Breaking

Thursday, 30 April 2020

Kisah Haru Seorang Ibu Penjual Bolu Pisang




Kisah inspirasi kali ini adalah tentang perjuangan seorang ibu penjual bolu pisang, Meski tanpa suami ia harus bisa menghidupkan kedua anaknya yang masih kecil. Seperti apa berikut kisah dibawah ini.


"Ma, kakak ranking satu, mana janji mama mau beliin es krim," rengek Dika putra sulungku.

Sejak pulang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila si sulung yang baru kelas dua SD akan meraih ranking satu, pikirku saat berjanji paling dia hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa.

"Sabar ya, Nak, tunggu ibu gajian tanggal satu," janjiku, padahal aku pun tahu tanggal satu nanti upah menjadi buruh cuci separuhnya akan habis menyicil hutang pengobatan ketika almarhum suami sakit dulu.

Dika cemberut. Aku tahu dia kecewa. Tak banyak pinta anak ini sebenarnya, hanya sebuah es krim ketika ia ranking satu. Tapi bagiku itu barang mahal.

Ah seandainya saja Dika ranking dua atau tak usahlah ranking sekalian, ia pasti tak sekecewa ini.

Keterpurukan hidupku bermulai ketika suami yang tiap hari bekerja sebagai buruh bangunan kecelakaan dan lumpuh. Tiap Minggu harus bolak balik kontrol ke rumah sakit, walau pakai BPJS namun kerepotan ini tetap membutuhkan biaya hingga hutang pun menumpuk.

Ketika suami akhirnya pergi selamanya, hutang-piutang pun berdatangan meminta haknya untuk dilunasi.

Aku pasrah. Memohon kepada si pemberi hutang agar memberi kelonggaran dengan mencicil.

Bukan tak mau bekerja lebih giat lagi, namun selain Dika, aku memiliki Anita putri bungsuku yang masih berusia dua tahun. Tak semua orang mau menerima pekerja rumah tangga yang membawa balita.

Sejak itu aku melakukan kerja apapun, mulai dari buruh cuci, hingga upahan membuat kue. Kebetulan kata orang-orang bolu pisang buatanku enak.

"Mbak, bisa buatin bolu pisang"..? Sebuah pesan masuk.

Aku bersorak. Alhamdulillah tak sia-sia mengisi pulsa data beberapa hari yang lalu dan mengaktifkan WA ku. Ada pesanan masuk.

"Bisa Mbak, mau berapa loyang?".

"2 loyang, ngambilnya habis Zuhur bisa?".

"Bisa Mbak.".... Aku menyanggupi.

"Tapi bolu pisangnya jangan pakai gula ya, biar manisnya ngambil dari pisangnya saja. Anakku alergi gula".

"Siap, Mbak. Otw dibuat".

"Berapa harganya?"

"50.000 Mbak".

"40.000 saja ya, kan gak pakai gula".

Aku menelan ludah. Ya Tuhan, padahal dalam tiap loyangnya aku hanya mengambil untung 20.000.

"Ya sudah karena Mbak ngambil dua, aku kasih".

"Oke, tapi aku gak bisa ngambil ke rumah ya, Mbak. Aku mau pergi liburan, jadi jam 1 aku tunggu di depan SMP yang ada di simpang itu".

"Oke siap".

Aku segera gerak cepat menyiapkan semua bahan dan mulai bekerja. Baru jam sembilan berarti masih banyak waktu luang. Kebetulan ada pisang Ambon yang belum terpakai jadi gak perlu beli ke pasar.

Alhamdulillah aku bisa mendapat untung dua puluh ribu dari penjualan dua loyang bolu pisang.

Sepuluh ribunya bisa buat beli es krim harga lima ribu untuk si sulung dan bungsu dan sisanya untuk tambahan belanja besok.

Setelah sholat Zuhur, jam 12.30 aku segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Si sulung mengekor langkahku dengan riang karena terbayang es krim yang bakal didapat. Si bungsu sedang tidur siang jadi kugendong saja.

