewajaran untuk mendapatkan nilai bagus dariku. Selama kau bekerja dengan baik dan loyal, itu sudah cukup bagiku. Nilaimu sudah bagus di mataku. Dan seandainya kau merasa gajimu kurang, katakanlah terus terang padaku. Aku bisa mempertimbangkannya lagi tanpa kau perlu merintis jalan dengan mengirimi aku bunga."
Martin menengadahkan kepalanya. Anastasia melihat ada pandangan terluka di matanya.
"Tapi itu sama sekali bukan maksud saya Bu!" katanya dengan napas memburu.
"Saya bukannya mau minta dinaikkan gaji saya atau apa!"
"Kalau begitu untuk apa, Tin? Aku tidak mengerti," kata Anastasia.
Dengan gelisah Martin meremas-remas kedua tangannya sendiri. Anastasia menantikan dengan sabar. Akhirnya baru dia tergagap,
"Bu Ana... Bu Ana tidak marah kalau... kalau saya bilang terus terang?"
"Tentu saja tidak. Aku lebih suka orang yang berterus terang."
Martin mengangguk.
"Ya, Bu Ana baik sekali... baik sekali."
Anastasia masih diam. Itu bukan jawaban yang dimintanya.
"Saya... saya sangat meng... mengagumi Bu Ana," kata Martin.
"Bu Ana sangat... sangat cantik, dan pandai, dan... dan sangat baik."
"Kau jangan membuat kepalaku membengkak, lho, Tin," gelak Anastasia.
"Meskipun aku senang sekali mendengar pujianmu, tapi kalau terlalu banyak sekaligus aku bisa keblinger."
Gelak Anastasia membuat suasana menjadi Iebih santai. Ketegangan Martin berkurang.
"Tapi semua yang saya katakan itu benar, Bu! Saya bicara yang sesungguhnya!" kata Martin ngotot.
"Mungkin kau merasa demikian karena aku kebetulan majikanmu. Orang biasanya sulit menerima seorang bos perempuan. Jadi karena aku kebetulan bosmu, kau menganggap aku ini hebat. Padahal sebenarnya tidak, kok. Aku cuma seorang perempuan biasa, hanya secara kebetulan aku punya keberuntungan bisa mewarisi usaha seperti ini dari suamiku almarhum."
"Tidak. Bu Ana terlalu merendah, namun itu memang sudah watak Bu Ana yang tidak sombong," kata Martin semakin berani mengutarakan pendapatnya.
"Bu Ana benar-benar seorang perempuan yang istimewa."
"Kau umur berapa sekarang, Tin?" tanya Anastasia sambil tersenyum.
"Dua puluh tiga."
"Apa rencanamu untuk masa depan?"
Wajah Martin menjadi murung.
"Saya tidak tahu."
"Kau harus mulai menyusun rencanamu sekarang, Tin. Setiap orang harus punya rencana. Kalau semuanya diserahkan kepada waktu saja, ya kita tidak akan pernah menjadi orang sukses. Kita harus membuat rencana, kemudian kita bekerja keras untuk bisa mewujudkan rencana kita itu."
"Saya sendiri belum tahu, Bu, apa yang bisa saya kerjakan."
"Seharusnya kau melanjutkan sekolahmu. Profesi dokter adalah profesi yang bagus."
"Rasanya tidak mungkin, Bu. Saya sudah jenuh mengikuti kegiatan sekolah."
"Apakah kau senang dengan bidang pekerjaanmu sekarang?"
Anastasia tersenyum. Banyak sudah laki-laki yang menyatakan jatuh hati padanya, tapi belum pernah dari seorang pemuda yang pantas menjadi anaknya.
< br /> "Lalu kau ingin menjadi fotografer profesional?"
"Saya tidak tahu. Saya hanya tahu sekarang saya suka bekerja di sini dan ingin bekerja terus di sini karena saya bisa bertemu dengan Bu Ana."
"Lho, kau harus punya alasan yang lebih kongkret dalam memilih suatu bidang keahlian, Martin. Kau bekerja di sini karena kau ingin menekuni bidang pemotretan dengan tujuan kelak menjadi fotografer yang profesional, begitu! Bukannya kau asal saja mengerjakan apa pun karena kau bisa bertemu dengan aku di sini."
"Habis Bu Ana menanyakan rencana saya. Saya tidak punya rencana. Sementara saya sudah sangat puas bisa bekerja di sini. Itu saja."
"Martin," kata Anastasia lembut.
Martin mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Anastasia.
"Kau jatuh hati padaku?" tanya Anastasia serius.
Sejenak lamanya Martin tidak menjawab, tetapi kemudian dia mengangguk.
"Lihatlah aku baik-baik, Tin," kata Anastasia.
"Aku ini sudah tua. Aku pantas menjadi ibumu. Aku sangat tersentuh oleh perhatianmu, tapi aku harus mengingatkan bahwa perhatian ini tidak pada tempatnya."
Martin diam saja.
"Kau seharusnya mencari pacar gadis yang sebaya dengan dirimu."
"Saya tahu bahwa saya tidak sepadan dengan Bu Ana," kata Martin.
"Saya tidak mempunyai status yang sama."
"Aku tidak bicara masalah status,Martin," kataAnastasia.
"Tapi masalah usia! Kau salah menafsirkan perasaanmu sendiri. Mungkin karena kau merasa kehilangan kasih sayang seorang ibu, jadi kau secara tidak sadar telah menggantungkan hatimu padaku."
"Tidak. Saya tidak menganggap Bu Ana seperti seorang ibu atau substitusi ibu saya. Saya... saya benar-benar mencintai Bu Ana. Seandainya saya seorang yang kaya, saya berani melamar Bu Ana dan memberikan nancah kepada Bu Ana sebagaimana layaknya. Sayangnya saya tidak punya kemampuan. Saya tidak bisa memberikan apaapa. Karena itu saya hanya berani mencintai dari jauh saja, dan seminggu sekali mengirim bunga."
"Martin, kau sudah terlena mimpimu sendiri yang tidak masuk akal. Tahukah kau berapa usiaku?"
"Usia tidak penting. Mungkin Bu Ana baru tiga puluh tahun, mungkin juga sudah lima puluh tahun, saya tidak peduli. Cinta tidak memandang usia."
"Kau tidak takut diolok-olok orang?"
"Persetan dengan orang lain."
Anastasia menggumam kepada dirinya sendiri,
"Begitulah Sifat orang muda. Cinta buta. Apa saja diterjang, menyesalnya baru kemudian."
"Saya tidak menyesal," kata Martin.
"Martin, dengarlah! Aku juga pernah muda, pernah seperti dirimu. Aku juga pernah mencintai atau aku mengira aku mencintai seorang laki-laki yang lebih tua. Ternyata pengalaman itu hanya membawa penyesalan saja kepadaku. Seandainya aku tidak bertemu dengan suamiku almarhum, mungkin aku sudah gila akibat cinta butaku itu." "Bu Ana pernah dikecewakan orang?" tanya Martin tidak percaya.
Anastasia mengangguk.
"Ya. Tapi itu sebagian karena kesalahanku sendiri juga. Martin. Aku memberikan cintaku tanpa pertimbangan."
"Berarti laki-laki itu tidak tahu menghargai mutiara yang murni," kata Martin.
Anastasia tersenyum
"Pada waktu itu aku cuma seorang gadis tolol, Martin, bukan seorang perempuan yang sukses seperti sekarang. Laki-laki itu sama sekali tidak berhadapan dengan sebutir mutiara. Aku cuma salah satu dari antara sederetan gadis-gadis yang antre minta perhatiannya."
"Sekarang dia pasti akan menyesal seandainya dia melihat Bu Ana."
"Aku kira tidak, Martin," senyum Anastasia.
"Dimata orang lain aku tidak sehebat yang kaulihat. Aku cuma seorang perempuan setengah baya yang kebetulan punya usaha yang sukses. Itu saja."
"Saya dengar sudah lama suami Bu Ana meninggal. Mengapa Bu Ana tidak kawin lagi?"
"Wah, aku lebih senang hidup sendiri begini. Lebih bebas mau ke mana saja bisa. Lagi pula sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan orang yang bisa menandingi kebaikan suamiku almarhum, jadi aku tidak pernah tertarik pada laki-laki lain."
Martin menghela napas panjang.
"Seandainya saya kaya, seandainya saya bisa memberi penghidupan yang layak kepada Bu Ana, seandainya saya bisa memikul seluruh tanggung jawab..."
"Seandainya kau sehebat itu pada usiamu ini, Martin," senyum Anastasia.
"kau juga tak akan memandang sebelah mata pada seorang perempuan setengah baya seperti aku." Anastasia tertawa.
"Pasti pada waktu itu kau akan menjadi rebutan gadis-gadis cantik di mana pun sehingga orang tua macam aku ini sama sekali sudah tak akan masuk dalam bukumu."
"Tidak! Pada waktu itu Bu Ana akan saya boyong ke tempat tinggal yang indah di puncak bukit dan Bu Ana tidak usah bekerja apa pun selain menikmati panorama indah setiap hari."
