Kisah Ciputra Yang Merubah Lahan Kosong Menjadi Sebuah Kota Yang Ramai



Dulu, di pinggiran Serpong Tangerang cuma ada kebun karet tua dan semak belukar. Tak ada jalan, tak ada listrik, tak ada alasan untuk datang.

Warga menyebutnya tempat "jin buang anak", saking terpencilnya sampai jin pun ragu membuang anaknya ke sana.

Tapi pada 16 Januari 1984, Ciputra justru datang. Bersama konsorsium 11 perusahaan, termasuk Sinar Mas dan Salim Group, ia mendirikan PT Bumi Serpong Damai di atas lahan sekitar 6.000 hektare dengan nilai investasi Rp3,2 triliun.

Yang ingin ia bangun bukan sekadar perumahan, melainkan kota mandiri, rumah, sekolah, pusat belanja, dan kantor dalam satu tempat. Masalahnya, kota butuh sesuatu yang tidak bisa dibeli, yaitu waktu.

Proyek ini diresmikan pada 1989, tapi hampir sepuluh tahun berjalan, akses masih terbatas dan penjualan belum bergerak secepat yang dibutuhkan.

Lalu krisis 1998 menghantam. Sebagian saham BSD jatuh ke BPPN, dan Ciputra terpaksa melepas kendali atas mimpinya sendiri. Sinar Mas, yang ikut sejak hari pertama, menjadi pemegang saham mayoritas.

Setelah itu, BSD memasuki fase baru. Tol Jakarta-Serpong beroperasi pada 2003, Ocean Park hadir pada 2006, lalu pusat belanja besar menyusul. Pada 2008, BSD melantai di Bursa Efek Indonesia. Kini BSD City dihuni sekitar 500 ribu orang, punya 9 universitas dan lebih dari 250 sekolah.

Tempat yang dulu tak punya alasan untuk didatangi, sekarang justru jadi rebutan. Di atas kertas, Ciputra memang kalah. Tapi kota yang ia lihat empat puluh tahun lalu akhirnya benar-benar berdiri, persis seperti yang ia yakini jauh sebelum orang lain bisa melihatnya.

Mungkin itulah warisan terbesarnya: keberanian untuk percaya pada sesuatu yang belum ada. Tetapi beliau bisa mengadakannya. Nah anda tertarik ingin bisnis properti seperti Ciputra, atau lagi sedang bermimpi untuk hal demikian?





~ THANK ~ YOU ~

Posting Komentar

0 Komentar