Tempat janjian kami cukup jauh sekitar setengah kilometer dari rumah. Walau tengah hari dan terik matahari tengah garang menyerang, aku tetap semangat, demi 20.000.

Jam satu kurang lima menit kami telah tiba di tempat janjian. Mungkin sebentar lagi yang memesan akan datang.

Sepuluh menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun tak kunjung ada tanda bila si pemesan akan datang.

Beberapa pesan telah kukirim sejak tadi namun hanya terkirim dan belum dibaca.

Aku menelpon berkali-kali pun tak kunjung diangkat. Sudah hampir satu jam menanti Si sulung telah lelah dan merengek sementara si bungsu telah bangun dan ikut meraung karena kepanasan.

Ting! Sebuah pesan masuk. Hatiku bersorak, dari si pemesan kue.

"Ya Allah Mbak, maaf ya aku lupa. Ini suami berubah pikiran, awalnya dia bilang berangkat habis Zuhur eh tahunya jam sepuluh udah mau buru-buru. Jadi gak sempat kasih kabar. Mbak, jual bolunya sama orang lain saja ya, aku udah otw ke kampung".

Aku langsung terduduk lemas. Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Apalagi ini? Aku tak meminta banyak ya Allah, hanya es krim saja.

Peluhku yang sudah sejak tadi mengucur, kini bercampur dengan air mata.

Siapa yang ingin membeli bolu pisang tanpa gula dengan rasa manis yang alakadarnya?

Ya Allah, berkali aku menyeka air mata yang terus membasahi wajah.

Sulungku berhenti merengek, ia langsung diam melihat air mataku. Lama ia menatapku iba. Kedua netranya mulai berkaca. Tak tega hati ini melihatnya. Ia hanya ingin es krim seharga 5000 ya Allah.

"Dika gak akan minta es krim lagi Bu, tapi ibu jangan nangis." Dika kecilku berkata dengan suara yang bergetar. Sepertinya ia pun menahan tangis.

"Kita pulang, Nak,"...Ucapku. Dika mengangguk, si bungsu pun tangisnya mulai mereda. Sepertinya ia mengerti akan kegundahan hati ini.

Ya Allah, beginilah rasanya. Sakit ya Allah, sakit, sakit, sepele bagi mereka namun begitu berat bagiku. Bahan-bahan bolu itu adalah modal terakhir dan kini seolah sia-sia.

Ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Berat, sungguh berat, belum lama suamiku pergi dan kini rasanya aku lemah.

Tak banyak ya Allah hanya ingin es krim saja, itu saja, untuk menyenangkan buah hatiku dan kini bukan untung yang kudapat malah kerugian yang telah nyata di depan mata.

Aku baru saja memasuki halaman rumah kontrakan ketika Bu Tia tetanggaku kulihat telah menunggu.

"Eh, ibunya Dika, dicariin, untung cepat pulang."

"Ada apa Bu?"... Tanyaku. Semoga saja wanita baik ini akan memberikanku perkerjaan. Apa saja boleh, bahkan yang terkasar sekalipun akan kuterima. Tapi gak mungkin, di rumah besarnya sudah ada dua pembantu yang siap sedia. Aku kembali membuang anganku.

"Gini, ibu jangan tersinggung ya."... Bu Tia menatapku.

Aku mengangguk, ingin kukatakan bila rasa tersinggung itu sudah lama lenyap dalam kamus hidupku.

"Papanya anak-anak kan baru pulang jemput kakek neneknya dari bandara. Ya dasar laki-laki tahunya kan cuma nyenengin anak tapi gak tahu yang baik."

Aku mengangguk walau belum paham kemana arah pembicaraan.

"Masa dia ngebeliian anak-anak es krim sampai lima buah. Padahal anakku kan masih batuk pilek parah. Jadi, daripada buat rusuh, mau ya Bu nerima es krim ini, untuk Dika dan adiknya."... Bu Tia menyerahkan plastik putih berisi es krim padaku.

Aku terdiam tak sanggup berkata-kata.

"Asikkk."... Dika anakku bersorak, aku masih bergeming.