"Sementara kau berkelebat di tengah-tengah puluhan gadis cantik lainnya di kota. begitu?" gelak Anastasia.
"Tidak, Bu! Saya tak akan menyia-nyiakan waktu sedetik pun yang tidak akan saya lewatkan di sisi Bu Ana."
"Lalu bagaimana kita bisa hidup kalau tidak ada yang bekerja? Memangnya sudah kenyang makan angin saja?" Anastasia masih tertawa.
"Lho, ceritanya tadi kan saya ini kaya, Bu! Nggak usah bekerja."
"Kaya pun kalau tidak bekerja lama-lama habis juga dimakan setiap hari."
Martin akhirnya harus tertawa juga. Ketegangan dan kegugupannya lenyap.
"Berangan-angan dan bermimpi sekali waktu itu menyenangkan, Martin. Itu hanya suatu intermeso saja," kata Anastasia.
Yang membantu melepaskan ketegangan dari kehidupan kita. Tapi akhirnya kita harus kembali juga kepada kenyataan dan hari ini."
"Ya," kata Martin.
"Oleh sebab itu, aku nasihatkan agar kau lupakan saja fantasimu itu dan carilah gadis yang sebaya untuk menjadi pacarmu."
"Tidak, Bu. Izinkan saya tetap mencintai Bu Ana. Saya tidak akan mengganggu Bu Ana atau berbuat sesuatu yang menimbulkan kejengkelan Bu Ana. Bahkan saya tak akan mengirim bunga lagi jika hal itu menimbulkan rasa tidak suka Bu Ana. Hanya biarkan saya tetap bisa bekerja di sini"
Anastasia tersenyum. Anak muda! Yah, orang muda memang keras kepala dan pantang mundur untuk sementara waktu. Nanti dia akan bosan juga sendiri dan sadar dari kebodohannya.
"Tentu saja kau tetap boleh bekerja di sini, Martin," kata majikannya.
"Kau adalah karyawan yang baik."
Martin mengangguk hormat lalu mengundurkan diri.
"Ya."
Seraut wajah muda muncul di ambang pintu.
"Bu Ana!"
"Oh, Martin. Kamu baru datang?"
"Ya. Di atas meja saya ada nota dari Mbak Siska bahwa Bu Ana mencari saya."
"Ya, silakan duduk," kata Anastasia tersenyum kepada pemuda ini. Sedikit nervus, pikir Anastasia, mungkin takut aku marahi.
"Bagaimana keadaan lokasi tempat shooting besok? Semuanya beres?"
"Menurut Pak Sukardi mungkin akan mengalami sedikit hambatan, Bu. Di sana ada terlalu banyak pohon sehingga kurang leluasa menempatkan peralatan kita. Tapi setelah mencari-cari tadi kami sudah menemukan tempat yang bisa dipakai."
"Hm," senyum Anastasia.
"Selama tiga minggu ini apakah ada kesulitan pengambilan gambar?"
"Tidak, Bu. Semuanya lancar."
"Bagus. Sekarang aku ingin bertanya mengenai hal lain kepadamu. Kau tahu kan, tempo hari setiap minggu ada kiriman satu pot bunga mawar untukku?"
Martin mau mengangguk tetapi ragu-ragu. Dia duduk sedikit gelisah di kursinya.
"Tahukah kau siapa pengirimnya?" tanya Anastasia.
"Mengapa Bu Ana bertanya kepada saya?" balas Martin sedikit memucat.
"Menurut Siska, nama orang yang mengirim bunga itu Martin. Kecuali kau, aku tidak mengenal orang lain yang bernama Martin. Itulah sebabnya aku ingin tahu jawaban yang benar, apakah memang kau orangnya," senyum Anastasia.
Martin bungkam, menunduk.
"Kalau memang iya, katakanlah. Aku tidak marah. Malah aku pikir itu perbuatan yang manis sekali walaupun sebenarnya tidak perlu." Suara Anastasia tetap ramah, tetap lembut.
Akhirnya Martin mengangkat kepalanya. Matanya menatap majikannya dengan jernih.
"Ya" katanya.
"Saya yang mengirimnya."
Anastasia masih tersenyum, namun bukan senyuman yang mengejek.
"Mengapa sewaktu kau ditanyai Siska kau bilang tidak?"
"Saya anggap itu bukan urusannya. Bunga itu untuk Bu Ana, bukan untuk Mbak Siska," kata Martin defensif.
"Mengapa, Martin? Mengapa kau perlu membuang-buang uangmu untuk mengirimi aku bunga?" tanya Anastasia dengan sabar.
Martin menunduk lagi sambil menggumam bersuara tak jelas.
"Sayang kan uangmu kau hambur-hamburkan untuk itu. Tentunya kau bisa memanfaatkan uangmu untuk keperluanmu sendiri. Pemuda seusia dirimu tentunya juga punya banyak kebutuhan yang lain." Anastasia tersenyum.
"Kau tahu, Martin, kau tidak perlu berbuat sesuatu yang di luar kewajaran untuk mendapatkan nilai bagus dariku. Selama kau bekerja dengan baik dan loyal, itu sudah cukup bagiku. Nilaimu sudah bagus di mataku. Dan seandainya kau merasa gajimu kurang, katakanlah terus terang padaku. Aku bisa mempertimbangkannya lagi tanpa kau perlu merintis jalan dengan mengirimi aku bunga."
Martin menengadahkan kepalanya. Anastasia melihat ada pandangan terluka di matanya.
"Tapi itu sama sekali bukan maksud saya Bu!" katanya dengan napas memburu.
"Saya bukannya mau minta dinaikkan gaji saya atau apa!"
"Kalau begitu untuk apa, Tin? Aku tidak mengerti," kata Anastasia.
Dengan gelisah Martin meremas-remas kedua tangannya sendiri. Anastasia menantikan dengan sabar. Akhirnya baru dia tergagap,
"Bu Ana... Bu Ana tidak marah kalau... kalau saya bilang terus terang?"
"Tentu saja tidak. Aku lebih suka orang yang berterus terang."
Martin mengangguk.
"Ya, Bu Ana baik sekali... baik sekali."
Anastasia masih diam. Itu bukan jawaban yang dimintanya.
"Saya... saya sangat meng... mengagumi Bu Ana," kata Martin.
"Bu Ana sangat... sangat cantik, dan pandai, dan... dan sangat baik."
"Kau jangan membuat kepalaku membengkak, lho, Tin," gelak Anastasia.
"Meskipun aku senang sekali mendengar pujianmu, tapi kalau terlalu banyak sekaligus aku bisa keblinger."
Gelak Anastasia membuat suasana menjadi Iebih santai. Ketegangan Martin berkurang.
"Tapi semua yang saya katakan itu benar, Bu! Saya bicara yang sesungguhnya!" kata Martin ngotot.
"Mungkin kau merasa demikian karena aku kebetulan majikanmu. Orang biasanya sulit menerima seorang bos perempuan. Jadi karena aku kebetulan bosmu, kau menganggap aku ini hebat. Padahal sebenarnya tidak, kok. Aku cuma seorang perempuan biasa, hanya secara kebetulan aku punya keberuntungan bisa mewarisi usaha seperti ini dari suamiku almarhum."
"Tidak. Bu Ana terlalu merendah, namun itu memang sudah watak Bu Ana yang tidak sombong," kata Martin semakin berani mengutarakan pendapatnya.
"Bu Ana benar-benar seorang perempuan yang istimewa."
"Kau umur berapa sekarang, Tin?" tanya Anastasia sambil tersenyum.
"Dua puluh tiga."
"Apa rencanamu untuk masa depan?"
Wajah Martin menjadi murung.
"Saya tidak tahu."
"Kau harus mulai menyusun rencanamu sekarang, Tin. Setiap orang harus punya rencana. Kalau semuanya diserahkan kepada waktu saja, ya kita tidak akan pernah menjadi orang sukses. Kita harus membuat rencana, kemudian kita bekerja keras untuk bisa mewujudkan rencana kita itu."
"Saya sendiri belum tahu, Bu, apa yang bisa saya kerjakan."
"Seharusnya kau melanjutkan sekolahmu. Profesi dokter adalah profesi yang bagus."
"Rasanya tidak mungkin, Bu. Saya sudah jenuh mengikuti kegiatan sekolah."
"Apakah kau senang dengan bidang pekerjaanmu sekarang?"
Anastasia tersenyum. Banyak sudah laki-laki yang menyatakan jatuh hati padanya, tapi belum pernah dari seorang pemuda yang pantas menjadi anaknya.
< br /> "Lalu kau ingin menjadi fotografer profesional?"
"Saya tidak tahu. Saya hanya tahu sekarang saya suka bekerja di sini dan ingin bekerja terus di sini karena saya bisa bertemu dengan Bu Ana."
"Lho, kau harus punya alasan yang lebih kongkret dalam memilih suatu bidang keahlian, Martin. Kau bekerja di sini karena kau ingin menekuni bidang pemotretan dengan tujuan kelak menjadi fotografer yang profesional, begitu! Bukannya kau asal saja mengerjakan apa pun karena kau bisa bertemu dengan aku di sini."
"Habis Bu Ana menanyakan rencana saya. Saya tidak punya rencana. Sementara saya sudah sangat puas bisa bekerja di sini. Itu saja."
"Martin," kata Anastasia lembut.
Martin mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Anastasia.
"Kau jatuh hati padaku?" tanya Anastasia serius.
Sejenak lamanya Martin tidak menjawab, tetapi kemudian dia mengangguk.
"Lihatlah aku baik-baik, Tin," kata Anastasia.
"Aku ini sudah tua. Aku pantas menjadi ibumu. Aku sangat tersentuh oleh perhatianmu, tapi aku harus mengingatkan bahwa perhatian ini tidak pada tempatnya."
Martin diam saja.
"Kau seharusnya mencari pacar gadis yang sebaya dengan dirimu."
"Saya tahu bahwa saya tidak sepadan dengan Bu Ana," kata Martin.
"Saya tidak mempunyai status yang sama."
"Aku tidak bicara masalah status,Martin," kataAnastasia.
"Tapi masalah usia! Kau salah menafsirkan perasaanmu sendiri. Mungkin karena kau merasa kehilangan kasih sayang seorang ibu, jadi kau secara tidak sadar telah menggantungkan hatimu padaku."
"Tidak. Saya tidak menganggap Bu Ana seperti seorang ibu atau substitusi ibu saya. Saya... saya benar-benar mencintai Bu Ana. Seandainya saya seorang yang kaya, saya berani melamar Bu Ana dan memberikan nancah kepada Bu Ana sebagaimana layaknya. Sayangnya saya tidak punya kemampuan. Saya tidak bisa memberikan apaapa. Karena itu saya hanya berani mencintai dari jauh saja, dan seminggu sekali mengirim bunga."
"Martin, kau sudah terlena mimpimu sendiri yang tidak masuk akal. Tahukah kau berapa usiaku?"
"Usia tidak penting. Mungkin Bu Ana baru tiga puluh tahun, mungkin juga sudah lima puluh tahun, saya tidak peduli. Cinta tidak memandang usia."
"Kau tidak takut diolok-olok orang?"
"Persetan dengan orang lain."
Anastasia menggumam kepada dirinya sendiri,
"Begitulah Sifat orang muda. Cinta buta. Apa saja diterjang, menyesalnya baru kemudian."
"Saya tidak menyesal," kata Martin.
"Martin, dengarlah! Aku juga pernah muda, pernah seperti dirimu. Aku juga pernah mencintai atau aku mengira aku mencintai seorang laki-laki yang lebih tua. Ternyata pengalaman itu hanya membawa penyesalan saja kepadaku. Seandainya aku tidak bertemu dengan suamiku almarhum, mungkin aku sudah gila akibat cinta butaku itu." "Bu Ana pernah dikecewakan orang?" tanya Martin tidak percaya.
Anastasia mengangguk.
"Ya. Tapi itu sebagian karena kesalahanku sendiri juga. Martin. Aku memberikan cintaku tanpa pertimbangan."
"Berarti laki-laki itu tidak tahu menghargai mutiara yang murni," kata Martin.
Anastasia tersenyum
"Pada waktu itu aku cuma seorang gadis tolol, Martin, bukan seorang perempuan yang sukses seperti sekarang. Laki-laki itu sama sekali tidak berhadapan dengan sebutir mutiara. Aku cuma salah satu dari antara sederetan gadis-gadis yang antre minta perhatiannya."
"Sekarang dia pasti akan menyesal seandainya dia melihat Bu Ana."
"Aku kira tidak, Martin," senyum Anastasia.
"Dimata orang lain aku tidak sehebat yang kaulihat. Aku cuma seorang perempuan setengah baya yang kebetulan punya usaha yang sukses. Itu saja."
"Saya dengar sudah lama suami Bu Ana meninggal. Mengapa Bu Ana tidak kawin lagi?"
"Wah, aku lebih senang hidup sendiri begini. Lebih bebas mau ke mana saja bisa. Lagi pula sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan orang yang bisa menandingi kebaikan suamiku almarhum, jadi aku tidak pernah tertarik pada laki-laki lain."
Martin menghela napas panjang.
"Seandainya saya kaya, seandainya saya bisa memberi penghidupan yang layak kepada Bu Ana, seandainya saya bisa memikul seluruh tanggung jawab..."
"Seandainya kau sehebat itu pada usiamu ini, Martin," senyum Anastasia.
"kau juga tak akan memandang sebelah mata pada seorang perempuan setengah baya seperti aku." Anastasia tertawa.
"Pasti pada waktu itu kau akan menjadi rebutan gadis-gadis cantik di mana pun sehingga orang tua macam aku ini sama sekali sudah tak akan masuk dalam bukumu."
"Tidak! Pada waktu itu Bu Ana akan saya boyong ke tempat tinggal yang indah di puncak bukit dan Bu Ana tidak usah bekerja apa pun selain menikmati panorama indah setiap hari."
"Sementara kau berkelebat di tengah-tengah puluhan gadis cantik lainnya di kota. begitu?" gelak Anastasia.
"Tidak, Bu! Saya tak akan menyia-nyiakan waktu sedetik pun yang tidak akan saya lewatkan di sisi Bu Ana."
"Lalu bagaimana kita bisa hidup kalau tidak ada yang bekerja? Memangnya sudah kenyang makan angin saja?" Anastasia masih tertawa.
"Lho, ceritanya tadi kan saya ini kaya, Bu! Nggak usah bekerja."
"Kaya pun kalau tidak bekerja lama-lama habis juga dimakan setiap hari."
Martin akhirnya harus tertawa juga. Ketegangan dan kegugupannya lenyap.
"Berangan-angan dan bermimpi sekali waktu itu menyenangkan, Martin. Itu hanya suatu intermeso saja," kata Anastasia.
Yang membantu melepaskan ketegangan dari kehidupan kita. Tapi akhirnya kita harus kembali juga kepada kenyataan dan hari ini."
"Ya," kata Martin.
"Oleh sebab itu, aku nasihatkan agar kau lupakan saja fantasimu itu dan carilah gadis yang sebaya untuk menjadi pacarmu."
"Tidak, Bu. Izinkan saya tetap mencintai Bu Ana. Saya tidak akan mengganggu Bu Ana atau berbuat sesuatu yang menimbulkan kejengkelan Bu Ana. Bahkan saya tak akan mengirim bunga lagi jika hal itu menimbulkan rasa tidak suka Bu Ana. Hanya biarkan saya tetap bisa bekerja di sini"
Anastasia tersenyum. Anak muda! Yah, orang muda memang keras kepala dan pantang mundur untuk sementara waktu. Nanti dia akan bosan juga sendiri dan sadar dari kebodohannya.
"Tentu saja kau tetap boleh bekerja di sini, Martin," kata majikannya.
"Kau adalah karyawan yang baik."
Martin mengangguk hormat lalu mengundurkan diri.
Keesokan harinya..."Mana Pak Jati?" tanya Anastasia kepada Siska.
"Aku mau ke bank." Pak Jati adalah sopirnya.
"Hari ini kok belum muncul, Bu," kata Siska.
"Oh, sakit barangkali. Kemarin sudah kelihatan lesu."
"Biar saya yang mengantar saja, Bu." Sela Martin segera berdiri dari belakang mejanya.
"Hari ini Pak Sukardi ndak membutuhkan saya."
"Ah, nggak usah. Aku bisa mengemudikan mobil sendiri," kata Anastasia.
"Nanti susah mencari tempat parkir, Bu. Pagi hari begini tempat parkir selalu penuh. Biar saya antar saja supaya Bu Ana tak usah susah-susah mencari tempat parkir."
"Oke kalau begitu. yuk!"
Ternyata persis sewaktu mereka tiba ada kendaraan yang keluar sehingga Martin bisa memanfaatkan tempat lowong itu dan tidak perlu mencari tempat parkir yang jauh.
Hari ini Anastasia ke bank untuk menyetorkan beberapa helai cek pembayaran dari klien-kliennya sekaligus menarik uang tunai untuk membayar karyawan-karyawannya. Hari ini adalah hari yang terakhir dalam bulan Agustus. Biasanya tugas ini adalah pekerjaan Siska, namun karena Anastasia ingin menemui kepala bagian kreditnya untuk membicarakan kemungkinan mengambil kredit guna memperluas usahanya, maka Anastasia pergi sendiri. Pembicaraan mereka yang singkat tapi padat berlangsung cukup menyenangkan. Pihak bank ternyata tidak berkeberatan memberinya kredit sebesar tiga puluh juta rupiah setelah Anastasia melengkapi semua dokumen penunjangnya. Pukul sebelas dia sudah selesai dan kembali ke mobilnya. Martin pun sudah siap di sisi mobil.
"Ke mana lagi, Bu?"
"Pulang, Tin. Panas-panas begini rasanya aku sudah hampir meleleh."
Martin membawa kendaraan kembali menuju daerah Gubeng. Siang ini jalanan macet. Mereka baru bisa bernapas lega setelah melewati Gubeng Kertajaya. Memasuki Jalan Manyar Kertoajo jalan menjadi jauh lebih sepi. Umumnya di sini hanya rumah-rumah tempat tinggal yang berukuran besar-besar sehingga tidak ada kesibukan mobil yang keluar-masuk seperti di daerah pertokoan.