"Lo, yang ibu bawa itu apa?"... Tanya Bu Tia melirik kantong hitam berisi dua kotak bolu pisangku.

"Bolu pisang Bu, tapi gak manis, kebetulan yang mesan batal."

"Wah kebetulan, neneknya di rumah itu diabetes jadi gak bisa makan manis. Saya beli ya untuk cemilan."

"Benar Bu?"... Aku bertanya tak percaya.

"Iya, berapa harganya?"

"Berapa saja, Bu. Terserah, asal jadi uang."

"Ya sudah."...Bu Tia menyerahkan dua lembar uang merah ke dalam genggamanku.

"Ya Allah Bu ini kebanyakan ,"....Ucapku tak percaya.

"Sudah, gak apa. Ambil saja, Kalau mesan yang kayak gini emang mahal kok Bu."....Bu Tia langsung mengambil kantong berisi bolu pisang dan bergegas pergi.

Aku masih diam dengan air mata yang mulai menetes lagi. Baru saja mengeluh akan pahitnya hidup dan kini semua telah terbayar lunas.


Bu Tia meletakkan bolu pisang yang baru ia beli di atas meja makan. Ia duduk dan memandang dua kotak bolu pisang itu dengan tatapan berkaca. Sungguh zolim sebagai tetangga, bahkan ada seorang janda yang kesusahan pun ia tak tahu. Sementara baru saja ia membeli tas branded seharga jutaan dan tak jauh dari rumahnya ada seorang anak yatim merengek pada ibunya hanya demi sebuah es krim.

Untung saja Fahri putranya bercerita, Bila tidak pastilah kezoliman ini akan terus berlangsung...Dalam hati bu Tia.

"Ma, tadi yang juara 1 Dika, tetangga kita yang di ujung itu."...Lapor putra sulungnya.

"Bagus dong, les dimana dia?"

"Gak les kok, Ma. Orang dia miskin kok."

"Hey, gak boleh menghina orang lain.".... Bu Tia melotot pada putranya.

"Gak menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh Ma, masa kan ibunya janji mau beliin dia es krim kalau ranking satu eh pas dia ranking malah ibunya bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Dika ya , Ma. Mana kalau di sekolah dia suka mandang jajanan temannya kayak ngeiler gitu tapi pas dikasih dia nolak. Malu mungkin ya, Ma."....Seru Fahri bercerita panjang lebar pada mamanya.

Bu Tia terdiam,, Ya Allah mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktiv ikut kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar.

"Ma, bolunya gak ada rasa, kurang enak,"...Ucap Fachri membuyarkan lamunannya.

"Sengaja, makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles selai buah."

"Ohhh, gitu ya. Tumben mama pesan bolu tawar."

"Lagi pengen aja."

Bu Tia menghela napas panjang. Tak akan terulang lagi, jangan sampai ada tangis anak yatim yang kelaparan di sekitarnya. Karena anak yatim itu bukan tanggung jawab ibunya saja tapi keluarga dan orang sekitar.


Sepele bagi kita namun berarti bagi mereka. Ada kala sisa nasi kemarin sore yang tak tersentuh di atas meja makan kita,, Adalah mimpi dari anak-anak yang telah berhari-hari terpaksa hanya berteman dengan ubi rebus saja.

Jangan heran menatap binar seseorang yang begitu terharu ketika gaun pesta yang menurut kita sudah ketinggalan jaman itu kita berikan pada mereka.

Uang lima puluh ribu yang sangat mudah lenyap ketika dibawa ke mini market bertukar dengan kebutuhan kita dan beraneka jajanan yang habis dalam sekejap itu adalah setara dengan hasil kerja keras seorang buruh dari subuh hingga menjelang Magrib.

Bersedekah itu gak perlu banyak, sedikit saja dari yang kita punya. Memberi itu jangan menunggu kaya, saat kekurangan lah justru diri harus lebih bermurah hati.

Beruntunglah bila di sekitar begitu banyak ladang sedekah dimana kita dapat menukar rupiah menjadi pahala. Kaya itu bukan pada jumlah harta tapi bagaimana kita membelanjakannya. Akherat itu ada dan sudah kah kita menyiapkan hunian di sana?