Tiba-tiba mobil Honda Accord perak Anastasia dipotong tajam oleh tiga sepeda motor. Untung Martin segera menginjak pedal rem karena detik berikutnya ketiga sepeda motor itu ternyata menghadang jalannya.
"Mana uang!" bentak seorang dari keenam laki-laki yang bersepeda motor itu. Dia mengenakan helm penuh yang menutup seluruh wajahnya, Sementara itu empat orang temannya sudah mengerubung, dua di sisi Anastasia dan dua di sisi Martin. Seorang tinggal di atas sepeda motornya.
"Cepat! Mana uang!"
"Di sini tidak ada uang! kata Martin.
"Bohong! Nyonya ini mengambil uang dari bank. Cepat!" Penodong itu mengacungkan pisaunya. Temannya membuka pintu mobil Anastasia yang tidak terkunci. Dengan pisau terhunus yang diarahkan ke leher Anastasia, penodong itu merampas tasnya dari pangkuannya. Secepat kilat dia kabur dan membonceng temannya yang menunggu dengan mesin yang tidak dimatikan. Keempat temannya yang lain berbuat serupa. Tetapi detik itu juga Martin sempat membuka pintunya dan melompat keluar. Dia mengejar salah seorang penodong yang lari paling belakang. Martin berhasil menariknya dan mereka jatuh bersama bergulingan di atas aspal. Martin membuka klep helmnya dan sempat melihat wajah si penodong ini sebelum laki-laki itu mengeluarkan pisaunya. Dalam pergumulan itu Martin terluka dibagian pangkal paha dan lambungnya. Kemeja dan celananya dibasahi oleh darah. Satu tusukan di tangan Martin membuatnya melepaskan lawannya dan penodong itu pun kabur membonceng teman yang sudah menunggu.
Anastasia yang menyusul keluar dari mobil segera memapah Martin yang berlumuran darah.
"Kita kejar mereka!" kata Martin terengah engah.
"Tidak, Tin! Tidak! Kau terluka. Biarkan saja!"
"Saya tidak apa-apa, kita kejar mereka!"
Martin bersikeras, mengira yang terluka hanya tangannya.
"Mereka berenam, Tin. Luka-Iukamu banyak mengeluarkan darah, kau harus segera ke rumah sakit."
Martin baru sadar bahwa kemejanya yang putih sebagian sudah berwarna merah kecoklatan.
"Kau jangan nyetir. Biar aku saja!" teriak Anastasia.
Martin menurut dan duduk di tempat penumpang. Anastasia melarikan mobil secepat mungkin ke rumah sakit.
Untunglah luka-luka Martin tidak mengenai bagian yang vital, hanya berupa irisan pada dagingnya saja. Setelah mengalami jahitan beberapa sentimeter di lambung, paha, dan tangannya, Martin diperbolehkan pulang.
"Kau libur dulu, Tin. Sementara nggak usah ke kantor sampai semua lukamu sembuh," kata Anastasia.
"Sekarang kau kuantarkan pulang ke rumah orang tuamu, ya?"
"Tidak, Bu. Kalau ayah saya tahu, dia pasti marah-marah."
"Biar aku yang menjelaskan padanya nanti. Dia tidak sepantasnya marah kali ini. Kau sudah berbuat berani sekali. Kau berusaha menyelamatkan uang kantor. Itu perbuatan yang terpuji. Kau tidak salah."
"Ah, ayah saya orangnya tidak mau mengerti. Memang di antara kami tidak ada saling pengertian."
"Jadi kau tidak mau memberi tahu orang tuamu?"
"Tidak."
"Lalu kau mau pulang ke rumah teman-temanmu?"
"Ya. Paling tidak di sana tak ada yang mengomeli aku."
"Tapi siapa yang merawatmu? Kata dokter tadi paling sedikit satu minggu kau tidak boleh bergerak supayajahitannya cepat merapat. Teman-temanmu ini kan bekerja semua, kalau mereka tidak ada di rumah, kau makan apa?"
"Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa makan biskuit."
"Ah, mana boleh! Kau sudah kehilangan banyak darah. Itu harus diganti. Sudah, begini saja. Kau tinggal di rumahku. Di lantai atas ada satu kamar kosong yang bisa kaupakai. Di sana kau tidak akan terganggu anak-anak lain, dan pembantuku bisa menyediakan makan minummu. Ya, itu yang paling baik. Kau sudah berkorban menolongku, sekarang biar aku yang merawatmu."
"Saya... saya tinggal di rumah Bu Ana?" tanya Martin tidak percaya.
"Ya. Tapi kau tidak usah bekerja. Kau tiduran saja di kamar."
"Nanti saya merepotkan, Bu," kata pemuda itu, namun wajahnya yang pucat tiba-tiba tampak cerah.
"Tidak apa-apa, tidak merepotkan. Asal kau lekas sembuh saja."
Maka masuklah Martin ke dalam rumah Anastasia dan lambat laun ke dalam hatinya juga.
Pagi hari di kala karyawan yang lain sibuk dengan tugas masing-masing. Martin memang merasa terkucil di kamarnya di lantai atas. Sesekali ada temannya yang menjenguknya, tetapi sebagian besar dari waktunya harus dilewatkannya dengan membaca. Siang hari sejak Martin tinggal di rumahnya, Anastasia mengajak Siska dan karyawan karyawan yang kebetulan tidak dinas luar untuk makan siang beramai-ramai di dalam kamar Martin, supaya pemuda itu tidak merasa kesepian sepanjang hari terkurung di dalam seorang diri. Sebenarnya dokter mengatakan bahwa istirahatnya cukup satu minggu saja, tetapi berhubung Anastasia merasa bersalah, maka dia cenderung memanjakan Martin yang dianggapnya telah berkorban demi membela kepentingannya.
Sementara itu berkat kesigapan polisi para penodong akhirnya tertangkap dan sebagian besar dari uang Anastasia pun dikembalikan. Hal ini dimungkinkan karena Martin bisa memberikan deskripsi yang jelas mengenai ciri-ciri kendaraan dan wajah salah seorang penodong.
Sore hari setelah kantor tutup dan semua karyawan yang lain pulang, tinggallah Anastasia bersama Martin. Mereka mengobrol dari barat ke timur dan masing-masing merasa menemukan teman yang bisa diajak berbagi rasa. Anastasia yang sudah sekian lamanya hidup gersang dan sepi menemukan sahabat untuk membagi jam-jam lowongnya. Di pihak lain Martin yang sedang kasmaran merasa seperti pungguk yang tiba-tiba kejatuhan bulan.
Dua minggu berlalu dengan cepat. Jahitan pada luka-luka Martin pun sudah dibuka. Kecuali bekas merah yang sedikit menonjol di kulitnya tak ada lagi tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa di tiga tempat di badannya ini pernah terjadi goresan.
"Aku senang kau sembuh," kata Anastasia sepulang dari mengantarkan Martin periksa ke dokter.
"Aku tidak," kata pemuda itu yang dalam waktu dua minggu ini telah menjadi sedemikian akrabnya dengan majikannya sehingga dia tak lagi memanggil "Bu Ana" tetapi "Mbak Ana".
"Kok aneh? Sembuh kok nggak senang? Sekarang kau bebas lagi mau pergi ke mana pun, tak usah tinggal di kamar sepanjang hari seperti seorang tawanan," gelak Anastasia.
"Apakah itu berarti aku tak boleh lagi tinggal di rumah Mbak Ana?" tanya Martin.
"Lho, kau tidak ingin kembali ke rumah teman-temanmu? Kan lebih enak berkumpul dengan mereka daripada tinggal di rumah sepi ini bersama seorang nenek-nenek."
"Mbak lupa bahwa nenek-nenek yang dikatakan Mbak ini adalah orang yang kucintai," kata Martin yang belakangan ini semakin berani menunjukkan perasaannya. Bahkan sudah beberapa kali dia memegang tangan Anastasia.
"Martin," bisik Anastasia,
"jangan membicarakan masalah tolol itu lagi, ah! Nggak pantas didengar orang."
"Tapi aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tidak berbohong."
"Martin!"
Mereka berdiri dekat sekali, berhadap-hadapan, didalam kamar kerja Anastasia. Martin satu kepala lebih tinggi seorang pemuda yang berperawakan kekar, gagah. Anastasia merasakan napas mudanya mendengus dan di luar kemauannya dia merasa ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya. Dia merasa seakan tulang punggungnya tiba-tiba menjadi rapuh dan tangan serta kakinya membeku. Anastasia cepat-cepat berpaling, membelakangi pemuda yang sedang emosional itu, tetapi secepat itu dia berpaling secepat itu pula Martin meraihnya ke dalam pelukannya.
Anastasia berusaha memberontak, mendorong pemuda itu, tetapi usahanya malah membuat dirinya didekap semakin erat.
Martin mencium pelipisnya, wajahnya, telinganya, matanya, pipinya, dan akhirnya Anastasia berhenti melawan. Ketika bibir Martin menyentuh bibirnya dengan segala pasrah dia membiarkan dirinya hanyut dalam kehangatan itu.
ANASTASIA terjaga ketika weker di atas tempat tidurnya berdering halus. Secara otomatis tangannya meraih weker itu dan memijat sebuah tombol. Itu mematikan deringnya.
Anastasia membuka selimut halus yang menutupi tubuhnya dan bersiap-siap bangkit dari tempat tidur ketika dari belakang sebuah lengan yang kuat mendekapnya dan menahannya bangkit.
"Kau sudah bangun?" bisik Anastasia.
"Hari masih pagi, tidurlah kembali."
"Wekermu bunyi. Mengapa kau sudah bangUn?" tanya teman tidurnya dengan mata terbuka sebelah.
"Kan aku harus berangkat ke Jakarta pagi ini. Masa lupa?"
"Aku paling benci hari-hari kau di Jakarta. Aku kehilangan," kata laki-laki itu tak mau melepaskan pelukannya.
"Urungkan saja rencanamu."
"Aku tahu, tapi aku masih punya bisnis di sana. Aku tidak dapat meninggalkannya terlalu lama. Sudah sebulan lebih aku tak ke Jakarta."
"Tutup saja bisnis di sana," kata laki-laki itu.
"Hus, Martin! Bisnis itu sumber nafkahku."
"Kalau begitu aku ikut."
"Tidak," kata Anastasia tegas. Tidak! Jakarta adalah tempatnya bersama Antonio. Tak seorang pun bisa menggantikan tempatnya.
"Mengapa tidak? Mengapa kau tidak mengizinkan aku ikut?"
"Martin, kalau aku di Jakarta, aku bakal disibukkan oleh banyak urusan. Aku tak akan punya waktu untukmu. Lagi pula di sini kau punya banyak tugas. Kau masih harus membantu Pak Sukardi. Kalau kau pergi, siapa yang membantunya?"
"Tapi aku begitu kehilangan kalau kau tak ada," kata Martin dengan suara anak kecilnya.
"Mengapa kau tidak pergi mengunjungi temantemanmu selama aku pergi? Tentunya kau juga merindukan mereka setelah sekian lamanya kau tidak tinggal di rumah mereka."
"Teman-temanku tak ada yang dapat menggantikan tempatmu," kata Martin.
"Aku tak akan pergi lama, kok, Tin," kata Anastasia berusaha membujuk pemuda itu. Setiap kali dia ke Jakarta selalu timbul adegan seperti ini.
"Kapan kau kembali?"
"Begitu urusan selesai."
"Kapan itu? Dua hari? Lima hari? Dua minggu?"
Anastasia dapat melihat sinar cemburu di mata pemuda itu.
"Secepatnya. Aku sekarang tidak tahu karena aku tidak tahu urusan apa saja yang menunggu di sana."
"Kau selalu pergi sendiri. Kau selalu meninggalkan aku!" Martin merajuk.
Dalam hatinya Anastasia merasa gemas. Akhirakhir ini dia mulai berpikir secara serius apakah langkahnya menerima cinta pemuda ini suatu kesalahan? Yah, mungkin suatu kesalahan! Tambah lama tambah dirasakannya bagaimana pemuda itu mau mengekang semua kegiatannya.
"Tin, aku harus pergi. Aku ingin bersiap-siap sekarang. Aku harus naik pesawat pertama kalau tidak mau terlambat menghadiri rapat."
"Aku mau ke bank." Pak Jati adalah sopirnya.
"Hari ini kok belum muncul, Bu," kata Siska.
"Oh, sakit barangkali. Kemarin sudah kelihatan lesu."
"Biar saya yang mengantar saja, Bu." Sela Martin segera berdiri dari belakang mejanya.
"Hari ini Pak Sukardi ndak membutuhkan saya."
"Ah, nggak usah. Aku bisa mengemudikan mobil sendiri," kata Anastasia.
"Nanti susah mencari tempat parkir, Bu. Pagi hari begini tempat parkir selalu penuh. Biar saya antar saja supaya Bu Ana tak usah susah-susah mencari tempat parkir."
"Oke kalau begitu. yuk!"
Ternyata persis sewaktu mereka tiba ada kendaraan yang keluar sehingga Martin bisa memanfaatkan tempat lowong itu dan tidak perlu mencari tempat parkir yang jauh.
Hari ini Anastasia ke bank untuk menyetorkan beberapa helai cek pembayaran dari klien-kliennya sekaligus menarik uang tunai untuk membayar karyawan-karyawannya. Hari ini adalah hari yang terakhir dalam bulan Agustus. Biasanya tugas ini adalah pekerjaan Siska, namun karena Anastasia ingin menemui kepala bagian kreditnya untuk membicarakan kemungkinan mengambil kredit guna memperluas usahanya, maka Anastasia pergi sendiri. Pembicaraan mereka yang singkat tapi padat berlangsung cukup menyenangkan. Pihak bank ternyata tidak berkeberatan memberinya kredit sebesar tiga puluh juta rupiah setelah Anastasia melengkapi semua dokumen penunjangnya. Pukul sebelas dia sudah selesai dan kembali ke mobilnya. Martin pun sudah siap di sisi mobil.
"Ke mana lagi, Bu?"
"Pulang, Tin. Panas-panas begini rasanya aku sudah hampir meleleh."
Martin membawa kendaraan kembali menuju daerah Gubeng. Siang ini jalanan macet. Mereka baru bisa bernapas lega setelah melewati Gubeng Kertajaya. Memasuki Jalan Manyar Kertoajo jalan menjadi jauh lebih sepi. Umumnya di sini hanya rumah-rumah tempat tinggal yang berukuran besar-besar sehingga tidak ada kesibukan mobil yang keluar-masuk seperti di daerah pertokoan.
Tiba-tiba mobil Honda Accord perak Anastasia dipotong tajam oleh tiga sepeda motor. Untung Martin segera menginjak pedal rem karena detik berikutnya ketiga sepeda motor itu ternyata menghadang jalannya.
"Mana uang!" bentak seorang dari keenam laki-laki yang bersepeda motor itu. Dia mengenakan helm penuh yang menutup seluruh wajahnya, Sementara itu empat orang temannya sudah mengerubung, dua di sisi Anastasia dan dua di sisi Martin. Seorang tinggal di atas sepeda motornya.
"Cepat! Mana uang!"
"Di sini tidak ada uang! kata Martin.
"Bohong! Nyonya ini mengambil uang dari bank. Cepat!" Penodong itu mengacungkan pisaunya. Temannya membuka pintu mobil Anastasia yang tidak terkunci. Dengan pisau terhunus yang diarahkan ke leher Anastasia, penodong itu merampas tasnya dari pangkuannya. Secepat kilat dia kabur dan membonceng temannya yang menunggu dengan mesin yang tidak dimatikan. Keempat temannya yang lain berbuat serupa. Tetapi detik itu juga Martin sempat membuka pintunya dan melompat keluar. Dia mengejar salah seorang penodong yang lari paling belakang. Martin berhasil menariknya dan mereka jatuh bersama bergulingan di atas aspal. Martin membuka klep helmnya dan sempat melihat wajah si penodong ini sebelum laki-laki itu mengeluarkan pisaunya. Dalam pergumulan itu Martin terluka dibagian pangkal paha dan lambungnya. Kemeja dan celananya dibasahi oleh darah. Satu tusukan di tangan Martin membuatnya melepaskan lawannya dan penodong itu pun kabur membonceng teman yang sudah menunggu.
Anastasia yang menyusul keluar dari mobil segera memapah Martin yang berlumuran darah.
"Kita kejar mereka!" kata Martin terengah engah.
"Tidak, Tin! Tidak! Kau terluka. Biarkan saja!"
"Saya tidak apa-apa, kita kejar mereka!"
Martin bersikeras, mengira yang terluka hanya tangannya.
"Mereka berenam, Tin. Luka-Iukamu banyak mengeluarkan darah, kau harus segera ke rumah sakit."
Martin baru sadar bahwa kemejanya yang putih sebagian sudah berwarna merah kecoklatan.
"Kau jangan nyetir. Biar aku saja!" teriak Anastasia.
Martin menurut dan duduk di tempat penumpang. Anastasia melarikan mobil secepat mungkin ke rumah sakit.
Untunglah luka-luka Martin tidak mengenai bagian yang vital, hanya berupa irisan pada dagingnya saja. Setelah mengalami jahitan beberapa sentimeter di lambung, paha, dan tangannya, Martin diperbolehkan pulang.
"Kau libur dulu, Tin. Sementara nggak usah ke kantor sampai semua lukamu sembuh," kata Anastasia.
"Sekarang kau kuantarkan pulang ke rumah orang tuamu, ya?"
"Tidak, Bu. Kalau ayah saya tahu, dia pasti marah-marah."
"Biar aku yang menjelaskan padanya nanti. Dia tidak sepantasnya marah kali ini. Kau sudah berbuat berani sekali. Kau berusaha menyelamatkan uang kantor. Itu perbuatan yang terpuji. Kau tidak salah."