Pengingat diri agar lebih peka. Ingat ini salah satu kerja maqami kesholehan sosial agar peduli tetangga kita.



Sumber Cerita & Edit : Info Depok / Satria



~~ SEMOGA ~ BERMANFAAT ~~

17 comments:

  1. Bener banget ulasan di atas, dengan berbagi pada sesama hidup akan terasa jauh lebih indah karena sejatinya kekayaan tak bisa dibawa mati. Tapi bagi saya pribadi, sedekah pun juga tak hanya lewat materi saja tapi lewat bantuan misal kayak tetangga lagi berduka karena kehilangan anaknya itu juga sedekah. Makasih sudah share artikel bermanfaat ini ya? Assallammualaikum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf sekedar saran kalau bisa itu gambar di atas tolong di ganti ya? Serem. 🙏🙏🙏

      Delete
  2. Baca cerita ini jadi terharu
    Subhanallah..
    Sungguh mulia hati ibu Tia nggak membiarkan anak yatim menangis karena kelaparan...
    Apa yang kita sedekahkan... itulah harta yang kita bawa dan miliki di akhirat nanti..
    Bukan begitu pak ustad? Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assallamuallaikum... tok..tok..tok.. permisi..
      tuan rumahnya ada?
      Mau tanya kabar pak ustadz baik-baik saja? Lama nggak update
      Ditunggu para netizen nich..hehehe

      Delete
  3. Entah kenapa kalau membaca cerita yang seperti ini saya seperti ada di dalam ceritanya dan membuat terharu

    ReplyDelete
    Replies
    1. TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG INI...SENYUM DONG JANGAN CEMBERUT GITU JELEK TAHUUU.

      Delete
    2. Tisu manaaa tisuu ...

      Aku juga terharu membacanya 😢☹️

      Tolong hapus air mataku ...
      hu hu hu

      Delete
  4. Kasihan sekali, memang benar bagi kita mungkin hanya uang 50 ribu tapi bagi orang lain banyak artinya.

    Uang 50 ribu itu bisa buat beli kebutuhan pokok selama dua atau tiga hari. Soalnya saya juga ngirit puasa ini, belanja sehari cuma 25 ribu, buka puasa seadanya saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya, kasihan banget ...

      Dan kisah seperti diatas sebetulnya banyak sekali ditemui di Indonesia.
      Masih banyak warga yang giduo dibawah garis kemiskinan.
      Ditambah lagi sekarang ini apapun kebutuhan tidak murah harganya.

      Delete
    2. Maaf typo ☺️
      Harusnya tertulis : hidup.
      Bukan giduo.

      Maklum lagi juling nih bola mata 👀 gegara waktu nulis ada pedagang es nong2 lewat 😅

      Delete
    3. Datang lagi kesini akh ...
      Ini kok tumben ya komentar yang masuk ngga dibalesin 😱 ?

      Lagi sibuk siapin diri buat menghadiri penobatan penghargaan cerpenis terbaik di Perancis yaaa 😁 ?

      Delete
    4. Datang ke 4 kalinya ..
      Whuahhahaa 😅.

      Abisnya penasaran kok belum juga ada yang dibalesin komentarnya ..

      Delete
    5. TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG INI...SENYUM DONG JANGAN CEMBERUT GITU JELEK TAHUUU. 😂😂

      Delete
  5. Pernah baca, tapi baca lagi tetep mewek lagi.
    Sesungguhnya kebesaran Allah itu selalu nyata saat kita di bawah.
    Di posisi mana saja sih selalu ada keajaiban-Nya, tapi di posisi bawah paling terlihat jelas.

    Ada banyak kejadian gini, termasuk saya pernah mengalaminya.
    Selama kita mau usaha dan yakin, bantuan Allah itu nyata :)

    ReplyDelete
  6. ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    ReplyDelete

TERIMAH KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA KEBLOG INI...SENYUM DONG JANGAN CEMBERUT GITU JELEK TAHUUU!!