"Ah, ayah saya orangnya tidak mau mengerti. Memang di antara kami tidak ada saling pengertian."
"Jadi kau tidak mau memberi tahu orang tuamu?"
"Tidak."
"Lalu kau mau pulang ke rumah teman-temanmu?"
"Ya. Paling tidak di sana tak ada yang mengomeli aku."
"Tapi siapa yang merawatmu? Kata dokter tadi paling sedikit satu minggu kau tidak boleh bergerak supayajahitannya cepat merapat. Teman-temanmu ini kan bekerja semua, kalau mereka tidak ada di rumah, kau makan apa?"
"Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa makan biskuit."
"Ah, mana boleh! Kau sudah kehilangan banyak darah. Itu harus diganti. Sudah, begini saja. Kau tinggal di rumahku. Di lantai atas ada satu kamar kosong yang bisa kaupakai. Di sana kau tidak akan terganggu anak-anak lain, dan pembantuku bisa menyediakan makan minummu. Ya, itu yang paling baik. Kau sudah berkorban menolongku, sekarang biar aku yang merawatmu."
"Saya... saya tinggal di rumah Bu Ana?" tanya Martin tidak percaya.
"Ya. Tapi kau tidak usah bekerja. Kau tiduran saja di kamar."
"Nanti saya merepotkan, Bu," kata pemuda itu, namun wajahnya yang pucat tiba-tiba tampak cerah.
"Tidak apa-apa, tidak merepotkan. Asal kau lekas sembuh saja."
Maka masuklah Martin ke dalam rumah Anastasia dan lambat laun ke dalam hatinya juga.
Pagi hari di kala karyawan yang lain sibuk dengan tugas masing-masing. Martin memang merasa terkucil di kamarnya di lantai atas. Sesekali ada temannya yang menjenguknya, tetapi sebagian besar dari waktunya harus dilewatkannya dengan membaca. Siang hari sejak Martin tinggal di rumahnya, Anastasia mengajak Siska dan karyawan karyawan yang kebetulan tidak dinas luar untuk makan siang beramai-ramai di dalam kamar Martin, supaya pemuda itu tidak merasa kesepian sepanjang hari terkurung di dalam seorang diri. Sebenarnya dokter mengatakan bahwa istirahatnya cukup satu minggu saja, tetapi berhubung Anastasia merasa bersalah, maka dia cenderung memanjakan Martin yang dianggapnya telah berkorban demi membela kepentingannya.
Sementara itu berkat kesigapan polisi para penodong akhirnya tertangkap dan sebagian besar dari uang Anastasia pun dikembalikan. Hal ini dimungkinkan karena Martin bisa memberikan deskripsi yang jelas mengenai ciri-ciri kendaraan dan wajah salah seorang penodong.
Sore hari setelah kantor tutup dan semua karyawan yang lain pulang, tinggallah Anastasia bersama Martin. Mereka mengobrol dari barat ke timur dan masing-masing merasa menemukan teman yang bisa diajak berbagi rasa. Anastasia yang sudah sekian lamanya hidup gersang dan sepi menemukan sahabat untuk membagi jam-jam lowongnya. Di pihak lain Martin yang sedang kasmaran merasa seperti pungguk yang tiba-tiba kejatuhan bulan.
Dua minggu berlalu dengan cepat. Jahitan pada luka-luka Martin pun sudah dibuka. Kecuali bekas merah yang sedikit menonjol di kulitnya tak ada lagi tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa di tiga tempat di badannya ini pernah terjadi goresan.
"Aku senang kau sembuh," kata Anastasia sepulang dari mengantarkan Martin periksa ke dokter.
"Aku tidak," kata pemuda itu yang dalam waktu dua minggu ini telah menjadi sedemikian akrabnya dengan majikannya sehingga dia tak lagi memanggil "Bu Ana" tetapi "Mbak Ana".
"Kok aneh? Sembuh kok nggak senang? Sekarang kau bebas lagi mau pergi ke mana pun, tak usah tinggal di kamar sepanjang hari seperti seorang tawanan," gelak Anastasia.
"Apakah itu berarti aku tak boleh lagi tinggal di rumah Mbak Ana?" tanya Martin.
"Lho, kau tidak ingin kembali ke rumah teman-temanmu? Kan lebih enak berkumpul dengan mereka daripada tinggal di rumah sepi ini bersama seorang nenek-nenek."
"Mbak lupa bahwa nenek-nenek yang dikatakan Mbak ini adalah orang yang kucintai," kata Martin yang belakangan ini semakin berani menunjukkan perasaannya. Bahkan sudah beberapa kali dia memegang tangan Anastasia.
"Martin," bisik Anastasia,
"jangan membicarakan masalah tolol itu lagi, ah! Nggak pantas didengar orang."
"Tapi aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tidak berbohong."
"Martin!"
Mereka berdiri dekat sekali, berhadap-hadapan, didalam kamar kerja Anastasia. Martin satu kepala lebih tinggi seorang pemuda yang berperawakan kekar, gagah. Anastasia merasakan napas mudanya mendengus dan di luar kemauannya dia merasa ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya. Dia merasa seakan tulang punggungnya tiba-tiba menjadi rapuh dan tangan serta kakinya membeku. Anastasia cepat-cepat berpaling, membelakangi pemuda yang sedang emosional itu, tetapi secepat itu dia berpaling secepat itu pula Martin meraihnya ke dalam pelukannya.
Anastasia berusaha memberontak, mendorong pemuda itu, tetapi usahanya malah membuat dirinya didekap semakin erat.
Martin mencium pelipisnya, wajahnya, telinganya, matanya, pipinya, dan akhirnya Anastasia berhenti melawan. Ketika bibir Martin menyentuh bibirnya dengan segala pasrah dia membiarkan dirinya hanyut dalam kehangatan itu.
ANASTASIA terjaga ketika weker di atas tempat tidurnya berdering halus. Secara otomatis tangannya meraih weker itu dan memijat sebuah tombol. Itu mematikan deringnya.
Anastasia membuka selimut halus yang menutupi tubuhnya dan bersiap-siap bangkit dari tempat tidur ketika dari belakang sebuah lengan yang kuat mendekapnya dan menahannya bangkit.
"Kau sudah bangun?" bisik Anastasia.
"Hari masih pagi, tidurlah kembali."
"Wekermu bunyi. Mengapa kau sudah bangUn?" tanya teman tidurnya dengan mata terbuka sebelah.
"Kan aku harus berangkat ke Jakarta pagi ini. Masa lupa?"
"Aku paling benci hari-hari kau di Jakarta. Aku kehilangan," kata laki-laki itu tak mau melepaskan pelukannya.
"Urungkan saja rencanamu."
"Aku tahu, tapi aku masih punya bisnis di sana. Aku tidak dapat meninggalkannya terlalu lama. Sudah sebulan lebih aku tak ke Jakarta."
"Tutup saja bisnis di sana," kata laki-laki itu.
"Hus, Martin! Bisnis itu sumber nafkahku."
"Kalau begitu aku ikut."
"Tidak," kata Anastasia tegas. Tidak! Jakarta adalah tempatnya bersama Antonio. Tak seorang pun bisa menggantikan tempatnya.
"Mengapa tidak? Mengapa kau tidak mengizinkan aku ikut?"
"Martin, kalau aku di Jakarta, aku bakal disibukkan oleh banyak urusan. Aku tak akan punya waktu untukmu. Lagi pula di sini kau punya banyak tugas. Kau masih harus membantu Pak Sukardi. Kalau kau pergi, siapa yang membantunya?"
"Tapi aku begitu kehilangan kalau kau tak ada," kata Martin dengan suara anak kecilnya.
"Mengapa kau tidak pergi mengunjungi temantemanmu selama aku pergi? Tentunya kau juga merindukan mereka setelah sekian lamanya kau tidak tinggal di rumah mereka."
"Teman-temanku tak ada yang dapat menggantikan tempatmu," kata Martin.
"Aku tak akan pergi lama, kok, Tin," kata Anastasia berusaha membujuk pemuda itu. Setiap kali dia ke Jakarta selalu timbul adegan seperti ini.
"Kapan kau kembali?"
"Begitu urusan selesai."
"Kapan itu? Dua hari? Lima hari? Dua minggu?"
Anastasia dapat melihat sinar cemburu di mata pemuda itu.
"Secepatnya. Aku sekarang tidak tahu karena aku tidak tahu urusan apa saja yang menunggu di sana."
"Kau selalu pergi sendiri. Kau selalu meninggalkan aku!" Martin merajuk.
Dalam hatinya Anastasia merasa gemas. Akhirakhir ini dia mulai berpikir secara serius apakah langkahnya menerima cinta pemuda ini suatu kesalahan? Yah, mungkin suatu kesalahan! Tambah lama tambah dirasakannya bagaimana pemuda itu mau mengekang semua kegiatannya.
"Tin, aku harus pergi. Aku ingin bersiap-siap sekarang. Aku harus naik pesawat pertama kalau tidak mau terlambat menghadiri rapat."


20 Komentar
Ada kemiripan Seruni sama saya, sama2 impulsif, pokonya begitu ada ide tanpa pikir panjang langsung lakukan 😛😛😛
BalasHapusMenarik kisahnya walau cuma baca sebaris di endingnya, hihi.
Pertamax gak ya?
Heemmm mungkin pengaruh bakar lilin kali yee huu..🕯🕯🕯🕯🕯🕯🐷🐷🐖🐖🐖
HapusAtau juga efek kebanyakan syuting Film Fake Gangster 3..😆😆😆😆🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Efek mau ke JKT nyasar ke Semarang 😅😅
HapusBeeehhhaahaaaa ketularan Agus Jambe itu maahh..🤣🤣😆
Hapushmmmm...yang ditunggu tunggu update juga...babaranjang part 3...wwkkwkwkw
BalasHapusSeruni kini telah bermetamorfosis menjadi perempuan sukses, penerus Madonna sepeninggal suaminya Anotonio Castillo. Dan dari sinilah, ia tumbuh menjadi wanita yang tak terjamah, janda Castillo yang sulit dimasuki kehidupan pribadinya karena ia memilih kehidupan yang demikian...menyibukkan diri dengan karir meski banyak pria tergila gila dengannya...meski pada akhirnya ia terlibat affair dengan pemuda berondong yang tak lain adalah Martin, 23 tahun, anak dari Dokter Hariono yang kini bertambah tambun dengan lipatan di perutnya yang merupakan kekasih yang diagung agungkannya di masa lalu dan mencampakannya begitu saja layaknya seonggok sampah hingga tega menggugurkan anak kandungnya sendiri--- janin yang dikandung Anastasia versi polos alias Seruni yang kala itu masih bekerja sebagai perawat di klinik sang dokter.
Tak disangka dan dinyana...setelah berpuluh tahun kematian suaminya, Anastasia yang mulanya sudah enggan menjalin cinta akhirnya suatu ketika jatuh juga ke pelukan Martin yang sebelumnya menjadi pengagum rahasianya alias secret admirer dan saban hari tertentu selalu mengiriminya setangkai mawar. Setelah berusaha menolak dengan halus dengan berbagai alasan, terlebih karena ia lebih pantas menjadi ibunya sebab uisanya yang sudah 39 tahun walau mukanya masih seperti umur 20 an bahkan dikatakan 2 orang wajahnya bak Dewi Khayangan aka Dewi Bulan, Anastasia tak kuasa menerima rengkuhan Martin. Terlebih usai ia ditodong oleh kawanan penjambret dan si Martin berperan sebagai pahlawannya, maka dari situlah romansa kilat itu terjalin. Si Martin yang terkena luka tusukan dirawat di rumah Anastasia dan tinggal di sana selama berbulan bulan hingga akhirnya timbullah kejadian itu-----> bobok bareng deh.....sama yeeee Kang kejadiannya kayak Seruni muda feat Hariono. Tapi kali ini dibalik, lakinya yang berondong, ceweknya yang mateng. Meski ya Anastasia kemudian menyesal sebab Martin ternyata sangat posesif dan cinta buta yang di luar nalar hingga Anastasia pengen memutuskannya. Ia pun bertemu dengan lelaki lainnya yakni Yamin yang lebih demokratis dan tidak terlampau aneh aneh cara mencintainya...jadilah Anastasia makin runyem pikirannya. Di satu sisi ia pengen cepet putus dari Martin, e tak tahunya ia malah ketemu Si Hariono yang kini sudah tak mengenalinya lagi sebab memang wajahnya yang awet muda sehingga kemudian timbul niatan buat balas dendem ke Hariono mungkin melalui si Martin ini kali yeee....
aduh panjang juga komen gw ga selese selese. Seru banget soalnya...meski kalau kubandingin lebih greget masa masih jadi Seruni yang masih muda ketimbang anastacia yang sudah mateng ini. Percintaannya pun karena mungkin gw melihatnya dari sudut pandang pembaca perempuan, maka lebih mendayu dayu kalau cewenya yang muda cowonya yang mateng wkwkwkkw....sedang yang part ini cowoknya yang berondong jadi kurang greget gitulah, meski diceritakan si Martin sampe segitunya memperlakukan Anastacia layaknya boneka...dan memujanya seolah dia budaknya...uhwooooowww...
tau deh ntar part ke 4 bagian ama Yamin apa Hariono wkkwkwkw
btw..di awal tadi aku jadi pengen sepiring gado gado ama kakao panas deh hwahahhahahah
Wuuuiihh Beb Mbul koment udah kaya Babaranjang part 3..🤣 🤣 🤣
HapusYaa seperti yang telah dikisahkan akhirnya seruni bisa menjadi seorang yang boleh dikatakan punya aura menarik dimata setiap orang yang memandangnya, Tak hanya itu saja yaa Karier yang ia raihpun begitu menjanjikan... Meski pada sisi kehidupannya ia merasa menjadi wanita yang sensi dan kesepian meski semua itu bisa ia tepis dengan kesibuhkan namun perasaan hati tetap berkata lain.😊😊 Dan Faktor kesepian itu yang membuat dirinya kurang kontrol dan mudah simpatik sama orang, Hingga tanpa sadari ia bertemu dengan pemuda ingusan yang memang anak dari mantan kekasihnya dimasah 17 tahun yang lalu.
Yaa mungkin karena kiriman bunga mawar dan jiwa kepahlawanan Martin yang bisa medekatkan keduanya walau faktanya sebenarnya Anastasia atau Runi tidak suka punya kekasih ABG, Namun perhatian yang berlebihan membuat nyonya Castillo berkata lain. Dan iapun baru menyadari setelah tahu bahwa seorang Martin begitu posesif terhadap dirinya. Hingga akhirnya ia pergi ke Jakarta bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Yamin yang selalu memberikan nuansa yang berbeda dalam hidupnya. Dan karena itu pula ia mencari cara agar bisa putus dengan Martin. Walau Anastasia sendiri merasa membuat ruwet dirinya karena suatu hubungan cinta, Tetapi saat jauh dari Martin ia merasa bisa sedikit lega. Terlebih ada yang Yamin sang bisa membuatnya ia berpikir lain, Meski Yamin seorang pria yang perfeksionis tetapi kesan berbeda dimata Anastasia begitu memukau.😊😊
Kalau cerita awal sewaktu jadi Seruni itukan dia masih jadi gadis polos, Yang punya dedikasi baik terhadap pekerjaan meski hatinya tertawan cinta oleh seorang Hariono. Yang membuat ia lupa dengan segalanya...Sampai akhirnya ia harus mendapatkan sebuah perjalanan hidup yang extrem. Meski akhirnya menjadi sebuah kisah yang ngalor ngidul tentang asmara...Jadi nggak meski melulu greget seperti yang pertama.😊😊
Hayoo kira2 bakalan kaya apa part 4 nye mbul..🤣 🤣
Gw malah dari pertama pengen ketupat sayur sama semur daging mbul..🤭 🤭 🤣 🤣
e tapi tunggu
BalasHapusini cerita setelah gw resapi ternyata punya porsi menarik sendiri sendiri deng di tiyep partnya...
gimana ya...
jadi gini, setelah kuhayatin dan beberapa kali baca, kayak ada semacam lompatan emosi yang berbeda beda waktu aku membacanya
kalau di part 1, kerasa banget sendunya kisah cinta seruni-hariono yang nyampe banget gimana keadaan mentalnya usai dicampakan...
lanjut part ke 2, tentang menemukan kisah cinta yang lebih dewasa dan tulus meski ga berlangsung lama karena dipisahkan ajal...
dan part 3 barulah mulai menuju konflik dan lumayan menegangkan! Seru sih. Jadi di awal ada part part yang menceritakan kesepian. Seperti halnya sebuah ungkapan yang diucapkan sang suami Antonio Castillo bahwa pada dasarnya kita akan berteman dengan kesepian pada suatu hari nanti. Lalu terbayang pas di setting rumah Jakarta---rumah yang hanya berisi kenangan Sasha dan Tonio saja, orang ketiga tidak berhak memasukinya termasuk pacar berondong Sasha yang posesif yaitu Martin (yang tenyata anak Hariono). Di situ kerasa banget gimana suasana rumahnya. Penggambarannya rumah tersebut bener bener menciptakan nostalgia dengan mendiang dan karena begitu tenangnya akhirnya selalu dijadikan pelarian Anastasia tatkala ia dilanda jenuh dengan pekerjaan. Rumahnya kentara banget kayak memancarkan aura misteri Kang...bahkan saat Anastasia sering ngobrol juga ama perabot perabotnya
terus lanjut part Anastasia dan Martin yang selanjutnya si Anastasianya ini dipanggil Mbak Ana bukan Bu lagi waktu mereka uda jadian..yang ini kerasanya si Anastasia emang lebih mirip sosok ibu sih meski Martinnya cinta buta ke dia dan cenderung posesif akut..
Part Anastasia dan Yamin...aku bacanya lebih ke kayak hubungan antar kolega kerja aja. Kurang greget dan romantis. Ya...hubungan antar orang dewasa saja tapi ya gitu ga saling menuntut...ga kayak modelan Seruni-Hariono, Anastasia-Antonio Castillo, Anastasia-Martin. Beda beda gitu ya wkwkwkkwk
nah ini nih yang bikin seruu...pas Anastasia akhirnya ketemu Hariono lagi. udah deh ini gongnya wkwkwkkw...Ceritanya mau saling jebak menjebak. Hariono yang ga mengenali lagi seruni yang kini telah menjelma jadi Anastasia rencananya sih mau main tarik ulur si Anastasia biar terjebak dalam rayuannya dengan menjadikan kasus anaknya ini tetep mengambang...ya supaya si bandot tua ini bisa tetep deket deket Anastasia. Sedangkan anastasianya sendiri akan melampiaskan dendamnya 17 tahun yang lalu ke Hariono mantan kekasihnya dulu saat masih bau kencur yang berhasil menghamilinya lalu dengan begitu saja menggugurkan kandungannya, hohoho...
seruuuuu...seru banget
ga sabar...next partnya kang...wkwkkwk
Kenape Mbul...Apa sepatu baletmu ketinggalan.🩰🩰 🤣 🤣 🤣
HapusSakin meresapinya sampai kering air disumur yaa Mbul..😁😁 Yaa, cerita novelnya terbagi menjadi dua buku Part 1 dan 2 masing2 buku terdiri dari 500 ratus halaman kalau nggak salah.😊
Yang bikin menarik sebenarnya Yaa, Penulisnya, Karena kisah cerita yang pertama tentang hubungan Seruni dan dokter Hariono. Hal seperti itu umum didunia Nyata. Termasuk gaya sifat dan keinginan Type wanita kaya Seruni, Sifat dan keinginannya juga umum didunia nyata.😊😊 Jadi kisah ini diambil dari kehidupan sehari2, Termasuk hal urusan asmara mungkin sang penulis juga mengambil dari kisah cinta yang beliau alami juga diduta.😁😁
Naah jadi cerita yang ada pada novel tersebut lebih mengedepankan Cinta, Kekuasaan, Harta dan tahta serta wanita. Meski banyak orang yang bilang itu sebuah novel tentang detektif yang mengkisahkan dua orang polisi Kosasih dan Gozali...Walau pada umumnya lebih mengedepankan cinta dan asmara.
Sama halnya dengan part 3 meski ada konflik tapi sebenarnya kisahnya lebih mengedepankan tentang kualat atau karma...Karena pada akhirnya meski sudah 17 tahun terpisah akhirnya seorang dokter Hariono menghampiri kekehidupan Seruni yang sudah berubah menjadi Anastasia. Dan kejadian itu disebabkan karena anaknya Martin. Naah untuk cerita ini bisa dikatakan Nyata bisa dikatakan Fiktif juga. Karena agak lucu juga alurnya...Tetapi kalau diresapi ada benarnya juga, Kan istilahnya Karma buat dokter Hariono.😁😁
Kalau untuk kisah Yamin Raharja dan Anastasia bisa berbeda dengan yang lainnya karena peran Yamin hampir sama denga Emi.Bukan orang yang terlibat dalam perseteruan...Meski ujungnya2 keduanyalah orang yang berrarti bagi kehidupan Anastasia.
Kira2 bakal seperti apa perseteruan masa lalu antara Dokter Hariono dengan Anastasia yee mbul...Yaa sudah ditunggu saja setelah lebaran nanti...Karena yang admin juga sedang sibuk buat dodol lebaran..😆🤣 🤣
betul kang...seru bangat wkwkwkwk....
Hapustau ga siiih...#et bujug wkwkwk uda kayak slogan acara tv trans 7 tau ga sich? wkwkwk...
tau ga sih semalam gw jadi ngejembreng blog satria salju cukup lama kang, secara gw penasaran banget dan kalau sudah terlarut membaca novel ya gini mungkin kek orang yang dah kecanduan drakor kali ye...meski aku ga suka drakor...tapi kalau baca novel roman aku suka...pake banget wkkwkw
yuup...kurasa ini 80 persen roman, sisanya barulah cerita detektif...karena ya berbeda dengan agatha christie yang biasanya menyajikan korban pembunuhannya di awal lalu baru ditarik siapa saja terduga pelaku yang berhubungan dengan korban, lain dengan cerita yang dibangun tante Mara ini. Lebih banyak tante Mara mengekspouse...kisah awal awal tokoh tokohnya dulu baru pembunuhannya di belakang...macam alur senetron tapi ajaibnya gw suka suka aja...ga banyak protes gw wakakkakak...
ciri khas tulisan tante mara ( eh kayaknya gw lebih cocok panggil beliau eyang mara kali ya) adalah bertaburnya oesan pesan moral yang ditulis secara gamblang dan tersurat gitu di tiap dialog dialognya....khas novel era 80 an...kalau novel era sekarang kan banyakan lake bahasa kias...nah kalau ini langsung to the poin das des das des
terus yang kuperhatikan lagi ternyata kebanyakan tulisan eyang mara ini berkutat pada percintaan lintas umur dimana diantara laki dan perempuannya bisa terpaut usia hingga belasan tahun namun tetep asyik buat ditulis kisah cintanya...
greget deh wkwkwkkw
Eaalaa busett mbul tinggal tempe tahu udah nggak goreng gw.😆😆🤣
HapusApaaa blog gw dijembreng kaya cucian demek, Terus ente baca sambil manggut2 dengan mata kriyep2 terus ente molor sambil melukin blog gw.....Sungguh terlalu kau Anii..😳😳🤪 🤣
Iyaa meski ia meniru gaya Agatha Christie...Sebenarnya ceritanya nggak murni sama persis kaya Novel yang Agatha Crhistie buat...Alurnya selalu ia buat lebih dominan dengan kisah Percintaan yang tragis serta romantis. Dan betul sekali setiap pemeran dalam alur novel S Mara Gd pastinya pemain yang berpengaruh akan ada latar belakang kisah hidupnya..Baru pada akhirnya ada kisah pembunuhan yang melibatkan seorang polisi dektektif.😄😄
Ape Buyut Mara...Eehh benar juga sih awal dia nulis itu era tahun 70 puluhan soalnya.😁 Yaa tulisan beliau dan dialog yang ada pada novel yang ia buat memang banyak pesan moralnya mbul. Dan gaya penulisan beliau juga menarik menurut gw...Kadang kalau gw iseng buat cerpen suka pakai gaya penulisan S Mara Gd.😆😁
Iyaa betul kisah novel karya S Mara Gd ini memang selalu mengkisahkan kisah percintaan dengan beda usia baik pihak lelaki dan perempuan... Atau terkadang kisah percintaan laki-laki dan perempuan yang sebaya umurnya. Meski pada akhirnya sang perempuan tersebut kisah cintanya berakhir bahagia dengan laki-laki yang usianya lebih tua, Atau sangat berbeda jauh.😊😊
sudah kuduga...cerpen romans dan 90 plusnya kang sat terinspirasi dari s. Mara gd..terutama bagian narasinya kang....yang di luar dialog tokohnya hihi...kupikir ini kan rasa rasa modelan penceritaan cerpen 90 plus plus nya kang sat 🤭🤭🤭
HapusYaayaa dibisa dibilang demikian Mbul..😆🤣🤣
HapusHiiiihiiii.🤣🤣🤣
Selain Tante Mara, cerpen kang satria juga terinspirasi dari novelnya Eny Arrow.😱😁
Hapustumben yang lainnya belom komen kang 🤔🙄🙄🙄
BalasHapusIni datang mbul.🙄😱
Hapusnah ni tamunya dah datang...
Hapusmonggo monggo mas agus...pinarak rumiyen, badhe ngunjuk nopo mas? hahahhaha
nah pada roaming pada roaming deh tuh tuan rumahnya hihihi
Ini ku coming, but pake acara monangis ..., Hahaaha ..
HapusLagu pengiring entrinya itu loh teringat sama ... .
Pertama minal aidzin wal faidzin ya kang Satria, mohon maaf lahir dan batin karena banyak salah selama ini dalam ngeblog.🙏
BalasHapusKedua, baca ceritanya tentang dokter Hariono dan Seruni atau Anastasia kok aku jadi cemas.
Cemas kalo misalnya mantan pacar kang satria nanti ada yang sakit hati parah lalu balas dendam nanti dengan pacaran sama anaknya kang satria kalo sudah besar nanti.😱
Aishitawa Watashi Anata No Koto' o ... Amayadari ...
BalasHapusHuwaaa ...aaa ..kenapa oh kenapa lagu pengiringnya dipilih lagunya Mayumi Itsuwa ... , ku monangis dengernya 😫😓😰😭.
Sumpah, teringat si dia mantan terindah yang sekarang ngga tau akan kucari kemana keberadaannya.
Boleh percaya boleh ngga, 2 hari lalu aku nulis status di wa juga teks lagu Amayadori ....
Maaf, jadi ngga konsen baca story lanjutan buku S Mara GD nih ...*obat sakit pala mana ya* 🙈
yang penting jangan nangis betulan kang, hahaha,,,,,,,
HapusTERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG YANG UHUUKK!! EEHEEEMMM!!